Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Keyakinan Nadira dan Amarah Ammar


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Ammar, Nadira pergi menemui beberapa santri yang kemarin piket dengan Hafiz. Nadira yakin, kalau anaknya tidak seceroboh itu bisa terpeleset begitu saja.



Derap langkah Nadira sedikit cepat. Tidak membutuhkan waktu lama, Nadira sampai pada teman-teman Hafiz dengan napas tersenggal-sengal.



"Assalamualaikum, Dek. Boleh ngobrol sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan sama kalian," ujarnya.



"Waalaikumsalam, Ustazah," jawab para santri yang merupakan teman Hafiz secara setentak.



"Mau tanya apa, Ustazah?" tanya Candra, penasaran.



"Iya, Ustazah. Sepertinya Ustazah lagi mengkhawatirkan sesuatu." Faiz menduga.



"Jadi, gini. Kemarin waktu kalian piket, Hafiz jatuh di mana?" tanya Nadira.



Teman-teman santrinya Hafiz sebanyak empat orang itu saling bertatapan. Mereka seakan sedang bicara antar batin. Mereka pun saling menyenggol bahu. Tidak berani berkata yang sejujurnya.



"Tidak ada yang ingin jujur nih sama Ustazah Nadira?" Nadira memancing keempat santri itu agar bicara yang sejujur-jujurnya tentang kronologi Hafiz terjatuh. Mungkin bagi beberapa orang, itu hal sepele, tapi tidak bagi Nadira. Bukan pula berlebihan, tapi firasat Nadira tidak enak dan dia tidak mau membuat prasangka yang buruk, khawatir malah jadi fitnah. Itu sebabnya dia mau mendengar langsung dari para santri yang kemarin dijadwalkan piket bersama Hafiz.



Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Quran surat Al Hujarat ayat 12 berfirman,


"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."



Dikutip dari buku 'Belajar Aqidah Akhlak' karya Muhammad Asroruddin Al Jumhuri bahwa huznuzan itu salah satu perilaku mulia, yakni berbaik sangka. Sikap ini memiliki cara pandang seseorang untuk melihat sesuatu secara positif, sehingga hati dan pikirannya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya.



Adapun sikap husnuzan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam, yakni husnuzan kepada Allah, kepada diri sendiri, dan kepada sesama manusia. Husnuzan kepada Allah artinya berprasangka baik kepada Allah sebagai Robbul 'Alamin, sebagai pencipta, pemelihara, yang memiliki seluruh keagungan dan tidak terdapat satu pun kekurangan. Husnuzan terhadap diri sendiri adalah berbaik sangka terhadap diri sendiri, misalnya gigih, pantang menyerah, dan sabar. Terakhir, husnuzan terhadap orang lain adalah selalu berpikir positif kepada sesama.



Menurut Syaikh Abdullah Ibn Alwi al-Hadad, kriteria berbaik sangka adalah ketika kita meyakini tidak adanya kejahatan dalam setiap perbuatan dan perkataan orang lain. Walaupun pada kenyataannya, orang lain memiliki maksud jahat, maka kita harus tetap berbaik sangka bahwa orang lain itu bisa bertobat.



"Kemarin saat lagi ngepel di teras kamar santri, ada kulit pisang. Saat kami teriak, Hafiz sudah keburu menginjak kulit pisangnya, Ustazah," terang Jaka.



Nadira terkejut mendengar pernyataan tersebut. Nadira heran, kenapa ada kulit pisang. Padahal sepengetahuannya, lingkungan pesantren tidak pernah ada sampah lain, selain daun dan ranting. Nadira curiga kalau ada yang sengaja membuang kulit pisang itu agar putranya terjatuh. Nadira terus menyelidiki, siapa yang berani menyakiti anaknya.



"Maksudnya kulit pisang itu memang ada di sana atau ada yang iseng melemparnya?" tanyanya.


__ADS_1


"Kami liat ada yang ngelempar kulit pisangnya ke arah Hafiz, Ustazah, tapi enggak tahu siapa," jawab Jaka dan dibenarkan oleh yang lainnya.



"Astaghfirullahal 'adziim." Nadira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Siapa yang berani melakukannya, ya? Kalau anak santri, kayaknya enggak mungkin. Kalian kan diajarkan untuk menjaga kebersihan." Nadira bertanya-tanya.



"Kami juga baru kali ini melihat ada yang iseng begitu, Ustazah," ujar Candra.



"Ya sudah, saya pamit dulu, ya. Terima kasih informasinya. Assalamu'alaikum." Nadira pamit dengan terburu-buru.


...***...


Di sebuah ruangan, Ammar memikirkan hal yang sama ketika Nadira menceritakan hal tersebut kepadanya. Apalagi Ammar melihat bayangan seseorang dari luar UKS saat memeriksa suara bising yang menghentikan perbincangan mereka sore itu.



Nadira dan Ammar berpikir keras. Lalu, terdengar suara ada yang mengetuk pintu. Mereka menyuruh orang itu masuk.



"Ada apa?" tanya Ammar.



"Maaf, Pak Ustad, kalau saya ganggu. Pak kiai minta saya untuk manggil Pak Ustad. Ditunggu di ruangan beliau," ujar santri yang bernama Candra.



"Iya. Makasih, ya, Candra. Nanti saya ke sana," ujar Ammar.




"Kak. Aku bisa sabar kalau Kakak tidak suka dengan keberadaanku dan Umi Aisyah. Aku bisa terima kalau Kakak menyakitiku, tapi aku tidak akan pernah terima kalau yang disakiti adalah anakku, Umi Aisyah, abi, dan istriku," ujar Ammar, menghela napas sejenak. "Aku mohon sama Kakak, tolong jangan pernah bawa-bawa Hafiz dengan masalah kita. Hafiz itu masih kecil, Kak. Dia sama sekali belum mengerti apa yang terjadi." Ammar menambahkan ucapannya. Mimik muka berwarna merah padam.



"Abi tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Ali. Abi hanya tidak habis pikir, kalau memang kamu pelakunya, kenapa kamu bisa memiliki niat sejahat ini? Padahal Hafiz adalah keponakanmu sendiri," ujar Lutfi, menggelengkan kepala. Lutfi kecewa dengan Ali.



"Kalian ini kenapa, coba. Menuduh tanpa bukti yang kuat itu sama saja dengan fitnah!" ujar Ali, menolak disalahkan. "Lagian, cuma luka kecil doang, kok malah dibesar-besarkan begini," lanjutnya.



"Apa? Kakak bilang cuma luka kecil? Sekarang Hafiz terluka karena kulit pisang, tapi besok, lusa, atau kapan, bisa saja Kakak melakukan hal yang lebih parah dari ini!" ujar Ammar yang sudah lepas kendali. Nada suaranya tidak bisa dikecilkan lagi.



Aisyah diam saja karena tidak mau memperkeruh suasana. Sedangkan Nadira, sedang berpikir dan menganalisa semua informasi yang didapat.



"Ammar! Ali! Sudah, cukup ...!" ujar Lutfi yang tiba-tiba duduk. Jantungnya terasa sakit.



"Astaghfirullahal 'adziim. Abi ...!" ujar Aisyah seraya membantu suaminya duduk. Lalu memberikan segelas air minum yang diambil Nadira dari dispenser air yang memang sengaja disediakan di ruangan tersebut.


__ADS_1


Melihat abi mereka seperti itu, Ammar dan Ali saling menyalahkan. Nadira menghentikan pertengkaran suami dan kakak iparnya.



"Ammar! Kak Ali! Kalian ini kenapa, sih? Jangan bersikap seperti anak kecil gini. Aku adalah ibunya Hafiz, tapi kalau dipikir-pikir, Kak Ali juga ada benarnya. Kita tidak bisa menuduh orang tanpa bukti yang kuat.



"Buktinya sudah ada, Nad. Ada yang lihat Kak Ali berada di sana kala anak kita terpeleset. Kalau bukan dia yang sengaja membuang kulit pisang itu, lalu siapa coba?" Ammar menunjuk wajah Ali dengan jarinya.



Nadira menghela napas pendek sejenak.



"Tenang, Sayang. Emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Aku yakin, kamu pasti lebih paham agamanya daripada aku. Apalagi kamu pernah kuliah di Kairo untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Tahan amarahmu karena saat marah, setan akan memiliki kesempatan untuk mengendalikan diri kita. Jadi, aku minta tolong sama kamu untuk tenang," pinta Nadira. Lagi pula, mau bagaimanapun juga, kalian itu bersaudara. Kakak-beradik. Tidak seharusnya bertengkar seperti ini," lanjutnya.



"Istri kamu lebih pintar daripada kamu, Mar," ujar Ali.



Ammar beristighfar.



"Benar juga yang dibilang Nadira," ujar Lutfi. "Ali! Tolong kamu jujur sama kami semua, apa yang kamu lakukan saat kejadian itu?" tanya Lutfi. Sorot matanya fokus ke arah putra pertamanya itu.



Ali menceritakan apa yang dilakukan kala itu. Semua mendengarkan penjelasan Ali. Namun di sela-sela amarah Ammar dan Lutfi kepada Ali, tiba-tiba ada dua orang santri yang memberikan kabar bahwa ada yang mengirimkan surat untuk Nadira dan Ammar.



Di gerbang pintu masuk pesantren, memang sengaja diberikan kotak surat karena ada beberapa instansi atau yang lainnya yang sering mengirimkan informasi melalui jasa ekspedisi. Selain itu, pesantren juga berlangganan salah satu media cetak koran agar tidak ketinggalan informasi di luar pesantren.



Mereka membuka isi surat yang tertulis dengan huruf kapital semua. Surat tersebut ditulis dengan tetesan darah.



"NADIRA! AMMAR! KALIAN BERDUA PASTI TERKEJUT MELIHAT TULISAN PADA SURAT INI YANG BERCAMPUR DARAH. KALIAN JUGA PASTI SEDANG MEMIKIRKAN SIAPA YANG BERNIAT MENCELAKAKAN ANAK KALIAN. INI BARU PERMULAAN. TUNGGU PERMAINAN PERMAINAN SELANJUTNYA!"



"Ada apa, Ammar? Wajah kalian berdua tampak cemas begitu," tanya Lutfi.



"Ada yang ingin bermain-main dengan kita, Abi. Hafiz adalah senjata untuk menyakitiku dan Nadira," jawab Ammar. Tatapannya ke arah Ali.



"Kamu ngapain lihat aku dengan tatapan tajam seperti itu?" tanga Ali, kesal.



Nadira memegang pundak Ammar dan memejamkan mata sambil menggelengkan kepala—memberikan kode agar suami tercintanya itu tidak terpancing emosi lagi.



Akhirnya, mereka pun akan lebih berhati-hati agar tidak ada kejadian yang serupa atau lebih parah dari yang dialami Hafiz. Karena kalau benar bukan Ali pelakunya, bisa saja orang lain yang mereka pun tidak tahu siapa orangnya. Nadira dan Ammar merasa tidak pernah ada musuh selama hidup mereka.

__ADS_1


...****...


__ADS_2