Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Keluarga yang Hangat


__ADS_3

Mendengar saran dari Hafiz, keluarga Hamzah langsung terinspirasi untuk memberikan kejutan yang tak terlupakan. Mereka mulai merencanakan setiap detailnya dengan hati-hati, sambil tetap menjaga kerahasiaan dari Hamzah dan anggota keluarga lainnya yang tidak tahu apa-apa.


Pada hari yang ditentukan, ketika Hamzah ke rumah kakeknya yang ada di sekitar pondok, Nadira sekeluarga bersama-sama menyusun rencana untuk memberikan kejutan kepada Hamzah.


Saat pintu rumah terbuka, Hamzah terkejut melihat semua anggota keluarga berkumpul di depannya. Matanya berkaca-kaca dan dia hampir tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Hafiz berjalan maju dan memeluk saudaranya dengan erat, sambil berkata, "Kejutan ...!"


Keluarga Nadira berkumpul bersama di ruang tamu, sambil berbagi cerita dan tawa. Mereka saling bertukar kabar tentang apa yang telah terjadi selama Hafiz berada di luar negeri dan Hamzah bercerita tentang pengalamannya selama Hafiz pergi.


Tidak ada yang bisa menahan kebahagiaan yang meluap dari wajah Hamzah. Dia merasa begitu bersyukur karena keluarganya kumpul kembali setelah sekian lama. Walaupun kurang lengkap, karena Sultan, Fenny, si kembar (Aqeela dan Aisha), Haikal, dan Yasmin tidak ada, Hamzah tetap tersenyum bahagia dan merasa sangat dicintai.


Tidak lama kemudian, Nadira menerima telepon dari mamanya. Dia buru-buru mengangkat telepon tersebut.


"Nad. Kamu ada di pondok apa lagi ada kegiatan di luar?"


"Iya, Ma. Ada di pondok. Kenapa, Ma?" tanya Nadira.


Ammar berbisik, "Siapa, Sayang?"


"Mama," jawab Nadira, hanya menggerakkan bibir.


Sementara Fenny menjawab pertanyaan Nadira, Fenny mengatakan kalau dia sedang ada di jalan, menuju pondok karena rindu dengan Nadira dan cucunya, Hamzah. Nadira jadi tidak fokus mendengarkan. Saat ini, Fenny belum tahu kalau Hafiz sudah pulang ke Indonesia.


"Mau ke sini kah?" tanya Ammar kembali.


Belum dijawab oleh Nadira, Fenny berkata, "Halo, Nad, kamu mendengarkan mama, kan?"


"Oh, iya, Ma. Maaf, Ma. Ini Ammar tadi nanya, siapa yang telepon. Jadi, gimana, Ma?" tanya Nadira yang kembali fokus mendengarkan mamanya.

__ADS_1


"Mama mau ke sana, ini sudah di jalan sama papa, Kak Haikal, Kak Yasmin, dan si kembar. Tolong sampaikan sama Pak Kiai dan Ustazah Aisyah, ya!"


"Oh iya, Ma. Nanti aku sampaikan. Fii amanillah, Ma. Kami tunggu kedatangannya."


"Ma Assalamah. Ya sudah, mama tutup dulu teleponnya, ya. Assalamu'alakum."


"Waalaikumussalam, Ma."


Suasana di sekitar mereka menjadi hening, seperti telepon yang terputus. Tanpa ragu, Nadira bergegas memberitahukan kabar yang baru saja diterima kepada yang lain, seolah-olah membangkitkan kilat listrik yang melintas di udara. Percikan kegembiraan segera menyebar dan mengisi ruangan, mengilhami mereka untuk merencanakan sebuah kejutan yang lebih besar. Seperti seniman yang melukis dengan sentuhan hati, mereka mulai membangun rencana kedua, seperti mempersembahkan sebuah karya masterpiece bagi keluarga dari pihak Nadira.


Seperti kilatan cahaya yang melintas di ufuk timur, Fenny beserta keluarganya tiba di Pondok Pesantren Al Fathonah setelah satu jam perjalanan yang penuh antusiasme. Langkah-langkah mereka terdengar gemulai seperti bisikan di dalam hutan yang penuh misteri. Saat mereka memasuki halaman pondok, udara seolah-olah terisi dengan semangat dan kehangatan. Sorot mata mereka bersinar seperti bintang di langit malam, penuh dengan harapan dan keingintahuan tentang kejutan yang telah dirancang dengan penuh cinta oleh Nadira dan yang lainnya.


Dalam kegembiraan yang tak terbendung, si kembar dengan suara lantang menyapa, "Tante...!" Kata itu meluncur dari bibir mereka dengan kegirangan yang terpancar di mata mereka. Seperti dua anak kucing yang menemukan ibu mereka, mereka berlari dengan penuh semangat menuju Nadira, memeluknya erat-erat. Pelukan itu mengalir seperti sungai yang mengalir deras, mengungkapkan kerinduan yang tak terukur selama mereka berpisah. Dalam kebersamaan ini, mereka merasakan kehangatan dan cinta yang tak tergantikan.


Begitu pun dengan Hamzah yang rindu dengan Uaknya, rindu masakan Haikal, seorang koki internasional yang masakannya begitu lezat.


Semua orang tersenyum melihat tingkah laku Hamzah dan si kembar. Pertumbuhan mereka begitu cepat, tak terasa, mereka bertiga sudah beranjak remaja yang semakin pintar.


Sultan berdehem. "Opanya enggak dikangenin nih, Zah?" tanyanya sambil mata melirik ke arah berlawanan dengan Hamzah. Seolah-olah sedang mengambek karena cemburu sosial.


Fenny pun menimpali, "Iya, nih! Omanya juga kayaknya enggak dikangenin. Kita pulang aja, yuk, Pa!"


Dengan hati yang penuh kebahagiaan, Nadira tersenyum melihat kehadiran semua anggota keluarganya yang berkumpul. Tersirat dalam senyumnya adalah kerinduan yang selalu mengisi setiap detik perpisahan. Dalam kebersamaan ini, Nadira merasakan kehangatan dan kedamaian yang tak tergantikan. Baginya, tak banyak hal yang diinginkan dalam hidup ini selain bisa merasakan momen berharga bersama keluarga tercintanya. Dia menghargai setiap episode kehidupan yang mereka lalui bersama, seperti halaman-halaman berwarna dalam sebuah buku cerita yang tak pernah habis.


Mereka semua menikmati momen kebersamaan itu dengan sebaik mungkin karena jarang bisa berkumpul lengkap seperti ini.


Saat tawa sedang menghiasi suasana pertemuan hangat itu, Fenny bertanya tentang kabar Hafiz. "Oh iya, gimana kabarnya Hafiz? Lama juga tidak bertemu dengannya."

__ADS_1


Nadira menatap Ammar, seakan sedang berdiskusi melalui batin. Lutfi dan Aisyah pun saling bertatapan.


"Emm, ini, Ma. Apa? Alhamdulillah, Ma. Kabarnya Hafiz baik," jawab Nadira yang mendadak grogi.


"Nadira kenapa? Kok jawabnya kayak ragu gitu?" tanya Fenny yang curiga.


Ammar menggenggam tangan Nadira agar istrinya lebih relaks dan tidak membuat Fenny semakin curga dengan apa yang sedang mereka rencanakan.


"Mungkin Nadira cuma kecapean aja, Ma. Jadinya agak ngelantur dan tidak fokus," jawab Nadira, sekenanya dengan helaan napas pendek.


Dalam usaha untuk mengalihkan perhatian Fenny dari spekulasi yang mungkin terlintas, Hafiz keluar dari ruangan dengan rendah hati, memulai lantunan salawat yang merdu. Suara indahnya menari di udara, menyentuh hati semua orang yang mendengarnya. Fenny, dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan, memutar kepalanya ke arah suara itu. Begitu pula dengan yang lain, mereka menoleh dengan perasaan campuran antara kekaguman dan kebahagiaan.


Tanpa ragu, si kembar langsung berteriak serentak, "Kak Hafiz...!" Mereka berhamburan menuju Hafiz, berlari dengan antusiasme yang menggebu-gebu. Suara mereka menggema seperti suara anak-anak yang memanggil pahlawan mereka. Dalam momen itu, kegembiraan dan kebersamaan mereka menjadi satu, menyebar seperti cahaya kecil yang menerangi jalan menuju kebahagiaan.


Selama beberapa hari berikutnya, keluarga Nadira memanfaatkan waktu dalam kebersamaan yang penuh kebahagiaan. Mereka melakukan berbagai kegiatan bersama, seperti berkeliling kota, makan di restoran favorit, dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang selalu ingin mereka kunjungi bersama.


Selama perjalanan ini, ikatan keluarga mereka semakin kuat. Hamzah dan Hafiz menyadari betapa pentingnya keluarga dalam hidup mereka dan berjanji untuk selalu menjaga hubungan tersebut.


Ketika waktunya tiba bagi Hafiz untuk kembali ke luar negeri, keluarganya berkumpul untuk perpisahan yang emosional. Mereka saling berpelukan erat dan berjanji untuk tetap menjaga komunikasi dan merencanakan pertemuan di masa depan.


Hafiz kembali melanjutkan kehidupannya yang baru untuk mengejar gelar S2-nya, tetapi kali ini dengan perasaan yang kuat bahwa dia memiliki keluarga yang selalu memberikan dukungan di belakangnya. Dia merasa diiringi oleh cinta dan kehangatan mereka setiap langkah yang diambilnya dalam perjalanan akademiknya. Pemahaman ini memberikan kekuatan dan keyakinan baginya untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul di masa depan.


Hamzah juga merasakan kehadiran keluarga yang hangat, yang tidak pernah pudar, meskipun mereka berjauhan. Seperti api yang terus menyala, cinta keluarga selalu membakar di dalam hatinya. Hal ini memberinya ketenangan dan kepastian bahwa dia selalu memiliki tempat yang nyaman untuk pulang. Kekhangatan keluarga memberikan semangat dan motivasi untuk terus berjuang dan berkembang dalam hidupnya.


Nadira merasa bahagia dan bersyukur melihat keluarganya bisa rukun seperti ini. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa kadang-kadang ada permasalahan kecil yang muncul, seperti hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Namun, dia menyadari bahwa itu adalah bagian dari kehidupan dan tidak menghalangi keharmonisan mereka. Mereka belajar untuk saling memahami, menghargai perbedaan, dan mencari solusi bersama saat menghadapi tantangan. Nadira menyadari bahwa kebahagiaan dalam keluarga tidak selalu berarti tidak ada masalah, tetapi lebih kepada kemampuan untuk melewati masalah itu bersama-sama, memperkuat ikatan mereka, dan tumbuh sebagai keluarga yang kuat.


...****...

__ADS_1


__ADS_2