
Ammar masuk ke dalam ruangan tempat Ali dan Abi mereka sedang mengobrol. Dia melihat bahwa suasana hati Ali terlihat sedikit murung. Ammar memutuskan untuk meminta maaf sekarang, meskipun mungkin tidak terlalu tepat waktu.
"Assalamu'alaikum, Kak Ali. Maaf mengganggu, tapi saya ingin meminta maaf kepada Kakak atas kesalahpahaman saya sebelumnya," ujar Ammar. Dia pikir, karena kakaknya itu tidak suka kepada dia dan uminya, jadi mengira tidak ada alasan bagi Ali untuk mencelakakan Hafiz.
"Wa'alaikumussalam, Ammar. Tidak apa-apa. Wajar kok kalau kamu berpikir bahwa aku bisa melakukan semua ini," ujar Ali.
"Aku benar-benar meminta maaf atas tuduhan yang pernah aku layangkan ke Kakak. Aku pikir, karena Kakak tidak menyukaiku dan umi, jadi aku mengira tidak ada alasan bagi Kakak untuk mencelakakan Hafiz, tapi sekarang aku tahu bahwa aku salah. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf banget ya, Kak!" pinta Ammar sambil menyatukan kedua tangannya.
Ali terlihat sedikit terkejut, tetapi tersenyum.
"Terima kasih sudah berani meminta maaf, Ammar. Aku menghargai itu. Aku sudah memaafkanmu, jadi jangan khawatir. Aku juga harus meminta maaf karena mungkin ada hal yang tidak aku jelaskan dengan baik kepada kalian, tapi sekarang kita sudah memperbaikinya," ujarnya seraya memeluk adik satu-satunya itu.
Tidak lama kemudian, Aisyah datang membawa nampan berisi kue dan minuman untuk keluarganya yang saat ini sedang berkumpul. Aisyah sempat mendengar bahwa kedua anaknya itu sudah berdamai. Walaupun Ali bukan anak kandungnya, tetapi Aisyah sangat menyayangi Ali.
Ali yang melihat Aisyah, langsung melepaskan pelukannya dengan Ammar. Ali mendekati Aisyah yang saat ini sudah duduk di samping Abinya, Lutfi.
Setelah Ammar meminta maaf dan suasana menjadi lebih baik, Ali memutuskan untuk mengambil inisiatif dan meminta maaf kepada Umi Aisyah atas tindakan yang dia tunjukkan sebelumnya.
"Umi Aisyah, aku ingin meminta maaf karena sebelumnya tidak pernah mengakui keberadaanmu sebagai ibu sambungku. Aku tahu ini telah mengecewakan dan membuatmu merasa diabaikan. Apalagi aku sempat membentakmu karena sesuatu hal. Aku sangat menyesal atas tindakan yang pernah terjadi," ujar Ali seraya menundukkan kepala dengan menyatukan kedua tangannya di hadapan Aisyah.
Aisyah tersenyum. Air mata haru menetes dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ali. Aku tahu kamu masih memperjuangkan hakmu sebagai anak kandung dari Abi dan almarhumah umi kandungmu. Aku tidak marah atau kecewa. Aku hanya merindukan hubungan yang baik antara kita sebagai keluarga, bukan seperti orang asing yang tidak memiliki peran penting dalam sebuah hubungan. Aku hanya ingin kamu menganggapku seperti ibu kandungmu sendiri," ujar Aisyah dengan napas terputus sambil menghapus air matanya.
"Aku berterima kasih atas pengertian, Umi. Tapi itu tidak menjustifikasi tindakan burukku sebelumnya. Aku benar-benar meminta maaf atas perlakuanku kepada Umi yang entah berapa banyak melukai hati Umi. Aku berjanji akan berusaha untuk memperbaiki hubungan kita menjadi lebih baik. Aku pun rindu memiliki keluarga lengkap dan menerimamu sebagai ibu sambungku dengan sepenuh hati," ujar Ali yang ingin memeluk Aisyah, tapi ragu. Khawatir Aisyah risih dipeluk olehnya.
Bagai gayung bersambut, Aisyah spontan memeluk Ali dengan erat. Hangatnya dekapan pelukan Aisyah kepada Ali, mengalahkan hangatnya minuman teh dan kopi yang dibawa beberapa menit lalu dan diletakkan di atas meja.
Sambil melepaskan pelukan itu, Aisyah berkata, "Aku sangat senang mendengarnya, Ali. Kamu selalu menjadi anak yang baik dan patuh, ya. Aku bangga denganmu. Dan sebagai ibu sambungmu, aku sudah lama memaafkanmu dan siap memulai hubungan baru denganmu sebagai keluarga yang utuh."
Ali tersenyum lega, lalu berkata, "Terima kasih, Umi. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki hubungan kita dan menjadi anak yang baik bagi Umi dan keluarga kita ini."
"Aku yakin kamu akan berhasil, Ali. Semoga kita semua bisa hidup rukun dan saling mendukung di dalam keluarga ini," ujar Aisyah, penuh harap.
Setelah Ammar dan Ali berdamai, Nadira merasa sangat terharu dan ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarga suaminya. Dia mencari kesempatan untuk meminta maaf kepada Ali karena sebelumnya dia juga sempat mencurigai kakak iparnya itu.
"Aku juga ingin meminta maaf, Kak. Sebelumnya aku juga sempat mencurigaimu dan merasa tidak percaya padamu karena beberapa masalah yang terjadi. Tapi setelah melihat bagaimana kamu bertindak dengan bijak dan memaafkan Ammar, bahkan Umi, aku menyadari bahwa aku salah dan harus meminta maaf," ujar Nadira seraya menyatukan kedua tangannya di hadapan Ali.
Ali tersenyum.
"Terima kasih, Nadira. Aku memang sempat merasakan ketidakpercayaanmu padaku. Aku juga mengerti bahwa kamu hanya ingin melindungi keluarga kita. Aku sudah memaafkanmu dan berharap kita bisa saling memaafkan dan memulai hubungan baru sebagai keluarga," ujarnya.
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih, Kak. Aku ingin kita bisa hidup dengan harmoni dan saling mendukung satu sama lain," ujar Nadira tersenyum. Dia berharap semua permasalahan sudah selesai.
"Aku juga berharap hal yang sama, Nadira. Kita semua adalah keluarga dan harus saling mendukung, serta menghargai satu sama lain. Mari kita mulai memperbaiki hubungan kita dari sekarang dan menciptakan keluarga yang utuh, juga harmonis."
"Aku sangat setuju, Kak. Terima kasih sudah memaafkan aku dan Ammar, serta memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita," ujar Nadira sambil menghapus berlian yang keluar dari pelupuk matanya.
Lutfi pun merasa lega karena keluarganya sudah bersatu kembali.
"Itu sangat baik sekali, anak-anak. Ini adalah tanda dari keluarga yang sehat dan bahagia. Saling memaafkan dan mendukung satu sama lain adalah kunci dari hubungan yang baik di dalam keluarga. Aku sangat bangga dengan kalian semua," ujarnya.
"Terima kasih, Abi. Aku merasa lega sekarang karena sudah meminta maaf kepada Kakak dan keluarga kita bersatu kembali," ujar Ammar dengan senyum mengembang.
"Dan aku juga merasa lega karena kita sudah saling memaafkan. Ini adalah langkah yang besar untuk memperbaiki hubungan kita sebagai keluarga," ujar Lutfi.
"Oh iya, aku juga meminta maaf kepada Abi atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Aku sadar, banyak hal yang membuat Abi merasa sakit hati atas lisan dan tingkah laku yang tidak terkendali. Maafkan aku, Bi," ujar Ali seraya memeluk abinya.
Momen yang sangat baik untuk keluarga Ammar dan Ali ketika bisa saling memaafkan. Hal ini merupakan tindakan yang sangat penting dalam memperbaiki hubungan yang rusak. Ketika seseorang menyadari kesalahannya dan meminta maaf, itu menunjukkan bahwa orang tersebut menghargai perasaan orang yang mereka lukai, serta ketika seseorang memaafkan orang yang telah menyakiti mereka, itu menunjukkan kesediaan untuk melepaskan kemarahan dan dendam yang mungkin dirasakan sebelumnya.
Tentunya, ini adalah langkah awal yang baik dalam memperbaiki hubungan, tetapi juga penting untuk terus berkomunikasi secara jujur dan terbuka di masa depan. Jika ada masalah atau ketidaksepahaman di antara keluarga, penting untuk membicarakannya dengan cara yang sehat dan membangun, serta berusaha mencari solusi bersama.
Cerita tersebut mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, pengampunan, dan kerukunan dalam keluarga. Ali menunjukkan sikap bijak dengan memaafkan Ammar dan Nadira atas tuduhan yang salah terhadapnya, serta meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya terhadap Umi Aisyah. Dengan cara ini, Ali telah menunjukkan sikap pengampunan yang besar terhadap keluarganya.
Selain itu, nilai kerukunan dalam keluarga juga tercermin dalam cerita ini. Setelah Ali memaafkan Ammar dan Nadira, serta meminta maaf kepada Umi Aisyah, keluarga mereka dapat bersatu kembali, dan saling menerima satu sama lain. Ini menunjukkan pentingnya keharmonisan dalam sebuah keluarga dan bagaimana kesalahpahaman dan perbedaan bisa diselesaikan melalui sikap kebijaksanaan dan pengampunan.
Terakhir, cerita ini juga mengajarkan pentingnya untuk tidak membuat kesimpulan yang salah tentang orang lain, terutama keluarga sendiri. Seperti yang dialami oleh Ammar, dia merasa tidak ada alasan bagi Ali untuk mencelakakan Hafiz, tetapi akhirnya dia sadar bahwa dia telah salah mengira. Oleh karena itu, penting untuk selalu memberikan kesempatan bagi keluarga dan orang lain untuk menjelaskan keadaan sebenarnya sebelum membuat kesimpulan yang salah.
Semoga keluarga Ammar dan Ali bisa terus memperkuat hubungan mereka, serta bisa menjadi contoh bagi kita semua dalam menghargai dan merawat sebuah hubungan keluarga.
...****...
__ADS_1