Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Mengabdi di Pondok Pesantren Al Fathonah


__ADS_3

Hafiz, dengan langkah ringan dan hati penuh sukacita, melangkah kembali ke pondok pesantren yang telah menjadi tempat yang sangat berarti baginya. Setiap langkahnya terasa penuh makna, karena dia menyadari bahwa perjalanan hidupnya telah membawanya ke titik ini.


Dalam perjalanan hidupnya, Hafiz telah mengalami banyak tantangan dan rintangan. Namun, dia tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang diletakkan di hadapannya. Dia menghadapi ujian demi ujian, belajar dari pengalaman-pengalaman berharga, serta tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.


Hafiz tiba di pondok pesantren Al Fathonah dengan perasaan haru dan senang. Setibanya di sana, dia disambut dengan penuh sukacita oleh semua orang. Guru-guru dan santri-santri lainnya berkumpul di depan pondok untuk menyambut kedatangannya. Mereka mengucapkan selamat datang dengan ramah sambil tersenyum dan bersalaman dengan Hafiz.


"Selamat datang kembali, Ustad Hafiz!"


Hafiz merasa aneh dengan panggilan 'ustad' yang baru saja disematkan untuknya. Dia memang selama di Kairo, mengajar anak-anak mengaji dan berbagi ilmu agama lainnya. Namun, dia merasa belum pantas mendapatkan gelar tersebut.


"Wah, mendadak jadi ustad nih, judulnya," ujar Hafiz, mencoba membuat suasana agar tidak terlalu kaku.


Semua orang tertawa mendengar tanggapan Hafiz.


Hafiz seperti sedang mencari seseorang di sekitarnya. Mungkin ada seseorang yang diharapkan akan hadir di tempat tersebut. Tatapannya bergerak dari kiri ke kanan, mencari-cari wajah yang familiar atau orang yang mungkin dicari.


Setelah beberapa saat mencari, Hafiz akhirnya menemukan orang tersebut. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. "Hai, aku kira kalian sudah tidak di sini lagi karena sudah menikah." Hafiz menyapa Candra dan Faiz yang merupakan sahabat Hafiz sejak dia tinggal di pesantren ini.


Mereka berpelukan, melepas rindu. Meskipun Candra dan Faiz sudah menikah, mereka memilih untuk tetap mengabdi di pondok pesantren milik kakeknya Hafiz, bahkan istri mereka pun turut serta dalam membantu Nadira (Mamanya Hafiz) untuk urusan dapur, seperti memasak, belanja lauk, dan lainnya.


Dengan senyum merekah, Hafiz menanyakan kabar dengan ramah, "Kalian apa kabar?"


Candra dan Faiz menjawab serentak, "Alhamdulillah, baik."

__ADS_1


"Oh iya, sebelum bertanya, kami ingin menyampaikan kalau Kiai Lutfi, Ustad Ammar, Ustazah Aisyah, dan Ustazah Nadira sudah menunggu di dalam." Candra memberitahu.


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau keadaan kalian baik," ujar Hafiz dengan helaan napas lega. "Emm, jazakallah khairan, Candra. Kamu tahu saja kalau aku mau menanyakan mereka." Hafiz tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang sangat rapi dan berwarna putih. Impian semua orang untuk bisa memiliki gigi seperti itu.


Mereka bertiga pun berjalan menuju meja kosong di sekitar sana, bergabung dengan teman-teman yang lain, dan mulai mengobrol dengan riang. Suasana menjadi lebih santai dan ramah setelah interaksi tersebut dan semuanya menikmati momen kepulangan Hafiz setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya dengan tawa dan kegembiraan.


Beberapa santri mengambil inisiatif untuk membantu membawa barang bawaan Hafiz dan membimbingnya ke tempat tinggalnya. Mereka menunjukkan rasa perhatian dan kepedulian yang besar terhadap kedatangan Hafiz kembali ke pondok pesantren Al Fathonah.


Saat masuk ke dalam pondok, Hafiz disambut oleh keluarganya dan para pengurus. Mereka dengan hangat memberikan selamat datang kembali kepada Hafiz dengan rasa bangga dan bahagia karena prestasi-prestasi yang telah diraih oleh Hafiz selama menempuh pendidikan S2.


Hafiz terlebih dulu menghampiri mamanya, Nadira, seorang perempuan yang selalu memberikan inspirasi bagi semua orang. Wanita itu memeluk Hafiz dengan sangat erat.


Dalam suasana haru tersebut, Hafiz membuat suasana menjadi semakin ramai. "Ma. Bisa kali, ya, meluknya jangan terlalu kencang. Hafiz enggak bisa napas, nih."


Senyum dan tawa renyah terdengar dari segala penjuru.


Nadira menautkan alisnya saat melihat putra sulungnya, Hafiz, yang sudah beranjak dewasa. Meskipun dia tersenyum melihat perkembangan anaknya, di balik senyum itu, ada kekhawatiran yang menghantui pikirannya. Teman-teman Hafiz sudah banyak yang menikah dan Nadira tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti Hafiz akan menikahi seorang gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya.


Namun, Nadira mencoba mengesampingkan kekhawatirannya dan fokus pada momen yang bahagia saat itu. Hafiz bersalaman serta berpelukan dengan papa, nenek, dan kakeknya. Momen kebersamaan itu menghangatkan hati Nadira dan dia berusaha menikmati setiap detiknya.


Kemudian, saat tiba giliran sungkeman dengan sang kakek, Hafiz mendapat wejangan yang cukup dalam. Kakek memberikan nasihat tentang perjalanan kehidupan dan mengingatkan Hafiz akan tujuan akhir yang lebih penting daripada sekadar kehidupan di dunia ini.


"Dengarlah, Hafiz. Di dalam perjalanan kehidupan ini, jangan sampai kita lupa bahwa tidak ada yang lebih penting daripada memperbanyak bekal untuk menuju kehidupan setelah kematian. Kebaikan, amal, dan ketakwaan adalah modal utama yang harus kita kumpulkan. Jangan terlalu terpaku pada kehidupan dunia yang sementara ini," kata sang kakek dengan penuh kearifan.

__ADS_1


Hafiz mendengarkan wejangan sang kakek dengan seksama, merenungkan kata-kata yang dalam dan mempertimbangkan maknanya. Dia merasa tersentuh dengan peringatan kakeknya, yang menunjukkan pentingnya fokus pada hal-hal yang abadi dan kekal.


"Saya akan mengingat wejangan ini, Kakek. Saya berjanji untuk melengkapi bekal hidup saya dengan kebaikan dan ketakwaan, menjadikan mereka sebagai prioritas utama dalam hidup saya," ucap Hafiz dengan penuh tekad.


Lutfi tersenyum bangga, melihat ketulusan dan tekad dalam ucapan cucunya. Beliau memberikan Hafiz pelukan hangat sebelum mereka melanjutkan perayaan bersama keluarga di pondok pesantren Al Fathonah.


Nadira mengamati interaksi itu dengan haru. Meskipun kekhawatiran tentang masa depan Hafiz masih ada, dia merasa lega melihat putranya menerima wejangan dan nasihat berharga dari sang kakek. Dia berharap bahwa Hafiz akan menjalani kehidupannya dengan bijaksana dan mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang dia temui.


Hafiz merasa terharu dan bersyukur atas sambutan yang diberikan oleh semua orang. Dia merasa senang dan semangat untuk memulai kegiatan mengabdi di pondok pesantren Al Fathonah. Hafiz tahu bahwa di tempat ini dia akan selalu memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagai seorang muslim yang baik.


Dengan semangat yang membara, Hafiz bersiap-siap untuk menjalani kehidupan barunya di pondok pesantren Al Fathonah dan siap mengejar impian-impian dan tujuannya dalam bidang keagamaan.


Sekarang, di pondok pesantren yang dicintai, Hafiz merasa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar. Dia ingin berbagi cinta dan kebijaksanaannya dengan kakeknya, Lutfi, dan papanya, Ammar. Mereka adalah orang-orang yang telah memberikan dukungan dan inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bersama-sama, mereka berkomitmen untuk melanjutkan perjalanan panjang membangun pondok pesantren ini.


Pondok pesantren bukan hanya sebuah bangunan fisik, melainkan juga tempat yang menyinari hati dan jiwa mereka. Itu adalah tempat yang penuh dengan kehangatan, ketenangan, dan kebijaksanaan. Hafiz dan keluarganya ingin menjadikannya sebagai tempat yang mampu memberikan pencerahan bagi siapa saja yang datang mencari ketenangan dan hikmah.


Mereka ingin membangun lingkungan yang inklusif dan saling menghormati, di mana semua orang dapat tumbuh dan belajar bersama. Mereka bermimpi untuk melahirkan generasi yang penuh kasih sayang, pengetahuan, dan pemahaman terhadap nilai-nilai agama serta kehidupan yang baik.


Dengan semangat yang tulus, Hafiz, kakeknya, dan papanya berkolaborasi dalam upaya mereka. Mereka bekerja keras untuk merancang program pendidikan yang berkualitas, mengembangkan kurikulum yang holistik, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual dan intelektual.


Hari demi hari, pondok pesantren ini semakin berkembang dan menjadi pusat kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Semua orang yang datang mencari ketenangan dan hikmah di sana merasakan kehangatan dan penerangan yang terpancar dari hati dan jiwa Hafiz, kakeknya, dan papanya.


Hafiz merasa terhormat dan berterima kasih atas perjalanan hidupnya yang membawanya ke titik ini. Dia merasa sangat bahagia dapat berbagi cinta dan kebijaksanaannya dengan orang-orang yang dicintainya, serta dengan siapa pun yang membutuhkannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan hidupnya, Hafiz telah belajar bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh dan menginspirasi orang lain. Dia berharap dapat terus memberikan cahaya dan ketenangan kepada semua yang datang ke pondok pesantren ini, sehingga mereka juga dapat menemukan jalan mereka menuju kehidupan yang bermakna dan penuh dengan kasih sayang.


...****...


__ADS_2