
Beberapa bulan kemudian, pagi itu, Yasmin mengantar suaminya sampai di pintu keluar.
"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang. Jaga diri baik-baik dan anak dalam kandunganmu," ujar Haikal sambil mengecup kening sang istri. Lalu, dia menunduk, mengelus-elus perut Yasmin dengan lembut seraya berkata, "Nak. Tolong jangan menyusahkan mamamu ya, Sayang. Kakak-kakakmu sedang kuliah, jadi mohon dibantu, ya," pintanya pada calon anaknya yang akan segera lahir itu.
Saat Haikal berdiri tegak, bayi yang ada dalam kandungan Yasmin memberikan respons. Seakan siap melaksanakan perintah papanya, Haikal.
Mata Yasmin membulat seraya berkata, "Sayang. Anak kita menendang nih, sepertinya dia mendengarkanmu," ujarnya dengan rasa bahagia. Senyumannya merekah.
Haikal menaikkan alisnya. "Benarkah?" tanyanya menunduk kembali. Dia memegang perut Yasmin dengan lembut dan merasakan tendangan calon anaknya. "Masyaa Allah. Kamu sudah tidak sabar ingin melihat dunia ya, Nak? Tidak sabar ingin bertemu dengan kami, ya? Papa, Mama, Kak Aisha, Kak Aqeela, Oma, Opa, dan yang lainnya juga sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." Haikal saking bahagianya, tidak berhenti mencium perut sang istri.
"Ya sudah, kamu berangkat kerja gih. Nanti terlambat lagi. Kan hari ini kamu ada pertemuan penting," ujar Yasmin tersenyum.
"Iya, sayang. Aku berangkat kerja dulu, ya," ujar Haikal sambil berdiri. Yasmin mencium tangan suaminya. Haikal mengecup kening Yasmin dan membalikkan arah, membelakangi sang istri. Haikal menuju mobilnya.
Tiba-tiba, Yasmin mulai mengalami kontraksi yang menandakan bahwa dia akan segera melahirkan. Padahal Haikal sudah siap untuk berangkat kerja karena ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Namun, begitu melihat kondisi Yasmin yang sedang kesakitan, Haikal segera mengubah prioritasnya.
Sontak Haikal membalikkan badannya ke arah sang istri dan langsung memapah perempuan yang sudah memberikan dua bidadari cantik yang bernama, Aisha dan Aqeela itu.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Haikal, berusaha tenang, tapi sangat khawatir.
"Sepertinya anak kita sudah mau keluar sekarang, sayang," jawab Yasmin sambil meringis kesakitan.
"Waduh, jangan keluar di sini, ya, Nak. Papa akan bawa kalian ke rumah sakit," pinta Haikal kepada bayinya yang ada di perut sang istri.
Haikal bergegas ke mobil. Kebetulan tukang kebun mereka sedang menyiram tanaman, langsung menghampiri mereka. Tak lupa mencuci tangan dan meletakkan alat kerjanya.
"Ibu Yasmin kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" ujar Pak Ujang.
"Sepertinya Yasmin akan melahirkan sekarang, Pak," jawab Haikal. Jantungnya berdegub kencang. "Bapak tolong bantu saya bukakan pintu mobil, ya," pintanya.
"Baik, Pak!" ujar Pak Ujang. Langsung membukakan pintu mobil.
Yasmin ditidurkan di kursi belakang.
"Pak Ujang. Mbak Hera lagi ngapain?" tanya Haikal setelah meletakkan posisi Yasmin dengan benar.
"Tadi sih saya lihat, Mbak Hera lagi di dapur, Tuan. Lagi cuci baju," jawab Pak Ujang yang ikutan panik karena melihat kondisi majikannya.
"Ya sudah, tolong bilang Mbak Hera, minta bawa baju-baju Bu Yasmin dan baju bayi yang sudah disiapkan Bu Yasmin kemarin, ya. Terus langsung nyusul ke rumah sakit," pinta Haikal yang saat ini sudah duduk di kursi sopir. Siap untuk mengantarkan Yasmin ke rumah sakit.
"Siap, Pak! Nanti saya sampaikan kepada Mbak Hera. Ada lagi, Tuan?" ujar Pak Ujang.
"Enggak ada. Itu saja, Pak. Terima kasih ya, Pak," ujar Haikal, menghidupkan mesin mobilnya. Saat sampai di pagar rumah, Haikal kembali menitip pesan kepada Pak Ujang, "Oh iya, Pak. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela, ya. Bilang sama Mbak Hera juga. Pak Ujang nanti bantu Mbak Hera bawa baju-bajunya ke rumah sakit. Saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Iya, Pak. Baik. Nanti kami menyusul. Hati-hati di jalan, Pak. Semoga Ibu Yasmin dan bayinya baik-baik saja," ujar Pak Ujang berharap.
Haikal langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Dia menyetir dengan hati-hati. Sambil sesekali melihat kondisi sang istri yang meringis kesakitan dari kaca kecil yang terletak dekat dengan kepalanya.
Setelah berpikir dengan seksama, Haikal menyadari bahwa tak ada apa pun yang lebih berharga daripada kehadiran dan dukungan yang diberikan kepadanya pada saat-saat penting. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Haikal mengambil keputusan yang bijaksana. Dia memutuskan untuk menemani dan menjaga Yasmin hingga dia merasa cukup kuat untuk menghadapai proses persalinan. Baginya, kesehatan dan kebahagiaan Yasmin serta kelahiran anak mereka adalah hal yang tak ternilai harganya.
Walaupun Haikal harus melepaskan kesempatan berharga dalam pertemuan bisnis tersebut, dia tahu bahwa kehadirannya bersama Yasmin jauh lebih berarti bagi mereka berdua. Haikal mengingat betapa sulitnya momen kelahiran pertama Yasmin, terlebih sang istri pernah keguguran pada kehamilan kedua, dan dia tidak ingin melewatkan momen berharga ini lagi.
Tanpa ragu, Haikal memutuskan untuk menghubungi orang kepercayaannya dan memintanya untuk mewakili dirinya dalam pertemuan tersebut. Dia menjelaskan situasi yang sedang terjadi dan berharap agar rekan bisnisnya dapat memahami keadaan ini.
Haikal memegang telepon. Dia menggunakan headset bluetooth agar bisa sambil menyetir. "Halo, Ahmad. Aku ada situasi yang mendesak dan butuh bantuanmu," ujarnya sambil fokus mengemudi.
"Iya, Haikal. Ada apa? Apakah ada masalah di hotel?" tanya Ahmad yang merupakan sahabat Haikal dan salah satu orang kepercayaannya untuk membantu mengelola bisnis di hotelnya.
"Bukan di hotel, Ahmad. Ini masalah pribadi. Istriku, tiba-tiba mengalami kontraksi dan kami harus segera pergi ke rumah sakit."
"Oh, aku minta maaf, Haikal. Semoga semuanya baik-baik saja."
"Terima kasih, Ahmad. Ya, semuanya baik-baik saja, tapi situasinya cukup mendesak. Aku harus membawa Yasmin ke rumah sakit dan mendampinginya dalam proses persalinan. Sepertinya istriku akan melahirkan hari ini juga. Sedangkan di saat yang bersamaan, aku ada pertemuan penting untuk bertemu dengan rekan bisnisku. Mohon bantuannya, ya."
"Tentu, Haikal. Apa yang bisa aku bantu? Mungkin aku bisa mengatur ulang pertemuanmu dengan rekan bisnis tersebut."
"Itulah yang aku harapkan, Ahmad. Tolong hubungi rekan bisnisku dan jelaskan situasi ini. Katakan bahwa aku tidak bisa meninggalkan istriku dalam situasi seperti ini dan memohon agar mereka memahami keadaan ini."
"Aku akan segera menghubungi mereka, Haikal. Aku akan menjelaskan dengan jelas bahwa kamu tidak bisa hadir dalam pertemuan karena keadaan yang tidak terduga ini. Semoga mereka dapat memahami dan menghargai keputusanmu."
"Terima kasih banyak, Ahmad. Aku sangat menghargainya. Ini adalah momen yang penting bagi kami sebagai keluarga, dan aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendampingi Yasmin. Aku ingat kan, aku pernah cerita kalau Yasmin pernah keguguran? Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi."
"Aku sepenuhnya mengerti, Haikal. Kesehatan dan kebahagiaan keluarga adalah yang terpenting. Aku akan segera menghubungi rekan bisnismu dan memberi tahu mereka tentang situasi ini."
"Baik, Ahmad. Terima kasih atas bantuannya. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu. Tolong berikan kabar jika ada perkembangan."
__ADS_1
"Tentu, Haikal. Aku akan memberikan kabar secepat mungkin. Semoga semuanya berjalan lancar di rumah sakit. Berikan salamku pada Yasmin."
"Aamiin. Iya, disampaikan salamnya. Terima kasih, Ahmad."
"Semoga semuanya berjalan dengan baik."
Haikal merasa dilema. Di satu sisi, jika dia tidak terlibat dalam pertemuan itu, maka akan berisiko kehilangan investasi dari salah satu investor terbesar untuk hotelnya. Namun, di sisi lain, dia tidak ingin mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai suami yang harus mendampingi dan menjaga Yasmin di saat yang genting seperti ini.
...***...
Haikal merasa lega ketika mobilnya akhirnya tiba di depan gerbang rumah sakit. Dia bersikap penuh perhatian dan siap memberikan dukungan sepenuhnya kepada Yasmin. Usia kehamilan Yasmin sudah memasuki 9 bulan, itu sebabnya Haikal yakin bahwa dia membuat keputusan yang benar dengan memilih untuk hadir dan mendampingi istrinya dalam momen yang sangat berarti ini.
Tanpa ragu, Haikal segera memarkir mobilnya dan setengah berlari menuju pintu masuk rumah sakit sambil membopong istrinya. Dalam hatinya, dia berdoa semoga segalanya berjalan dengan baik.
Haikal memasuki ruang tunggu rumah sakit dan mencari bantuan. Dia mendekati salah satu petugas rumah sakit yang berada di dekatnya.
"Permisi, Maaf mengganggu. Saya butuh bantuan segera. Istri saya mengalami kontraksi dan kami membutuhkan perawatan segera," ujar Haikal sedikit panik.
"Tentu, Pak. Saya akan segera membantu Anda. Silakan ikuti saya," jawab salah satu perawat di rumah sakit.
Perawat rumah sakit dengan sigap memimpin Haikal menuju bagian IGD (Instalasi Gawat Darurat). Haikal berusaha menenangkan dirinya dan tetap berdoa semoga Yasmin dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik.
Sesampainya di IGD, perawat rumah sakit memperkenalkan Haikal pada tim medis yang akan merawat Yasmin.
"Pak, ini adalah tim medis yang akan merawat istri Anda. Mereka sangat berpengalaman dalam menangani proses persalinan. Anda bisa tenang dan menunggu di ruang tunggu," ujar seorang perawat rumah sakit itu.
"Terima kasih banyak. Saya percayakan istri saya pada tim medis ini," ujar Haikal, sedikit lega karena sang istri akan segera mendapat bantuan medis.
Setelah memberikan instruksi terakhir pada tim medis, Haikal kembali ke ruang tunggu. Dia duduk dengan gelisah, memikirkan Yasmin dan berharap semuanya berjalan dengan lancar.
Sambil menunggu, Haikal mengeluarkan telepon genggamnya dan mengirim pesan kepada Ahmad, orang kepercayaannya.
"Alhamdulillah, aku sudah sampai di rumah sakit. Ya sudah, aku urus istriku dulu. Jangan lupa kabari aku, ya, soal tadi. Semoga rekan bisnisku benar-benar bisa memahami situasinya."
Setelah mengirim pesan, Haikal memasukkan teleponnya ke dalam saku dan mencoba tenang. Dia tahu bahwa saat ini fokusnya harus sepenuhnya pada Yasmin dan proses persalinan yang sedang berlangsung.
Haikal berdoa dengan penuh harapan, memohon kepada Allah agar melindungi Yasmin dan bayi yang ada di dalam rahimnya. Dia percaya bahwa rekan bisnisnya akan memahami situasinya, karena keluarga adalah prioritas utamanya saat ini.
Dalam ketenangan dan harapan, Haikal menunggu dengan sabar di ruang tunggu rumah sakit, siap memberikan dukungan dan kehadiran yang tak tergantikan bagi Yasmin saat dia melahirkan anak mereka.
Akhirnya, Haikal dan Yasmin bersama-sama menghadapi proses persalinan dengan penuh semangat dan kekuatan. Haikal memberikan dukungan dan kehadiran yang tak tergantikan bagi Yasmin, mengingatkan keduanya betapa pentingnya saling berada di sisi saat-saat penting dalam kehidupan mereka.
Beberapa jam kemudian, suasana di ruang tunggu rumah sakit mulai terasa tegang. Haikal duduk dengan gelisah, tak sabar menunggu kabar tentang kelahiran bayi mereka. Setiap detik terasa berharga dan setiap detik itu pula Haikal berdoa agar semuanya berjalan lancar.
Akhirnya, pintu ruang tunggu terbuka dan seorang perawat keluar dengan senyum bahagia di wajahnya. Haikal langsung berdiri dengan hati berdebar.
"Selamat, Pak Haikal. Istri Anda telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Semuanya berjalan dengan baik," ujar perawat itu.
Haikal merasakan kebahagiaan tak tergambarkan. Matanya berkaca-kaca saat mendengar berita itu. Dia merasa bersyukur dan terharu akan hadirnya buah hati mereka.
"Alhamdulillah! Terima kasih banyak, Mbak. Bagaimana kondisi Yasmin? Apakah dia baik-baik saja?"
"Ibu Yasmin baik-baik saja, Pak Haikal. Dia sedang beristirahat setelah persalinan yang melelahkan. Dokter akan segera memeriksanya dan memberikan informasi lebih lanjut," jawab perawat yang bernama Jihan dengan senyuman ramah.
Haikal mengucapkan terima kasih pada perawat itu dan kemudian berjalan menuju kamar tempat Yasmin berada. Hatinya penuh dengan kebahagiaan dan rasa cinta yang tak terhingga.
Saat Haikal memasuki kamar, dia melihat Yasmin yang terbaring lemah, tapi tersenyum bahagia. Di sampingnya, bayi laki-laki yang baru lahir terbaring dengan tenang.
Haikal mendekati tempat tidur Yasmin dengan penuh kelembutan. Dia memegang tangan Yasmin dan menciumnya dengan lembut.
"Terima kasih, sayang. Kamu telah melahirkan anak kita dengan penuh keberanian. Dia sangat tampan, sepertiku, ya!" ujar Haikal.
Yasmin tersenyum lebar, kelelahan di wajahnya tergantikan oleh kebahagiaan yang tulus.
"Alhamdulillah, akhirnya kita punya anak laki-laki. Dia adalah anugerah terindah dalam hidup kita. Kita telah melalui begitu banyak bersama dan sekarang kita bisa menikmati momen ini," ujar Yasmin. "Dan kamu benar, wajahnya sangat mirip denganmu," tambahnya.
Haikal mengangguk, tangannya tetap menggenggam erat tangan Yasmin.
"Ya, sayang. Semua perjuangan dan pengorbanan ini bernilai ketika kita melihat wajah kecil ini. Dia akan tumbuh menjadi sosok yang hebat, seperti ayahnya," ujar Haikal berharap.
Yasmin tersenyum penuh cinta, memandangi bayi mereka dengan penuh kasih sayang.
"Aku yakin dia akan menjadi anak yang luar biasa dengan ayah seperti Haikal. Terima kasih telah memilih untuk menemani dan mendukungku dalam momen penting ini," ujar Yasmin.
Haikal mengusap lembut pipi Yasmin dan menyentuh lembut pipi bayi mereka. Dia merasakan kebahagiaan yang meluap dalam dirinya, mengetahui bahwa keputusannya untuk hadir dan mendampingi Yasmin adalah yang terbaik.
__ADS_1
"Kita akan selalu saling mendukung, sayang. Sekarang, mari kita nikmati momen indah bersama anak kita yang baru lahir ini. Dia adalah bukti cinta kita yang tak terhingga," ujar Haikal yang seketika ingat sesuatu.
Haikal menepuk dahinya.
Yasmin menautkan alisnya dan bertanya, "Ada apa sayang? Ada masalah dengan pertemuanmu yang gagal itu kah?"
"Aku lupa memberitahu si kembar, Aisha dan Aqeela. Kamu tahu kan, gimana cerewetnya mereka kalau tahu papanya tidak mengabari adiknya sudah lahir?" ujar Haikal sambil membuka ponselnya dan mencari grup keluarga besar Sultan Aji Permata agar informasinya dikirim sekaligus.
"Cerewetnya sama persis seperti tante Nadira mereka. Apalagi kalau sudah mengambek, masyaa Allah banget, kan," ujar Yasmin, diiringi tawa.
Haikal ikut tertawa lalu meminta Yasmin tersenyum.
"Ayo, kita foto dulu! Aku akan mengirimkan foto kita bertiga ke grup keluarga. Biar mereka melihat ketampanan Yusuf yang sudah lahir ini," ujar Haikal sambil mengambil fotonya.
"Yusuf?" tanya Yasmin heran setelah selesai mengambil foto.
Haikal diam sejenak. "Aku tadi nyebut Yusuf, ya? Apa nama anak kita ini, Yusuf saja? Seperti nama nabi Yusuf yang tekenal ketampanannya. Semoga sifatnya juga menurun."
"Boleh juga. Aku setuju. Tinggal kita cari nama kepanjangannya saja."
Mereka berdua tersenyum satu sama lain, dipenuhi oleh kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam. Di tangan mereka, bayi laki-laki yang tampan itu menandakan awal dari babak baru dalam kehidupan mereka sebagai keluarga yang bahagia.
Di ruang chat grup, sudah dipenuhi ucapan selamat dan mereka semua segera menuju rumah sakit, kecuali Hafiz yang masih berada di Kairo.
"Masyaa Allah. Keponakanku ganteng banget," ujar Nadira, membalas pesan kakaknya.
"Iya, dong. Ganteng seperti opanya," jawab Sultan, papa Nadira dan Haikal.
"Tapi mata dan bibirnya mirip omanya, dong," ujar Fenny.
"Iih, Opa, Oma, dan Tante apaan, sih? Dia mirip aku. Lihat aja tuh, senyumannya," ujar Aisha.
"Pede banget sih, kamu, Aisha. Mirip aku, tahu. Rambutnya lebat dan lurus sepertiku," ujar Aqeela yang tidak mau kalah.
Hamzah yang baru saja selesai kuliah, membalas dengan emot love pada foto yang dikirimkan Uaknya, Haikal.
"Masyaa Allah. Akhirnya aku punya adik laki-laki juga. Jadi punya teman main nih, kalau Kak Hafiz belum pulang. Soalnya Kak Haikal melebihi Bang Toyib," ujar Hamzah yang dibubuhi emot senyum.
Hafiz menanggapi pesan Hamzah. "Yee ... enak aja dibilang Bang Toyob. Kan aku di sini juga menuntut ilmu dan juga kerja, Dek, bukan untuk senang-senang. Lagian juga kamu yang dekat rumah pun, kadang enggak bisa pulang, kan?"
"Iih, Kak Hafiz ini! Kan aku juga belajar di sini, Kak," jawab Hamzah dengan emot bibir rata dan mata yang bergaris. Menandakan kesal dengan ucapan kakaknya. Padahal dia duluan yang mulai.
Nadira menengahi perdebatan kedua anaknya itu dengan bijak. "Hamzah. Kamu juga enggak boleh gitu sama kakakmu. Kalau kangen, bilang saja terus terang. Jangan pakai acara bilang seperti Bang Toyib segala. Minta maaf, ya, Nak!" pinta Nadira dengan emot senyumnya. "Hafiz juga minta maaf sama Hamzah, bagaimana pun juga, kamu itu panutan untuk adik-adikmu. Harus memberikan contoh yang baik, ya. Kamu anak pertama dan cucu pertama, jadi harus bijaksana dalam berpikir dan bertindak."
Lalu, Hamzah dan Hafiz saling meminta maaf. Haneen dan Hania yang masih berusia sekitar dua tahun dan belum memiliki ponsel, tersenyum dan sangat girang ketika diberitahu oleh Nadira, mama mereka bahwa adik mereka sudah lahir. Haneen dan Hania bertepuk-tepuk tangan.
Ammar belum melihat pesan di grup karena masih mengajar santri di pondok pesantren Al Fathonah.
Di dalam kamar rumah sakit, suasana hangat dan penuh kegembiraan terasa ketika Haikal dan Yasmin membaca pesan dari grup keluarga mereka. Meskipun mereka telah menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan dalam hidup mereka, tetapi cinta, kasih sayang, dan pengertian selalu menjadi perekat yang menguatkan keharmonisan keluarga mereka.
Haikal dan Yasmin duduk berdampingan di sisi tempat tidur, bayi laki-laki mereka terbaring dengan tenang di antara mereka. Mereka membuka pesan-pesan yang dipenuhi dengan ucapan selamat, doa-doa, dan ungkapan kebahagiaan dari anggota keluarga mereka.
Yasmin membaca pesan pertama dengan senyuman yang tak terbendung di wajahnya ketika membaca pesan dari grup keluarga Gilang Ramadhan. Haikal melihatnya dan ikut tersenyum, menikmati momen bahagia ini bersama istri dan anak mereka. Gilang adalah abinya Yasmin.
"Dengar ini, Haikal. Umma menulis, 'Selamat, Nak! Cucu kembar perempuan kesayangan umma sudah memiliki teman bermain yang baru. Kami sangat bahagia melihat keluarga kalian bertambah. Semoga bayi laki-laki tampan ini membawa kebahagiaan dan berkah bagi kita semua.'"
Haikal tersenyum dan menjawab: "Terima kasih, sayang. Dengar ini, pesan dari adikku. Dia bilang, 'Selamat, Kak! Sekarang ada anak laki-laki yang akan jadi teman mainmu nanti. Ayo kita semua kumpul-kumpul lagi sekeluarga dan berbagi kebahagiaan. Semoga keluarga kita selalu diberkahi.'"
Keduanya tertawa dan membagikan pesan-pesan lain yang penuh dengan kehangatan serta dukungan dari anggota keluarga mereka. Di setiap pesan, terlihat betapa pentingnya ikatan keluarga yang saling mendukung dan mengasihi satu sama lain.
Haikal dan Yasmin melihat satu sama lain dengan penuh cinta dan pengertian. Mereka merasakan kebahagiaan yang mendalam karena memiliki keluarga yang selalu ada di samping mereka, siap memberikan dukungan dan kehangatan dalam setiap perjalanan kehidupan mereka.
"Kita benar-benar diberkahi, sayang. Keluarga kita adalah anugerah yang tak ternilai," ujar Haikal dengan senyum mengembang. Rasa lelah khawatirnya tergantikan saat kehadiran putranya. Dia pun tidak peduli kalau harus kehilangan satu investor, karena dia percaya bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, jadi dia tidak akan pernah merasa khawatir.
Umar bin Khattab pernah berkata, "Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku, tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku, tidak akan pernah melewatkanku."
Kalimat tersebut selalu menjadi keyakinan Haikal untuk memberikan ketenangan dalam hidupnya.
"Benar, Haikal. Meskipun kita menghadapi berbagai permasalahan, tetapi kebersamaan dan cinta keluarga selalu membuat kita kuat. Semoga kita bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita tentang pentingnya keluarga yang harmonis," ujar Yasmin penuh harap.
Mereka menggenggam tangan satu sama lain, merasakan kehangatan dan kekuatan dalam sentuhan itu. Di sekitar mereka, senyum dan tawa menghiasi ruangan, mencerminkan kebahagiaan dan keharmonisan keluarga yang terjalin dengan penuh kasih sayang dan pengertian.
Haikal dan Yasmin tahu bahwa perjalanan mereka sebagai keluarga, terus diuji dengan berbagai rintangan. Mereka siap menghadapi semua tantangan dan berusaha untuk terus menjaga keharmonisan keluarga yang telah mereka pupuk dengan penuh cinta.
...****...
__ADS_1