
Suara bising di rumah sakit seakan tidak pernah berhenti. Bau obat-obatan yang menjadi ciri khas, seakan menjadi pewangi rumah sakit. Nadira tampak bosan terus-terusan berbaring. Ammar yang baru selesai dengan acara Pekan Kebudayaan Nasional dan juga mengunjungi beberapa sekolah dan kampus untuk menghadiri acara Pekan Seni, memahami perasaan Nadira. Namun, untuk kebaikan Nadira dan calon anak mereka, Ammar meminta Nadira agar jangan terlalu banyak gerak.
"Sayang ...!" Nadira memanggil Ammar yang sedang asyik membaca buku sambil menikmati potongan buah apel. "Sayang ...!" panggilnya lagi.
Ammar menoleh ke arah Nadira yang hendak bangun. Spontan, dia teriak.
"Nadira ...!" ujarnya sambil membantu Nadira membenarkan posisi duduknya. "Kamu ini, ya, pagi-pagi sudah buat aku senam jantung." Ammar mengelus dadanya, pelan sambil menghela napas.
"Aku bosan di sini. Pulang aja, yuk." Nadira memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Kamu ingat kan, apa kata dokter? Kamu harus istirahat agar kondisi kesehatanmu pulih lagi." Ammar menatap Nadira dengan mata berbinar. Ada kesedihan yang disembunyikan. Ingin menangis, tapi tidak mau terlihat cengeng di hadapan istrinya.
Nadira memajukan bibirnya. Ammar lagi-lagi tidak tega melihat istrinya murung. Namun, kali ini dia harus bisa membuat istrinya memahami sikon.
"Aku telepon kakak nih, kalau kamu enggak mau nurut," ujar Ammar yang bersiap memencet kontak atas nama Kak Haikal.
"Oh ..., gitu. Sekarang mainnya ancaman, nih?" ujar Nadira.
"Soalnya aku kewalahan kalau sikap keras kepala kamu kumat. Suka ngambek pula. Padahal kan aku juga ngelarang kamu beberapa hal karena untuk kebaikanmu juga, loh!" Ammar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ya, kan sekarang kamu suami aku. Kenapa masih minta tolong kakak untuk hal ini? Seharusnya kan, suami bisa dong membujuk istrinya agar tidak ngambek dan mengubah sifat istrinya agar tidak keras kepala lagi?" Ucapan Nadira seakan memberikan tantangan baru kepada Ammar.
"Nah, benar juga. Tumben kamu pinter," ujar Ammar yang sengaja meledek, tapi dengan candaan. "Tapi kalau istriku enggak pinter, mana mungkin kamu bisa membuat tulisan, ya. Udah berhasil menerbitkan satu buah novel pula." Kepala Ammar mendongak ke atas, tangan kanannya memegang dagu, dan tangan kiri di dada—menahan siku tangan kanannya.
Nadira tersenyum mendengarnya.
Tidak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa Nadira. Kondisi Nadira masih belum memungkinkan untuk pulang karena tensi darahnya masih rendah.
__ADS_1
...***...
Setelah dua minggu Nadira dirawat di rumah sakit, akhirnya dia diperbolehkan pulang, dengan syarat yang sama; harus benar-benar menjaga stamina tubuhnya dengan baik dan jangan lupa minum vitamin serta beberapa obat lainnya.
"Akhirnya aku pulang juga," ujar Nadira seraya memeluk suaminya dengan rasa bahagia.
"Udah kayak lagi menang lotre aja, kamu. Bahagia banget," ujar Ammar, tersenyum sambil memandang wajah cantik istrinya.
"Apaan sih, kamu. Enggak bisa liat istrinya seneng dikit, diledekin terus," gerutu Nadira.
"Soalnya kamu lucu kalau lagi ngambek." Ammar semakin menggoda istrinya.
"Iih, Ammar ...!" Nadira sedikit kesal, tapi juga senang diperlakukan seperti itu. Soalnya Ammar tahu sifat suaminya, dengan menggoda seperti itulah, salah satu cara untuk menyenangkan hatinya.
"Bercanda, Sayang ...."
Salah satu sifat Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam yang wajib umat muslim tiru adalah bagaimana beliau memuliakan istrinya, baik saat keadaan senang maupun susah. Adapun salah satu contoh kecil dari Rasulullah dalam memuliakan istrinya adalah dengan memanggilnya menggunakan panggilan terbaik, sehingga membuat perasaan istrinya amat sangat dihargai. Misalnya, Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam memanggil Siti Aisyah dengan panggilan Humairah yang memiliki arti kemerah-merahan karena pipi Siti Aisyah yang senantiasa memerah.
Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku." (HR. At-Tirmidzi no 3895, Ibnu Majah no 1977. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Sahihah no. 285)
Selain itu, Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda; "Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dari dua hadis di atas, sudah jelas bahwa seorang suami diperintahkan untuk memuliakan istrinya, karena istri merupakan orang yang selalu berada di samping suami. Salah satu hal yang akan diterima oleh seorang suami jika mampu memuliakan istrinya adalah akan dibukakan pintu rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Adapun beberapa alasan mengapa memuliakan istri akan membukakan pintu rezeki untuk seorang suami. Hal ini dikutip dari berbagai sumber.
Pertama : istri adalah bidadari kedua setelah ibu kandung. Bayangkan saja doa yang dipanjatkan oleh dua orang bidadari dalam kehidupan seorang laki-laki ini akan menembus langit dan mempercepat turunnya rezeki.
__ADS_1
Kedua : saat istri merasa bahagia, maka secara otomatis semua anggota keluarga juga akan merasa bahagia. Begitu pula ketika istri selalu menjalani hidup positif, maka semua anggota keluarga juga akan menjalani hidup dengan positif.
Ketiga : istri adalah sumber kekuatan bagi seorang suami. Jika istri bahagia, maka suami juga akan semangat dalam mencari rezeki. Seorang istri pun akan menjadi tempat pulang yang menenangkan setelah suami mencari rezeki.
Keempat : istri yang selalu bahagia, pasti akan memberi dukungan kepada suami dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, suami akan memiliki semangat untuk selalu bangkit dalam setiap menghadapi kesulitan.
Kelima: jika istri bahagia, maka dia akan selalu penuh rasa syukur atas rezeki yang diterima oleh suami. Sebab Allah berjanji bahwa orang yang mensyukuri nikmat, akan diberi kenikmatan yang berlipat ganda.
Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Ibrahim (14) ayat 7.
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Allah pun berfirman dalam surah Ad-Duha (93) ayat 11 yang berbunyi,
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."
...***...
Tiba di rumah, Nadira dituntun ke kamar oleh Ammar agar bisa langsung beristirahat. Nadira kali ini benar-benar menuruti apa pun yang dikatakan oleh Ammar, karena semuanya untuk kebaikan dia dan calon bayinya.
Ammar ikut rebahan sejenak karena sejak beberapa hari mengurus acara Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) dan menghadiri beberapa sekolah serta kampus yang mengadakan Pekan Seni, dia belum juga merehatkan dirinya. Setelah sibuk acara, dia langsung membesuk bahkan menjemput istrinya untuk pulang, rasa remuk di badan benar-benar membuat Ammar kelelahan.
"Sekarang kamu rehat dulu, ya. Nanti jam 11, aku bangunin kamu. Soalnya ada obat yang perlu kamu minum, satu jam sebelum makan." Ammar mengecup kening istrinya, lalu ikut berbaring.
Nadira menatap suaminya dengan rasa kasihan. Dia tahu banget bagaimana sibuknya sang suami, hingga jam tidur pun berantakan. Belum lagi, mengurus dia yang saat ini tengah mengandung anak pertama mereka.
Nadira tersenyum, lalu berkata, "Kamu juga istirahat, ya. Pasti capek banget," ujarnya sambil mengelus pipi Ammar.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya beristirahat sejenak di dalam kamar.
...****...