Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Keluarga Harmonis


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, empat tahun telah berlalu sejak Hafiz memulai perjalanannya menempuh pendidikan S2 di Kairo. Dalam kurun waktu tersebut, dia telah menyerap ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan yang berharga. Namun, semakin dekat hari kepulangannya, semakin kuat rasa kerinduannya pada pondok pesantren yang dipimpin oleh sang kakek.


Setiap hari, Hafiz membayangkan kehidupan di pondok pesantren itu. Dia membayangkan suara azan yang berkumandang, suara gemerisik daun di pepohonan rindang, dan suasana yang penuh dengan semangat spiritual. Kakeknya (Lutfi) dan papanya (Ammar) adalah dua pilar yang menjaga dan memelihara pesantren itu dengan penuh dedikasi. Namun, mereka juga menghadapi tantangan-tantangan di usia senja mereka.


Hafiz merasa tak sabar untuk memberikan kontribusinya kepada pondok pesantren tersebut. Dia sadar bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada melihat senyum bahagia di wajah kakeknya dan memastikan bahwa pesantren itu tetap menjadi tempat berkah bagi mereka yang mencarinya. Dia tahu bahwa tanggung jawab untuk membantu kakek dan ayahnya tidak akan jatuh ke pundaknya sendirian. Adik-adiknya juga akan turut serta dalam perjalanan ini.


Mereka adalah keluarga yang kuat dan saling mendukung. Bersama-sama, mereka akan meneruskan warisan kebaikan dan pengabdian yang telah ditanamkan oleh sang kakek dan ayah.


Hafiz mengambil ponsel dari saku bajunya usai melihat pengumuman jadwal wisuda S2. Dia menelepon mamanya (Nadira) dengan penuh semangat.


Saat telepon tersambung. Hafiz bertanya untuk memulai percakapan. "Halo, Ma. Gimana kabar mama dan yang lainnya?"


"Alhamdulillah, semuanya baik. Hafiz gimana kabarnya di sana?" Nadira menjawab dengan nada sedikit serak dan begitu letih. Maklum, emak-emak kalau sudah punya anak, pasti saban hari selalu konser.


Mendengar suara sang mama yang begitu letih sampai serak, Hafiz khawatir. "Mama lagi sakit kah? Suaranya serak gitu, lemas lagi."


"Mama tidak apa-apa, Nak. Cuma lelah saja," jawab Nadira sambil menghapus keringatnya yang bercucuran. Kepalanya yang terasa sakit dan penglihatan mulai kabur.


"Mama gitu, deh! Kan sudah dibilang, Mama jangan terlalu lelah. Kalau misalkan butuh bantuan, kan ada santri-santri yang bisa membantu pekerjaan Mama." Hafiz yang tadinya bersemangat untuk memberitahukan tentang kabar baik tentang jadwal wisudanya, seketika mengurungkan niat. Dia menunda untuk memberikan kabar tersebut. Mungkin tak sesuai harapannya, karena dia pikir, saat ini kesehatan mamanya lebih penting.


Hafiz memandangi beberapa tiket pesawat dan undangan wisuda untuk keluarganya, terutama untuk mama, papa, dan ketiga adiknya (Hamzah, Haneen, dan Hania). Namun, apalah daya, sepertinya harapannya agar keluarga bisa hadir di acara penting tersebut, akan pupus.


Nadira memanggil dari ujung telepon karena Hafiz seketika terdiam.


"Sayang. Apa kamu baik-baik saja? Kenapa mendadak lidahmu menjadi kelu?" tanya Nadira sambil memijat-mijat kepalanya dengan lembut. Saat ini Nadira sedang berbaring di kamarnya. Sedangkan si kembar dengan belajar bersama santri lainnya yang ada di pondok pesantren Al Fathonah.


Hafiz keluar dari lamunannya. Dia mengusap air mata yang perlahan menetes.


"Emm ..., iya, Ma? Aku baik-baik saja, kok," jawab Hafiz dengan pikiran-pikirannya yang berkeliaran, entah sudah sejauh mana dia memikirkan rencana yang sudah disusun sebaik mungkin untuk keluarganya.


"Kamu melamun, kah?" Nadira menebak-nebak sambil mengatur napas yang mulai tak terkendali.


"Eng-enggak kok, Ma. Hafiz cuma khawatir dengan kekadaan Mama. Soalnya dari suaranya, sudah menunjukkan kalau Mama lagi sakit."


Nadira tersenyum sambil berusaha mengambil gelas yang berisi air mineral di atas meja samping tempat tidurnya. Dia pun berusaha mengambil obat-obatan yang harus diminum, yang sudah disiapkan oleh Ammar sebelum dia ke ruang kelas untuk mengajar.


"Hafiz, sayang ...! Mama kenal banget sama kamu. Ada apa, sayang? Apa yang ingin kamu ceritakan?" ujar Nadira sambil meminum obat-obatnya. Lalu meletakkan kembali ke tempatnya. "Oh iya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan mama. Mama di sini banyak yang jaga. Mama akan selalu baik-baik saja selama kalian ada bersama mama," tambahnya.


Nadira memang paling pintar menutupi semua rasa sakitnya. Dia selalu tersenyum dan menghibur semua orang, padahal dia sendiri butuh dikuatkan dan diperhatikan.

__ADS_1


"Ma. Jadwal wisuda Hafiz sudah keluar," terang Hafiz. Kerutan di keningnya sudah mewakili perasaannya saat ini.


"Oh, ya? Bagus, dong! Tanggal berapa wisudanya?" Nadira menanggapi dengan wajah ceria. Seakan bunga yang hampir layu, tapi diperbaiki agar segar kembali.


"Iya, Ma. Tanggal 20 Mei. Aku juga sudah belikan tiket untuk semua keluarga kita agar bisa hadir pada acara spesialku nanti. Ya, tidak semua sih bisa ikut, soalnya Om Ali dan Tante Sarah tidak bisa pulang. Uak Haikal dan Uak Yasmin juga sedang sibuk acara di restoran mereka. Terus, Oma dan Opa bilang kalau mereka juga sedang ada urusan penting. Kalau Kakek dan Nenek kan memang sibuk di pesantren, mereka bilangnya sih, insyaa Allah diusahakan bisa ikut ke Kairo untuk menghadiri acara wisudaku. Terus keponakan-keponakanku juga sedang sibuk dengan studinya." Hafiz mengeluarkan unek-uneknya tanpa jeda, seperti kereta yang terus berjalan dan hanya akan berhenti ketika sudah sampai pada stasiun yang dituju.


Nadira menelan ludah dan mengatur napas pelan. Dia menarik napas dan menghembuskannya, seakan sedang membuang beban yang ada dalam pikirannya.


"Terus Hamzah gimana? Mama hari ini belum teleponan sama adikmu itu," ujar Nadira sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Hamzah bilangnya sih, 'oke'. Jadi, besar kemungkinan, Hamzah bisa ke sini, Ma."


"Emm ..., coba nanti mama obrolkan dengan papamu ya, Nak. Nanti mama kabari, siapa yang bisa ke sana. Kalau Haneen dan Hania, sih, bisa izin. Kan kakekmu yang punya pondok pesantren ini."


Ucapan Nadira seakan menjadi cahaya pada hari itu, Hafiz selalu merasa tenang dengan tutur kata mamanya yang tertata rapi. Seakan memang sudah ditulis di kertas dan tinggal dibaca. Soalnya Hafiz hampir lupa kalau mamanya adalah seorang penulis dan motivator terkenal di dunia.


"Baiklah, Ma. Jazakillah Khairan," ujar Hafiz mengakhiri percakapannya.


"Wa iyyaka," jawab Nadira. Lalu meletakkan ponselnya di meja.


Malam harinya, saat Ammar sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Nadira mendekat dan memijat-mijat kepala suaminya.


"Sayang, tadi Hafiz telepon," ujar Nadira, tanpa basa-basi karena dia sudah tidak sabar untuk memberitahu obrolannya dengan Hafiz tadi siang.


"Iya. Tanya kabar. Dia udah beli tiket untuk kita ke Kairo." Nadira menjawab sambil memandangi wajah sang suami dengan penuh cinta.


Kini, bola mata mereka saling bertemu. Nadira menunduk karena posisi memangku kepala suami. Mereka pun menghabiskan malam dengan penuh cerita dan selayaknya pasangan suami-istri.


Di Kairo, Hafiz memandangi sebuah foto keluarga. Dia mengusap-usap foto tersebut dan tersenyum. Hafiz memimpikan hari ketika mereka semua akan berkumpul di pondok pesantren, bekerja sama untuk menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.


Meski perjalanan di Kairo memberi Hafiz banyak pelajaran dan wawasan, hatinya tetap terikat erat pada pondok pesantren keluarganya. Baginya, pulang ke pondok pesantren adalah kembali kepada akar dan identitasnya yang sejati. Ia tahu bahwa dalam kebersamaan dengan kakek, adik-adiknya, dan ayahnya, ia akan menemukan arti sejati dari pengabdian dan kebahagiaan.


Dengan semangat yang membara, Hafiz menghitung hari-hari yang tersisa sebelum kembali ke tanah air. Hafiz berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya. Keberangkatannya yang telah ditunggu-tunggu tidak hanya berarti bagi dirinya, tetapi juga bagi semua orang yang mencintai dan menghormatinya.


...***...


Dalam momen prestasi yang membara, Hafiz merasa seperti bintang yang bersinar terang di langit malam. Dia menerima penghargaan dan pujian dari dosen-dosennya, menjadi teladan bagi teman-temannya, dan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Seperti puncak gunung yang menjulang tinggi, Hafiz mencapai tujuannya dengan perjuangan dan kerja keras yang tak tergoyahkan.


Dalam akhir perjalanan akademiknya, Hafiz menghadapi ujian dengan ketenangan, seolah mengalir seperti sungai yang mengalir ke laut. Dia melewati setiap tantangan dengan kebijaksanaan dan kecerdasan yang mengagumkan. Seperti pahlawan yang menaklukkan rintangan, Hafiz mengukir namanya dalam sejarah akademik dengan keberhasilan yang gemilang.

__ADS_1


Lalu pada akhirnya, ketika Hafiz menyelesaikan S2-nya dengan sukses, dia merasa seperti burung yang terbang bebas di angkasa yang luas. Dia telah mencapai puncak kesuksesan yang diimpikan, dengan semangat yang membara dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Seperti matahari yang bersinar terang di langit, Hafiz menerangi dunia dengan ilmu pengetahuannya, memberikan inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya, dan meninggalkan warisan yang tak terhapuskan dalam dunia akademik.


Momen wisuda Hafiz kali ini sungguh mengesankan karena keinginannya untuk bisa disaksikan oleh anggota keluarga, bisa tercapai. Memang sih, hanya keluarga inti yang datang karena keluarga besarnya ada kesibukan lain. Baginya, sudah dihadiri oleh mama, papa, dan ketiga adiknya saja, sudah membuatnya bahagia. Apalagi jauh-jauh hari, dia yang membeli sendiri tiket keberangkatan keluarganya dari Indonesia ke Kairo.


"Selamat ya, Sayang atas pencapaianmu sejauh ini. Mama bangga padamu, Nak," ujar Nadira sambil memeluk putra sulungnya dengan erat. Air mata haru dari pelupuk mata. Nadira mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Ma. Terima kasih banyak."


"Udah kali ah, pelukannya. Kan papa juga mau peluk putra sulung papa ini," ujar Ammar, seakan sedang cemburu sosial, melihat keharmonisan anak sulung dan istri tercintanya itu.


Nadira melepaskan pelukannya sambil menghapus air mata. "Maaf, aku terbawa suasana," ujarnya sambil tersenyum.


Ammar pun memeluk Hafiz dengan rasa bangga. "Selamat, ya. Terima kasih sudah membuat kami tidak pernah gagal menjadi orang tua karena prestasi-prestasi yang kamu raih."


"Iya, Pa. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari papa, mama, juga semuanya."


Ketiga adik Hafiz menunggu giliran.


"Terus, kami kapan nih dipeluknya, Kak? Apa kami disuruh datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk menonton drama keluarga orang tua dan anak saja?" ujar Hamzah, memecah suasana haru menjadi lelucon sesaat.


Semua orang tertawa.


"Hamzah ...!" tegur Nadira seraya tersenyum bahagia karena akhirnga setelah sekian lama, keluarganya bisa berkumpul dengan lengkap seperti ini.


Hafiz pun memeluk ketiga adiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka berpelukan seperti personil Teletubbies. Hafiz sebagai Tingkiwingki. Hamzah sebagai Dipsi. Hania sebagai Lala. Lalu, Haneen sebagai Pooh. Ini menunjukkan betapa dekat dan eratnya hubungan mereka. Sungguh keluarga yang harmonis dan bisa menjadi teladan bagi orang lain.


Keluarga ini dianggap harmonis dan bisa menjadi teladan bagi orang lain, karena mereka bisa saling mendukung, menciptakan suasana yang menyenangkan, dan menunjukkan rasa sayang satu sama lain. Mereka memberikan contoh bagaimana sebuah keluarga dapat menjaga kebersamaan dan kebahagiaan meskipun menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.


Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari individu yang terikat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi. Keluarga adalah tempat di mana individu mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dukungan, dan pembelajaran sepanjang hidup. Peran keluarga sangat penting dalam membentuk kepribadian, nilai-nilai, dan sikap seseorang.


Keluarga dapat memiliki beragam struktur dan dinamika, tergantung pada budaya, agama, dan tradisi yang ada. Secara umum, keluarga terdiri dari orang tua atau wali, seperti ayah dan ibu, serta anak-anak mereka. Namun, definisi keluarga dapat meluas untuk mencakup keluarga yang terdiri dari pasangan yang tidak memiliki anak, keluarga dengan orang tua tunggal, keluarga campuran, keluarga terpilih, dan sebagainya.


Fungsi utama keluarga adalah memberikan kasih sayang, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, dan sosial individu di dalamnya. Keluarga juga menjadi tempat di mana individu belajar nilai-nilai, norma, dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat. Keluarga memberikan dukungan emosional dan psikologis, memberikan rasa aman dan stabilitas, serta membantu individu menghadapi tantangan dan perubahan dalam hidup.


Selain itu, keluarga juga memiliki peran penting dalam memelihara hubungan sosial antara anggotanya. Komunikasi, kerjasama, dan saling pengertian antaranggota keluarga sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan bahagia. Keluarga juga dapat menjadi tempat di mana individu belajar tentang komitmen, saling pengorbanan, dan membangun ikatan yang kuat.


Meskipun keluarga seringkali menghadapi tantangan dan konflik, seperti perbedaan pendapat, perselisihan, atau perubahan kehidupan, penting untuk menciptakan ikatan yang kuat dan saling mendukung dalam keluarga. Komunikasi terbuka, penghargaan, dan pengertian antaranggota keluarga dapat membantu mengatasi masalah dan memperkuat hubungan keluarga.


Keluarga yang sehat dan harmonis memiliki dampak positif pada perkembangan dan kesejahteraan individu di dalamnya. Mereka memberikan rasa identitas, kasih sayang, dukungan, dan pemahaman yang mendalam. Keluarga yang solid juga dapat menjadi sumber inspirasi, teladan, dan dukungan dalam menghadapi tantangan hidup.

__ADS_1


Kesimpulannya, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang memberikan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan kepada anggotanya. Keluarga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian, nilai-nilai, dan sikap individu. Dalam keluarga yang harmonis, anggotanya saling mendukung, berkomunikasi dengan baik, dan membangun ikatan yang kuat. Keluarga adalah tempat di mana cinta, kesetiaan, dan kebahagiaan dapat ditemukan.


...****...


__ADS_2