
Satu minggu kemudian, rumah yang tadinya tak begitu ramai, mendadak seperti pasar.
"Uak Haikal ...!" sapa Hafiz seraya berlari menghampiri paman dari mamanya.
Nadira menggelengkan kepala sambil menatap suaminya. Ammar mengangkat pundak dan kedua tangannya. Lalu, mereka tersenyum melihat anaknya yang kegirangan.
"Hafiz. Hati-hati, Hafiz. Nanti kakinya tersandung, loh!" Haikal menangkap tubuh Hafiz yang saat ini sudah ada dalam pelukannya.
"Hafiz memang begitu, Uak, kalau sudah kegirangan. Padahal sudah sering diingatkan sama mama dan papa," ujar Nadira tersenyum. Nadira mencium tangan kakaknya.
Haikal berdiri sambil menggendong keponakannya yang menggemaskan itu. Pipi tembam, membuat Hafiz terlihat semakin gemas.
Ammar pun mencium tangan kakak iparnya itu, setelah Haikal berdiri tegak.
"Apa kabar, Kak?" tanya Ammar.
"Alhamdulillah, baik. Semoga kalian semua juga sehat selalu, ya," jawab Haikal.
Nadira celingak-celinguk, mencari seseorang.
Haikal memperhatikan Nadira yang kebingungan.
"Kamu cari mama-papa, ya?" tebak Haikal.
"Iya, Kak. Mama-papa mana? Katanya mau ke sini juga." Raut muka Nadira tampak kecewa. Nadira menundukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang tidak asing lagi di telinga Nadira. Dia mendongakkan kepala dan melihat dua orang yang baru saja datang dengan menggeret koper.
Bulan sabit terbit dari wajah Nadira. Matanya bersinar, tak kalah dengan bulan purnama. Nadira menghampiri dua orang yang membawa koper itu. Mereka adalah kedua orang tua Nadira dan Haikal.
Nadira memeluk wanita yang usianya tak lagi muda itu dengan erat.
Semua orang tersenyum melihat kelakuan Nadira yang seperti anak kecil. Papa Nadira (Sultan) batuk-batuk.
"Papa lagi sakit?" tanya Nadira yang langsung menghampiri papanya.
"Enggak, kok," jawab Sultan.
"Tapi tadi Papa batuk-batuk gitu," ujar Nadira, khawatir.
"Aduh, adikku yang cantik! Kamu dari dulu enggak pernah peka gitu, ya," ujar Haikal.
"Peka kenapa, Kak?" Nadira belum sadar kalau papanya memberi kode agar diperhatikan juga sama Nadira.
Tak lama, Nadira mencium tangan dan memeluk papanya karena tahu kenapa papanya batuk-batuk, padahal tidak sedang sakit.
"Astaghfirullahal'adziim. Maaf, Pa. Nadira enggak bermaksud lupain Papa."
"Enggak apa-apa, Nad. Papa ngerti, kok, kalau kamu kangen banget sama mama. Apalagi kamu kan emang manjanya sama mama karena papa lebih jarang pulang." Sultan sadar dengan posisinya.
"Iih, bukan gitu, Pa. Bagi anak perempuan, seorang ayah adalah cinta pertamanya. Walau papa jarang di rumah, tetap aja Nadira selalu nunggu momen kita kumpul begini," ujar Nadira dengan pelukan yang sangat erat.
__ADS_1
"Papa enggak bisa napas nih kalau kamu meluknya kekencangan gini," ujar Sultan sambil mengatur napas, seolah sesak karena pelukan Nadira.
Nadira melepas pelukan tersebut.
"Papa ...! Demen banget dah becandanya. Nadira baru sadar kalau sikap jahilnya Kak Haikal itu, turunan dari Papa," ujarnya dengan mimik muka yang kusut seperti pakaian belum setrika.
Hafiz menyalami dan mencium tangan opa dan omanya.
Tiba-tiba, ada tamu lain yang datang di rumah Nadira dan Ammar. Tanpa konfirmasi lagi, ternyata abi dan umi Ammar datang berkunjung ke rumah Ammar dan Nadira. Padahal sebelumnya, mereka hanya tahu kalau hari ini yang datang adalah mama, papa, dan Kak Haikal saja.
Namun, meskipun demikian, mereka sangat senang kalau keluarga bisa berkumpul seperti sekarang. Walaupun bagi Ammar, belum sepenuhnya utuh karena belum berdamai dengan Ali (kakaknya), tapi Ammar sangat bahagia.
Bagi kedua orang tuanya Hafiz, keluarga adalah segalanya, karena sesuatu hal yang sangat bernilai mahal adalah ketika bisa meluangkan waktu bersama. Sibuk dengan urusan masing-masing yang membuat mereka jarang bahkan hampir tidak pernah memiliki waktu berkumpul keluarga.
"Assalamualaikum ...," ucap Lutfi dan Aisyah.
Semua orang yang ada di rumah Nadira dan Ammar, menjawab salam tersebut.
"Loh, Abi sama Umi ke sini juga? Bareng mama-papa dan Kak Haikal, kah?" Ammar menghampiri kedua orang tuanya itu.
"Enggak, Mar. Kami baru saja sampai dan enggak tahu juga kalau Ibu Fenny dan Pak Sultan ke sini juga," jawab Lutfi.
"Kebetulan banget berarti, ya, Pak, kita bisa kumpul di sini," ujar Sultan, bersalaman dan memeluk Lutfi.
"Iya, Pak," ujar Lutfi, tersenyum.
Aisyah dan Fenny bersalaman, lalu cipika-cipiki.
"Hafiz! Ayo, salaman sama kakek dan nenek!" titah Ammar.
Hafiz pun mengikuti perintah papanya.
...***...
"Alif, ba, ta, tsa ...." Hafiz mengeja huruf hijaiah.
"Masyaa Allah ..., alhamdulillah ..., cucu kakek ternyata sudah pintar mengaji," puji Lutfi dengan mengucap rasa syukur dan bangga pada cucunya. Ada harapan dari senyumannya, ketika melihat sang cucu.
"Iya, Kek. Hafiz juga kan sudah masuk TK sekarang," jawab Ammar mewakili anaknya.
"Ammar. Abi mau ngobrol sama kamu," ujar Lutfi.
"Hafiz lanjutkan ngajinya ya, Nak. Papa mau ngobrol sama kakek dulu," ujar Ammar pada anaknya. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
Ammar dan Lutfi pergi ke teras belakang, dekat kolam renang; tidak jauh dari ruang Hafiz mengaji.
Tiba di teras, wajah Lutfi tampak begitu cemas; ada sesuatu hal yang di khawatirkan.
"Ada hal penting apa yang ingin Abi katakan? Sepertinya, Abi sedang mengkhawatirkan sesuatu," tanya Ammar yang ikut khawatir.
"Terus terang, satu sisi, abi sangat senang karena akhirnya kamu memutuskan ingin turut serta membantu abi mengurus pondok, tapi di sisi lain, abi juga memikirkan kakakmu, Nak," ujar Lutfi.
"Kak Lutfi kenapa lagi, Bi?" tanya Ammar, penasaran. Perasaannya sudah tidak enak.
__ADS_1
"Kakakmu tempo hari ke rumah, dia semakin benci dengan abi. Dia merasa kalau abi tidak lagi sayang kepadanya. Padahal abi tidak pernah membeda-bedakan kalian. Abi sayang sama kalian berdua." Batin Lutfi merasa terluka. Air mata sengaja diseka agar tidak keluar.
Ammar tidak tega melihat abinya sedih seperti ini. Pikirannya jadi turut serta untuk memikirkan Ali. Bagaimanapun caranya, Ammar harus menyatukan kakak dan abinya kembali. Ammar sangat memahami perasaan abinya, kalau abinya itu sangat merindukan kehangatan di dalam keluarga mereka.
Di tempat Hafiz mengaji, Sultan datang menghampiri cucunya tersebut. Sultan duduk bersila di samping Hafiz yang sedang khusyuk melafalkan huruf-huruf hijaiah di dalam buku iqra'.
"Masya Allah.. Alhamdulillah. Cucu opa rajin ngaji, ya! Opa boleh menemani Hafiz, enggak?" tanya Sultan yang tidak ingin mengganggu konsentrasi cucunya tersebut.
Hafiz menyudahi mengajinya dan mengobrol dengan opanya.
"Boleh dong, Opa. Aku seneng ... banget, bisa ketemu Opa, ketemu oma, kakek, nenek, dan Uak Haikal," ujar Hafiz dengan riang. Namun, wajah Hafiz mendadak murung, seperti awan mendung yang sudah siap menurunkan air hujan.
Sultan memeluk cucunya.
"Hafiz kenapa jadi sedih begitu? Tadi katanya seneng karena kita bisa kumpul, tapi sekarang kok malah murung? Coba Hafiz cerita sama opa," ujarnya sambil menatap cucunya tersebut. Ada kekhawatiran yang dirasakan. Dia sangat paham kalau anak sudah seperti ini, pasti ada hal yang mengganjal di hatinya. Sultan pun berbicara dengan hati-hati agar cucunya itu mau terbuka dan bercerita tanpa rasa takut.
"Tapi kalau Hafiz belum ingin cerita sama opa, tidak apa-apa. Opa cuma tidak ingin melihat cucu kesayangan opa ini jadi sedih begini. Soalnya kalau Hafiz sedih, opa juga ikut sedih, oma juga, mama-papa juga, kakek-nenek sedih, terus Uak Haikal pun ikut sedih."
Mata Hafiz berbinar.
"Hafiz pelnah (pernah) lihat papa dimalahi (dimarahi) sama seseolang (seseorang). Kata mama, itu omnya Hafiz. Namanya Om Ali. Om itu, kakaknya papa. Tapi kalau kakaknya papa, kenapa malah-malahin (marah-marahin) papa ya, Opa?" ujar Hafiz, menunduk.
Sultan terdiam sejenak sambil menghela napas berat.
"Hafiz ..., papa dan mama pernah enggak marahin Hafiz?" tanya Sultan.
"Pelnah (pernah)," jawab Hafiz.
"Dimarahinnya kenapa?" Sultan bertanya lagi.
"Kalau Hafiz salah, mama dan papa pasti malahin (marahin) Hafiz," ujar Hafiz. Pikirannya masih bertanya-tanya, apa maksud dari pertanyaan opanya.
"Waktu itu, Hafiz melakukan kesalahan apa?" tanya Sultan.
"Hafiz kalau makan, sambil lali-lalian (lari-larian). Kata mama, kalau makan, kita harus duduk dengan tenang, tidak boleh lali-lali (lari-lari) gitu. Takut Hafiz jatuh, telus (terus) luka deh," jawab Hafiz.
"Terus Hafiz gimana?" tanya Sultan.
"Hafiz minta maaf. Soalnya kata mama, kalau kita salah, kita harus (halus) minta maaf bial (biar) disayang Allah," jawab Hafiz.
"Nah, ini sama dengan papa dan omnya Hafiz. Om Ali marahin papa, mungkin karena papa salah. Terus papa minta maaf sama Om Ali," jelas Sultan. Berharap cucunya mengerti dan belum saatnya juga, Hafiz tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi.
Ammar dan Lutfi yang berdiri sejak beberapa menit lalu, ikut menanggapi penjelasan dari ayah mertuanya itu.
"Apa yang dikatakan opa, benar. Kan, papa sama mama pernah bilang sama Hafiz, kalau kita berbuat kesalahan, maka kita harus berani meminta maaf," ujar Ammar. Posisi Ammar sudah dekat dengan putra dan ayah mertuanya.
Lutfi hanya diam saja. Dia berharap agar Ali tidak melibatkan Hafiz dalam permasalahan yang terjadi. Karena menjaga kesehatan mental Hafiz sejak dini itu sangat penting.
Mereka semua berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak dan sangat hati-hati agar Hafiz tidak benci dengan Ali. Karena bagaimanapun juga, Ali adalah kakaknya Ammar, walaupun mereka tidak lahir dari rahim yang sama. Ayah Ammar dan Ali, tetap satu, yaitu Muhammad Lutfi Baraqbah.
Sementara itu, Nadira sedang asyik bercerita di kamar dengan kedua ibunya yakni Fenny dan Aisyah. Nadira memberitahu kabar baik, kalau buku keduanya akan segera terbit. Kabar baik itu membuat semua orang senang. Fenny dan Aisyah sangat bangga dengan Nadira yang bisa membagi waktu, antara mengurus keluarga dan mengejar mimpinya menjadi penulis.
__ADS_1
...****...