Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Perdana Hafiz Masuk Sekolah


__ADS_3

Matahari pagi hari ini sedang bersahabat dengan Nadira, menggambarkan isi hatinya yang begitu ceria. Sinar mentari membakar semangat Nadira yang sempat padam karena kekhawatirannya beberapa tahun lalu, ketika bertemu kembali dengan Jerry; mantan pacar Nadira. Namun, selagi ada Ammar yang menguatkan dan meyakinnya untuk terus semangat dalam menjalankan hidup, Nadira akan selalu merasa aman dan nyaman. Apalagi dia telah dikaruniai seorang putra yang kini sudah berusia 4 tahun.



Pagi-pagi sekali, Nadira dan Ammar sudah menyiapkan semua keperluan untuk mengantarkan putra mereka—Hafiz—ke sekolah TK yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah. Hafiz yang seperti anak-anak pada umumnya, membuat drama sebelum berangkat ke sekolah. Beruntungnya kesabaran Nadira pagi ini tak setipis tisu, walau kadang seperti bom atom kalau sudah benar-benar merasa lelah, tapi semua ibu pasti punya cara sendiri dalam mendidik anak-anak mereka.



"Hafiz ...! Mainnya nanti saja, Nak. Kita ke sekolah dulu. Yuk, habiskan sarapannya dulu biar tidak sakit dan semangat belajarnya!" ujar Nadira. Tampak jelas dari rawut wajahnya yang menahan emosi.



Hafiz tidak mengindahkan ucapan mamanya. Dia justru asyik sendiri dengan mainannya. Ammar yang baru keluar dari kamar, menangkap tubuh anaknya itu dan menasihati.



"Hafiz, Sayang. Anak papa yang baik. Hafiz tadi dengar tidak apa yang mama bilang?" tanya Ammar dengan hati-hati. Posisinya jongkok untuk menyamakan tinggi badan Hafiz.



Hafiz mengangguk.



"Memangnya mama tadi bilang apa sama Hafiz?" tanya Ammar agar anaknya mengakui kesalahannya.



"Kata mama, Hafiz mainnya nanti saja. Soalnya kan Hafiz mau ke sekolah," ujar Hafiz dengan logat anak-anak.



"Terus mama bilang apa lagi?" Ammar bertanya lagi.


__ADS_1


"Telus (terus) mama bilang, Hafiz disuluh (disuruh) habiskan salapan (sarapan) bial (biar) tidak sakit dan bial (biar) Hafiz semangat belajar," jawab Hafiz dengan nada bicaranya yang masih cadel.



"Artinya, sekarang Hafiz harus ngapain?" tanya Ammar yang berharap anaknya berhenti berlarian dan mau menghabiskan sarapannya.



Hafiz memeluk papanya dan meminta maaf, lalu menghampiri mamanya. Nadira tersenyum melihat cara Ammar mendidik putra mereka. Benar-benar suami terbaik dan sosok ayah yang hebat untuk mereka.



Hafiz memeluk Nadira dan meminta maaf.



"Mama kesal, ya, sama Hafiz?" ujar Hafiz yang menatap Nadira dengan tatapan bersalah.




"Soalnya Hafiz tidak menuluti (menuruti) perintah (pelintah) Mama. Hafiz minta maaf, ya, Ma. Hafiz janji, tidak akan lali-lalian (lari-larian) lagi pas Mama suapin Hafiz."



Nadira dan Ammar sangat beruntung karena Allah telah menganugerahi seorang anak yang tampan, lucu, menggemaskan, dan penurut seperti Hafiz. Semoga ke depannya, Hafiz selalu bisa menjadi anak baik yang penurut dan mau mengakui kesalahannya seperti sekarang. Usia Hafiz memang masih sangat kecil, tapi pemikirannya seperti orang dewasa. Dia sangat bijak dalam bertutur kata. Tidak heran, sih, kan Hafiz anaknya Nadira yang merupakan seorang penulis terkenal. Jadi, pintar merangkai kata-kata itu, turunan dari Nadira.



Mendidik anak memang bukanlah hal yang mudah, tapi hal ini bagian dari tanggung jawab sebagai orang tua dan semua bergantung pada masa depan anak-anak. Masa anak-anak adalah bermain, itu sebabnya kita harus menyesuaikan keadaan dan memiliki cara terbaik dalam mengantisipasi hal tersebut agar anak-anak kita tidak selalu bermain hingga melupakan pendidikan atau tidak mau belajar. Kita pun tidak bisa menyamakan cara mendidik anak pada zaman dulu dengan sekarang, karena hal tersebut tentu sangatlah berbeda.



Untuk anak pada zaman sekarang, kita bisa mengajak mereka belajar sambil bermain atau sebaliknya (bermain sambil belajar). Apalagi sudah banyak buku-buku atau permainan edukasi sebagai media pembelajaran anak-anak. Contohnya, kita ingin mengenalkan huruf abjad atau huruf hijayyah, cobalah membeli puzzle (menyusun kepingan-kepingannya) sambil mengenalkan huruf-huruf tersebut. Anak-anak pun pasti akan asyik, belajar pun menjadi menyenangkan.

__ADS_1



Satu jam kemudian, semua sudah siap. Hafiz sudah berpakaian lengkap dengan seragam sekolahnya. Tas berwarna biru yang sudah diisi alat tulis dan sepatu hitam, sudah siap menemani perjalanan Hafiz ke sekolah. Tidak lupa, bekal makanan dan minuman pun telah dibawakan oleh Nadira, dimasukkan ke dalam tas Hafiz. Nadira dan Ammar tidak ingin anak mereka jajan sembarangan.



Dikutip dari situs halodoc, bahwa manfaat anak membawa bekal ke sekolah adalah salah satunya memberi kontrol atas asupan makanan yang dikonsumsi anak. Jika anak memiliki alergi makanan tertentu, maka hal tersebut dapat dicegah dengan membawa bekal makanan yang aman. Selain itu, orang tua juga dapat memastikan bahwa anak mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, dibandingkan dengan jajan sembarangan. Karena kesehatan itu hal paling utama dalam kehidupan untuk menjalankan aktivitas. Seperti kata pepatah bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati.


***


Tiba di sekolah, Hafiz diserahkan kepada gurunya agar bisa diajarkan pendidikan pada sekolah formal. Walau madrasah utama adalah seorang ibu dan di dalam alquran pun disebutkan paling banyak bahwa seorang ayah turut serta dalam hal mendidik anak, tetap saja sekolah formal pun dibutuhkan. Selain ilmu yang didapat dari guru itu lebih banyak, anak-anak juga akan mudah bergaul dan terbiasa dalam menyesuaikan lingkungan. Anak-anak akan cenderung lebih aktif dalam menemukan ide dan kreatif untuk menciptakan karya, serta hal positif lainnya yang bisa didapatkan ketika anak berbaur dengan teman-temannya dan tentu saja dalam pendampingan para guru di sekolah.



Bel sekolah berbunyi, Hafiz masuk ke kelas. Sedangkan Nadira dan Ammar pulang ke rumah dan akan kembali menjemput Hafiz ketika jam pulang sekolah telah tiba.



Di dalam kelas, Hafiz tampak senang berkumpul dengan teman-temannya.



"Nama kamu siapa?" tanya Hafiz yang berusaha mengakrabkan diri dengan seorang anak laki-laki di samping kanannya.



"Aku, Tomi. Kalau kamu, siapa?" tanya Tomi sambil menjabat tangan Hafiz.



Perkenalan itu mengawali persahabatan Hafiz dan Tomi. Ibu Farah menyapa anak-anak karena ini adalah hal pertama yang harus dilakukan ketika guru memasuki kelas. Menyapa anak-anak seusia Hafiz dengan siswa-siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti SD, SMP, dan SMA—tentu sangatlah berbeda. Karena anak TK masih sulit fokus, maka penting untuk membuat perhatian mereka tertuju pada guru. Biasanya guru TK akan menyapa anak-anak dengan menepuk tangannya dan mengeluarkan suara yang keras. Lalu, guru TK bisa mulai menyapa anak-anak dengan gaya khas yang dapat dimengerti oleh mereka. Biasanya guru TK juga mengulang apa yang diucapkan dan ditanyakan pada murid di kelas.



Tak lama kemudian, setelah acara sapa salam selesai. Ibu Farah mulai memberikan pelajaran kepada Hafiz dan teman-temannya. Hari ini Ibu Farah mengenalkan tentang hewan, seperti nama, suara, warna, dan makanan hewan-hewan tersebut. Semua anak memperhatikan penjelasan dari Ibu Farah dengan saksama.

__ADS_1


****


__ADS_2