Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Kebakaran di Dapur Pesantren


__ADS_3

Pagi ini, saat santriwati urusan dapur sedang menyiapkan menu untuk sarapan, tiba-tiba tercium bau menyengat. Mereka curiga kalau bau itu berasal dari tabung gas yang bocor. Hal ini membuat ketiga santriwati itu panik dan langsung berteriak. Karena tidak ingin mengambil resiko yang terlalu berat, mereka menyelamatkan diri dan meminta pertolongan.


Hingga akhirnya, si jago merah mulai melahap ruangan yang biasa membuat para santri tidak kelaparan dan kehausan. Ruangan untuk membuat berbagai menu makanan walaupun tidak semewah orang-orang di luar pesantren, tetapi kebersamaan makan bersama—menjadikan mereka layaknya keluarga.


"Kebakaran ...! Kebakaran ...! Kebakaran ...!" teriak para santri, saling bersahutan.


Dikutip dari situs SWB, selain akibat korsleting listrik, sebagian besar kebakaran diakibatkan oleh tabung gas yang bocor. Kebocoran pada tabung atau instalasi gas merupakan salah satu risiko penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG), apabila langkah penanggulangannya terlambat dan tidak tepat, maka bisa mengancam keselamatan dan kesehatan. Sebab kebocoran LPG tersebut tidak hanya rentan menyulut kebakaran atau ledakan bila terkena api, melainkan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh ketika terhirup. Sebagian besar, kebakaran atau ledakan diakibatkan gas yang bocor terperangkap di ruangan dan terakumulasi hingga mengakibatkan ledakan.


Pada umumnya, kebocoran gas berasal dari kesalahan penggunaan regulator atau kerusakan pada valve (katup) LPG. Selang bisa saja sudah rusak (getas), regulator pada katup tabung tidak terpasang benar atau rusak, atau bisa juga karet pengaman memang sudah rusak. Itu sebabnya, kita harus benar-benar memastikan bahwa tabung gas terpasang dengan benar agar tidak terjadi hal yang merugikan apalagi sampai merenggut nyawa seseorang.


Semua orang yang tinggal di Pondok Pesantren Al Fathonah bergotong-royong untuk menaklukkan si jago merah, hingga meminta bantuan petugas pemadam kebakaran atau disingkat damkar karena khawatir akan menyebar ke gedung yang lain bahkan ke rumah tetangga sekitar lingkungan pesantren.


Lagi-lagi Ali dituduh dalang dari kebakaran yang terjadi karena kebetulan dia sedang tinggal di pesantren sejak beberapa hari belakangan ini.


Ammar menatap Ali dengan tatapan tajam. Kali ini Nadira pun mencurigai kakak iparnya itu. Karena tidak ada yang kebetulan, hanya saja—mereka tidak ada bukti dan tidak ingin asal menuduh.


Nadira mendekati kakak iparnya.


"Kak. Tanpa mengurangi rasa hormatku pada Kakak, kalau memang apa yang terjadi pada putraku dan kebakaran di dapur pesantren ini adalah ulah Kakak, aku tidak akan tinggal diam," ujar Nadira, memperingati dengan tegas.


"Suami kamu aja yang membawa sial! Selama ini, pesantren tidak pernah ada kejadian kebakaran atau santri terpeleset karena ada yang sengaja membuang sampah sembarangan. Tanya aja sama abi," ujar Ali dengan menunjuk-nunjuk Ammar.

__ADS_1


Semua orang melihat Lutfi.


"Memang benar, selama bertahun-tahun, baru kali ini pesantren mengalami kebakaran. Mungkin ini disebabkan oleh kecerobohan yang memasang tabung gas," ujar Lutfi, menduga-duga.


"Abi gimana, sih? Masih aja membela Ammar. Udah jelas-jelas, dia itu anak pembawa sial!" ujar Ali, memprovokasi.


Lutfi tidak menanggapi ucapan Ali.


"Soal kulit pisang, kita tidak bisa menuduh siapa yang sengaja membuangnya, hingga kebetulan pada saat itu—Hafiz yang terjatuh. Bisa juga kan ketika santri sedang bersih-bersih, kulit pisangnya jatuh," ujar Ali mencoba berhusnudzon.


"Mohon maaf, Abi. Pada hari itu, Nadira sudah bertanya kepada santri yang mengurus keperluan dapur, menu hari itu tidak ada pisang. Nadira juga bertanya kepada santri yang piket bersama Hafiz pada hari itu, mereka bilang—ada seseorang yang melempar kulit pisang tersebut ke arah Hafiz," ujar Nadira, membeberkan informasi yang diketahui.


"Ammar yakin, Abi, pasti Kak Ali dalang dari semua ini. Dari awal kan, Kak Ali tidak suka dengan Ammar dan Umi. Makanya dia berusaha untuk memfitnah dan melakukan hal yang keji seperti ini." Amarah Ammar kali ini benar-benar tidak bisa dikendalikan.


Upaya semua orang untuk memadamkan amarah si jago merah berhasil dan tidak ada korban jiwa. Hanya saja, dapur pesantren menjadi rata dengan tanah, hingga mereka harus membangun dapur kembali. Untuk sementara, mereka akan masak di ruangan yang lain, sampai dapur pesantren berdiri kembali. Namun, Amarah Ammar belum jua padam. Dia semakin naik pitam.


"Maksudmu apa, Kak? Yang menyulutkan emosi duluan kan, Kakak! Kenapa malah memutar balikkan fakta begini, sih? Pakai acara bicara menggunakan pribahasa segala lagi. Memangnya Kakak tahu arti dari 'bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi'?" tanya Ammar dengan nada tinggi.


"Kalau aku tidak tahu, ngapain asal bicara. Coba tanya sama istrimu, pasti dia memahami arti dari pribahasa tersebut," ujar Ali, menatap Ammar dengan sinis.


Hubungan Ammar dan Ali pun menjadi semakin renggang sejak kejadian ini. Nadira menghela napas berat. Lutfi sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mendamaikan kedua putranya.

__ADS_1


"Ammar, sudahlah. Percuma bertengkar seperti ini. Jangan memperkeruh suasana. Apa yang dibilang Kak Ali itu ada benarnya juga. Kita tidak akan pernah bisa menolak takdir. Bahaya bisa datang kepada siapa saja dan kapan pun. Untuk sekarang, kita harus lebih berhati-hati dan banyak-banyak meminta perlindungan sama Allah." Nadira berusaha meredam amarah Ammar.


Ammar beristighfar karena ingat pesan abinya. Dia tidak ingin dikuasi oleh setan karena tidak bisa mengendalikan amarahnya. Lalu, dia pun pergi berwudu untuk meredam amarahnya.


"Nadira. Abi minta tolong, panggilkan santri yang bertugas untuk memasak hari ini," pinta Lutfi.


Aisyah sedari tadi hanya diam, memikirkan semua ini. Dia pun merasa bersalah karena kehadirannya dalam hidup Lutfi dan Ali, membuat hubungan ayah dan anak menjadi renggang. Tak terasa, air mata Aisyah menetes. Lutfi melihat cairan bening itu keluar dari pelupuk mata istrinya, lalu dihapus dan ditenangkan.


"Umi tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Percayalah, semua ini pasti berlalu," ujar Lutfi sambil merangkul Aisyah. Hingga Aisyah bisa merebahkan kepalanya di pundak sang suami.


Ali yang melihat kemesraan abi dan umi sambungnya, semakin kesal. Dia pun pergi tanpa berkata. Lutfi beristighfar sambil mengelus dada melihat kelakuan Ali.


Aisyah menatap kepergian Ali dengan rasa khawatir. Dia hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi dilarang oleh Lutfi dengan gelengan kepala. Aisyah pun duduk kembali.


Beberapa menit kemudian, Ammar datang.


"Nadira ke mana, Bi, Umi?" tanya Ammar. Wajahnya basah, terkena air wudu. Napasnya jauh lebih tenang dari beberapa menit yang lalu.


"Lagi panggil santriwati yang mau masak tadi," jawab Aisyah.


Ammar mengangguk. Menunggu Nadira kembali.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Nadira pun kembali bersama tiga santriwati dan Jaka. Lutfi menyidangkan persoalan kebakaran tersebut. Sepengetahuan ketiga santriwati itu, Jaka sudah memeriksa tabung gas sebelum mereka memasak. Mungkin memang lagi tidak beruntung saja, bisa jadi selangnya rusak. Jaka pun meminta maaf atas kecerobohannya karena tidak teliti dalam memeriksa keamanan dapur. Lutfi berharap kejadian ini tidak akan terjadi lagi.


...****...


__ADS_2