Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Bersyukur Pada-Nya


__ADS_3

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya Nadira dan Ammar tiba di rumah mereka; rumah yang akan menjadi awal dan akhir dari kisah perjalanan hidup mereka—menua bersama sampai ajal menjemput.



Suara bising dari luar mobil menulikan telinga Nadira dan Ammar. Mereka tidak menyangka akan disambut semeriah ini, padahal tidak pernah meminta untuk mengadakan pesta atau acara apa pun lagi setelah ijab kabul tempo hari. Namun, antusias dari warga, membuat pasangan yang baru menikah ini terharu. Mereka melambaikan tangan ke warga sekitar, sampai pada akhirnya mata berhenti pada wajah yang tak asing bagi Nadira dan Ammar. Siapa lagi kalau kedua orang tua Ammar.



Rumah yang tidak jauh dari pusat kota ini adalah hadiah pernikahan dari papanya Nadira. Kedua orang tua Nadira dan kakaknya memang belum bisa ikut mengantarkan mereka ke rumah barunya, tapi doa dan restu selalu diberikan untuk Nadira dan Ammar. Itulah mengapa, pada hari pertama Nadira dan Ammar menginjakkan rumah baru mereka, hanya ada kedua orang tua Ammar saja yang terlihat. Apalagi hari ini, keluarga Nadira ada kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan dan berjanji akan datang ketika pekerjaan bisa ditinggal.



Ammar hampir lupa kalau rumah mereka baru saja akan dihuni, itu sebabnya harus dilakukan doa dulu untuk meminta berkah dan perlindungan dari Allah Yang Maha Pemberi dan Pelindung.


...***...


Dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa amalan menempati rumah baru yang dianjurkan dalam Islam, yaitu :



Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah bersyukur kepada Allah. Di dalam alquran, sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita diminta untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan. Hal ini tertuang dalam firman Allah yang berbunyi:



Wa idz ta adzana rabbukum la in syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid.



Artinya: ““Ingatlah ketika Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)



Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman dalam QS. Ad-Duha (93) ayat 11.



wa ammaa bini'mati robbika fa haddis



Artinya : "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."



Langkah kedua sebagai amalan menempati rumah baru adalah syukuran rumah baru. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur yang tidak hanya diucapkan melalui lisan, akan tetapi juga dilakukan dengan kegiatan.



Selain dari kedua amalan di atas, Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam juga memberikan anjuran untuk melakukan hal-hal sebagai berikut.



Pertama: Rajin membaca alquran dan ibadah apa pun di dalam rumah. Rasulullah menganjurkan kita untuk membedakan rumah dengan kuburan. Kuburan adalah tempat yang tidak pernah dilakukan untuk ibadah, sedangkan rumah dianjurkan untuk selalu dipakai untuk beribadah.



Kedua: Baca doa ketika masuk rumah. Hal kecil yang perlu dibiasakan ketika masuk rumah adalah membaca doa ketika masuk rumah. Hal ini dilakukan supaya rumah yang kita tempati tidak dijadikan setan sebagai tempat menginap.



Berikut ini adalah doa ketika masuk rumah.


Assalaamu 'alaynaa wa 'alaa 'ibaadillahish shaalihiina. Allaahumma innii as-aluka khayral mawliji wa khayral makhraji. Bismillahi walajnaa wa bismillaahi kharajnaa wa 'alallahi tawakkalnaa, alhamdulilaahil ladzii awaanii.


Artinya : "Semoga Allah mencurahkan keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang shalih. Ya Allah, bahwasanya aku memohon pada-Mu kebaikan tempat masuk dan tempat keluarku. Dengan menyebut nama-Mu aku masuk, dan dengan mneyebut nama Allah aku keluar. Dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah diri. Segala puji bagi Allah yang telah melindungi kami." (HR. Abu Daud)

__ADS_1



Ketiga: Membaca doa ketika keluar rumah. Hal yang perlu dilakukan ketika keluar rumah adalah dengan membaca doa ketika keluar rumah. Hal tersebut dilakukan supaya ketika keluar rumah diberikan petunjuk dan dicukupi.



Berikut ini adalah doa ketika keluar rumah.


Bismilaahi tawakkaltu 'alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi.


Artinya : "Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)



Setelah diketahui amalan-amalan yang perlu dilakukan ketika menempati rumah baru, hal selanjutnya yang juga perlu diketahui adalah memohon doa ketika menempati rumah baru. Salah satu doa yang bisa kita amalkan adalah sebagai berikut.



"Allahumma innii as-aluka khairal mawlaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa 'alaallahi rabbanaa tawakkalnaa.”



Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu atas kebaikan rumah yang aku masuki dan kebaikan rumah yang aku tinggalkan."


...***...


Acara yang digelar cukup sederhana, tetapi dampak ke depannya akan besar. Semoga apa yang telah dipanjatkan, dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Rumah pemberian Sultan, akhirnya mulai hari ini sudah bisa ditempati oleh Nadira dan Ammar. Semoga selalu mendapatkan keberkahan dan perlindungan dalam hidup mereka. Itulah harapan dari semua orang. Bukan hanya untuk tempat tinggalnya saja, tetapi rumah tangga Nadira dan Ammar pun demikian. Apalagi di dalam pernikahan, pasti akan ditemukan berbagai ujian yang seharusnya bisa saling menguatkan atau malah menghancurkan.



"Alhamdulillah, ya. Acaranya berjalan lancar," ucap syukur dari Aisyah (Umi Ammar).




"Niatnya melamar anak gadis orang, eh ... dapat bonus rumah, ya!" ujar Lutfi (Abinya Ammar), menggoda.



"Mana cantik, baik, pintar, dan salihah lagi," timpal Aisyah.



"Semua ini terjadi atas kehendak Allah, Umi, Abi. Kalau Allah tidak mengabulkan doa-doaku, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi," ujar Ammar sambil menatap wajah Nadira yang tersipu malu.



Nadira tidak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya mendadak kelu, padahal dia pun merasakan hal yang sama dengan Ammar; bersyukur atas segala yang Allah berikan.



Saat semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing, tiba-tiba suara seseorang dengan lantang mengagetkan. Lutfi, Aisyah, dan Ammar saling memandang, mereka seperti mengenali pemilik suara tersebut. Lalu, bergegas mendekati sumber suaranya.



Benar saja, ternyata pemilik suara itu adalah anak pertama Lutfi dari istri pertamanya yang telah tiada.



Lutfi memeluk anaknya yang baru saja pulang dari London itu.


"Kamu kapan pulangnya? Kok enggak kasih tahu Abi dulu?" Lutfi merasa senang bisa kumpul kembali dengan keluarganya. "Tapi gimana kamu bisa tahu kalau kami ada di sini?" tanyanya penasaran karena sudah lama tidak berkomunikasi dengan anak pertamanya yang bernama Muhammad Ali Baraqbah itu. Ali sengaja mengganti nomornya agar tidak ada satu pun keluarga yang menghubungi.


Namun, senyum bahagia Lutfi dipatahkan oleh Ali. Dia pun melepaskan pelukan abinya.

__ADS_1



"Abi enggak usah sok peduli sama aku. Bukankah sejak kedatangan wanita ini dalam hidup kita," ujar Ali sambil menunjuk wajah Aisyah. "Abi lebih memilih hidup bersamanya. Apalagi sejak kehadiran laki-laki ini!" Kali ini Ali menunjuk wajah adiknya (Ammar). "Semua perhatian dan kasih sayang Abi, beralih kepadanya."



"Ali. Abi kan sudah bilang berkali-kali, kenapa masih saja kamu membahas ini?" Lutfi berusaha menahan emosinya.



"Yang perlu Abi ketahui, meskipun kita sudah bertahun-tahun lamanya tidak berkomunikasi, aku mengetahui banyak hal tentang keluarga kita. Oops, bukan keluarga kita, tapi keluarga Abi karena kata 'kita' terlalu akrab untuk aku dan Abi yang telanjur asing." Ali bicara seakan tidak peduli dengan perasaan ibu sambungnya dan sang adik, terlebih abinya sendiri. Dia pun tidak menghiraukan sosok Nadira yang kini telah menjadi adik iparnya.



"Ali ...! Cukup ...! Hentikan ucapanmu!" Sultan akhirnya naik pitam. Tidak tahan dengan perlakuan Ali yang terus saja menyalahkan Aisyah atas retaknya hubungan Ali dengannya. Padahal, Ali sendirilah yang belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri.



"Oww ... oww ... oww ...!" Ali bertepuk tangan sambil mengelilingi Lutfi. "Ternyata seorang ulama bisa marah juga, ya. Seseorang yang selama ini menjadi teladan semua santrinya, tapi kenapa tidak menjadi teladan yang baik untuk anaknya. Eh, maksudnya untukku. Soalnya anak Abi kan ada dua ya, sekarang."



Lutfi menghela napas berat. Ada rasa yang berkecamuk di dalam dada. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia merasa malu karena telah gagal mendidik Ali. Pun merasa bersalah kepada almarhumah mendiang istri pertamanya karena tidak bisa menjaga amanah yang diberikan untuk menjadikan Ali sebagai anak yang berakhlak mulia.



"Oh iya, aku hampir saja lupa." Pandangan Ali pun beralih ke Ammar. Dia memberikan tangannya ke Ammar sambil berkata, "Selamat atas pernikahanmu, ya. Selamat juga atas rumah barumu. Eh, rumah baru yang diberikan mertuamu."



Ammar tersenyum tipis.



"Iya. Makasih untuk ucapannya, Kak."



"Semoga kamu tidak menyesal telah menikah dengannya, ya," ujar Ali kepada adik iparnya (Nadira) sambil menatap Ammar dengan sinis.



Suasana di rumah Ammar pun menjadi panas, melebihi sengatan matahari pada siang hari pada saat ini. Bulir-bulir air mata dari bola mata Aisyah tak lagi bisa dibendung, dia pun menangis di pelukan Lutfi. Lutfi mencoba menenangkan hati Aisyah. Meminta Aisyah untuk bersabar lagi agar bisa diterima kehadirannya oleh Ali. Sifat Ali memang keras kepala, dia belum bisa menerima Aisyah karena baginya—tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibunya. Nadira hanya bisa diam. Dia tidak ingin terlalu ikut campur dengan masalah di keluarga suaminya, tapi dia akan selalu ada ketika memang dibutuhkan dan dimintai pendapat.



Ali pun pergi setelah memercikkan api di dalam rumah Ammar. Padahal baru saja Ammar menggelar acara doa keselamatan untuk rumah barunya, tapi Kuasa Allah—mungkin inilah salah satu bentuk ujian yang harus diterima pada awal pernikahannya. Berharap Nadira tidak ambil hati dari perkataan kakaknya.



Meskipun kakak-beradik, Ali memang berbeda dengan Ammar. Dari hobi, cita-cita, dan sifat. Padahal didikan abi mereka tidaklah berbeda, hanya saja sifat keras kepala, tidak mau diatur, dan pemarah Ali dibentuk sejak kepergian uminya beberapa tahun silam sebelum Ali memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di London, tepatnya di London Schools of Economics and Political Science (United Kingdom). Universitas ini merupakan universitas yang menduduki peringkat ke sepuluh dalam lulusan terbaik dunia. London Schools of Economics and Political Science adalah universitas yang berusaha mengedepankan masalah yang ada di dunia, seperti ekonomi serta politik.



Sedangkan Ammar memilih kuliah di Kairo, tepatnya di Universitas Al Azhar. Universitas ini menjadi universitas andalan untuk mempelajari agama Islam. Mahasiswa dari berbagai dunia, banyak yang menuntut ilmu di sini. Bahkan, tokoh-tokoh besar seperti Gus Dur dan Quraish Shihab (Abinya Najwa Shihab) menamatkan pendidikannya di kampus tersebut. Al Azhar juga menjadi salah satu universitas tertua di dunia yang dibuka pada tahun 988. Melansir laman resminya, universitas ini berkomitmen untuk memberikan pemikiran Islam berdasarkan modernisasi dan mampu unggul dalam bidang pendidikan. Salah satu jurusan yang ada di universitas ini adalah ilmu agama Islam yang akan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai seluk beluk Islam, termasuk tradisinya.



Selain menjadi salah satu universitas yang diminati oleh masyarakat, universitas ini dibangun oleh Bani Fatimiyah yang menganut mazhab Syi'ah Ismailiyah dan sebutan Al-Azhar mengambil dari nama Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad. Universitas yang dibangun pertama kali pada tahun 970 M ini pernah dijadikan sebagai latar tempat dari salah satu film layar lebar di Indonesia yaitu Ketika Cinta Bertasbih beberapa tahun lalu.



Namun, walaupun banyak perbedaan, Ammar dan Ali mewarisi sifat abinya yang penuh rasa tanggung jawab. Hanya saja, Ali memiliki pandangan tersendiri tentang hidup, apalagi dia lebih tertarik pada dunia politik.


...****...

__ADS_1


__ADS_2