Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Guru Terbaik


__ADS_3

Nadira terkejut melihat isi hadiah dari Ammar. Sedangkan yang lainnya tersenyum melihat mimik muka Nadira yang terlihat bingung.


"Ini, untukku?" tanya Nadira, polos, dengan perasaan campur aduk; bingung, terharu, dan senang.


"Iya, Nad. Kenapa? Tidak suka, ya?" tanya Ammar.


"Ihh, bukan gitu maksudnya," ujar Nadira, memerhatikan lingkaran kecil di kotak bening yang ada di tangannya.


Ibunya Nadira mulai menggoda.


"Kalau tidak mau, cincinnya buat mama saja." Fenny tertawa kecil.


"Mama apaan, sih? Kan Kak Ammar ngasihnya buat aku," ujar Nadira yang langsung membuka kotak kecil itu dan memakai cincinnya.


Ammar memberikan cincin bukan hanya sebagai hadiah belaka, melainkan simbol pengikat untuk hubungan mereka sebagai calon pasangan suami dan istri.


Saat sedang membicarakan kembali rencana pernikahan Nadira dan Ammar, tiba-tiba sorot mata Nadira ke arah laki-laki bertubuh tegap dan tinggi semampai yang masih belum beranjak dari tempat duduknya. Padahal semua penonton sudah meninggalkan ruangan. Laki-laki yang tidak asing lagi bagi Nadira.


Haikal mengikuti sorot mata adik kesayangannya dan melihat laki-laki yang sedang dipandangi Nadira. Luka lama seakan mengelupas. Laki-laki itu adalah orang yang pernah ada di masa lalu Nadira. Semua orang pun menyadari kehadiran Jerry. Laki-laki yang pernah menggoreskan luka di hati Nadira itu kini ada dihadapan Nadira dan Ammar beserta keluarga mereka.


Nadira berusaha tenang tapi pikirannya bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa dia bisa ada di sini? Datang di saat aku sudah melupakanya."


Satu langkah lagi, Jerry berdiri—tepat dihadapan Nadira. Dari rawut wajahnya, ada penyesalan yang terlihat. Haikal mencoba mencegah Jerry agar tidak lagi berbicara pada adiknya karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Namun, Nadira yang pemaaf, memberi kesempatan Jerry untuk berbicara. Entah terbuat dari apa hati perempuan lulusan Sarjana Sastra ini. Meski ada yang menyakiti, dia sama sekali tidak memiliki rasa dendam.


Jerry sedang mengumpulkan diksi yang pas untuk melontarkan permintaan maaf kepada Nadira dan keluarganya. Ammar yang memang belum memiliki hak atas Nadira, hanya diam bahkan mengajak kedua orang tuanya untuk pulang lebih dulu. Namun, Nadira menoleh ke arah Ammar yang berdiri di samping kirinya, memberikan kode kepada calon suaminya itu agar tidak meninggalkan ruangan. Ammar mengangguk.

__ADS_1


Pergi tanpa kata, membuat Jerry kembali meminta maaf karena dia masih belum tenang sebelum Nadira benar-benar memaafkannya.


"Nad. Untuk kejadian lalu, aku bebar-benar minta maaf. Aku memang pengecut. Tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Bahkan, salahku adalah menjadikanmu kekasih ketika aku masih memiliki calon istri dan juga tidak pernah terbuka tentang kehidupanku. Apalagi menyangkut keyakinan yang aku anut. Ini sangat sensitif untuk dibicarakan, tetapi bukan berarti aku dengan seenaknya menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Jadi, tolong ..., maafkan aku!" pinta Jerry dengan menyatukan kedua tangannya.


Nadira masih bungkam.


Tatapan Jerry berpindah ke arah Haikal.


"Kakak adalah orang yang paling dekat dengan Nadira. Tolong beritahu padanya agar memaafkanku! Kumohon ...." Mata Jerry berkaca-kaca. Terlihat jelas ketulusannya dalam mengakui kesalahan.


"Terus terang, aku sangat kecewa padamu, tapi ... sungguh, aku tidak bisa membantumu membujuk Nadira. Aku menghargai apa pun keputusannya karena adik kecilku ini sudah cukup dewasa dalam memutuskan sesuatu hal." Haikal tersenyum dan memegang bahu Nadira.


"Baik, Kak! Terima kasih karena pernah mengizinkanku untuk mengenal Nadira lebih dekat, meskipun hubungan kami dimulai dari kebohongan dan berakhir kekecewaan yang sangat melukai hati Nadira." Jerry berusaha menyeka air mata yang hendak menetes.


Jerry juga meminta maaf kepada kedua orang tua Nadira. Sultan dan Fenny memaafkan perbuatan Jerry. Hanya saja, Nadira masih bungkam. Dia terpaksa membuka lembaran halaman sejarah yang tidak ingin lagi dibaca. Namun, bagaimana pun juga, dari rasa kecewa yang terjadi, banyak pembelajaran yang didapat.


...***...


Beberapa menit kemudian, mulut yang sengaja dikunci, kini dibuka.


"Kamu tidak sepenuhnya bersalah, aku pun minta maaf karena terlalu terburu-buru dalam menerima cintamu, hingga tidak memiliki waktu untuk mencari tahu identitasmu," ujar Nadira menghela napas sejenak. Lalu melanjutkan ucapannya. "Terlebih, kehadiranku hanyalah menjadi perusak hubunganmu dengan Farah. Mungkin benar, cinta itu buta. Hingga setiap insan selalu terbuai dengan kisah asmara. Untuk itu, kita saling memaafkan saja, ya. Lupakan semuanya dan bangkit untuk masa depan yang lebih baik. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kita semua."


Semuanya terharu dengan kata-kata bijak yang keluar dari mulut Nadira mengaamiinkan doa dari gadis penyuka hujan dan senja ini.


"Terima kasih, Nad. Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku bisa pergi dengan tenang."

__ADS_1


Ucapan Jerry menimbulkan pertanyaan baru di benak Nadira. Dia mengerutkan dahinya, pikiran bertanya-tanya tentang pernyataan Jerry yang terakhir.


"Pergi dengan tenang? Maksudnya gimana, Jer?" tanya Nadira.


"Iya, Nad. Hari ini aku akan terbang ke Singapura untuk mencari suasana baru. Doakan aku, ya. Semoga bisa menemukan perempuan sepertimu."


Pernyataan Jerry semakin melebar dan membingungkan.


"Hah? Farah ke mana, Jer?"


"Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan, satu hari setelah kepergianmu kala itu."


"Sebentar, kok aku jadi semakin bingung gini. Jadi, kalian sekarang tidak lagi memiliki hubungan dan itu artinya kamu saat ini, single, begitu kah?" Pertanyaan Nadira semakin memburu. Alisnya naik.


"Benar, Nad. Kami sudah menjalani kehidupan masing-masing karena memang setelah menjalaninya, tidak ada kecocokan di antara kami berdua. Lagian, Farah juga sudah menemukan laki-laki yang sangat mencintainya. Dia sudah menikah."


Nadira benar-benar tidak menyangka dengan alur cerita yang dialami sampai sejauh ini. Inikah yang dinamakan plot twist dalam kehidupan? Entahlah! Manusia hanya bisa menjalankan takdir yang telah tertulis di kitab Lauh Mahfuz.


"Kamu yang sabar, ya. Semoga Tuhan memberikan jodoh terbaik untukmu."


Kemudian Nadira tidak lupa mengenalkan calon suaminya kepada Jerry. Keduanya tampak biasa saja, tidak ada rasa cemburu atau bagaimana. Semua terlihat baik-baik saja. Jerry mengucapkan selamat kepada mantan kekasihnya dan segera berlalu karena harus bersiap-siap untuk terbang ke luar negeri malam ini juga.


Memaafkan orang yang telah menorehkan luka di hati adalah salah satu bentuk kedewasaan seseorang. Pun untuk mendamaikan hati dan menjaga kesehatan mental, inilah cara yang tepat untuk hal tersebut. Menerima keadaan, memaafkan diri sendiri, dan memulai kehidupan dengan hal-hal yang positif tanpa adanya pikiran yang menyebabkan luka batin kembali bersemayam. Itulah yang dilakukan Nadira. Bijaksana dan dewasa setelah mengalami luka batin yang luar biasa.


"Masalah adalah ujian terbesar dalam sekolah kehidupan dan darinyalah kita bisa mempelajari banyak hal tentang ilmu kehidupan. Terima kasih telah menjadi guru terbaik di sekolah kehidupan ini."

__ADS_1


Nadira menutup ponselnya usai mengetik kalimat tersebut. Mereka pun meninggalkan gedung bersejarah yang menjadi salah satu saksi atas perjalanan hidup Nadira.


...****...


__ADS_2