
Hari ini, anak kecil yang cengeng dan sedikit manja, akan menjadi seorang istri. Anak kecil yang selalu merengek dan mengambek jika keinginannya tidak dituruti, akan menjadi seorang menantu yang mengharuskannya meninggalkan rumah kedua orang tua dan hidup mandiri bersama keluarga barunya.
Tunai sudah tanggung jawab orang tua, khususnya seorang ayah ketika putrinya menikah. Tanggung jawab seorang ayah yang berpindah kepada suami. Itulah salah satu ikrar pernikahan yang terjadi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Khumairah Az-Zizah binti Sultan Aji Permata dengan mas kawin tersebut. Dibayar, tunai!" ujar Ammar dengan satu helaan napas.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah!"
"Alhamdulillahi Rabbil 'alaamiin .... Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
Tahmid berkumandang, disambut dengan tangisan haru yang membanjiri ruangan. Jantungnya berdebar, seakan habis lomba lari. Kini, Ammar sudah mengambil alih tanggung jawab Sultan dan Haikal untuk menjaga Nadira sampai akhir hayat.
"Sekarang, mempelai wanitanya sudah boleh keluar," ujar penghulu.
Nadira mendengar jelas suara ustaz Fadil (penghulu yang menikahkannya dengan Ammar). Dia berada di kamar pengantin yang sengaja disediakan di lantai dasar, dekat ruang tamu agar tidak terlalu lama naik-turun tangga. Sebab, jika kamar pengantinnya di kamar pribadi Nadira, kedua orang tua Nadira dan kakaknya (Haikal) khawatir dia pingsan atau kesandung karena gugup. Soalnya Nadira orangnya sedikit ceroboh dan kurang berhati-hati kalau jalan.
Dengan linangan air mata haru, Fenny menjemput Nadira di kamar pengantin. Di ruang persegi yang sudah dihiasi bunga-bunga dan kayin penutup dinding, Nadira terlihat sangat anggun dan cantik. Riasan wajah yang tidak terlalu mencolok, membuatnya tetap elegan. Gaun dan jilbab putih, dengan manik-manik di bajunya, membuatnya terlihat memesona.
Nadira keluar bersama ibunda tercinta, ditemani oleh kedua adik iparnya yang bernama Nissa dan Kinara. Keduanya tampak bahagia dan menerima Nadira sepenuh hati untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Sekarang Ammar dan Nadira sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Mereka akan saling melengkapi, mengisi kekosongan, dan tentunya menjadikan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
"Masya Allah! Bidadari yang Allah ciptakan, kini ada di depan mataku," ujar Ammar, spontan.
Berbagai macam tanggapan tamu undangan yang mendengar ucapan Ammar. Ada yang tertawa, menggoda, bahkan mengaamiinkan.
__ADS_1
Nadira duduk di samping kanan Ammar. Mereka masih tampak malu-malu. Melirik dengan ragu karena masih canggung. Penghulu meminta Ammar menyematkan cincin ke jari Nadira sebagai simbol sepasang kekasih yang sudah menikah. Kini, ada dua cincin yang tersemat di tangan Nadira dan keduanya itu, sama-sama dari laki-laki yang kini dipanggil suami.
Masya Allah! Sungguh beruntungnya Nadira. Jodoh memang akan datang di waktu yang tepat dengan orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
"Terima kasih, ya Rabb ...! Aku tidak tahu mau meminta apa lagi dari-Mu selain terima kasih banyak telah memberikan warna dalam hidupku," batin Nadira dengan mata berbinar. Kantung matanya berusaha menyeka air mata yang hendak keluar.
"Sekarang, silakan tanda tangani buku nikah dan surat-surat lainnya," ujar seorang MC.
Pasangan yang sedang berbahagia ini sampai tidak sanggup lag berkata-kata. Tanggannya gemetar, lalu berusaha ditenangkan oleh sosok lelaki di belakang mereka. Siapa lagi kalau bukan Haikal yang menjadi pelindung bagi Nadira selama ditinggal tugas oleh kedua orang tuanya. Nadira dan Ammar memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas, lalu merilekskan pikiran. Kemudian, tangan mereka digerakkan untuk menyelesaikan penanda tanganan surat-surat pernikahan yang ada dihadapan mereka.
Setelah itu, masuk pada sesi foto bersama dengan memegang buku nikah. Rasa canggung tentu masih menyelimuti perasan mereka berdua. Tidak pernah menyangka, jodoh mereka adalah orang di masa lalu. Sosok yang pernah dikagumi tapi hanya sekadar kagum, tanpa berpikiran bisa sejauh ini. Sebab, dulu mereka sama sekali tidak berpikiran untuk memiliki hubungan spesial. Yang ada dalam pikiran sosok Nadira dan Ammar, hanyalah sekolah dan berusaha menggapai mimpi-mimpinya. Qodarullah! Definisi kalau jodoh, tidak akan ke mana. Benar-benar nyata.
...***...
Malam harinya, tamu undangan masih berdatangan. Walaupun pengantin barunya sudah mengganti pakaian dengan pakian biasa, tetap saja ada yang meminta foto bersama. Lucunya, Ammar dan Nadira masih ragu untuk bersentuhan. Mereka menjalankan hubungan layaknya air terjun. Membiarkan airnya bermuara ke tempat yang dituju. Hingga akhirnya, tujuan itu kini telah sampai.
"Issh .... Apaan, sih! Kan cuma mau foto aja, Balqis," ujar Nadira. Pipinya memerah seperti sedang menggunakan blush on.
"Cie, pipinya jadi merah gitu. Habis kena matahari apa blush on belum hilang, Mba?" Balqis terus saja menggoda.
Sementara Ammar, dia hanya diam dan tersenyum melihat kelakuan dua wanita di depannya. Namun, pandangan Ammar tetap fokus ke Nadira.
"Ya sudah, ayolah foto!" ucap Nadira. "Eh! Tapi ada yang kurang, nih! Masa fotonya bertiga. Kan kata orang tua kita yang sudah mencicipi asam-garam kehidupan, tidak boleh foro bertiga." Nadira mengalihkan pembicaraan dan berniat untuk menjodohkan Balqis dengan kakaknya.
"Dasar wanita pengalihan isu," ujar Balqis, tertawa kecil.
__ADS_1
Nadira memanggil Haikal untuk foto bersama. Kakaknya pun menghampiri.
"Nah, kalau foto berempat kan, enak!" Nadira tertawa, seakan puas karena sudah membalas godaan sahabat dari kecilnya itu.
"Biar aku tidak terlihat jomlo, kan?" Balqis memajukan bibirnya. "Puas banget ketawamu, Nad."
Nadira memeluk dan mencium pipi Balqis.
"Apa sih, Sayang? Siapa tahu kamu berjodoh dengan kakakku," pungkas Nadira.
Walaupun begitu, Balqis tidak pernah ingin menjadi pemarah hanya karena ucapan yang (kurang) tepat untuk dilontarkan. Mereka akhirnya foto berempat. Layaknya, ada dua pasangan yang tengah berbahagia.
Selesai berswafoto. Haikal pamit karena masih ada tamu yang harus dilayani. Khususnya tamu-tamu penting papa mereka.
Balqis menanggapi kembali ucapan Nadira. Antara pernyataan atau permintaan memang beda tipis.
"Nadira apaan, sih! Gak enak tahu sama Kak Haikal."
"Tidak perlu merasa tidak enak begitu. Siapa tahu, kalian memang berjodoh, kan? Emang ada yang salah?" tanya Nadira.
"Ya, tidak ada yang salah, sih. Hanya saja, nanti Kak Haikal mikirnya yang aneh-aneh lagi tentangku," ujar Balqis dengan wajah dipenuhi kekhawatiran yang malah membuat pikirannya terus berkeliaran tanpa spasi.
"Sudahlah, Balqis. Tidak perlu memendam rasa lagi. Aku sempat tidak sengaja membaca biku "diary" yang kamu tulis. Sebagai adik semata wayangnya, aku percaya bahwa kamu bisa memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang istri dengan baik."
Ammar sudah bersama Haikal, menemani tamu-tamu undangan yang masih berdatangan. Meninggalkan istrinya menikmati kehangatan dua sahabat yang sering tidak akur kalau berdekatan dan saling merindu jikalau jauh.
__ADS_1
...****...