
Untuk berdamai dengan masa lalu, kita harus memiliki niat untuk melepaskan kemarahan, melepaskan penyesalan, memotong hal-hal yang tidak bisa dilepaskan, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat terjadi seperti yang diinginkan. Apa pun yang terjadi dalam hidup, kebahagiaan atau kesedihan, harus bisa diterima dengan ikhlas, karena yang bertanggung jawab atas kebahagiaan adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Maka, hidup ini akan menjadi lebih hidup ketika seseorang bisa berdamai dengan hal yang sudah terjadi di masa lalu.
Hidup itu penuh dengan warna-warna, selagi masih bernapas, maka akan selalu banyak hal yang dialami. Di dalam perjalanan ini, kita pasti menemukan banyak jalan, tak selamanya lurus; ada tikungan, tanjakan, turunan, bahkan bisa saja bertemu dengan jurang. Terpenting adalah bagaimana kita bisa mengatasi setiap situasi yang terjadi dalam hidup dan harus tenang, serta hilangkan pikiran berlebihan yang belum tentu terjadi. Pikiran-pikiran itulah yang menjadi sumber penyakit, sehingga membuat kita mengurung diri dan tidak mau menerima takdir.
Setelah mendengarkan nasihat dari sang suami, Nadira mencoba untuk ikhlas dalam menerima takdir; berdamai dengan diri sendiri, keadaan, dan semua hal yang terjadi dalam hidup. Sudah saatnya Nadira benar-benar melepaskan semua kegelisahan dan rasa khawatir yang berlebih tersebut agar bisa menjalani hidup dengan tenang, termasuk ketika dia mencoba memaafkan orang tuanya yang jarang bahkan tidak memiliki waktu banyak untuk menemani tumbuh kembang Nadira.
"Kamu sudah siap?" tanya Ammar.
"Sudah. Hafiz juga sudah siap, nih!" jawab Nadira. lalu menghela napas dan mengucap lafaz hamdallah.
Mereka menuju sekolah Hafiz. Sepanjang perjalanan, Nadira mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Farah dan berniat berbicara kepada gurunya Hafiz tersebut. Nadira ingin melepaskan beban yang selama ini dipikul dan mengganggu pikirannya.
Tidak lama kemudian, tibalah di sekolah TK Harapan Bangsa. Beberapa anak sudah sampai di sekolah, ada pula yang baru datang bersama orang tua mereka.
Terlihat sosok perempuan cantik jelita dengan rambut panjang terurai, sedang berjalan menuju ruang guru. Nadira memanggil perempuan yang bernama Farah.
"Permisi, Ibu Farah." Nadira memanggil dengan suara sedikit lantang agar terdengar oleh Farah.
Farah berhenti dan menoleh. Hafiz menghampiri dan memeluknya. Farah duduk untuk menangkap tubuh Hafiz.
"Selamat pagi, Ibu Falah (Farah)," ujar Hafiz yang saat ini sudah berada dalam dekapan gurunya itu
.
"Selamat pagi juga, Hafiz," jawab Farah seraya tersenyum.
Ammar dan Nadira melihat kedekatan putra mereka dengan Farah. Kehangatan keduanya bisa dirasakan. Ammar dan Nadira saling menatap.
"Bu Farah, bisa minta waktunya sebentar? Ada hal yang perlu kami bicarakan," pinta Nadira.
Ammar sangat menjaga privasi, tidak ingin terlalu terlibat dalam permasalahan seseorang, sekalipun istrinya sendiri, kecuali memang diminta.
"Aku tunggu di mobil, ya," ujar Ammar.
__ADS_1
Nadira mengangguk. Dia khawatir kalau nantinya Farah merasa tidak nyaman kalau Ammar ikut mendengarkan apa yang akan diobrolkan.
"Nak, papa pulang dulu, ya. Hafiz belajar yang rajin," ujar Ammar, disambut dengan tangan Hafiz menyalaminya.
"Siap, Pa!" jawab Hafiz. Dia hormat seperti sedang laporan atau menerima perintah dari atasan. Tingkah lakunya benar-benar seperti orang dewasa.
Ammar pun berjalan menuju parkiran. Meninggalkan anak dan istri, serta gurunya Hafiz.
"Hafiz masuk kelas duluan, ya. Ibu Farahnya mau ngobrol dulu sama mama," pinta Nadira sambil mengecup kening putra tercintanya itu.
Hafiz menuruti perintah mamanya. Sedangkan Nadira dan Farah menuju ruangan guru, khususnya ke ruangan pribadi Farah.
Di ruangan Farah, mereka duduk di sofa.
"Mau ngobrolin apa, Bu Nadira?" tanya Farah. "Oh iya, mau minum apa, Bu? Biar saya suruh OB antar minuman dari kantin ke sini," tanyanya lebih lanjut.
"Oh, enggak usah, Bu. Saya minum air putih saja. Kan di sini sudah ada air mineral," jawab Nadira sambil menunjuk air mineral dalam kemasan gelas plastik yang ada di meja.
"Emm, jadi gini, Bu Farah. Sebelumnya saya memohon maaf kalau nantinya Ibu merasa tidak nyaman dengan pertanyaan atau apa yang ingin saya obrolkan. Bolehkah saya bertanya sesuatu hal?" ujar Nadira.
"Memangnya Bu Nadira mau ngobrolin apa, ya? Jadi penasaran. Lagian, kenapa saya harus merasa tidak nyaman?" Farah merasa bingung dengan Nadira. Sebenarnya apa yang ingin ditanyakan atau diobrolkan.
Nadira menghela napas panjang.
"Bismillah. Ibu Farah kenal sama orang ini, enggak?" tanyanya sambil menunjukkan foto seseorang yang ada di ponselnya.
Senyum Farah memudar saat melihat foto yang ditunjukkan oleh Nadira. Pikirannya bertanya-tanya, kenapa Nadira bisa mengenal laki-laki itu dan menanyakannya kepada dia.
Farah menghela napas berat.
__ADS_1
"Emm ..., dia mantan tunangan saya, Bu. Kok Bu Nadira bisa kenal dengan dia?" tanya Farah yang semakin penasaran.
"Dia mantan pacar saya, sebelum akhirnya saya menikah dengan papanya Hafiz. Saya sempat kecewa sama Jerry karena dia tidak jujur soal identitasnya, khususnya agama. Memang sih, agama sangat sensitif, tapi sebagai orang yang menganut agama Islam, saya tidak boleh berhubungan dengan agama nonmuslim. Apalagi sampai menikah. Memang sih, saya juga salah, terjebak dalam ikatan yang belum halal. Mungkin cuma itu cara Allah menunjukkan kalau saya dan Jerry bukan ditakdirkan untuk bersama," ujar Nadira, mengambil minuman karena tenggorokannya kering.
"Maaf, saya minum dulu ya, Bu." Nadira meminta izin karena napasnya terasa sesak.
Farah tersenyum dan mengangguk.
"Iya, silakan," ujarnya.
Nadira pun melanjutkan ceritanya.
"Hubungan kami pada waktu itu sudah berjalan enam tahun saat tahu kami beda agama. Lalu, saya melihat foto Ibu Farah dengan Jerry. Saya merasa cemburu, marah, kecewa, semua perasaan campur aduk." Mata Nadira berkaca-kaca, air matanya seakan ingin turun saat itu juga.
Farah langsung duduk lebih dekat dengan Nadira dan memeluk Nadira. Dia memahami kekecewaan yang dirasakan oleh Nadira.
"Ibu Nadira kalau mau nangis, nangis saja. Jangan ditahan-tahan. Sakit loh, Bu, rasanya kalau tidak dikeluarkan. Lepaskan saja. Saya memahami semuanya, kok," ujar Farah, menenangkan Nadira. Meskipun tidak jadi menikah dengan Jerry, Farah bisa berdamai dengan masa lalu karena dia percaya kalau takdir dari Tuhan itu lebih baik dari apa pun yang telah dia direncanakan.
Sambil meneteskan air mata, Nadira melanjutkan ceritanya.
"Yang lebih sakit lagi, Jerry tidak pernah cerita kalau dia sudah tunangan dengan Ibu Farah. Oh iya, panggil saya, Nadira saja." Nadira menghapus air matanya dengan tisu.
"Kalau begitu, panggil saya, Farah juga. Jangan Ibu Farah, biar lebih akrab." Farah meminta hal serupa dengan Nadira untuk sapaan.
Nadira mengangguk.
"Sebentar, tadi kalau saya tidak salah dengar, kamu bilang kalau Jerry itu mantan tunangan. Artinya kalian tidak jadi menikah?" tanya Nadira yang penasaran karena dia tidak pernah lagi tahu tentang kehidupan Jerry, apalagi berhubungan dengan laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu.
"Ceritanya panjang, Nad. Intinya, setelah kami menjalin hubungan karena dijodohkan, kami merasa tidak ada kecocokan. Jerry juga cinta banget sama kamu. Dia akhirnya cerita ketika kami memutuskan untuk jalan masing-masing," ujar Farah.
Mereka berdua pun bercerita dengan perasaan lega, khususnya Nadira. Hatinya terasa lapang setelah mengetahui kebenarannya. Nadira belajar tentang memaafkan luka-luka dan orang yang membuat luka di hatinya. Mencoba berdamai dengan masa lalu untuk hidup lebih tenang.
__ADS_1
...****...