
Semua orang memiliki padangan tersendiri tentang arti "rumah". Ada yang mengartikan seseorang adalah rumah bagi mereka. Ada yang mengartikan tempat tinggal; rumah yang mereka huni saat ini. Namun, pada dasarnya—rumah adalah tempat ternyaman untuk ditinggali, bahkan menetap. Ke mana pun pergi, tetap rumah tempat kembali. Bahkan bisa jadi rumah bagi seseorang adalah pulang ke pangkuan illahi Rabbi (meninggal).
Menurut Laze (seorang musisi), ketika berbicara tentang rumah sebenarnya kita dapat mengartikannya dengan dua cara. Pertama secara harfiah, rumah adalah sebuah bangunan yang dapat kita gunakan untuk berlindung, di bawah sebuah atap. Di sisi lain, ada pepatah yang mengatakan bahwa a house is not a home, mendefinisikan rumah selain bangunan sebenarnya adalah orang-orang yang berada di dalamnya. Seberapa nyaman kita saat berada di sebuah tempat. Rumah bagi saya adalah sebuah tempat di mana kita benar-benar bisa menguasai areanya, bukan dalam artian arogan tetapi bisa dengan leluasa dan tidak merasa seperti pengunjung di tempat tersebut.
Sama halnya dengan Nadira dan Ammar yang memiliki arti rumah tersendiri bagi mereka. Kisah yang cukup pelik, membuat keduanya sama-sama mencari rumah ternyaman dalam hidup mereka.
Suasana pagi hari di rumah yang baru ditempati oleh Nadira dan Ammar sangat dingin sampai menusuk sanubari. Sekujur raga terbelenggu dalam dinginnya sikap Ali sejak hari kemarin. Berhias kabut yang sangat tebal hingga mendekap seluruh jiwa. Namun, sang mentari pagi menyapa dengan senyumannya yang sangat mengagumkan hati.
Burung-burung bertebaran di langit biru, bertegur sapa satu sama lain. Kicauan yang merdu mengalun indah di indra pendengaran. Mereka menyapa pagi Nadira dan Ammar dengan penuh rasa damai. Sejenak melupakan apa yang terjadi kemarin.
Terlihat suasana jalanan yang sepi, tanpa ada riuh suara klakson kendaraan atau polisi yang mengganggu. Sebab, tiada kendaraan setitik pun yang menyapa mengitari jalan di sekitar rumah mereka.
Untuk memulai aktivitas pagi hari ini, Nadira dan Ammar memutuskan berolahraga dengan berlari di sekitaran rumah mereka. Terdapat pohon-pohon yang berdiri kokoh di sana, membuat lingkungan semakin sejuk. Apalagi sinar matahari menembus sela-sela daun berwarna hijau yang menciptakan kehangatan dan kesejukan.
Sungguh indah segala ciptaan dari-Nya. Tiada rasa yang terucap selain bersyukur atas segala nikmat Allah subhanahu wa ta'ala. Nadira dan Ammar terus berjalan sampai bermandian keringat. Tak ingin kehilangan momen indah berdua, mereka pun mengabadikannya dengan berfoto.
"Makasih untuk hari ini," ujar Nadira sambil melempar senyum termanis kepada suaminya.
Hangatnya sinar mentari pagi mengalahkan hangatnya pelukan sang suami. Nadira benar-benar menemukan rumah ternyaman dalam hidupnya, selain kakaknya yang selama ini menjadi rumah untuknya berpulang.
__ADS_1
"Kita jalani kehidupan ini bareng-bareng, ya. Apa pun yang terjadi sampai hari ini dan seterusnya, semoga bisa saling menguatkan serta meneduhkan hati dan pikiran." Ammar mengecup kening istrinya. Ucapannya sungguh menenangkan.
"Emm, aku boleh nanya enggak?" ujar Nadira, ragu.
"Boleh. Emang mau nanya apa sih?" jawab Ammar dengan pertanyaan.
"Kalau pertanyaanku menyakitkanmu, enggak usah dijawab, enggak apa-apa kok."
Kalimat Nadira membuat Ammar membalikkan badan perempuan yang baru beberapa hari dinikahi itu. Kini bola mata mereka saling beradu. Ada banyak tanya yang terlintas dari bola mata Nadira dan Ammar menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan dari bibir manis sang istri.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau terkesan lancang. Kalau boleh tahu, Kak Ali kenapa segitu bencinya sama umi dan kamu?" tanya Nadira dengan hati-hati.
"Cerita yang aku ketahui aja, ya," ujar Ammar, tersenyum tipis.
Nadira mengangguk sambil membalas senyum Ammar.
"Khodijah adalah nama umi kandungnya Kak Ali. Beliau meninggal, tepat satu tahun pernikahan Abi dan Umi Aisyah dilangsungkan. Itu pun atas persetujuan Uni Khodijah agar abi menikah lagi. Umi Aisyah adalah wanita pilihan Umi Khodijah karena mereka bersahabat baik. Awalnya abi menolak karena sangat mencintai Umi Khodijah, tetapi lambat laun, abi sadar kalau dia bukan hanya memenuhi permintaan mendiang istri pertamanya saja, tetapi ada anak kecil yang masih butuh kasih sayang seorang ibu, yaitu Kak Ali. Namun, sayangnya saat itu Kak Ali masih belum siap menerima kenyataan kalau Umi Khodijah sudah pergi untuk selamanya. Waktu abi berniat menikahi Umi Aisyah pun sebelumnya memang sudah diketahui oleh Kak Ali, tetapi mungkin karena batinnya masih terluka atas kepergian Umi Khodijah, jadinya sikap Kak Ali jadi seperti sekarang ini. Dia menjadi sensitif dan pemarah. Padahal sebenarnya kata abi, Kak Ali itu anak yang baik, penurut, enggak pernah sekalipun bersikap kasar kepada abi. Yah, seperti yang kamu saksikan kemarin siang, sikap Kak Ali sudah sangat keterlaluan. Walau bagaimanapun juga, kan kita harus hormat dan santun kepada orang tua, terlebih ayah dan ibu kita."
Nadira mendengarkan dengan saksama. Ammar melanjutkan ceritanya kembali setelah sampai di rumah.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan kembali, tapi aku boleh minta tolong ambilkan air minum enggak?" pinta Ammar dengan napas tersengal-sengal sambil menghapus keringat di wajahnya.
Nadira dengan cepat, langsung mematuhi keinginan suaminya.
Beberapa menit kemudian, Nadira datang kembali dengan segelas air putih digenggaman tangan kanannya. Lalu, menyerahkan kepada sang suami untuk mengusir dahaga di tenggorokan. Segelas air putih itu pun langsung habis dalam beberapa tegukan.
"Pemberontakan Kak Ali pun hampir mengacaukan pernikahan kedua abi. Umi Aisyah yang sangat sedih, merasa bersalah. Sempat menolak menikah dengan abi saat terjadi pinangan kala itu. Namun, abi tidak menyerah dan terus meyakinkan Umi Aisyah agar mau menjadi istri dan ibu sambung untuk Kak Ali. Dengan bermodal basmallah, umi pun menerima lamaran abi dan ikhlas menjadi ibu sambung Kak Ali."
Di dalam kepala Nadira semakin timbul berbagai pertanyaan, tetapi dibiarkan cerita Ammar sampai selesai.
"Pada akhirnya, tepat satu tahun kepergian Umi Khodijah, abi pun menikah dengan Umi Aisyah, hingga lahirlah aku. Kakak merasa abi tidak lagi memperhatikannya sejak kehadiran kami dan merasa kalau abi memang enggak pernah cinta kepada Umi Khodijah. Padahal tidak begitu. Faktanya adalah mengikhlaskan kepergian seseorang untuk selamanya itulah yang membuat Kak Ali berat menerima kehadiran kami."
Tak terasa, air mata Ammar menetes. Nadira dengan sigap, memeluk dan menghapus air mata suaminya. Lalu meminta Ammar menghentikan ceritanya kalau dengan bercerita, hanya akan membuka luka lama, lebih baik kisah itu disimpan saja. Namun, dengan linangan air mata, Ammar tetap melanjutkan ceritanya.
"Kak Ali merasa rumah yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuknya berpulang, malah menjadi tempat paling dibenci dan enggan untuk berpulang. Itulah mengapa Kak Ali memutuskan untuk terbang ke London agar bisa melupakan semua rasa sakitnya, serta belajar ikhlas atas kehilangan Umi Khodijah. Mungkin LDR paling jauh adalah beda agama kalau untuk urusan duniawi belaka, tetapi bagi Kak Ali, LDR paling jauh adalah beda alam. Kak Ali benar-benar terpukul kala itu. Aku bisa memahami perasaannya, tetapi tidak juga membenarkan sikapnya. Aku cuma berharap kalau Kak Ali benar-benar bisa berdamai dengan semuanya dan menerima kami sebagai anggota keluarganya, ditambah ada kamu sebagai iparnya."
Perasaan yang mengganjal di dalam hati Ammar seakan hilang satu per satu setelah bercerita kepada Nadira. Mereka benar-benar pasangan yang baik, saling memahami dan mengerti satu sama lain, serta menjadi pelipur lara apabila salah satunya merasa sedih. Semoga cinta mereka semakin kuat meskipun diterpa badai sekalipun.
Sedangkan Nadira, seketika mengingat kisahnya bersama seorang laki-laki di masa lalu saat Ammar mengatakan, untuk urusan duniawi, LDR paling jauh adalah beda agama. Karena pada saat Nadira tahu kebenarannya bahwa selama ini dia memiliki hubungan dengan seseorang yang beda agama dengannya, dia mengatakan kalimat tersebut. Kini Nadira sadar kalau LDR paling jauh sebenarnya adalah beda alam.
__ADS_1
****