Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Rindu yang Terbalas


__ADS_3

Hafiz berdiri di tengah-tengah Kairo, tepat di depan Universitas Al Azhar, sebuah institusi pendidikan ternama di Mesir dan pusat ilmu pengetahuan Islam. Dia mengenakan jubah dan kopiah, menunjukkan identitasnya sebagai mahasiswa Al Azhar.



Hafiz melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di sekitarnya, mencerminkan kemajuan dan modernitas kota Kairo. Cahaya matahari terik menyinari jalanan yang sibuk dengan lalu lintas kendaraan dan kerumunan orang yang berlalu-lalang.



Suasana di sekitar Universitas Al Azhar terasa hidup dan penuh energi. Mahasiswa dari berbagai jurusan berjalan ke sana kemari, berdiskusi, atau sibuk dengan tugas-tugas mereka. Terdengar bunyi gemuruh suara dan kehidupan kampus yang khas, di mana para mahasiswa saling bertukar pengetahuan dan ide-ide.



Hafiz merasakan semangat belajar dan keinginan yang membakar di dalam dirinya. Dia merasa terhormat dan beruntung bisa belajar di tempat yang memiliki sejarah dan tradisi yang begitu kaya seperti Al Azhar. Institusi ini telah menjadi pusat pendidikan Islam yang terkenal sejak berabad-abad, menjadikannya tempat yang penuh inspirasi dan pengetahuan.



Sambil memandangi gedung-gedung modern yang berdiri berdampingan dengan tradisi dan sejarah yang ada di sekitar Universitas Al Azhar, Hafiz merenung tentang peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Dia menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk belajar dengan tekun, menghormati tradisi, dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.



Hafiz merasa terinspirasi oleh atmosfer yang ada di sekitarnya. Dia bertekad untuk menjadi seorang pendidik yang mampu mengembangkan ilmunya dan memberikan kontribusi yang berarti kepada masyarakat. Dia tahu bahwa perjalanan pendidikannya di Universitas Al Azhar akan memberinya bekal yang berharga untuk masa depannya.



Dengan semangat yang membara, Hafiz melangkah maju, siap menghadapi tantangan yang ada di depannya. Universitas Al Azhar dan Kairo menjadi saksi perjalanan intelektualnya, di mana Hafiz berharap dapat mencapai kemajuan pribadi dan memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan dunia di sekitarnya.



Hari ini Hafiz merasa bahagia dan gembira setelah sekian lama tidak bertemu dengan keluarganya, akhirnya rindu akan terbayar juga. Dia merindukan kehangatan rumah dan kebersamaan dengan orang-orang tercinta. Kabar tentang adik sepupunya yang kembar, membuatnya semakin antusias. Apalagi mamanya juga sudah melahirkan adiknya yang dulu ditinggalkan saat dia merantau. Dia segera menghubungi keluarganya untuk memberitahu bahwa dia akan segera pulang dan bertemu dengan mereka.



Setelah mengatur jadwal perjalanan, dia melanjutkan persiapannya untuk kembali ke kampung halamannya.


...***...


Beberapa hari kemudian, Hafiz tiba di rumahnya. Suasana penuh kegembiraan menyambut kepulangannya. Dia dipeluk erat oleh orang tua, saudara-saudara, dan kerabat yang lain. Senyum dan tawa riang mengisi udara, menandakan kebahagiaan mereka atas kepulangannya.



Hafiz segera bertemu dengan adik sepupunya yang kembar. Hafiz merasa bangga memiliki dua adik perempuan kembar yang begitu menggemaskan. Kalau kata kata omanya (Fenny), salah satunya sangat mirip dengan mamanya Hafiz (Nadira). Selain itu, dia pun kini sudah menjadi seorang kakak karena adiknya sudah lahir. Adik Hafiz adalah seorang laki-laki. Nadira melahirkan bayi laki-laki satu bulan setelah Yasmin. Kabar bahagia menjadi lengkap saat Hafiz bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya, walaupun dia hanya libur satu bulan.



Selama waktu libur, Hafiz menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka berkumpul untuk makan bersama, berbicara, dan berbagi cerita. Hafiz merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga yang membuatnya merasa betah dan nyaman.



Dia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk mengajak Hamzah bermain dan berbagi pengalaman. Mereka menjelajahi tempat-tempat menarik di sekitar pesantren Al Fathonah, mempererat ikatan mereka sebagai kakak-beradik.



"Hei, Hamzah! Ayo, kita keluar sebentar dan menjelajahi tempat-tempat menarik di sekitar pesantren Al Fathonah. Kita bisa berbagi pengalaman dan mempererat ikatan kita sebagai kakak-beradik selama aku pulang." Hafiz mengajak adiknya dengan sangat antusias.



"Tentu, Kak! Itu terdengar menyenangkan. Ke mana kita akan pergi lebih dulu?" Hamzah pun dengan sangat antusias menerima tawaran kakaknya.



"Mari kita mulai dengan taman yang terletak di dekat sini. Ada taman yang indah dengan berbagai macam tanaman dan bunga yang menakjubkan. Kita bisa berjalan-jalan di sana sambil menikmati suasana alam."



"Ide yang bagus, Kak! Aku suka bunga dan tanaman. Aku yakin tempat itu akan sangat menarik. Kita bisa belajar banyak tentang flora dan fauna di sekitar kita."



"Betul sekali, Hamzah. Kita juga bisa mengambil beberapa foto di sana untuk mengabadikan momen kita bersama. Setelah itu, bagaimana kalau kita pergi ke museum sejarah yang terkenal di dekat sini?"



"Boleh, Kak! Aku selalu tertarik dengan sejarah. Kita bisa belajar banyak tentang peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi di daerah ini. Siapa tahu kita bisa menemukan fakta-fakta menarik yang tidak diketahui sebelumnya."



"Pasti, Hamzah. Museum sejarah akan memberi kita pemahaman yang lebih dalam tentang asal-usul tempat ini dan warisan budayanya. Selain itu, kita juga bisa saling berbagi pengetahuan yang diperoleh di sana."



"Aku benar-benar bersemangat untuk melakukannya, Kak. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berharga bagi kita sebagai kakak-beradik."



"Aku juga merasakan hal yang sama, Hamzah. Bersama-sama, kita bisa menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Selain itu, kegiatan ini juga akan memperkuat hubungan kita sebagai kakak-beradik. Kita bisa berbagi cerita, tertawa bersama, dan saling mendukung."



"Aku beruntung memiliki kakak sepertimu. Terima kasih sudah mengajakku dan memberikan pengalaman yang luar biasa. Ayo mulai petualangan kita sekarang!"



"Sama-sama, Hamzah. Aku senang bisa menjadi kakakmu dan berbagi momen-momen berharga seperti ini. Ayo kita pergi dan menjelajahi tempat-tempat menarik di sekitar pesantren Al Fathonah bersama-sama!"



Tiba-tiba Hamzah menunduk. Semangatnya hilang sejenak.



"Kenapa kamu mendadak murung begitu, Dek? Kakak salah ngomong, ya?" tanya Hafiz seraya memandangi wajah adiknya yang kini sudah berusia tujuh tahun, tapi gaya bicaranya sudah seperti orang dewasa.



"Tapi kita kan harus izin sama papa dan mama dulu, Kak, kalau mau keluar dari pesantren. Jangankan mau ke museum, mau ketemu kakak kembar saja, kan kita perlu izin. Apalagi peraturan pesantren pun dilarang keluar, tanpa izin dari papa atau kakek."



Ucapan Hamzah ada benarnya juga. Hafiz pun berpikir.



"Baiklah. Soal museum, kita lupakan dulu. Sekarang kita melihat taman bunga dulu di pesantren ini," ujar Hafiz, tersenyum.



"Oke, Kak! Kita berangkat sekarang."



Saat keluar dari rumah yang mereka tinggali, sebuah rumah yang memang sengaja dibangun oleh Lutfi untuk Ammar, jauh sebelum Ammar dan Nadira menikah, serta memiliki dua orang putra yang sangat pintar dan bijaksana.



"Oh iya, tadi kamu sempat singgung soal si kembar. Aku belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Bagaimana kalau kita ajak mama dan papa untuk berkunjung ke rumah Uak Haikal saja. Pergi ke museumnya, lain waktu saja." Ide Hafiz mendadak berubah karena dia pun sudah tidak sabar ingin bertemu adik kembarnya itu, Aisha dan Aqeela.

__ADS_1



Setelah asyik bermain dan menjelajahi serta mengabadikan momen kebersamaan Hafiz dan Hamzah, mereka pun menemui kakeknya yang sedang berada di ruang kerjanya. Ruangan itu tidak jauh dari tempat mereka bermain.



"Assalamualaikum," ujar Hafiz dan Hamzah secara bersamaan. Mereka memasuki ruangan. Di sana sudah ada papa mereka yang sedang berbincang dengan sang kakek.



Keduanya menghampiri sang kakek dan papa mereka.



"Waalaikumussalam, Hafiz, Hamzah. Kalian ada perlu sama kakek?" tanya Lutfi.



Ammar pun menjawab salam dari kedua putranya.



Hafiz dan Hamzah menyalami kakek dan papa mereka.



"Iya. Kami ada perlu sama Kakek dan kebetulan ada Papa juga di sini," jawab Hafiz.



"Memangnya kalian ada perlu apa?" tanya Lutfi.



"Iya, nih. Sepertinya penting banget," timpal Ammar.



"Emm, tapi kami ganggu Kakek dan Papa enggak, ya?" Pertanyaan Hafiz semakin membuat Lutfi dan Ammar penasaran.



"Sama sekali tidak ganggu kok, Sayang. Anak-anak papa ini mau ngobrolin hal penting apa, sih?" tanya Ammar, mempersilakan anaknya duduk. "Oh iya, duduk dulu, dong."



Hafiz dan Hamzah pun duduk menghadap papa dan kakek mereka.



"Kami boleh main ke rumah Uak Haikal tidak? Hafiz kan belum pernah bertemu langsung dengan si kembar." Hafiz berbicara sambil menunduk. Sikapnya seakan pasrah dengan jawaban yang akan diterima dari papa dan kakeknya.



"Aku juga kangen sama Kak Aisha dan Kak Aqeela." Hamzah menambahi ucapan kakaknya.



"Kalau kakek, gimana kata papa kalian saja. Kakek pribadi, mengizinkan, tapi kan yang punya hak untuk membolehkan kalian pergi itu, ya papa kalian." Lutfi berkata bijak. Dia tidak ingin dibilang terlalu ikut campur dalam menentukan hidup keluarga anaknya. Dia tahu, Ammar orang yang sangat bijaksana. Pasti akan membuat keputusan yang terbaik.



"Boleh, dong. Tapi, kalian tidak boleh pergi berdua, ya," ujar Ammar.




"Terima kasih, Pa, Kek." Wajah Hamzah pun tampak berseri. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan sepupu kembarnya.



"Hafiz juga mengucapkan terima kasih banyak sama Kakek," ujar Hafiz. Sekarang gantian, dia memeluk kakeknya.



Hafiz duduk kembali.



"Oh iya, ngomong-ngomong, Papa dan Kakek sedang membicarakan apa? Aku lihat saat kami datang tadi, sepertinya serius banget," tanya Hafiz, mengganti topik pembicaraan.



"Kami sedang membicarakan rencana perbaikan dan pengembangan pesantren Al Fathonah. Kakek adalah salah satu pengurus senior pesantren ini, jadi pendapat dan nasihatnya sangat berharga," jawab Ammar.



"Ya, betul. Kami sedang membahas beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan fasilitas dan program-program di pesantren. Kami ingin memberikan lingkungan yang lebih baik dan peluang pendidikan yang lebih luas bagi santri-santri di sini," timpal Lutfi.



"Itu sangat bagus, Kek. Pesantren Al Fathonah adalah tempat yang sangat berarti bagi kami. Kami berdua juga ingin memberikan kontribusi kami dalam mengembangkan pesantren ini," ujar Hafiz.



"Iya, Kakek. Kami ingin membantu menjaga warisan leluhur dan memberikan dampak positif bagi santri di sini. Apa yang bisa kami lakukan?" tanya Hamzah.



"Kalian berdua memiliki bakat dan semangat yang luar biasa. Ada banyak cara yang kalian bisa lakukan. Misalnya, kalian bisa membantu mengorganisir acara-acara sosial di pesantren, atau berbagi pengetahuan kalian dengan santri lain dalam bidang yang kalian kuasai." Ammar menyarankan dengan bijak.



Lutfi pun menambahkan saran dari Ammar.



"Selain itu, kalian juga bisa menginspirasi dan membimbing adik-adik kalian yang lebih muda. Sebagai kakak-beradik, kalian memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan nilai-nilai positif pada mereka."



"Kami akan melakukannya, Kek. Kami berdua ingin memberikan contoh yang baik bagi santri-santri dan membantu mereka tumbuh dan berkembang dengan baik di lingkungan pesantren ini," ujar Hafiz dengan semangat menggelora.



"Betul sekali, Kek. Kami berdua akan bekerja keras dan berupaya memberikan yang terbaik bagi pesantren ini. Kami berterima kasih atas nasihat dan dukungan kalian," ujar Hamzah dengan yakin dan semangat.



"Kami sangat bangga dengan kalian berdua. Dengan semangat dan dedikasi kalian, papa yakin pesantren ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang. Mari kita terus bekerja sama untuk mencapai tujuan ini." Ammar mengangkat tangan kanannya dengan jari dikepal.



"Baiklah, mari kita bersama-sama berkontribusi dan menjaga semangat kebersamaan ini. Pesantren Al Fathonah adalah rumah bagi kita semua dan dengan usaha kita bersama, kita akan melihat pertumbuhannya yang luar biasa," ujar Lutfi.

__ADS_1



Hafiz dan Hamzah menyanggupinya dan berjanji, "Insha Allah, Kek. Kami akan berusaha sebaik mungkin."


...***...


Sore harinya, Hafiz dan Hamzah sudah berada di rumah Haikal. Mereka diantar oleh sopir karena Ammar masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Nadira ikut bersama kedua anaknya itu karena dia juga rindu dengan si kembar.



"Akhirnya kita sampai di rumah Uak Haikal. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dengannya, Uak Yasmin, dan si kembar," ujar Nadira.



"Betul banget, Ma. Aku merindukan mereka semua. Senang rasanya bisa berkumpul kembali bersama mereka," ujar Hafiz yang pertama kali menginjakkan kaki di rumah Haikal setelah beberapa tahun kemudian.



Anak-anak Haikal kebetulan sedang bermain di halaman rumah mereka yang luasnya seperti istana. Wajar saja, rumah mereka megah, Haikal kan pemilik restoran yang terkenal. Jadi, sangat mudah untuk membangun rumah bak istana kerajaan.



Nadira menghampiri si kembar. Aisha dan Aqeela menyambut tante serta sepupunya dengan rasa bahagia. Sedangkan Yasmin sedang berada di dalam rumah. Membaca buku sambil menikmati camilan.



Karena mendengar teriakan si kembar, Yasmin keluar rumah.



"Eh, ada Tante Nadira. Apa kabar, Nad?" tanya Yasmin sambil cepika-cepiki dengan adik iparnya.



Sorot mata Yasmin pun tertuju pada seorang anak laki-laki dengan pakaian gamis berwarna hitam.



"Ini Hafiz, kan, ya?" tanya Yasmin, ragu.



Hafiz menyapa Yasmin seraya tersenyum.



"Iya, Uak. Ini Hafiz."



"Wah, lama tak jumpa, tinggimu sekarang sudah seperti papamu. Masyaa Allah. Semakin tampan saja keponakanku ini," ujar Yasmin, memuji.



Hafiz tersenyum.



"Oh iya, Hamzah gimana belajarnya? Papanya galak enggak kalau ngajar?" tanya Yasmin.



"Dibilang galak sih, enggak juga, Uak. Tapi papa memang orangnya tegas," jawab Hamzah.



"Oh iya, masuk dulu, yuk!" ajak Yasmin.



Mereka pun masuk dan menikmati camilan yang disediakan oleh Yasmin sambil berbincang dan tertawa bersama. Walaupun Ammar dan Haikal tidak ada, tetapi kebersamaan mereka membuat suasana menjadi hangat dan penuh kebahagiaan.



Sementara anak-anak bermain. Nadira dan Yasmin mengobrol.



"Oh iya, Nad. Kamu katanya sedang menggarap buku ketigamu. Sudah sampai mana tahapannya?" tanya Yasmin yang juga hobi membaca buku.



"Iya, Kak. Masih digarap, nih. Alur ceritanya belum selesai. Insyaa Allah, segera rampung."



Selama liburan, Hafiz merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Dia merasa bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung dan mencintainya. Nadira pun bersyukur, semua sesuai yang diharapkan. Hafiz dan Hamzah cepat akrab. Begitu pun sengan si kembar (Aisha dan Aqeela) yang langsung akrab dengan Hafiz.



Karena hari sudah sore, Nadira dan kedua putranya pamit pulang.



"Yah, kok cepat banget sih, Tante," ujar Aisha.



"Iya, nih! Padahal kan Aqeela masih pengen main sama Kak Hafiz dan Adek Hamzah. Kak Hafiz orangnya baik banget," timpal Aqeela.



"Tadi juga kami diajarkan baca surah pendek. Kak Hafiz ngajinya bagus." Aisha menambahkan kalimat adiknya dengan memuji kepandaian Hafiz.



"Maaf ya, Sayang. Nanti kami ke sini lagi, ya. Atau, kalian bisa minta papa untuk mengantarkan kalian ke pesantren," ujar Nadira.



"Kalau begitu, Aqeela mau tinggal di pesantren juga, biar bisa ketemu Kak Hafiz dan Adek Hamzah setiap hari," pinta Aqeela.



"Iya. Aku juga," ujar Aisha.



Nadira dan Yasmin saling bertatapan. Sepertinya mereka satu pemikiran.



"Sayang. Anak-anak mama yang cantik jelita. Mama senang mendengar kalian ingin tinggal di pesantren, tapi kalau tujuan kalian ingin bermain, mama tidak izinkan. Kalau mau belajar dengan Om Ammar, mama baru setuju. Papa pun pasti sependapat dengan mama." Yasmin berusaha memberikan pengertian kepada kedua putrinya.


__ADS_1


Aisha dan Aqeela mulai memikirkan kalimat mamanya. Karena hari sudah semakin sore, Nadira dan kedua putranya pun pamit.


...****...


__ADS_2