Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Keponakanku Ternyata Kembar


__ADS_3

Di rumah Haikal, Yasmin mengalami kontraksi. Haikal segera membawanya ke rumah sakit. Dalam hitungan hari kelahirannya, Yasmin memang sudah seharusnya melahirkan hari ini.


"Oh, Haikal, kontraksiku semakin sering dan semakin kuat. Aku merasa persalinan akan segera dimulai," ujar Yasmin sambil menggenggam perutnya.


Haikal mencoba tenang.


"Tenang, Sayang. Kita sudah siap menghadapinya. Aku akan membawamu segera ke rumah sakit. Biarkan aku membantu kamu," ujarnya.


Yasmin bernapas dalam-dalam.


"Terima kasih, Haikal. Aku benar-benar merasa sedikit gugup," ujarnya sambil meringis kesakitan. Tubuhnya sudah bermandian keringat.


"Itu hal yang wajar, Sayang. Aku di sini untukmu. Kita akan melewati ini bersama-sama. Coba tetap tenang dan fokus pada napasmu. Kita akan sampai di rumah sakit dalam beberapa menit."


Haikal terus menyetir mobilnya dengan sangat hati-hati karena mengutamakan keselamatan mereka. Dia mencoba tetap tenang walau bingung, harus menambah kecepatan agar segera sampai di rumah sakit atau tetap berjalan santai. Dia tidak ingin mengambil resiko paling tinggi dengan mengemudi terlalu ngebut.


Sementara Yasmin terus menggenggam tangan Haikal dengan erat.


"Aku sangat bersyukur kamu ada di sini, Haikal. Aku tahu semuanya akan baik-baik saja denganmu di sampingku."


"Kamu adalah perempuan yang kuat, Yasmin. Aku sangat bangga padamu. Bertahanlah, kita akan segera bertemu dengan buah hati kita."


Yasmin menggigil.


"Kontraksiku semakin kuat, Haikal. Aku merasa, bayinya akan segera keluar," ujarnya seraya teriak.


"Kita hampir sampai, Sayang. Aku akan membawamu ke ruang persalinan secepat mungkin. Tim medis di sana akan merawatmu dengan baik. Aku akan selalu di sampingmu."


Yasmin bernapas dalam-dalam.


"Aku tahu, Haikal. Aku merasa aman karena kamu ada di sini. Tolong beritahu aku bahwa semuanya akan baik-baik saja."


"Tentu, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan tetap berada di sisimu, memberikan dukungan dan cinta tanpa henti. Kita akan segera melihat wajah kecil yang telah dinanti-nantikan begitu lama."


Yasmin menggenggam tangan Haikal sambil tersenyum.


"Aku mencintaimu, Haikal. Terima kasih atas segalanya."


"Aku juga mencintaimu, Yasmin. Kita akan melalui momen ini bersama-sama. Persiapkan dirimu untuk bertemu dengan keajaiban hidup kita."


Akhirnya, tiba di rumah sakit. Yasmin akan diperiksa oleh tenaga medis, termasuk dokter atau bidan, yang akan memantau keadaannya dan memastikan bahwa proses persalinan berjalan dengan baik.


Dalam situasi seperti ini, langkah selanjutnya akan tergantung pada keadaan kesehatan Yasmin dan perkembangan persalinan. Jika persalinan berlangsung secara normal, Yasmin mungkin akan dimasukkan ke dalam ruang persalinan atau kamar bersalin. Di sana, tim medis akan mendampinginya dan memberikan perawatan yang dibutuhkan.


Jika ada komplikasi atau perubahan yang tidak diharapkan dalam proses persalinan, tim medis akan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga keselamatan Yasmin dan bayinya. Mereka akan melakukan monitor jantung janin, memantau kontraksi, dan memastikan bahwa kondisi kesehatan ibu dan bayi tetap stabil.


Selama proses persalinan, Haikal akan berperan sebagai pendamping dan memberikan dukungan emosional kepada Yasmin. Dia juga dapat membantu dengan tugas-tugas praktis, seperti mengambil keputusan dan memberikan informasi penting kepada tim medis.


Perlu dicatat bahwa setiap kelahiran adalah unik, dan setiap individu mungkin mengalami pengalaman yang berbeda selama persalinan. Penting bagi Yasmin dan Haikal untuk mengikuti petunjuk dan nasihat dari tim medis yang merawat mereka, serta tetap tenang dan berkomunikasi selama proses persalinan.


...***...


Di ruang bersalin, Dokter Gina sedang fokus menangani proses persalinan Yasmin. Yasmin diminta untuk tetap mengatur napas, didampingi oleh Haikal. Dokter Gina meminta perawatnya untuk menyiapkan semua alat persalinan yang dibutuhkan.


Dokter Gina memantau keadaan Yasmin.


"Baik, Ibu Yasmin, tetaplah mengatur napasmu dengan baik," ujarnya pada Yasmin. Lalu sorot matanya berpaling ke arah Haikal. "Bapak Haikal, terus berikan dukungan padanya, ya! Jangan sampai Ibu Yasmin tertidur."


Haikal menggenggam tangan Yasmin dengan lembut.


"Kamu sedang melakukannya dengan luar biasa, Sayang. Teruslah bernapas seperti yang dokter katakan."


Dokter Gina meminta tolong kepada perawat.


"Tolong siapkan semua alat persalinan yang kita butuhkan. Ini mungkin akan menjadi persalinan yang cepat."


"Baik, Dokter Gina. Saya akan segera menyiapkan semuanya," ujar seorang perawat.

__ADS_1


"Ibu Yasmin, saya ingin kamu mencoba untuk mendorong saat kontraksi datang. Kita akan memantau jantung janin dan membantu bayi keluar dengan aman," pinta Dokter Gina.


"Baik, Dokter Gina. Aku akan mencoba yang terbaik," ujar Yasmin sambil bernapas dalam-dalam.


"Aku tahu kamu bisa melakukannya, Sayang. Kami semua ada di sini untukmu," ujar Haikal, memberikan dukungan.


"Apakah alat persalinan sudah siap?" tanya Dokter Gina kepada perawat yang bernama Sinta.


"Ya, Dokter Gina. Sudah siap dengan lengkap," jawab perawat Sinta.


"Baik, mari kita mulai. Ibu Yasmin, saat kontraksi datang, berikan yang terbaik dari dirimu dan dorong dengan kuat." Perintah Dokter Gina.


Yasmin menyusun tenaga.


"Baik, Dokter Gina. Aku siap!" ujar Yasmin dengan cucuran keringat di tubuhnya.


Haikal mendukung dengan penuh semangat.


"Kita berada di sini untukmu, sayang. Aku tahu kamu bisa melakukannya," ujarnya.


Dokter Gina menyampaikan instruksi dengan tegas.


"Perawat, berikan saya alat persalinan yang dibutuhkan saat ini."


"Tentu, Dokter Gina. Saya akan memberikannya sekarang," ujar perawat Sinta.


Proses persalinan berlanjut dengan fokus dan kerja sama antara Yasmin, Haikal, dan tim medis yang dipimpin oleh Dokter Gina. Mereka saling mendukung dan bekerja keras untuk memastikan kelahiran bayi berjalan dengan baik.


Setelah sekitar dua jam berjuang untuk melahirkan, akhirnya bayinya Yasmin keluar juga. Dokter Gina terkejut karena Yasmin melahirkan bayi kembar.


"Oh, ternyata Ibu Yasmin melahirkan bayi kembar! Ini sungguh suatu kejutan. Baiklah, mari kita pastikan bahwa kedua bayi dan ibunya dalam kondisi baik," ujar Dokter Gina.


Perawat menyiapkan alat dan memeriksa bayi.


"Saya akan segera memeriksa kesehatan bayi-bayi ini, Dokter Gina," ujar perawat itu.


"Masya Allah! Yasmin, kita diberkati dengan bayi kembar. Betapa indahnya!" ujar Haikal. Matanya berkaca-kaca, terharu dan bersyukur atas anugerah yang Allah berikan.


Yasmin terkejut dan tersenyum bahagia.


"Aku tak pernah membayangkan ini, Haikal. Ini sungguh berita yang menakjubkan."


Setelah memeriksa bayi pertama. Dokter Gina berkata, "Bayi pertama sehat dan keadaannya juga baik. Sekarang, mari kita periksa bayi yang kedua."


Perawat memeriksa bayi kedua dan berkata, "Bayi kedua juga sehat dan keadaan pun baik, Dokter Gina."


"Inilah bayi pertama kamu, Ibu Yasmin. Dia begitu cantik. Selamat, Ibu!" ujar Dokter Gina sambil menunjukkan bayi pertama kepada Yasmin.


Yasmin menyentuh bayi pertama dengan lembut.


"Terima kasih, Dokter Gina. Dia adalah anugerah yang luar biasa."


"Dan inilah bayi kedua kamu, Ibu Yasmin. Dia begitu lucu. Selamat sekali lagi, Ibu," ujar Dokter Gina sambil menunjukkan bayi kedua kepada Yasmin.


Yasmin mengeluarkan suara terharu.


"Oh, dia juga sangat indah. Aku tidak percaya aku memiliki dua buah hati sekaligus."


Haikal memeluk Yasmin dengan bahagia.


"Kita benar-benar diberkati, Sayang. Aku begitu bahagia. Kedua bayi kita adalah karunia yang tak ternilai."


Dokter Gina memberikan informasi tambahan.


"Karena bayi kembar ini mungkin merupakan kejutan, kita perlu memastikan mereka mendapatkan perawatan yang sesuai. Tim medis kami akan memantau mereka secara cermat untuk memastikan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik."


Perawat menyiapkan kamar bayi untuk kedua bayi tersebut.

__ADS_1


"Saya akan membantu memindahkan bayi-bayi ini ke kamar bayi dan merawat mereka dengan baik," ujar perawat tersebut.


Dokter Gina, Haikal, dan Yasmin saling tersenyum dan berterima kasih kepada tim medis.


"Terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Kami sangat bersyukur dengan hadirnya bayi-bayi kami yang indah ini," ujar Haikal.


...***...


Tidak lama kemudian, Sultan dan Fenny sampai di rumah sakit. Nadira tidak bisa ikut karena dia sudah hamil tua dan tidak kuat untuk berjalan. Akan sangat merepotkan kalau misalkan dia memaksakan untuk melihat keponakannya. Ammar pun masih sibuk dengan pekerjaannya di Pondok Pesantren Al Fathonah. Itu sebabnya, Nadira baru bisa melihat keponakannya melalui panggilan video.


Sultan masuk ke ruang persalinan dengan cemas. "Haikal, bagaimana kondisi Yasmin? Sudahkah dia melahirkan?"


Haikal menghampiri papanya. "Ya, Yasmin sudah melahirkan, Pa. Dia melahirkan bayi kembar, sungguh luar biasa!" jawabnya.


Fenny masuk dengan cepat. "Oh, sungguh berita yang menakjubkan! Bagaimana Yasmin? Apakah dia dan bayi-bayinya baik-baik saja?"


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Yasmin sedang dalam pemulihan dan kedua bayinya juga sehat," jawab Haikal.


Sultan menghela napas lega. "Itu kabar yang menggembirakan. Kami sangat bersyukur. Bolehkah kami melihat mereka?"


"Tentu, boleh, Pa. Namun Nadira dan Ammar tidak bisa ke rumah sakit karena beberapa alasan. Nadira sudah hamil tua dan tidak bisa berjalan jauh, sedangkan Ammar masih sibuk dengan pekerjaannya di Pondok Pesantren Al Fathonah," ujar Haikal.


"Ya, mama bisa memahaminya. Kita bisa menggunakan panggilan video untuk melibatkan Nadira. Dia pasti sangat ingin melihat keponakan barunya," ujar Fenny.


"Benar, itu adalah ide yang bagus, Ma. Aku akan mengatur panggilan video dengan Nadira sehingga dia bisa melihat bayi-bayinya," ujar Haikal sambil meraih ponsel di saku celananya.


"Bagus, mari kita segera menghubungi Nadira. Aku tak sabar ingin melihat cucu kembarku," ujar Sultan dengan semangat.


Haikal menyiapkan panggilan video dan menghubungi Nadira. Nadira pun menjawab panggilan video dengan wajah bahagia


"Assalamualaikum! Bagaimana kabar Kak Yasmin? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Nadira.


"Waalaikumsalam, Nadira. Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Yasmin melahirkan bayi kembar yang sehat dan cantik," jawab Haikal. Senyumannya tak pernah hilang dari raut wajahnya. Haikal benar-benar merasa bahagia.


"Nadira, mereka sangat menggemaskan! Sama sepertimu ketika masih bayi. Ada yang mirip denganmu," ujar Fenny sambil menyentuh cucu kembarnya.


Nadira menyentuh perutnya yang besar.


"Masyaa Allah. Tabarakallah. Sungguh berkat yang luar biasa. Aku merasa sangat bahagia untuk kalian, Kak. Bolehkah aku melihat mereka?"


"Tentu saja, Nadira. Mari aku arahkan kamera ke bayi-bayinya," ujar Haikal. Lalu memindahkan kamera ke bayi-bayi yang berada di samping Yasmin.


Nadira menangis bahagia.


"Betapa indahnya mereka! Masya Allah, aku merasa begitu beruntung bisa melihat mereka melalui panggilan video. Terima kasih, Kak Haikal. Terima kasih semuanya," ujar Nadira sambil menghapus cairan bening yang mengalir dari pelupuk matanya.


Sultan tersenyum sambil berkata, "Nadira, setelah semua pulih. Kamu akan melihat bayi-bayi ini secepatnya, tapi untuk saat ini, kamu istirahat yang cukup, ya. Yasmin juga harus beristirahat."


Fenny berkata sambil tersenyum. "Benar sekali, mari kita mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Yasmin dan bayi-bayinya. Semoga mereka tumbuh dengan baik..


Nadira mengusap air matanya. Terharu dengan kehadiran keponakan kembarnya. Padahal selama ini, Nadira tidak mendapatkan informasi bahwa kakak iparnya akan melahirkan bayi kembar. Apalagi Yasmin yang tidak pernah membayangkan sama sekali dalam hidupnya akan dianugerahi kedua putri kembar.


Setelah mengetahui bahwa Yasmin melahirkan bayi kembar secara tak terduga, keluarga Nadira akan merayakan keajaiban kelahiran kedua bayi dan bersiap untuk memulai perjalanan baru sebagai orang tua bayi kembar. Tim medis akan terus memberikan perawatan dan dukungan yang dibutuhkan untuk memastikan kesehatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.


Sambil memandangi perutnya yang besar, Nadira berkata, "Aku tidak bisa menahan rasa bahagia dan haru ini. Bayangkan jika aku juga melahirkan bayi kembar seperti Kak Yasmin. Sungguh, itu akan menjadi keajaiban yang luar biasa."


Nadira memejamkan matanya sejenak, membayangkan momen indah melahirkan bayi kembar. Dia membayangkan senyum kebahagiaan di wajahnya saat menyambut kedua bayinya ke dunia ini. Dia membayangkan saat merasakan tangan kecil bayi-bayinya yang menggenggam jemarinya dengan erat.


Nadira mengelus perutnya dengan lembut. "Kalian, bayi-bayi kecil di dalam sini, sungguh aku merindukanmu. Semoga kalian tumbuh dengan sehat dan kuat, seperti sepasang bintang yang bersinar terang di langit malam," ujar Nadira dengan khayalnya memiliki bayi kembar.


Nadira merasa terinspirasi oleh keberanian dan kebahagiaan Yasmin yang baru saja melahirkan bayi kembar. Meskipun dia tidak bisa mengalami momen itu secara langsung, dia merasa terhubung dengan mereka melalui ikatan keluarga dan kasih sayang yang mendalam.


Nadira mengucapkan doa dengan penuh harapan. "Ya Allah, izinkan aku menjadi ibu yang baik bagi bayi-bayiku nanti. Berikan aku kekuatan untuk menjalani peran ini dengan penuh cinta dan kesabaran. Aku bersyukur atas anugerah yang Kau berikan kepada Kak Yasmin, dan aku yakin, jika saatnya tiba, Kau akan memberikan keajaiban yang sama padaku. Aamiin."


Nadira membuka mata, dengan senyuman di wajahnya dan rasa syukur yang mengalir dalam hatinya. Dia yakin bahwa takdirnya akan membawanya ke momen indah menjadi seorang ibu bahagia, meskipun mungkin jalan yang dia tempuh berbeda dengan yang dialami oleh Yasmin. Dia siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa mendatang, dengan cinta yang melimpah dan keyakinan yang teguh.


...****...

__ADS_1


__ADS_2