
Di dalam ruang pemeriksaan yang bersih dan terang, Nadira mengikuti ritual rutinnya dengan hati yang penuh harap.
Nadira duduk di ruang pemeriksaan, agak gugup. "Rasanya seperti baru kemarin kita pertama kali datang ke sini, bukan?"
Ammar tersenyum lembut. "Iya, waktu berjalan begitu cepat. Tapi kali ini kita akan mendapatkan kabar baik, seperti sebelumnya. Yang terpenting adalah kesehatanmu dan kesehatan anak kita," ujar Ammar sambil memegang perut Nadira.
"Selamat datang kembali, Ibu Nadira dan Bapak Ammar. Bagaimana perasaan kalian hari ini?" tanya Dokter Diana dengan ramah. Dia menampilkan senyum hangatnya, yang menambah pesona pada wajah cantiknya yang berlesung pipi.
Nadira tersenyum dan menjawab dengan antusias. "Kami baik, Dokter. Saya sangat berharap semuanya baik-baik saja dengan bayi kami."
"Saya mengerti, Bu Nadira. Jangan khawatir, kita akan memastikan bahwa pertumbuhan bayi dalam kandungan Ibu berjalan dengan baik. Saya akan melakukan pemeriksaan yang terbaik dan memberikan kabar terkini."
"Terima kasih, Dokter. Kami sangat menghargai perhatian dan keahlian Bu Dokter," ujar Ammar.
"Baiklah, sekarang mari kita mulai pemeriksaan," ujar Dokter Diana, lalu melakukan pemeriksaan dengan seksama.
Nadira memperhatikan setiap gerakan dokter, agak gelisah. "Apa segalanya baik-baik saja, Dokter?"
Dokter Diana tersenyum memberikan kepastian. "Iya, Bu. Bayi dalam kandungan Ibu Nadira tumbuh dengan baik. Detak jantungnya kuat dan semua tanda-tanda vitalnya normal. Ibu dan bayi dalam kondisi sehat."
Ammar merasa lega. "Alhamdulillah. Terima kasih, Dokter. Itu kabar yang sangat menggembirakan."
"Tentu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetap ikuti saran gizi dan perawatan prenatal yang sudah kami berikan sebelumnya, dan pastikan Ibu Nadira menjaga kesehatan dengan baik."
Nadira sambil menggenggam tangan suaminya dengan erat, berkata, "Terima kasih, Dokter. Ini sangat berarti bagi kami. Yang terpenting bagiku adalah melihat anakku lahir dengan sehat, dan aku siap menjalani segala yang diperlukan untuk itu."
"Kita akan melalui ini bersama, sayang. Bersabarlah dan tetap berpikiran positif," ujar Ammar sambil mencium punggung tangan Nadira.
Dokter Diana memberikan senyuman. "Ibu Nadira, suamimu benar. Kesehatan dan kebahagiaanmu, serta kesehatan bayi adalah prioritas utama kami. Tetaplah mengikuti pemeriksaan rutin dan jangan ragu untuk menghubungi saya jika ada pertanyaan atau kekhawatiran selama perjalanan kehamilan ini.
"Kami pasti akan melakukannya, Dokter. Terima kasih atas perhatian dan bantuannya," ujar Nadira sambil mengelus-elus perutnya dengan lembut.
"Terima kasih, Dokter. Semoga Bu Dokter selalu diberkahi dalam pekerjaan yang mulia ini," ujar Ammar.
__ADS_1
"Terima kasih kembali. Semoga kehamilan ini berjalan lancar dan membawa kebahagiaan bagi kalian berdua. Sampai jumpa pada pemeriksaan berikutnya," ujar Dokter Diana sambil membereskan alat-alat pemeriksaan.
Nadira dan suaminya dengan kompak berkata, "Sampai jumpa, Dokter Diana. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih banyak."
Dokter Diana keluar dari ruangan, meninggalkan Nadira dan Ammar dengan perasaan lega dan bahagia.
Selama perjalanan kehamilannya, Nadira menjalani pemeriksaan rutin dan mengikuti saran-saran dokter dengan cermat. Meskipun menghadapi beberapa ketidaknyamanan, Nadira selalu berusaha menjaga kesehatannya dan memastikan bahwa pertumbuhan bayi dalam kandungannya berjalan dengan baik.
Seperti seorang penjelajah yang tak ingin menggali rahasia peta yang belum terbaca, dia sengaja memilih untuk menghindari mata jalan yang tertera. Baginya, dalam kehidupan ini, jenis kelamin hanyalah angin yang lewat, tak lebih dari semilir yang bermain-main di antara dedaunan yang subur.
Sebagai seorang pengelana yang teguh berdiri di puncak gunung, Nadira memandang jauh ke cakrawala kehidupan. Dia merindukan sepasang mata yang memandang dunia dengan keajaiban dan dua tangan yang meraih mimpinya. Begitu pula dengan hatinya yang teguh dan penuh kasih, yang tak terikat pada ruang sempit definisi dan ekspektasi.
Maka, ketika tangannya berpegangan erat pada iman dan doa, Nadira melepaskan diri dari bingkai kisah jenis kelamin yang terjebak dalam pikirannya. Dia lebih memilih menyusuri sungai kehidupan dengan kesadaran penuh, menikmati riak-riak kecil yang menyegarkan jiwa dan membiarkan takdir mengukir garis tak terlihat di pasir waktu.
Anaknya adalah anugerah, ciptaan yang tak ternilai harganya. Baginya, kehadiran sang buah hati adalah bagian dari irama yang sempurna dalam simfoni kehidupan. Nadira rela melupakan peta arah yang sudah ditentukan, karena bagi dirinya, tak ada yang lebih berharga daripada melihat cahaya kehidupan yang berbinar di mata anaknya, mendengar tawa riang yang memenuhi ruangan, dan merasakan sentuhan kehangatan yang mengalir dalam genggaman.
Seiring waktu berjalan, Nadira tetap berpegang pada keyakinan bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada jenis kelamin, melainkan pada keberadaan yang utuh dan tak ternilai. Dia menjadi pemandu yang bijak bagi anaknya, mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan yang indah, tidak peduli apakah mereka berlayar di samudra biru atau menelusuri gurun tandus.
...***...
Akhirnya, setelah sembilan bulan yang penuh perjuangan, tiba saat yang dinantikan.
Ammar menggenggam tangan Nadira dengan penuh harap. "Kita sudah sampai di titik ini, sayang. Ayo, tetaplah kuat. Semua akan baik-baik saja."
Nadira menggenggam tangan suaminya erat-erat, sedikit tersenyum. "Terima kasih, Ammar. Aku berusaha tetap tenang. Semoga semuanya berjalan lancar."
Dokter Diana memperhatikan keadaan Nadira dengan serius. "Kita sudah siap untuk proses persalinan, Bu Nadira. Tenanglah, kita akan melakukan yang terbaik untukmu dan bayimu."
Ammar memandangi Nadira dengan penuh cinta. "Aku yakin padamu, sayang. Kamu kuat dan tabah. Aku di sini untukmu."
Nadira menatap suaminya dengan mata penuh kepercayaan. "Aku tahu, Ammar. Kita telah melewati begitu banyak bersama. Kini saatnya untuk menyambut keajaiban yang kita tunggu."
Suster masuk ke ruang persalinan dengan senyum hangat. "Waktunya tiba, Ibu Nadira. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Ibu. Bersiaplah untuk melahirkan."
__ADS_1
Nadira mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang. "Aku siap. Semoga semuanya berjalan dengan lancar."
Setelah beberapa saat yang tegang dan penuh ketegangan, terdengar tangisan bayi.
Dokter Diana senang. "Selamat, Nadira! Kamu telah melahirkan bayi perempuan yang sehat!"
Ammar tersenyum bahagia, meneteskan air mata. "Alhamdulillah! Anak perempuan kita lahir dengan selamat!"
Nadira dan Ammar saling bertatapan dengan rasa haru karena anak mereka sudah lengkap. Ada laki-laki dan perempuan. Namun, sesaat kemudian, perut Nadira terasa sakit kembali seperti akan melahirkan lagi.
"Dokter, bayi saya sudah lahir, tapi kenapa perut saya masih sakit?" tanya Nadira panik.
Dokter Diana tersenyum, dia tahu kalau Nadira akan melahirkan bayi perempuan kembar. Namun, karena permintaan dari Nadira yang tidak ingin diberitahukan tentang hal ini, itu sebabnya rahasia bayi kembar Nadira baru terbuka hari ini.
"Ibu Nadira, selama ini Ibu mengandung bayi perempuan kembar. Sekarang atur pernapasan lagi, ya. Kita bantu sama-sama bayinya agar lahir dengan sehat dan selamat," ujar Dokter Diana sambil membantu memberikan jalan lahir untuk si bayi.
Lalu, tidak butuh waktu lama, bayi perempuan yang kedua pun lahir. Nadira melahirkan anak perempuan kembar dengan selamat. Keluarga mereka merasa bahagia dan bersyukur atas anugerah yang diberikan. Meskipun proses kehamilan itu melelahkan, Nadira dan Ammar tahu bahwa segala jerih payah dan kesulitan itu sepadan dengan kebahagiaan yang mereka rasakan saat melihat wajah bayi-bayi kecil mereka yang sehat. Nadira tidak menyangka kalau doakan akan dikabulkan setelah sekian lama untuk memiliki anak kembar.
Nadira tersenyum lebar, dipenuhi rasa syukur. "Sungguh, ini adalah anugerah terbesar. Alhamdulillah! Aku tidak menyangka doaku akan dikabulkan setelah sekian lama untuk memiliki anak kembar."
Suster membawa bayi kedua dengan penuh kebahagiaan. "Selamat ya, Bu, karena telah melahirkan bayi perempuan kembar yang sehat. Mereka sungguh cantik seperti mamanya. Masyaa Allah. Tabarakallah. Lucu sekali mereka." Suster itu melihat wajah bayi-bayi Nadira dengan gemas.
Ammar terharu. "Masyaa Allah. Bayi perempuan kembar! Alhamdulillah, betapa besar rahmat Allah yang diberikan kepada kita."
Nadira merasa sangat bahagia dan berterima kasih. "Terima kasih, Ya Allah, atas karunia yang tak terkatakan. Terima kasih, Ammar, karena selalu bersama dalam setiap langkah perjalanan ini."
Ammar mencium kening Nadira dengan penuh kasih. "Kita telah melewati begitu banyak bersama, sayang. Segala jerih payah dan kesulitan ini sepadan dengan kebahagiaan yang kita rasakan saat ini."
Keluarga mereka merayakan kelahiran bayi perempuan kembar dengan sukacita yang meluap. Meskipun proses kehamilan itu melelahkan, mereka tahu bahwa setiap momen yang dijalani bersama buah hati mereka akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan penuh dengan kebahagiaan.
Dengan kelahiran anak ketiga dan keempatnya, keluarga Nadira menjadi lebih lengkap. Mereka siap untuk menghadapi tantangan dan kegembiraan yang akan datang dalam perjalanan kehidupan mereka bersama. Setiap hari, mereka bersyukur atas karunia yang telah diberikan dan siap memberikan kasih sayang serta perhatian yang tak terhingga kepada anak-anak mereka yang baru lahir.
...****...
__ADS_1