
Setelah bertahun-tahun menghirup udara berdebu di kota Kairo, Hafiz akhirnya mengembalikan sayapnya ke sarang yang sejuk di Indonesia. Seperti elang yang kembali pulang ke gunung tinggi setelah berlayar di padang pasir, dia merasa kembali hidup dalam kehangatan tanah kelahirannya.
Di balik kabut kehidupan metropolitan Kairo yang membingungkan, Hafiz merasa seperti burung gereja yang terkurung dalam gua batu. Sekarang, di kampung halamannya, dia merasa seperti burung-burung bebas yang bersenandung riang di tengah ladang hijau.
Ketika langit di Kairo terasa begitu jauh dan abu-abu, di Indonesia dia merasa seolah-olah langit dan bumi menyatu dalam harmoni yang tak tergoyahkan. Seperti oase yang menjanjikan di tengah padang pasir tandus, pulang ke rumah adalah titik balik kebahagiaan yang tak ternilai baginya.
Hafiz tiba di bandara dengan hati yang penuh sukacita, menikmati kembali hembusan udara yang telah dia rindukan begitu lama. Di tengah keramaian dan hiruk pikuk metropolitan di kota kelahirannya, dia merasakan sentuhan familiar yang menggetarkan hatinya. Meskipun kehidupan di sana sering menguji ketahanan mental seseorang, rindu akan rumah asalnya selalu melekat di dalam dirinya.
Seperti pohon yang tumbuh dalam kota beton, Hafiz merasa akarnya tetap terikat pada tanah kelahirannya. Dia menyadari bahwa meski dunia metropolis menawarkan peluang dan kegemerlapan yang menggiurkan, tetap ada kekosongan yang hanya bisa diisi oleh aroma tanah kelahiran dan kehangatan keluarga.
Di kota kelahirannya, setiap sudut jalan dan sudut hati memiliki kenangan manis yang melingkupi Hafiz. Seperti melodi yang membekas dalam ingatan, dia merasakan getaran asmara dengan tempat-tempat yang dulu sering dia datangi.
Meskipun hiruk pikuk kota dapat menjadi sumber stres dan kelelahan, kehadiran orang-orang terdekatnya dan kehangatan lingkungan tempat tinggalnya memberikan kelegaan dan ketenangan. Seperti balm yang menenangkan luka pada jiwa, rumah asalnya adalah tempat untuk pulang dan menemukan kedamaian yang tak ternilai harganya.
Saat merindukan rumah asalnya, Hafiz selalu mengingat betapa pentingnya hubungan dengan akar dan identitasnya. Meski jauh dari pandangan, tetap ada api di hatinya yang membakar semangat dan kebanggaan akan asal-usulnya. Sebab, tanpa mengenal asal-usul, seseorang mungkin akan terombang-ambing dalam hiruk pikuk kehidupan tanpa arah yang jelas.
Dalam perjalanan kembali ke rumah asalnya, Hafiz menyadari bahwa walau berada di tengah gemerlap kota atau di pelosok desa, selalu ada sesuatu yang tak ternilai di rumahnya. Keindahan itu terletak pada sambutan hangat dan kebersamaan yang dia temui di antara orang-orang tercinta.
Hafiz menjelajahi kampung halamannya dengan mata yang lapar akan keindahan alam, seperti seorang seniman yang mengamati palet warna yang tak terbatas. Dia menghirup harumnya tanah basah setelah hujan, seolah-olah alam itu sendiri menyambut kepulangannya dengan senyuman tulus.
Sambil menunggu perkuliahan S2 dimulai, Hafiz mengisap napas segar kehidupan desa yang mengalir lembut seperti sungai. Dia merasa seperti benih yang kembali ditanam di tanah subur, siap tumbuh dan bertransformasi menjadi pohon yang tegar.
Di tengah riuhnya kota Kairo yang tak pernah tidur, kini dia menemukan ketenangan yang tersembunyi di sudut-sudut terpencil desa. Seperti kucing yang kembali ke pangkuan pemiliknya, Hafiz merasa dirinya diliputi kehangatan dan cinta yang tak tergoyahkan.
Dalam hatinya, Kairo mungkin akan selalu menjadi jejak berharga yang membentuk dirinya. Namun, Indonesia adalah panggilan rumah yang tak bisa dia tolak. Setelah melalui badai dan gempa batin, Hafiz akhirnya menemukan tempatnya yang sejati.
...***...
Hafiz bekerja sama dengan dua orang santri di Pondok Pesantren Al-Fathonah untuk memberikan kejutan kepada keluarganya. Hafiz sengaja tidak memberitahu mama dan papanya atau anggota keluarga yang lain bahwa dia akan pulang.
Hafiz berdiri tegak di pintu masuk Pondok Pesantren Al-Fathonah, gerbang dengan pagar yang menjulang tinggi. Di sisinya, dua orang santri setia berjaga-jaga, menjaga rahasia kepulangannya agar tidak terendus oleh siapa pun, termasuk keluarganya sendiri.
Mereka menjaga kejutan ini dengan penuh kesetiaan dan tekad. Seperti penjaga terhadap harta karun yang berharga, mereka memastikan bahwa rahasia Hafiz tidak terungkap sebelum saat yang tepat tiba. Dalam suasana malam yang sepi, cahaya bulan menyinari gerbang yang tertutup, menambah aura misterius pada momen ini.
Hafiz melihat kedua santri yang setia berdiri tegak di sampingnya. Mereka adalah teman sekaligus saudara yang selalu mendukungnya dalam perjalanan spiritualnya di pesantren. Kepercayaan mereka satu sama lain tak tergoyahkan dan kali ini, mereka bersatu untuk memberikan kejutan yang tak terlupakan kepada keluarga Hafiz.
Dalam kegelapan malam, Hafiz mengingatkan mereka untuk tetap waspada. Mereka harus memastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui kedatangannya, termasuk anggota keluarga yang lain. Setiap langkah harus diambil dengan hati-hati agar kejutan ini berjalan sesuai rencana.
Hafiz merasa terharu melihat dedikasi dan semangat kedua santri tersebut. Mereka bukan hanya teman, tetapi juga sahabat yang telah bersama-sama mengarungi gelombang kehidupan di pesantren. Bersama-sama, mereka telah belajar tentang keikhlasan, kebersamaan, dan pengorbanan demi tujuan yang lebih tinggi.
"Terima kasih, ya, kalian mau membantuku. Dari dulu kalian memang tidak pernah berubah," ujar Hafiz dengan haru.
Kedua teman Hafiz tersebut tersenyum dan memegang pundak Hafiz.
__ADS_1
"Kami akan selalu siap membantumu, kapan pun kamu minta pertolongan," ujar santri yang wisuda tahfiz quran bersama Hafiz beberapa tahun lalu. Sorot matanya berpindah-pindah pandangan. Sesekali melihat Hafiz, lalu memperhatikan sekeliling.
"Benar, Hafiz. Kami juga melakukan ini karena sangat menghormati kakek dan papamu. Mereka sangat berjasa kepada kami yang telah memberikan ilmu bermanfaat selama belajar di pondok ini. Apalagi kamu juga tidak pernah ada jarak dengan kami, ingin berbaur dengan orang biasa seperti kami. Padahal kan, kamu cucu dari pemilik pesantren, putra dari qori terbaik internasional, dan anak seorang penulis serta motivator terkenal se-Asia Tenggara. Pokoknya kamu terbaik dah," ujar teman santri Hafiz yang satunya, menambahi.
"Satu lagi, Hafiz juga seorang mahasiswa terbaik dan teladan dengan IPK 4 di Universitas Al Azhar pada jurusan Tafsir dan 'Ulumul Qur'an untuk Fakultas Ushuluddin," timpal teman santri yang tadi.
Kedua teman Hafiz itu tidak henti-hentinya memuji keluarga Hafiz yang menjadi tokoh inspiratif semua orang, termasuk Hafiz sendiri.
"Ah, kalian bisa saja. Aku juga manusia biasa kali, tidak sesempurna yang kalian lihat. Kan setiap orang pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kalian juga termasuk orang hebat, kok," jawab Hafiz yang tidak pernah senang jika ada yang memuji berlebihan.
Mereka berbicara sambil melangkahkan kaki ke rumah kakek Hafiz, yang ada di pondok tersebut. Kebetulan semua keluarga Hafiz dari Kiai Muhammaf Lutfi Baraqbah sedang berkumpul di sana.
Dalam keheningan malam, mereka merencanakan strategi dan merasa semakin dekat dengan saat yang ditunggu-tunggu. Hafiz merasa beruntung memiliki sahabat sebaik mereka, yang dengan setia menjaga kejutan ini agar tetap menjadi sebuah rahasia yang manis.
Saat kisah ini berlanjut, Hafiz, bersama dengan dua santri setianya, memasuki gerbang Pondok Pesantren Al-Fathonah. Di dalam hati mereka, ada kegembiraan yang meledak-ledak, karena mereka tahu bahwa dalam beberapa jam, momen penuh kebahagiaan akan tiba.
Mereka berjalan dengan hati-hati, menghindari setiap orang yang mungkin memergoki mereka. Hafiz merasa bersemangat karena dia tahu bahwa tidak lama lagi dia akan melihat wajah-wajah yang dicintainya, yang telah dirindukan begitu lama.
Dalam gelapnya malam, kejutan itu semakin dekat. Hafiz merasa terharu dan penuh syukur memiliki sahabat sebaik mereka. Bersama-sama, mereka membangun rencana ini dengan tujuan untuk menghadirkan senyum di wajah orang-orang yang dia kasihi, dan mengisi hati mereka dengan kebahagiaan yang tak tergantikan.
Candra dan Faiz, itulah nama dari kedua teman Hafiz. Teman seperjuangannya selama tinggal di pondok pesantren. Namun, mereka terpisah jarak karena Hafiz mendapat beasiswa ke Kairo. Sedangkan Candra dan Faiz mengabdi di pondok pesantren Al-Fathonah milik kakeknya Hafiz, Lutfi.
Tiba di lokasi tujuan, Candra dan Faiz mengetuk pintu, sedangkan Hafiz bersembunyi di suatu tempat.
Tidak lama, Aisyah membuka pintu. "Candra! Faiz! Kalian ngapain malam-malam ke sini? Ada masalah kah hingga membawa langkah kalian ke rumah Kiai?" tanyanya dengan rasa was-was.
Aisyah dengan senang hati menyuruh Candra dan Fauz masuk. "Oh, ya sudah, ayo masuk. Kebetulan kami sedang berkumpul di ruang keluarga."
Di dalam rumah Kiai Lutfi, ternyata Om Hafiz yang bernama Ali, baru pulang dari luar negeri.
"Ada apa, Candra?" tanya Ammar.
Candra dan Faiz saling bertatapan, bingung mulai darimana untuk mewujudkan rencana kejutan Hafiz.
"Kenapa kalian malah saling pandang begitu?" tanya Ali sambil mengerutkan dahi.
"Maaf, Kiai, Ustad Ammar, dan semuanya. Ada seorang santri dari luar yang ingin bertemu dengan kalian. Katanya sangat penting," ujar Candra, memberanikan diri.
"Siapa? Kenapa datang malam-malam begini?" tanya Ammar.
"Kami juga tidak tahu, Ustad. Katanya penting banget," jawab Faiz dengan mimik wajah tegang.
Kini giliran keluarga Hafiz yang saling pandang. Mereka merasa aneh, karena tidak biasanya menerima tamu pada malam-malam begini. Biasanya juga mereka menerima tamu, dari pagi sampai sore saja. Mengingat peraturan pesantren, jadwal kunjungan ke pesantren Al Fathonah itu dari jam 09.00 s.d 17.00 WIB.
__ADS_1
"Orangnya di mana sekarang?" tanya Kiai Lutfi.
"Ada di luar, Kiai," jawab Candra.
"Lah, terus kenapa tadi tidak disuruh masuk sekalian?" tanya Aisyah yang merasa tidak melihat anak lain di luar, saat membuka pintu untuk Candra dan Faiz.
"Maaf, Kiai. Tadi orangnya sedang ke kamar mandi. Jadi beliau menyusul ke sininya," jawab Faiz sekenanya.
Tanpa pertanyaan lagi, keluarga Hafiz yang sedang berkumpul itu pun langsung beranjak meninggalkan ruang diskusi yang membuat mereka beberapa menit lalu berbicara serius.
Candra dan Faiz merasa senang karena sebentar lagi, misi mereka untuk menyukseskan kejutan dari Hafiz, berjalan dengan baik. Mereka berdua pun menghitung mundur, dari hitungan ketiga. Hingga pintu terbuka lebar, Hafiz sudah berdiri di depan pintu.
"Kejutan ...!" ujar Hafiz dengan senyum merekah.
Tanpa berkata lagi, Nadira langsung memeluk putra pertamanya.
"Kamu pulang kapan, Fiz?" tanya Ammar, terkejut karena anaknya tidak mengatakan apa pun soal kepulangannya ketika tempo hari melakukan panggilan video. "Kok enggak bilang kalau mau pulang? Tumben banget," lanjutnya.
Hafiz menyalami semua anggota keluarganya yang ada di sana, kecuali Hamzah yang tidak terlihat karena tinggal di asrama putra.
"Masuk dulu, yuk!" saran Aisyah, neneknya Hafiz.
"Iya, ya, Nek. Aku udah dateng jauh-jauh, bukannya disuruh masuk dulu, tapi disuguhi beberapa pertanyaan sama papa," ujar Hafiz dengan gayanya yang khas. Hafiz yang sama, selalu membuat keluarganya tertawa melihat gaya bicaranya yang terkesan ceplas-ceplos, tetapi masih sopan.
Mereka semua pun masuk ke rumah. Candra dan Faiz izin ke asrama putra kembali, karena tidak ingin merusak momen melepas kerinduan dengan Hafiz di keluarga tersebut.
Di dalam rumah, tepatnya di ruang keluarga, mereka mulai membahas bagaimana perjalanan Hafiz dari Kairo ke Indonesia. Hafiz mulai menceritakan bagaimana pesawatnya sempat delay dan beberapa hal lain yang menghambatnya untuk bisa sampai ke rumah.
"Kamu ini, ya! Udah tahu mamanya kangen banget, tapi kenapa enggak bilang-bilang kalau mau pulang. Cuma ngasih kabar mau lanjut S2. Mama kira kamu udah lupa jalan pulang," ujar Nadira sambil menghapus air matanya.
"Mama kamu sampai enggak bisa tidur waktu tahu anaknya akan lama lagi pulang ke rumah," timpal Ammar.
"Kalau Hafiz ngasih tahu kalian, namanya bukan kejutanlah, Ma, Pa," jawab Hafiz dengan memperlihatkan giginya yang tidak terlalu rapi, tetapi bersih.
"Kakek sudah mendengar banyak hal tentang prestasimu selama di sana. Tidak menyangka kalau jejak Ammar bisa membawamu sampai sejauh ini. Kakek bangga kepadamu," ujar Lutfi dengan senyum merekah.
"Iya, nih. Aku yang tidak pernah komunikasi dengan keponakan satu ini aja merasa bangga meskipun hanya mendengar ceritanya saja," timpal Ali yang seakan menyindir karena tidak pernah ditelepon oleh Hafiz.
"Aduh, maaf ya, Om. Bukan maksudku tidak pernah mau menghubungi Om Ali, tapi aku kan tidak tahu nomor Oom. Lagian juga, Om Ali kan sibuk banget sama urusan bisnis dan perpolitikan. Pusing aku kalau Om Ali sudah bahas soal politik," ujar Hafiz.
Mereka tertawa mendengar Hafiz yang selalu saja memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Mereka pun berbincang hangat, melepas rindu.
Di pertengahan perbincangan mereka, Hafiz memberitahukan keluarganya itu untuk memberikan kejutan kepada Hamzah. Karena Hamzah, Oma, Opa, si kembar, dan anggota keluarga lainnya yang belum tahu kepulangan Hafiz ke Indonesia.
__ADS_1
Malam pun semakin larut, mereka beranjak dari tempat duduk dan pergi ke kamar masing-masing untuk melepas lelah.
...****...