Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Bintang Kejora


__ADS_3

Seperti bintang yang memancarkan cahayanya di tengah kegelapan, Hafiz telah menorehkan jejak gemilangnya di Kairo. Dia adalah pelangi yang berwarna-warni di padang pasir kehidupan akademik. Dengan ketekunan dan kecerdasannya, dia menjadi kilauan terang bagi Universitas Al Azhar.


Seperti mutiara yang terpilih di lautan pengetahuan, Hafiz melangkah dengan gagah berani di jalur Tafsir dan 'Ulumul Qur'an. Dia adalah tonggak kebanggaan Fakultas Ushuluddin, menghiasi langit-langit ilmu dengan prestasinya yang gemilang. Selama empat tahun berlalu seiring waktu, dia telah mengukir cerita sukses yang tidak akan pernah pudar.


Dalam kejenuhan dan tantangan yang tersembunyi di setiap sudut kampus, Hafiz tetap berdiri teguh. Seperti pahlawan dalam medan perang ilmu, dia memenangkan pertempuran-pertempuran kecil dalam mencapai tujuan akademiknya. Semua perjuangan dan keringat yang dituangkan tidaklah sia-sia, karena di balik semua itu, tersembunyi hadiah berharga yang ingin diberikan kepada kedua orang tuanya.


Dalam tarian waktu yang berputar, Hafiz mengisahkan perjalanan yang menakjubkan. Dia adalah burung rajawali yang terbang tinggi di langit harapan, mengepakkan sayapnya dengan semangat dan kegigihan yang tak tergoyahkan. Dia tahu bahwa hadiah bagi kedua orang tuanya bukanlah materi, melainkan kebanggaan dan rasa bahagia yang mengalir deras di hati mereka.


Sekarang, di titik perjalanan yang baru, Hafiz menghela napas dalam kepuasan. Dia telah memberikan hadiah yang tak ternilai kepada kedua orang tuanya: buah dari jerih payahnya, prestasi yang kilat, dan harapan yang membara. Meskipun masa depan membawa tantangan baru, dia tahu bahwa dia telah memberikan fondasi yang kuat untuk dirinya sendiri dan keluarganya.


Dalam kisah hidup yang terus berjalan, Hafiz adalah penulis cerita yang brilian. Dia menuliskan bab demi bab dengan keuletan dan semangat yang membara. Meski terkadang kata-kata menjadi gelap, tetapi dia tahu bahwa dalam kegelapan itulah bintang-bintang paling terang berpijar. Bintang itu, dalam wujudnya yang gemilang, adalah Hafiz sendiri.


"Alhamdulillah, puji syukur, Hafiz dinyatakan lulus sebagai mahasiswa terbaik dan teladan dengan IPK 4, Ma, Pa," ujar Hafiz saat terhubung dengan jaringan telepon video kepada Mama dan Papanya.


Terlihat, mata Nadira berkaca-kaca, meskipun tidak bisa menyaksikan langsung dan memeluk anaknya secara nyata, tetapi air mata haru Nadira sudah mewakili betapa bangganya dia dengan putra sulungnya.



"Selamat ya, Nak. Mama sampai bingung ingin mengatakan apa kepadamu. Intinya, mama bangga padamu, Hafiz," ujar Nadira sambil menghapus air matanya yang mengalir.



"Papa juga sangat bangga kepadamu, Nak," ujar Ammar dengan acungan jempol. Dia tersenyum bangga.



"Terima kasih, Ma, Pa. Mungkin inilah yang dinamakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," ujar Hafiz sambil menunjukkan piagam penghargaan yang diterima. "Semua ini untuk kalian, Ma, Pa, dan semua keluargaku."



Tidak lama kemudian, Hamzah yang dulu ditinggal masih kecil oleh Hafiz, sekarang sudah remaja, ikut nimbrung. Kalau Hamzah sudah beranjak remaja, artinya sepupu kembarnya (Aisha dan Aqeela) pun sudah beranjak remaja.



"Wow, Hamzah! Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu sudah beranjak remaja sekarang, ya? Waktu benar-benar berlalu dengan cepat," ujar Hafiz yang takjub melihat adiknya itu.



"Iya, dong, Kak Hafiz! Masa mau kecil terus," jawab Hamzah dengan gaya bicaranya yang masih menggemaskan, tidak pernah berubah, hanya usianya saja yang bertambah. "Aku sudah memasuki masa remaja sekarang. Rasanya seperti baru kemarin kita bermain-main di halaman rumah Oma dan mengelilingi pesantren kakek yang luasnya entah berapa hektare ini, soalnya aku belum ngukurnya," ujar Hamzah sekenanya. Hal ini membuat semua orang tertawa.



"Sungguh tak terasa betapa cepatnya waktu berlalu. Bagaimana kabar sepupu kembar kita, Aisha dan Aqeela? Mereka juga pasti sudah beranjak remaja. Kangen banget sama kalian," ujar Hafiz.



"Tentu saja! Aisha dan Aqeela juga sudah menginjak masa remaja. Mereka berdua tumbuh dengan baik, semakin cerdas dan cantik. Mereka berdua seringkali menimbulkan kehebohan di rumah dengan kegembiraannya," jawab Hamzah dengan heboh.


__ADS_1


"Aisha dan Aqeela memang selalu energik dan ceria sejak kecil. Aku rindu untuk bertemu dengan mereka lagi. Bagaimana mereka menjalani hari-hari remaja mereka?" tanya Hafiz yang semakin antusias mendengarkan perkembangan pertumbuhan adik-adiknya.



"Mereka berdua sangat aktif di sekolah dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Aisha tertarik dengan seni musik dan sering bermain gitar, sedangkan Aqeela lebih fokus pada kegiatan olahraga, terutama renang. Mereka berdua memiliki bakat dan minat yang berbeda-beda, tapi tetap kompak dan saling mendukung satu sama lain." Hafiz menceritakan dengan lihai, karena memang memahami pertumbuhan sepupu kembarnya itu. Meskipun jarang bertemu, tetapi Hafiz dan si kembar sering bertukar kabar.



"Itu sangat mengagumkan! Mereka benar-benar memiliki semangat dan dedikasi yang luar biasa. Aku berharap bisa menghabiskan waktu bersama mereka lagi, seperti kita dulu, meskipun waktuku di Indonesia selalu sedikit, tetapi kita benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berkumpul dan bermain bersama-sama," ujar Hafiz dengan semangat membara.



"Pasti mereka juga sangat merindukanmu, Hafiz. Kami sering berbicara tentangmu dan perjalananmu di Kairo. Aisha dan Aqeela sangat bangga memiliki sepupu sehebat kamu."



"Terima kasih, Hamzah. Aku juga merindukan semua momen indah bersama kalian. Semoga suatu hari nanti kita bisa berkumpul lagi dan membuat kenangan baru bersama."



"Pasti, Kak! Kita akan menunggu momen itu dengan sabar. Sampai saat itu tiba, mari kita tetap menjalin komunikasi dan membagikan cerita-cerita kita melalui pesan dan panggilan video."



"Tentu, kita tidak boleh kehilangan ikatan kita meskipun jarak memisahkan. Aku sangat berterima kasih memiliki keluarga seperti kalian. Kita tetap satu keluarga meski berada di tempat yang berbeda."




"Sampai jumpa, Hamzah! Sampaikan salamku pada Aisha dan Aqeela. Semoga kalian semua selalu sehat dan bahagia," ujar Hafiz menutup percakapannya dengan Hamzah.



Telepon itu pun diberikan Hamzah kepada mama dan papanya karena dia sudah jadwal masuk kelas.



"Oh iya, kapan kamu pulang ke Indonesia, Nak?" tanya Nadira yang tak sabar ingin berjumpa, memeluk, dan mencium putra sulungnya itu.



Ammar menaikkan alisnya ketika melihat ekspresi Hafiz yang berubah, dari ceria menjadi murung. "Kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya dengan tenang meskipun ada rasa kekhawatiran yang muncul.



"Ma, Pa, ada punya kabar yang ingin aku bagikan dengan kalian. Setelah menyelesaikan S1, aku telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di kampus yang sama di Kairo ini."


__ADS_1


"Oh, sungguh berita yang luar biasa, Hafiz! Kami sangat bangga padamu. Tapi, apa artinya ini? Berarti kamu akan lama lagi tinggal di Kairo dan jarang kembali bertemu dengan kami dan anggota keluarga kita di Indonesia."



"Iya, Pa. Aku menyadari bahwa ini akan memisahkan kita dalam waktu yang lebih lama. Tapi, beasiswa ini adalah kesempatan yang tak bisa aku lewatkan. Aku ingin terus mengejar pengetahuan dan pengalaman baru."



"Kami mengerti, Nak. Kamu selalu memiliki semangat yang kuat dalam mengejar cita-citamu. Tapi, kami juga khawatir tentang biaya hidupmu di sana. Bagaimana kamu bisa mengatasinya?"



"Ma, aku mendapatkan pekerjaan selama tinggal di Kairo. Meskipun kalian belum mengirimkan uang untuk biaya hidupku, setidaknya aku memiliki penghasilan sendiri. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengatur keuangan dan memastikan keberlangsungan hidupku di sini."



"Itu berita yang baik, Hafiz. Kami yakin kamu mampu mengatur segalanya dengan baik. Tapi jangan lupakan bahwa keluarga kita di sini selalu mendukungmu dan menyayangimu. Kami akan merindukanmu setiap hari," ujar Nadira dengan helaan napas berat, tetapi dia harus tetap kuat ketika melihat semangat anaknya dalam belajar.



"Terima kasih, Ma, Pa. Aku juga akan merindukan kalian. Namun, ini bukanlah perpisahan selamanya. Aku akan selalu menghubungi kalian dan berbagi cerita-cerita tentang perjalanan dan pencapaianku di sini."



"Kami akan selalu mendukungmu, Nak. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya. Ingatlah bahwa keluarga adalah tempatmu pulang, di mana pun kamu berada."



"Aku akan selalu mengingat itu, Ma. Terima kasih atas segala dukungan dan cinta yang kalian berikan. Aku akan berusaha sebaik mungkin dan membuat kalian semakin bangga kepadaku."



"Kami yakin kamu akan berhasil, Hafiz. Jadilah cahaya yang bersinar di negeri yang baru. Kami akan selalu mendoakanmu dan menunggu kehadiranmu kembali di samping keluarga tercinta."



"Terima kasih, Pa. Hafiz berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan akan terus berusaha meraih impianku. Aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian."



Nadira dan Ammar mengangguk. Deraian air mata Nadira menetes tak berkesudahan. Selain terharu atas keberhasilan anaknya, dia pun tak bisa menahan rasa rindu untuk bertemu dengan Hafiz.



"Oh iya, titip salam untuk semuanya ya, Ma, Pa." Hafiz mengakhiri percakapan mereka.


Dalam suasana yang penuh kebersamaan dan cinta, Hafiz dan keluarganya saling menguatkan satu sama lain. Meskipun jarak memisahkan mereka, tetapi kekuatan ikatan keluarga mereka tetap tak tergoyahkan. Mereka bertekad untuk melalui perpisahan ini dengan keyakinan bahwa keberhasilan Hafiz akan menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mereka semua.


...****...

__ADS_1


__ADS_2