Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Tujuh Bulanan


__ADS_3

Enam bulan kemudian, tak terasa usia kandungan Nadira sudah menginjak tujuh bulan. Sebagai keturunan Jawa, Nadira ingin melakukan acara tujuh bulanan ini, mengharapkan keselamatan dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan karena telah menitipkan calon bayi di dalam perutnya. Ammar yang tidak ingin mematahkan semangat Nadira, menyarankan untuk berkonsultasi kepada orang tua mereka, khususnya Abi Lutfi yang lebih memahami ilmu agama daripada mereka.


Tanpa berpikir lama, Nadira meminta Ammar untuk menghubungi Abi Lutfi dan Papa Sultan. Mereka melakukan telepon grup karena jarak rumah yang cukup jauh. Apalagi posisinya, Nadira tidak bisa terlalu lelah. Takut membahayakan kondisi Nadira dan calon bayi mereka.


Telepon pun tesambung. Seperti seorang muslim pada umumnya, mereka mengucapkan salam pada awal percakapan. Sultan yang memang memahami sifat putrinya, langsung bertanya karena biasanya Nadira kalau sudah menelepon malam-malam, ada hal penting yang ingin dikatakan.


"Ada hal penting apa, Nadira yang ingin disampaikan? Soalnya papa kenal sama sifat kamu, kalau enggak minta pendapat, pasti ada hal penting lain yang harus kamu selesaikan saat ini juga," ujarnya sambil tersenyum, memandangi wajah putri tercintanya dari balik ponsel. Di era serba digital ini, dampak positifnya adalah bisa bertemu meskipun melalui telepon.


Nadira sedikit takut mengutarakan keinginannya karena khawatir Abi Lutfi tidak akan setuju, diadakan tasyakuran tujuh bulanan. Ammar yang melihat kekhawatiran Nadira, membantu bicara dengan hati-hati kepada orang tua mereka tersebut.


"Mohon maaf, Pa, Bi. Bolehkah aku yang menjelaskan maksud kami menelepon malam-malam begini?" ujar Ammar.


Keduanya menjawab kompak.


"Boleh," ujar Abi Lutfi dan Papa Sultan.


"Jadi begini, Bi, Pa. Seperti yang kita ketahui, kalau Papa kan ada keturunan Jawa, nah ... usia kehamilan Nadira saat ini sudah menginjak tujuh bulan. Apa boleh mengadakan acara tujuh bulanan?" tanya Ammar dengan helaan napas panjang.


Seketika hening. Walaupun Sultan (papanya Nadira) keturunan Jawa, tetap saja dia menghargai keputusan anaknya untuk mengadakan acara tujuh bulanan atau tidak. Selain itu, Sultan juga menghargai besannya untuk mengutarakan pendapat karena memang lebih paham ilmu agama daripada dirinya.

__ADS_1


"Kalau papa sih, terserah kalian saja. Kalau memang perlu, silakan diadakan. Cuma, kita tanyakan dulu nih kepada Abi Lutfi yang memang paham bagaimana hukum dalam Islam kalau mengadakan acara tujuh bulanan ini? Jangan sampai karena kita kekeh ingin menjalankan adat atau tradisi dari nenek moyang, malah menentang ajaran agama kita sendiri."


Jawaban dan saran dari Sultan cukup bijak, hal ini membuat Nadira pun menjadi pasrah dengan keputusan Abi Lutfi. Dia tidak ingin egois, demi memenuhi keinginannya, malah merusak segalanya.


Ada beberapa tradisi di Indonesia yang biasa dilakukan oleh ibu hamil dan keluarganya. Salah satunya adalah mengadakan acara selamatan yang digelar di usia tujuh bulan atau yang lebih dikenal dengan selamatan tujuh bulanan. Apalagi di dalam adat atau tradisi Jawa, acara selamatan tujuh bulanan biasanya disebut mitoni atau tingkeban yang merupakan simbol budi pekerti agar anak yang lahir berjalan dengan baik atau dengan istilah menthuk yang berarti menjemput. Istilah tersebut diambil dari kata pitu yang berarti tujuh. Ada juga yang menyebutnya nujubulanin.


Di dalam tradisi Jawa, acara ini diadakan untuk menunjukan sikap hati-hati dalam menjalankan kewajiban luhur. Keadaan ibu hamil seperti "sapta kukila warsa" artinya adalah burung yang kehujanan, burung tampak lelah dan kurang berdaya, tidak bisa ke mana-mana, karenanya yang paling mujarab adalah berdoa agar bayinya lahir selamat. Maka secara tidak langsung, makna dalam tujuh bulanan yaitu simbol-simbol komunikasi ritual. Komunikasi ritual dapat dimaknai sebagai proses pemaknaan pesan sebuah kelompok terhadap kepercayaan yang dianutnya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2001:959) komunikasi ritual adalah hal ikhwal ritus atau tata cara dalam upacara keagamaan. Menurut Koentjaraningrat (2002:190), pengertian upacara ritual atau ceremony adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan.


Acara tujuh bulanan sendiri mulai dari acara siraman, acara brojolan, pembagian tarik pontang dan jualan dawet (rujak). Beberapa acara tersebut memiliki makna yang berbeda, mulai dari siraman yakni memiliki makna menyucikan secara lahir dan batin sang ibu maupun calon bayi. Acara brojolan yaitu ayah calon bayi meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakaikan sang ibu. Cengkir atau kelapa muda yang digunakan sebelumnya telah dilukis dengan Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi perempuan dan Dewa Kamajaya melambangkan bayi laki-laki. Selanjutnya adalah takir pontang atau tempat makanan yang disajikan terbuat dari daun pohon pisang dan janur berbentuk menyerupai kapal yang bermaksud bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan harus menata diri dengan pemikiran. Terakhir adalah jualan dawet dan rujak yakni bermakna usaha sebagai orang tua untuk memenuhi kebutuhan anaknya kelak.


Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengadakan sesuatu dalam urusan kami yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]


Selain itu, dalam hadis yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wasallam yaitu Ibnu Mas'ud pun menjelaskan sebagai berikut.


Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tradisi yang dianggap baik oleh umat Islam adalah baik pula menurut Allah. Tradisi yang dianggap jelek oleh umat Islam, maka jelek pula menurut Allah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan al-Hakim)


Akhirnya, setelah berunding seharian, mereka memutuskan untuk mengadakan acara tersebut dengan mengundang anak-anak yatim-piatu untuk doa dan pengajian serta membagikan bingkisan untuk anak-anak yatim-piatu tersebut.

__ADS_1


...***...


Setelah acara tujuh bulanan selesai, Ammar mengumumkan hal penting di hadapan semua orang.


"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu acara tujuh bulanan kehamilan Nadira—istri saya. Semoga doa-doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala," ujar Ammar. "Saya sangat bahagia atas kehamilan istri saya, sekarang saya ingin menyampaikan kabar bahagia yang lain. Tiga hari lagi akan dilakukan Pekan Seni dan Pekan Kebudayaan Nasional. Alhamdulillah, saya terlibat dalam acara ini dan akan memamerkan beberapa karya lukis yang saya buat." Ammar mengumumkan dengan rasa bangga.


Semua orang merasa haru mendengarnya. Nadira beranjak dari tempat duduknya. Ammar membantu Nadira berdiri.


"Kamu jangan banyak gerak, Sayang. Nanti kamu kenapa-kenapa. Ingat pesan dokter, kamu enggak boleh kecapean, ya." Terlihat jelas dari raut wajah Ammar kalau dia sangat mengkhawatirkan istrinya.


"Aku baik-baik aja, kok. Kan ada kamu yang selalu menjagaku," ujar Nadira seraya tersenyum dan memeluk Ammar. "Selamat, ya. Akhirnya karya kamu akan dilihat oleh semua orang di acara besar," lanjut Nadira, bangga.


"Terima kasih untuk dukungannya selama ini, ya," ujar Ammar sambil mengecup kening Nadira.


"Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena telah menjagaku selama ini. Lagian, kamu juga selama ini sudah mendukungku dalam hal apa pun, termasuk menyukseskan acara peluncuran novel perdanaku sebelum kita menikah. Kamu ingat semua itu, kan?" Nadira memutar memori lama yang mengantarkannya ke jenjang pernikahan. Bagaimana Ammar melamar dan meminta restu kepada orang tuanya, serta beberapa momen lainnya yang Ammar selalu terlibat dalam hidupnya.


Kebahagiaan Nadira pun akan menjadi lengkap ketika buah hatinya dengan Ammar lahir ke dunia. Tinggal dua bulan lagi, mereka akan bisa melihat bayi mungil yang selama ini tinggal di rahim Nadira. Semoga Allah selalu menjaga ibu dan calon bayinya. Itulah harapan dari semua orang.


...****...

__ADS_1


__ADS_2