Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Nadira Merasa Terharu


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian, kabar baik kembali menghampiri keluarga Nadira. Hamzah berhasil menghapal alquran 30 juz dalam kurun waktu empat bulan, meskipun lebih lambat dari perkembangan Hafiz, tetapi tetap menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Sebagai orang tua, Nadira dan Ammar sangat bangga pada putra kedua mereka karena dedikasi dan ketekunan yang ditunjukkan dalam proses belajar.


Hamzah telah menetapkan tujuan untuk menghapal seluruh alquran dan dia bekerja keras dalam menggapai impian tersebut. Dia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mempelajari dan menghafal ayat-ayat suci alquran. Meskipun menghadapi kesulitan dan tantangan dalam perjalanan belajarnya, tetapi Hamzah tidak pernah menyerah dan terus melangkah maju.


Esok hari, di Pesantren Al Fathonah, akan digelar acara wisuda tahfidz yang dinantikan oleh semua orang. Suasana semarak terasa di setiap sudut pesantren saat semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara penting ini.


Di aula utama, panitia acara sedang melakukan persiapan terakhir. Mereka mengatur tempat duduk, memasang dekorasi, dan memeriksa segala perlengkapan yang diperlukan. Panitia dengan teliti memastikan semuanya berjalan lancar agar wisuda tahfidz menjadi momen yang berkesan.


Sementara itu, para santri yang akan mengikuti wisuda sedang melakukan latihan terakhir untuk penampilan mereka dengan memperbaiki bacaan dan memastikan tahfidz mereka tetap lancar. Dalam setiap sudut, terdengar lantunan ayat-ayat suci alquran yang indah, menandakan semangat dan dedikasi mereka dalam menghafal serta mempelajari kitab suci.


Guru dan pengajar di pesantren juga memberikan dukungan dan motivasi kepada para santri. Mereka memberikan nasihat terakhir, memberikan dorongan dan doa agar para santri dapat tampil dengan baik dalam acara wisuda tahfidz tersebut. Mereka yakin bahwa para santri telah bekerja keras dan siap untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada semua tamu yang hadir.


Para orang tua dan keluarga juga turut mempersiapkan diri dengan antusias. Mereka datang dengan penuh harap dan bangga akan prestasi yang telah dicapai oleh putra-putri mereka. Mereka memastikan bahwa semua kelengkapan yang diperlukan telah disiapkan, seperti baju seragam, aksesoris, dan kamera untuk mengabadikan momen bersejarah ini.


Tak lupa, suasana persaudaraan dan kebersamaan terasa di antara para santri. Mereka saling membantu dan memberikan semangat satu sama lain. Meskipun ada kegugupan dan tegangan, tetapi rasa solidaritas dan persahabatan tetap terjaga, menguatkan semangat mereka dalam meraih kesuksesan bersama.


...***...


Hari yang dinanti pun tiba, semua orang berkumpul dengan semangat dan kegembiraan di aula utama pesantren. Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan saat acara dimulai. Wisuda tahfidz menjadi momen yang penuh haru dan kebanggaan bagi semua yang hadir.


Momen itu pun menjadi bukti bahwa perjuangan dan kerja keras para santri tidaklah sia-sia. Mereka telah menghadapi tantangan dan rintangan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Wisuda tahfidz di Pesantren Al Fathonah menjadi perayaan prestasi dan keberhasilan mereka dalam menghafal alquran, serta merupakan bukti nyata semangat keislaman yang terus berkembang di kalangan generasi muda.


Semua rangkaian acara telah dilaksanakan dengan baik. Semua orang satu per satu meninggalkan tempat acara.


Hamzah menghampiri kedua orang tuanya. Sultan, Fenny, Haikal, Yasmin, dan Ali tidak hadir karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Tentu saja si kembar, Aisha dan Aqeela, tidak bisa menghadiri acara karena kedua orang tua mereka tidak bisa datang. Namun, mereka turut senang atas pencapaian Hamzah. Apalagi Hafiz, sebagai seorang kakak dan cucu pertama, dialah yang menjadi salah satu sosok inspiratif keluarga dan menjadi panutan untuk adik-adiknya. Hamzah terinspirasi oleh semangat dan semua pencapaian kakaknya; Hafiz. Baginya, kalau kakaknya bisa membuat bangga kedua orang tua dengan berbagai prestasi, maka dia pun harus bisa melakukan itu. Ini semua demi kebahagiaan keluarga, khususnya kedua orang tuanya.


"Hamzah, kami sangat bangga padamu! Kamu telah berhasil menghapal seluruh alquran dalam waktu tiga bulan. Itu adalah pencapaian yang luar biasa!" ujar Nadira dengan bangga.


"Terima kasih, Ma! Aku sangat senang bisa mencapai tujuan ini. Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkan kecepatan dalam menghafalnya. Yang terpenting bagiku adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan memahami setiap ayat yang aku hafal."


Ammar semakin bangga kepada putra keduanya itu. buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah pepatah yang cocok untuk keluarga Ammar.


"Benar sekali, Hamzah. Kecepatan bukanlah ukuran mutlak dalam menghafal alquran. Yang terpenting adalah upaya dan keikhlasan yang kamu lakukan dalam prosesnya. Kamu telah menunjukkan kesungguhan dan ketekunan yang patut diacungi jempol," ujarnya, memegang bahu Hamzah.

__ADS_1


"Betul sekali, Nak. Kami melihat betapa kerasnya kamu bekerja setiap hari. Kamu menghadapi tantangan dan kesulitan, tetapi kamu tidak pernah menyerah. Itu adalah sikap yang patut ditiru." Nadira bicara dengan deraian air mata haru.


"Terima kasih, Ma, Pa, atas dukungan dan dorongan yang selalu kalian berikan. Tanpa dukungan kalian, aku tidak akan bisa mencapai hal ini. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memberiku kemampuan dan kekuatan untuk menghafal alquran."


"Kami berharap kamu terus melanjutkan perjalanan spiritualmu, Hamzah. Kamu memiliki bakat luar biasa dalam tilawah alquran. Jangan takut untuk berpartisipasi dalam perlombaan tilawah dan terus tingkatkan kualitas bacaanmu." Ammar terus menyemangati dan memberi nasihat.


"Ya, Nak. Perlombaan tilawah adalah kesempatan bagus untuk kamu mengasah kemampuan dan menginspirasi orang lain. Ingatlah, yang terpenting adalah keikhlasan dan tujuan ibadahmu dalam menghafal alquran. Kami akan selalu mendukungmu dalam perjalanan ini," ujar Nadira.


"Aku berjanji akan terus belajar dan mengembangkan diri. Terima kasih atas segala doa, dukungan, dan cinta yang kalian berikan kepadaku. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti kalian."


...***...


Sementara Hamzah sibuk mengabadikan momen dengan teman-temannya setelah upacara wisuda, Nadira memperhatikan dengan bangga dari kejauhan. Dia melihat betapa bahagianya Hamzah dan betapa eratnya ikatan persahabatan yang terjalin di antara mereka.


Tiba-tiba, ponsel Nadira berdering di dalam tasnya. Dia mengambilnya dan melihat nama Hafiz muncul di layar. Ternyata ada panggilan video dari putra sulungnya yang berada di Kairo. Nadira langsung mengangkat panggilan tersebut. Dia tampak senang.


Seperti orang yang beragama Islam pada umumnya, mereka mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Hafiz! Apa kabar, Sayang? Lama sekali kita tidak berbicara melalui panggilan video."


"Tidak apa-apa, Nak. Aku mengerti. Bagaimana kuliah dan pekerjaanmu?"


"Kuliah berjalan dengan baik. Semester ini sedikit lebih berat, tapi aku berusaha semaksimal mungkin. Pekerjaanku juga lancar, meskipun terkadang cukup menantang. Bagaimana dengan Mama? Apa kabar semua orang di sana?"


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Di pesantren baru saja selesai acara wisuda tahfidz, salah satu santri yang di wisuda adalah adikmu."


"Masyaa Allah. Benarkah? Senang mendengar kabar baik ini. Kalau begitu, aku ingin bicara pada Hamzah, Ma," pinta Hafiz.


Nadira tersenyum dan memahami betapa pentingnya panggilan itu bagi Hamzah. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk memberikan ponselnya kepada Hamzah agar dia bisa berbicara dengan kakaknya, Hafiz.


Dengan hati yang penuh sukacita, Nadira melangkah mendekati Hamzah yang tengah berpose di antara teman-temannya. Dia mencoba menarik perhatian Hamzah dengan lembut.


"Hamzah. Ada yang ingin bicara padamu," bisik Nadira sambil menunjukkan ponselnya kepada Hamzah.

__ADS_1


Hamzah melihat ponsel itu dan melupakan sejenak kumpulan teman-temannya. Dia merasa penasaran dengan panggilan itu dan berlari ke arah mamanya dengan cepat.


"Mama, ada apa?" tanya Hamzah dengan wajah penuh harap.


Nadira tersenyum dan memberikan ponselnya kepada Hamzah. Dia menjelaskan, "Kak Hafiz ingin mengucapkan selamat atas wisuda kamu, Sayang. Ambil ponsel ini dan bicaralah dengannya."


Wajah Hamzah berbinar saat menerima ponsel dari mamanya. Dia merasa terharu bahwa kakaknya (Hafiz) begitu peduli dengannya dan ingin berbagi momen penting ini.


"Terima kasih, Mama," kata Hamzah dengan rasa syukur yang tak terkira. "Aku akan segera bicara dengan Kak Hafiz."


Wajah Hamzah dipenuhi dengan senyuman dan kegembiraan saat melihat wajah Hafiz dari panggilan video tersebut. Dia tidak sabar untuk berbicara banyak hal dengan Hafiz dan berbagi kebahagiaannya.


Hamzah mengucapkan salam dan dijawab oleh Hafiz.


"Kakak menelepon di waktu yang tepat. Aku hari ini di wisuda karena sudah hafal quran 30 juz," ujar Hamzah dengan senyum sumringah saat membagikan kabar bahagia ini pada kakaknya.


"Masyaa Allah. Aku turut bahagia atas pencapaianmu, Hamzah. Meskipun aku tidak berada di sana, tapi aku bisa merasakan kebahagiaan keluarga kita yang sangat bangga kepadamu." Hafiz memuji adiknya.


"Terima kasih banyak, Kak. Ini semua karena Kakak yang sudah menjadi panutan untukku, menginspirasiku agar bisa seperti Kakak yang menjadi kebanggaan keluarga kita."


"Kamu bisa saja. Kakak juga kan bisa seperti ini karena terinspirasi dari papa kita. Kakek dan nenek menceritakan banyak hal tentang perjuangan papa untuk bisa menjadi hafiz quran, hingga bisa kuliah di Kairo, serta cerita-cerita lainnya yang membuat kakak tergugah untuk melakukan yang terbaik."


"Benar, Kak. Papa kita memang ayah yang teladan untuk anak-anaknya. Semua santri di pesantren Al Fathonah pun sangat kagum dengan papa."


Kakak-beradik ini terus memuji papanya. Mereka sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Mereka pun tidak lupa memuji mamanya yang juga menjadi sosok inspiratif bagi orang lain. Terlebih mama mereka merupakan seorang penulis dan motivator terkenal se-Asia Tenggara.


Percakapan mereka memang tak ada habisnya. Meskipun belum bisa kontak fisik, tetapi melalui virtual pun sudah bisa mengobati rasa rindu mereka.


Ammar, Lutfi, dan Aisyah masih sibuk mengurus berkas-berkas para santri yang di wisuda dan juga kerjaan lainnya. Sementara, Nadira mengobrol dengan beberapa wali santri yang masih ada di sana. Membicarakan banyak hal, bahkan termasuk tulisan-tulisan yang sudah beredar. Ternyata tulisan Nadira bisa dinikmati oleh berbagai kalangan karena memang menginspirasi khalayak.


Kemudian acara hari ini pun telah berlalu, semua orang menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Termasuk Hamzah, setelah menguasai hapalan alquran, Hamzah aktif berpartisipasi dalam perlombaan tilawah alquran. Dia melihat lomba-lomba tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas bacaannya dan meningkatkan pemahamannya terhadap makna ayat-ayat suci. Meskipun tidak selalu menjadi pemenang dalam setiap perlombaan, partisipasinya dianggap sebagai pencapaian yang besar dan memberikan inspirasi kepada orang-orang di sekitarnya.


Kisah Hamzah menjadi teladan bagi banyak orang, bahwa kesungguhan dan ketekunan dalam belajar dapat menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Prestasi Hamzah mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki ritme belajar, tentu dengan perkembangan yang berbeda. Hal yang paling penting adalah menghargai setiap proses belajar itu sendiri dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

__ADS_1


...****...


__ADS_2