Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Sarapan Ikan Gosong


__ADS_3

Suara kicauan burung bersahutan dengan kokokan ayam di pagi hari. Kolaborasi sebuah lagu yang sangat merdu dalam menyambut hari. Pagi-pagi buta, Nadira sudah siap di dapur untuk kali pertama memasak. Sebelumnya, dia tidak pernah terlalu memikirkan mau masak apa untuk dimakan. Namun, kini harus terbiasa karena sudah menyandang status istri dan dia ingin menjadi istri yang baik; bisa melayani suami dalam hal apa pun selagi mampu dan tidak bertentangan dengan norma agama.



Suara musik yang diciptakan Nadira dari dapur, rupanya terdengar oleh orang rumah. Suami, mama-papa, dan kakak Nadira sampai menghampirinya.



Dengan setengah berlari, Haikal sampai lebih dulu. Dia sudah menebak sebelum tiba di dapur, pasti adiknya akan mencoba hal baru setelah menikah. Membiasakan apa yang tidak biasa dilakukan adalah bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan.



Tiba di dapur, Haikal terkekeh melihat Nadira memegang spatula dan mengenakan helm di kepalanya.



Nadira yang sedari tadi berperang dengan minyak yang loncat-loncat ketika memasukkan ikan, langsung menoleh, mendengar tawa kakaknya.



"Iih ..., Kakak ...!" ujar Nadira dengan muka ditekuk.



"Lah, emangnya aku kenapa?" tanya Haikal yang menahan tawa sambil memegang perutnya, tidak tahan melihat kelakuan sang adik.



"Ya, Kakak bukannya bantuin adeknya, ini malah dateng-dateng, ngetawain terus. Buat kesel, loh!" Nadira merengek seperti biasa, memang sifatnya yang manja—meskipun sudah menyandang status istri, tetap saja manja dengan kakaknya.



Haikal mendekat. Mematikan kompor karena melihat panci sudah berasap dan ikan menjadi gosong karena apinya terlalu besar.



"Kenapa juga harus pakai helm, Nad? Kamu kayak tentara yang sudah siap bertempur aja," ujar Haikal, tersenyum sambil melepaskan helm di kepala Nadira.



"Kan emang lagi bertempur nih sama ikan-ikan yang muncratin minyak. Untung aku siap siaga, pakai helm, jadinya enggak kena di muka. Ya ..., walau jadi gosong dah ikannya. Huhu ..., malu-maluin aja, ya, Kak. Nanti Ammar bilang apa pas tahu istrinya belum bisa masak?" Nadira jadi pesimis.



Haikal mencoba menenangkan Nadira. Kedua tangannya diletakkan di pundak Nadira.



"Enggak apa-apa, Nad. Nanti juga lama-lama, bisa kok. Kamu jangan pesimis gitu, ah. Mana jiwa motivatormu? Masa takut sama minyak?" ujar Haikal menyemangati. Haikal memeluk dan mengelus-elus kepala sang adik.



"Kakak kan seorang koki yang handal, udah punya restoran pula. Mau, ya, ajarin aku masak?" pinta Nadira yang bersamaan dengan datangnya Ammar dan kedua orang tua mereka.



"Ya Allah, Nadira ...! Kenapa dapurnya jadi berasap gini?" tanya sang papa. "Ini lagi, kenapa ada helm di dapur?" lanjutnya sambil memegang helm.

__ADS_1



Mama Nadira sudah paham kalau ini semua ulah anak perempuannya yang ingin belajar masak. Mamanya tersenyum, lalu menghampiri Nadira.



Nadira spontan memeluk sang mama.



"Enggak apa-apa, Sayang. Namanya juga masih belajar. Berani mencoba aja, udah bagus, loh! Ini patut diapresiasi."



Perkataan sang mama, membuat Nadira bernapas lega. Percikan penyemangat inilah yang menjadikannya seorang motivator karena selalu mendapat dukungan dari orang tua dan mempunyai prinsip, "Lebih baik mencoba, daripada tidak sama sekali karena berani mencoba itu baik dan kita akan tahu hasilnya seperti apa."



Ammar hanya tersenyum melihat keharmonisan sebuah keluarga yang ada di hadapannya sekarang. Haikal yang menyadari keberadaan Ammar, menghampiri laki-laki yang kini menjadi adik iparnya.



"Mar. Tolong jaga dan bimbing adekku, ya. Dia memang sedikit manja, tapi ada saatnya dia menjadi orang yang kuat. Dia memang belum bisa masak, tapi setidaknya sudah berusaha untuk memasak." Haikal memegang pundak Ammar, seolah sudah lepas dari tanggung jawab sebagai seorang kakak karena sudah digantikan oleh Ammar ketika ijab kabul dilafalkan.



"Makasih atas kepercayaannya, Kak. Aku janji akan memegang amanah ini," ujar Ammar yang sesekali matanya melirik Nadira. "Emm, kalau soal masak sih, aku enggak pernah mewajibkan istri bisa masak, yang penting Nadira tahu kewajiban seorang istri kepada suaminya sesuai syariat Islam aja udah cukup, Kak. Karena istri yang bisa memasak itu adalah bonus."



Papa Nadira tersenyum mendengar pernyataan dari menantunya. Dia tenang, tidak salah dalam memberikan restu kepada Ammar dan menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga putri tercintanya. Walau begitu, di mata Sultan (papa Nadira), Nadira tetaplah seorang anak-anak yang sewaktu-waktu akan merengek kepada orang tuanya dalam hal tertentu. Seperti kejadian yang baru saja terjadi, tetap orang tua dan kakaknya yang menjadi rumah, tanpa mengabaikan status Ammar.




"Nad. Kamu enggak usah takut aku marah karena masakanmu yang belum sempurna ini, aku juga enggak sempurna. Setiap manusia pasti ada titik lemahnya, enggak harus bisa semua hal, tapi kelebihan yang kita milikilah—membuatnya terlihat sempurna, terutama di mata pasangan. Kamu enggak perlu menjadi orang lain agar membuatku terkesan, apalagi kalau hal itu membuatmu enggak nyaman. Tetap jadi diri sendiri, ya!"



Masyaa Allah. Ucapan Ammar sangat meneduhkan sekali. Semua orang di sana sampai terpikat oleh perkataannya.



"Bukan masalah jadi diri sendiri atau memaksa jadi orang lain, sih, aku cuma ingin mencoba hal baru. Kan pengen juga, orang-orang memuji masakanku. Masa kalah sama anak cowok. Kak Haikal aja bisa masak, masa aku sebagai anak cewek, enggak bisa masak." Nadira kekeh mau belajar masak.



"Iya. Tekadmu untuk belajar masak memang bagus, cuma jangan sampai mengucilkan diri sendiri karena kegagalan yang terjadi. Rasa cintaku enggak akan berkurang walau masakanmu gosong. Namanya juga baru belajar. Gagal, ya ... coba lagi. Bukankah begitu, Ibu motivator?" Ammar berusaha menghibur Nadira agar tetap semangat belajar.



Saat pengantin baru itu sedang asyik romantisan, serasa dunia milik mereka berdua, Ammar mengganggu keromantisan tersebut.



"Mohon maaf, Bapak-Ibu, ini penghuni kontrakan numpang lewat dulu, mau masak."

__ADS_1



Haikal sudah siap memasak untuk keluarganya karena tugas memasak, ketika mama mereka enggak ada di rumah, diambil alih oleh Haikal, bahkan ketika mamanya sedang tidak ingin memasak. Haikallah yang menggantikan.



"Asyik, mau makan enak, nih! Dimasakin langsung oleh koki internasional, loh!" seru Sultan, diiringi tepukan tangannya.



Sementara Haikal menyiapkan sarapan, yang lain ke ruang keluarga; menonton sambil berbincang, entah apa saja yang mereka obrolkan sampai tertawa terbahak-bahak. Lalu, Nadira yang memang tipikal penasaran bagaimana bisa memasak seenak masakan kakaknya, kembali ke dapur untuk melihat dan belajar bersama sang kakak.



"Kak. Aku boleh bantuin masak, ya? Boleh, ya?" tanya Nadira sedikit memaksa.



"Boleh, tapi jangan pakai helm," ledek Haikal.



"Kakak ...! Udahan dong, ngeledeknya. Ngeselin, ih!" gerutu Nadira.



"Maaf, becanda, loh! Gitu aja cemberut," ujar Haikal tersenyum sambil menggoreng ikan. "Ya udah, bantuin potong-potong sayuran itu, kita mau masak tumis dan sup." Perintah Haikal.



Nadira pun mengikuti arahan dari kakaknya. Langkah demi langkah dalam memasak, dicatat di memori ingatannya.



Beberapa menit kemudian, masakan pun sudah siap disajikan dan disantap. Semua orang sudah menunggu di meja makan.



Saat semua orang sedang mengambil nasi serta lauk-pauk buatan Haikal, Ammar justru meminta Nadira mengambil ikan gosong yang tadi dimasak. Semua orang saling memandang. Keadan menjadi tegang. Kira-kira, apa yang akan Ammar lakukan dengan ikan gosong itu?



Tidak lama kemudian, Nadira datang membawa ikan gosong yang digoreng tadi dan memberikan kepada suaminya.



"Ini, ikannya. Tapi mau kamu apakan?" Nadira terheran-heran dengan suaminya. Dia semakin penasaran. Bukannya langsung makan karena ada ikan yang tidak gosong di depan meja, malah nyuruh ngambil yang gosong.



"Bagaimanapun rasa dan bentuknya masakan seorang istri, aku harus menghargai kerja kerasnya. Ikannya memang gosong, pasti rasanya pahit, tapi ikan ini dimasak dengan penuh cinta."



Jleb! Hati Nadira dibuat semakin meleleh oleh Ammar. Laki-laki yang memiliki hobi melukis itu memang paling bisa menyenangkan hati semua orang, khususnya Nadira. Perkataannya seakan mantra untuk menghipnotis orang-orang agar menyukainya, tapi memang begitulah faktanya. Ammar bisa mengatakan seperti itu karena didikan dari papanya. Walaupun keluarganya belum bisa dikatakan harmonis karena kakaknya belum bisa menerima kehadiran dia dan sang papa, Ammar tetap bisa tumbuh menjadi sosok yang inspiratif dan memiliki banyak karya. Hasil dari lukisannya, sudah sampai ke luar negeri. Apalagi satu lukisan saja, bisa terjual ratusan juta.


__ADS_1


Pagi itu, Ammar pun sarapan dengan ikan gosong buatan istri. Sejak saat itulah, Nadira semakin membulatkan tekad untuk terus belajar memasak. Apalagi dia tidak perlu membayar les masak kepada koki-koki di luar sana, karena kakaknya sendiri pun seorang koki. Begitulah kehangatan dari keluarga Nadira yang selalu membuat orang lain iri melihatnya. Ditambah, Nadira memiliki suami yang bisa menghargai jerih payah sang istri dan siap membimbingnya dalam urusan dunia dan akhirat. Ammar benar-benar satu dari sekian ribu laki-laki langka. Jarang ada seorang suami yang seperti ini.


...****...


__ADS_2