
Beberapa tahun kemudian, karena Hafiz sudah beranjak remaja. Ammar dan Nadira memutuskan untuk pindah ke pesantren karena janji Ammar kepada abinya, yaitu mereka akan tinggal di pesantren milik abinya setelah Hafiz lulus SD.
Pondok Pesantren Al Fathonah menjadi gerbang awal mula Ammar benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebagai seniman dan Nadira mendapatkan inspirasi baru untuk novel dengan genre yang lebih Islami untuk diterbitkan ke depannya. Hafiz, putra dari Nadira dan Ammar pun mulai memperdalam ilmu agama di pondok pesantren milik kakeknya tersebut.
"Papa. Memangnya kita harus banget, ya, pindah dari sini?" tanya Hafiz sambil membantu Ammar berkemas.
"Iya, Nak. Papa sudah janji sama kakekmu, kalau kamu sudah lulus SD, kita akan tinggal di Pondok Pesantren Al Fathonah," jawab Ammar yang masih terlihat sangat sibuk berkemas. Lalu sesekali menatap wajah anaknya yang tampak sedih.
"Hafiz pasti sedih karena rumah ini banyak kenangan tentang masa kecilmu, kan? Walaupun papa jarang pulang, tapi Hafiz pasti nanti akan sangat rindu rumah ini," ujar Ammar yang memahami perasaan anaknya. Nadira dan Ammar memang belum diberikan keturunan lagi setelah kelahiran Hafiz, tapi itu tidak membuat mereka bersedih hati. Mereka selalu berbaik sangka pada Sang Pemilik Takdir, karena Dia (Allah) tahu yang terbaik untuk hidup mereka.
Hafiz mengangguk. Lalu Nadira datang membawa semua barang yang sudah dikemas. Ammar yang melihat Nadira kesusahan membawa barang-barang tersebut, langsung menghampiri.
"Sebentar, papa bantu mama dulu," ujar Ammar.
"Aku juga mau bantu mama," ujar Hafiz, mengejar langkah papanya.
Dua laki-laki yang sangat dicintai Nadira itu pun kompak membawa barang-barang yang sudah selesai dikemas dan dibawa ke mobil. Nadira tersenyum bahagia melihatnya dan bangga kepada Hafiz, tumbuh menjadi anak yang insyaa Allah seperti apa yang diharapkan.
__ADS_1
Satu jam kemudian, semua barang mereka sudah diangkut semua. Beberapa barang dibantu oleh mobil pick up dan yang lainnya mereka bawa dengan mobil pribadi.
Nadira, Ammar, dan Hafiz memperhatikan setiap sudut ruangan di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ternyaman dalam hidupnya. Lingkungan tempat tinggal mereka selama beberapa tahun ini, sangatlah positif. Apalagi tetangganya pada ramah dan suka tolong menolong. Namun, janji Ammar pada abinya dan pada diri sendiri, tidak bisa diingkari. Apalagi abinya Ammar sudah semakin menua, tidak ada salahnya mengabdi pada pondok pesantren yang telah lama dibangun oleh abinya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka bertiga telah sampai di pondok pesantren Al Fathonah. Mereka disambut meriah oleh para santri dengan beberapa rangkaian acara, di antranya menyambut kedatangan anak, menantu, dan cucu dari Kiai Lutfi selaku pimpinan pondok pesantren; menginformasikan kepada seluruh santri dan pengasuh bahwa Ammar adalah pewaris Pondok Pesantren Al Fathonah yang akan meneruskan perjuangan pondok tersebut ketika sewaktu-waktu, ajalnya menjemput; serta beberapa hal penting yang harus diinformasikan pada saat bersamaan dengan kedatangan Ammar, Nadira, dan Hafiz.
Hafiz menghampiri kakek dan neneknya usai acara berlangsung. Hafiz mengatakan bahwa dia merasa senang karena ada banyak santri seusianya yang mengemban pendidikan agama Islam di pondok pesantren tersebut. Walaupun peraturan di pesantren sangat ketat, Hafiz tidak merasa keberatan dengan adanya peraturan yang berlaku.
Beberapa kebiasaan atau kegiatan yang rutin dilakukan setiap harinya adalah bangun pagi, karena hidup menjadi seorang santri tidak jauh berbeda dengan kehidupan muslim pada umumnya, yakni bangun pagi untuk salat Subuh. Namun, sebagai anak pondok, mereka harus bangun lebih pagi, yakni sekitar jam 03.00 WIB untuk melakukan salat malam dan mujahadah, setelahnya—dilanjut salat Subuh berjamaah. Mujahadah adalah semacam zikir bersama-sama. Walaupun tidak semua pesantren melakukan mujahadah, tetapi di Pesantren Al Fathonah adalah salah satu pesantren yang melaksanakan kegiatan rutin zikir bersama yang dilakukan dua kali dalam sehari, pertama setelah salat Subuh dan kedua setelah salat Magrib.
Banyak hal yang diajarkan ketika masuk di pesantren, termasuk hidup sederhana dan makan bersama dengan lauk seadanya. Namun, Hafiz merasa yakin kalau dirinya akan sanggup hidup menjadi santri. Sesuai arti namanya, yaitu Wahid Amzar Hafizuddin Baraqbah berarti seorang anak pertama laki-laki yang memiliki sifat mulia dan memiliki pundak yang kuat dalam memelihara agama. Meskipun terlahir dari keluarga berkecukupan yang bisa dikatakan orang kaya, tetapi Hafiz tidak pernah merasa lebih dari orang lain. Justru dia sangat peduli dan suka membantu. Hal inilah yang membuat Nadira dan Ammar bangga pada putranya tersebut. Mereka merasa bersyukur telah dikaruniai seorang anak seperti Hafiz. Apalagi ketika Hafiz mengaku, tidak keberatan untuk tinggal di pesantren yang notabenenya tidak sering-sering memegang hp. Biasanya kalau suntuk, sesekali main games, tetapi setelah tinggal di pesantren, Hafiz tidak bisa merasakan fasilitas seperti yang didapat sebelumnya.
Menurut H.M. Arifin (1995:14), tujuan umum pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, yang sanggup dengan ilmunya menjadi mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam baik secara lisan atau tulisan) Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
Malam harinya, untuk pertama kalinya Hafiz tinggal dan tidur bersama para santriwan di pondok pesantren Al Fathonah, tidak lagi satu atap dengan orang tuanya, tetapi tetap berada dalam lingkungan yang sama.
__ADS_1
"Semoga Hafiz betah tinggal dan berteman dengan para santri di sini," ujar Nadira sambil memeluk putranya.
"Mama tenang saja, Hafiz tidak akan pernah mengecewakan Mama dan Papa, khususnya kakek Lutfi," ujar Hafiz.
Ammar tersenyum melihat anaknya sudah beranjak remaja dengan pemikiran yang semakin dewasa. Sejak kecil, sudah terlihat kalau dia anak yang penurut dan selama ini, Ammar dan Nadira tidak pernah mengeluhkan kenakalan-kenakalan yang membuat mereka naik pitam.
"Ehem, obat nyamuk murah banget, ya!" ujar Ammar yang mengajak bercanda. Tingkahnya seakan sedang cemburu sosial, karena hanya Nadira yang dipeluk oleh Hafiz.
Karena terbawa perasaan, cairan bening dari pelupuk mata Nadira keluar dan tidak fokus dengan maksud dari kalimat candaan suaminya.
"Memangnya di sini banyak nyamuk ya, Pa?" tanya Nadira dengan mimik muka polos.
Hafiz menarik tangan Ammar, menyatukan tangan kedua orang tuanya tersebut.
"Pokoknya, Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Hafiz akan belajar dengan sungguh-sungguh di sini agar bisa buat semua orang bangga sama Hafiz. Biar Allah juga bangga sama Hafiz yang semangat dalam menimba ilmu agama." Ucapan Hafiz selalu mengandung bawang.
__ADS_1
Karena sudah waktunya tidur, Hafiz pun berpamitan untuk ke kamarnya. Ammar merangkul Nadira dengan penuh kasih sayang. Banyak harapan yang ada dalam benak mereka berdua. Semoga Allah selalu mengabulkan segala doa dan hajatnya untuk keluarga mereka.
...****...