Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Berita Baik Kembali Hadir


__ADS_3

Setelah beberapa bulan berlalu sejak keguguran yang dialami oleh Yasmin, akhirnya berita baik datang. Yasmin dinyatakan hamil kembali, membuat perasaannya campur aduk, antara kegembiraan dan kehati-hatian. Pengalaman keguguran sebelumnya membuatnya menjadi lebih waspada dan berusaha menjaga kehamilannya dengan lebih baik.


Segera setelah Yasmin mengetahui kabar gembira ini, putri kembarnya, Aqeela dan Aisha, yang saat itu sedang libur semester kuliah di Universitas Indonesia, meminta Yasmin untuk memberitahu tante mereka, Nadira. Aqeela dan Aisha merasa bahwa berita ini harus diketahui oleh semua anggota keluarga, termasuk sepupu mereka, Haneen dan Hania, putri kembar dari Nadira.


Ketika Aqeela dan Aisha bertemu dengan Haneen dan Hania, mereka merasakan kerinduan yang mendalam terhadap adik-adik sepupu mereka. Sejak mereka kuliah dan tinggal di luar kota, kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga jarang terjadi. Oleh karena itu, pertemuan ini menjadi momen yang istimewa bagi mereka.


Sementara itu, Haikal, suami Yasmin, juga merasakan perubahan dalam dirinya. Dia mulai mengurangi aktivitasnya di restoran yang dimiliki dan telah mempercayakan tugas tersebut kepada seorang koki yang sangat dipercayainya. Haikal merasa bahwa saat yang tepat bagi dirinya untuk lebih fokus dalam menjaga dan merawat keluarga kecilnya.


Haikal ingin meluangkan lebih banyak waktu bersama Yasmin dan anak-anak mereka yang akan segera datang. Keinginannya adalah menjadi bagian aktif dalam menjaga buah hati mereka yang baru saja dikandung oleh Yasmin. Haikal merasa bahwa waktu yang diluangkan bersama keluarga adalah investasi berharga yang tidak bisa digantikan.


Dengan kehamilan Yasmin yang membawa harapan baru, semangat keluarga ini semakin kuat. Mereka berjanji untuk saling mendukung dan menjaga satu sama lain, serta berbagi kebahagiaan yang akan datang bersama-sama.


Tiba-tiba, di tengah kebersamaan mereka, Aqeela melontarkan ide untuk segera memberi kejutan soal kehamilan mamanya kepada tante mereka, Nadira.


"Bagaimana kalau kita secepatnya memberikan kejutan ini kepada Tante Nadira dan Om Ammar? Kita bisa membuat momen ini menjadi lebih istimewa bagi mereka," ujarnya dengan antusias.


"Oh, itu ide bagus! Kita bisa mengatur sesuatu yang spesial untuk Tante Nadira dan Om Ammar. Apa yang kamu pikirkan?" ujar Aisha, menyetujui.


"Bagaimana kalau kita mengadakan makan malam bersama di restoran papa saja? Kita bisa memesan makanan kesukaan mereka dan menghias meja dengan penuh kejutan. Lagian, Tante Nadira kan sudah lama tidak ke restoran milik papa, tante juga paling suka masakan yang dibuat oleh kakak tercintanya ini," ujar Aqeela sambil melirik papanya dengan mengedipkan mata kanannya. Dia tersenyum sambil membayangkan rencananya akan berhasil membuat tantenya bahagia.


"Itu ide yang menarik, Qeela! Mereka pasti akan terkejut dan senang melihat persiapan khusus yang kita buat untuk mereka," timpal Yasmin penuh semangat.


"Papa setuju dengan ide itu. Kita bisa mengundang mereka dengan alasan biasa, seperti ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Tapi saat mereka tiba di restoran, mereka akan mendapati suasana yang berbeda," ujar Haikal, turut berpikir bagaimana konsep mereka atas rencana kejutan tersebut.


Yasmin berharap rencana mereka berjalan dengan baik. "Apa yang kalian pikirkan sangat menyenangkan. Mama yakin, tante kalian pasti akan sangat senang. Mari kita atur semuanya dengan rapi agar kejutannya sempurna."


Setelah mendiskusikan detail kejutan mereka, Aqeela dan Aisha mulai mengatur segala sesuatunya. Mereka memesan meja di restoran milik Haikal, memilih hidangan kesukaan mereka, dan menyampaikan instruksi kepada pihak restoran untuk menghias meja dengan elemen kejutan.


Pada hari yang ditentukan, Nadira dan Ammar tiba di restoran Haikal dengan membawa kedua putri mereka, Haneen dan Hania, tanpa curiga sedikit pun tentang kejutan yang telah disiapkan untuk mereka. Begitu mereka memasuki ruangan, mereka langsung terkejut melihat meja yang indah dengan dekorasi khusus dan makanan kesukaan mereka tersedia di atasnya.


"Wow, ini sungguh mengejutkan! Apa yang terjadi di sini?" ujar Ammar.


"Aku tidak tahu, tapi rasanya sangat spesial. Terima kasih, semua!" ujar Nadira yang merasa bahagia.

__ADS_1


Haneen dan Hania yang bicaranya belum lancar karena masih berusia empat bulan, ikut senang melihat ada balon-balon yang menggantung di atas dan beberapa dekorasi lainnya. Mereka seakan sedang berada di taman bermain untuk anak-anak.


Mereka pun duduk bersama, sambil menikmati makanan dan berbagi cerita. Kejutan tersebut membuat suasana semakin meriah dan kebersamaan mereka semakin erat. Mereka tertawa, bercanda, dan saling berbagi kebahagiaan.


Haikal memulai percakapan inti dari pertemuan mereka. "Nadira, kami sangat bahagia hari ini, karena kami memiliki berita baik untuk kalian."


"Benarkah? Berita baik apakah itu, Kak?" tanya Nadira penasaran.


"Benar, aku sedang hamil lagi. Haneen dan Hania akan menjadi seorang kakak," ujar Yasmin sambil memegang perutnya. Dia tersenyum bahagia dan berharap dalam penjagaan Allah.


"Serius, Kak? Itu adalah kabar yang luar biasa! Kami sangat senang untuk kalian," ujar Nadira yang sontak memeluk kakak iparnya dan mengelus perut Yasmin dengan lembut.


"Selamat ya, Kak. Semoga anaknya cowok, biar dapat jagoan yang bisa menemani Kak Haikal," ujar Ammar, turut bahagia.


"Apa pun jenis kelaminnya, yang penting bayinya sehat dan anggota tubuhnya sempurna. Itu sudah lebih dari cukup sebagai anugerah yang Allah berikan kepada kami, Mar," ujar Haikal dengan senyum merekah.


Nadira menimpali, "Benar, Kak. Aku pun dulu ketika Kak Yasmin melahirkan anak kembar, berharap ingin punya anak kembar juga, tetapi semua harapan aku gantungkan kepada Allah agar tidak mendapat kekecewaan di ketika bayiku lahir. Qodarullah, aku memiliki bayi kembar juga setelah penantian panjang."


Momen kejutan tersebut diikuti dengan kegembiraan yang tak terhingga. Mereka berjanji untuk selalu mendukung satu sama lain dan menjaga hubungan keluarga mereka dengan baik.


Haneen dan Hania duduk di pangkuan Aqeela dan Aisya sambil tertawa ceria. Saat mereka merasakan hangatnya pelukan dan cinta dari kakak sepupu mereka, ikatan persaudaraan yang kuat semakin terjalin di antara mereka. Mereka bermain-main dengan gembira, saling bergantian bermain tebak-tebakan, dan menjalankan berbagai lelucon yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Di tengah-tengah kebersamaan mereka, Aqeela membuat semua orang fokus pada dirinya. "Baik, siapa siap untuk tebak-tebakan lucu?"


Semua orang serentak mengangguk dan menunjukkan semangat mereka. Haneen dan Hania bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa lepas, padahal Aqeela belum memulai tebak-tebakannya.


"Baiklah, pertanyaan pertama. Apa yang selalu datang, tapi tidak pernah benar-benar tiba?" ujar Aqeela dengan pertanyaan yang membuat semua orang berpikir keras, kecuali Haneen dan Hania yang hanya tersenyum, tertawa, dan bertepuk-tepuk tangan melihat kebersamaan keluarga yang begitu hangat.


"Hmm, mungkin ... liburan?" tebak Nadira.


"Bukan, coba tebak lagi!" ujar Aqeela, bersemangat.


"Hmm, waktu?" ujar Haikal dengan cepat.

__ADS_1


Jawaban Haikal membuat mata Aqeela terbelalak. "Hebat! Papa benar! Waktu selalu berjalan, tapi tidak pernah benar-benar 'tiba'."


Semua tertawa mendengar jawaban yang lucu tersebut.


"Ayo, Aqeela, berikan kami tebak-tebakan yang lain!" pinta Aisha, saudari kembar Aqeela.


Tanpa membutuhkan waktu lama, Aqeela memberikan tebak-tebakan kedua. "Baik, ini tebak-tebakan berikutnya. Apa yang bisa kamu pegang, tapi tidak bisa kamu sentuh?"


Haikal kali ini memberikan kesempatan untuk Aisha agar bisa menebak teka-teki yang diberikan Aqeela. Dia tahu jawabannya, tetapi melihat antusias Aisha untuk menjawab, maka Haikal hanya memperhatikan gerak-gerik Aisha saat berpikir dalam menemukan jawaban.


Aisha memikirkan sejenak. "Hmm, mungkin ... bayangan?"


"Bingo, Aisha! Kamu benar! Bayangan adalah sesuatu yang bisa kita pegang dengan melihatnya, tapi kita tidak bisa menyentuhnya secara fisik," ujar Aqeela.


Semua bersorak dengan kecerdasan Aisha dalam menjawab tebak-tebakan tersebut. Haikal, Yasmin, Nadira, dan Ammar tersenyum senang melihat Aqeela dan Aisha yang begitu semangat dalam permainan tebak-tebakan. Pun begitu gemas melihat Haneen dan Hania yang ikut bertepuk-tepuk tangan dan bersorak sorai.


"Kamu memang ahli dalam tebak-tebakan lucu, Aqeela! Berikan kami satu tebak-tebakan terakhir!" pinta Aisha.


Aqeela tersenyum. "Baik, ini tebak-tebakan terakhir. Siapakah yang paling berat di dunia ini?"


Nadira ingin menjawab, tetapi tidak jadi karena melihat keponakannya, Aisha sangat ingin menjawab tebakan itu dengan tepat.


"Hmm, apakah itub... sebuah gunung?" jawab Aisha. Alisnya tertaut. Dia menggigit bibir bawah sambil mendongakkan sedikit kepalanya ke atas. Pikirannya penuh imaji untuk menjawab tebak-tebakan tersebut.


"Hampir, Aisha! Tapi jawabannya sebenarnya adalah ... selembar kertas! Karena meskipun selembar kertas terlihat ringan, tapi ketika ada banyak tugas dan pekerjaan yang harus ditulis di atasnya, rasanya sangat berat!" ujar Aqeela dengan jawaban yang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh Aisha.


Mereka tertawa bersama mendengar lelucon dari Aqeela dan suasana riang pun semakin terasa. Mereka menikmati momen kebahagiaan dan keceriaan dalam bermain tebak-tebakan lucu, menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Momen seperti ini memperkuat ikatan persaudaraan mereka dan meningkatkan kebersamaan di antara keluarga kecil ini.


Mereka melanjutkan bermain dengan riang dan kebahagiaan yang mengisi ruangan. Haneen dan Hania bergembira saat mereka bermain dengan kakak sepupu mereka yang juga kembar. Tawa mereka mengisi ruangan, mencerminkan kehangatan dan keakraban dalam keluarga ini.


Waktu berlalu dengan cepat, tetapi kebersamaan dan kenangan indah tersebut akan selalu diingat. Haneen, Hania, Aqeela, dan Aisya membentuk hubungan persaudaraan yang tak tergantikan. Mereka berjanji untuk tetap dekat satu sama lain, meskipun jarak dan kesibukan mungkin memisahkan mereka di masa depan.


Dalam pelukan hangat dan tawa riang mereka, keluarga ini merasakan betapa berartinya memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Mereka mengenal arti sejati dari cinta keluarga dan menemukan kebahagiaan yang tak ternilai dalam kebersamaan mereka.

__ADS_1


...****...


__ADS_2