Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Pertemuan Tak Disengaja


__ADS_3

Suatu ketika, Nadira sedang duduk bersama anaknya, sambil menikmati lukisan alam di taman dan memandangi awan yang sedang menari-nari diterpa angin, ditemani nyanyian burung yang mengelilingi awan putih itu. Angin terasa sejuk, menenangkan hati. Sedangkan Ammar sedang membeli makanan dan minuman untuk Nadira.



Tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang mengalihkan pandangannya. Dari kejauhan, sudah terlihat dari postur tubuhnya, kalau laki-laki itu adalah Jerry. Nadira sempat kaget karena setelah sekian lama tidak pernah bertemu ataupun mendapat kabar tentangnya, hari ini mereka dipertemukan kembali. Mereka terlihat canggung saat bertemu. Jerry tampak sendirian.



"Jerry?" ujar Nadira yang terkejut saat Jerry berdiri, tepat di hadapannya. Walau laki-laki itu belum menampakkan wajahnya, hanya terlihat dari belakang, Nadira yakin kalau itu adalah Jerry.



Jerry yang mendengar suara Nadira, langsung menoleh. Karena dia sangat hapal dengan suara mantan kekasihnya itu.



Mata Nadira terbelalak. Jantungnya mendadak berdetak kencang, sama persis saat waktu pertama kali dia merasakan jatuh cinta. Namun, kali ini bukan cinta yang dirasa, tetapi kaget karena Jerry datang kembali dalam hidupnya di saat dia sudah menikah dan memiliki anak. Ada kekhawatiran yang dirasakan Nadira sekarang, akhirnya pikirannya berkeliaran.



Jerry mulai mendekat. Nadira semakin takut dan agak panik. Sedangkan sang suami belum juga kembali.



"Nadira? Kamu di sini?" tanya Jerry yang sekarang berdiri di hadapan Nadira, lebih dekat.



Nadira tersenyum tipis. Dia takut terjadi fitnah. Apalagi Ammar tahu sedikit tentang Jerry.



Sambil memerhatikan sekelilingnya, Jerry bertanya, "Kamu sama siapa di sini? Dan ini anaknya siapa?" tanyanya sambil menunjuk bayi yang digendong Nadira.



Belum juga Nadira menjawab, ternyata Ammar sudah memperhatikan mereka dari tadi.



Ammar langsung menyahut, "Nadira sama saya; suaminya dan ini anak kami berdua."



Jerry terdiam. Jantungnya seakan ingin copot saat mendengar jawaban dari Ammar. Dia pun berdehem dengan rasa menyesal.



"Oh ..., kalau gitu, selamat atas pernikahan kalian, ya. Selamat juga, udah punya momongan," ujar Jerry, tersenyum yang sedikit ditahan. Dalam hatinya berkata, "Ternyata kamu benar-benar udah bisa lupain aku, Nad. Dulu kamu pergi gitu aja. Aku emang salah, tapi enggak sepenuhnya kesalahanku, kan?"

__ADS_1



Ammar memerhatikan Jerry yang menatap wajah istrinya tanpa berkedip.



"Ehem. Ada apa, Jer?" tanyanya sambil memegang bahu Jerry sebelah kanan.



Jerry yang sadar akan lamunannya, menjadi gugup.



"Eng-enggak apa-apa, kok. Bayi kalian lucu, ya! Namanya siapa?" ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.



"Panggil aja, Hafiz," jawab Ammar, singkat.



Jerry mengatur napas sesaat, lalu menyapa anak Nadira dan Ammar yang sedang asyik dengan mainannya. Saat ini usia putra mereka, sudah memasuki satu bulan.




Setelah Jerry sudah agak jauh dari mereka, Ammar duduk di samping Nadira. Dia tidak ingin istrinya mengingat-ingat kejadian pahit di masa lalu saat bersama Jerry.



"Nad, are you okay?" tanya Jerry sambil melambaikan tangannya ke arah muka sang istri karena Nadira terlihat sedang melamun.



"Hah? Aku baik-baik aja, kok," jawab Nadira sambil tersenyum.



"Kalau ada yang mau diceritakan, kedua telingaku selalu siap untuk mendengarkannya," ujar Ammar.



"Iya. Makasih banyak, ya, kamu selalu ada buat aku," jawab Nadira seraya mengucap syukur kepada Allah. "Masyaa Allah, ucapan Ammar selalu meneduhkan hati yang gusar. Terima kasih, ya Allah, telah mengirimkan laki-laki terbaik seperti Ammar," ujarnya dalam hati.



"Ya udah, ini aku bawa makanan untuk kamu dan juga minumannya," ujar Ammar seraya menyerahkan satu botol minuman dan juga camilan.

__ADS_1



Nadira pun mengambil dan membukanya. Dia minum terlebih dahulu, napasnya memburu—seakan habis lari maraton. Tenggorokannya benar-benar haus, sampai-sampai minuman yang diberikan Ammar, langsung habis.



Ammar memahami apa yang dirasakan oleh Nadira. Dia hanya bisa berdoa agar luka masa lalu yang sudah ditutup dengan baik, malah robek setelah bertemu kembali dengan Jerry. Sayap yang dulu patah, sudah sembuh dan akhirnya bisa terbang bersama. Semoga tidak ada yang berusaha memanah kedua burung dara tersebut, apalagi memisahkannya.



Nadira adalah sosok perempuan yang patuh kepada suaminya. Dia pun sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan, terlebih seorang istri yang kini telah memberikan anak lucu untuk suaminya. Nadira tidak ingin kehadiran Jerry malah merusak kebahagiaan yang selama ini didambakan. Baginya, Jerry adalah masa lalu yang dijadikan pelajaran berharga untuk kehidupannya agar bisa menjadi lebih baik.



Baik dan buruknya masa lalu, cukup dikubur dan jadilah lebih baik dari hari-hari yang telah berlalu. Tidak perlu mengingat kejadian lalu, karena mengingatnya—sama saja mengurung diri sendiri di dalam ruangan gelap bahkan tanpa jendela, sehingga tidak ada sedikit pun cahaya yang bisa masuk.



Seorang istri maupun suami sebaiknya menghindari berhubungan kembali dengan mantan. Sebab, walaupun niatnya baik, terkadang ada saja fitnah yang terjadi. Selain itu, kita harus saling menjaga perasaan pasangan masing-masing, apabila keduanya sama-sama sudah memiliki pasangan, karena berhubungan kembali dengan mantan saat menikah adalah wilayah yang sangat sulit. Dia pernah menjadi bagian integral dalam hidup kita dan keinginan untuk mempertahankan hubungan atau menghidupkannya kembali bahkan setelah bertahun-tahun adalah hal wajar kalau salah satu, bahkan keduanya masih memiliki perasaan.


Hingga akhirnya hubungan emosional yang masih belum terselesaikan pun ikut bermain. Itu sebab, sebelum berkomunikasi kembali dengan mantan, harus dipikir matang-matang. Jangan sampai niat baik yang katanya tidak ingin memutuskan tali silaturahmi, justru keputusan berhubungan dengan mantan malah menjadi bumerang dalam hidup kita.


Dikutip dari berbagai sumber, bahwa seorang psikolog dari Universitas Kansas di Amerika Serikat, Rebecca Griffith, riset sebelumnya mendapati fakta bahwa 60 persen pasangan yang sudah putus tetap bersahabat. Yang bisa dipelajari dari penelitian tersebut adalah alasan pasangan tetap berteman meski kisah asmara mereka sudah tamat. Penelitian dilakukan terhadap 170 perempuan dan 110 laki-laki yang harus menjawab serangkaian pertanyaan.


Pada percobaan kedua dengan peserta 300 perempuan dan 250 laki-laki, para peneliti memastikan jawaban kuesioner sebelumnya cocok. Para peneliti mendapatkan empat alasan utama pasangan tetap berteman meski sudah putus. Griffith dan timnya mempresentasikan hasil penemuan itu di pertemuan tahunan Asosiasi Psikolog Amerika pada tanggal 4 Agustus 2017.


Alasan pertama, seperti yang diutarakan oleh Griffith kepada Live Science adalah keamanan. Seseorang yang sudah putus tak ingin kehilangan dukungan emosional, saran, dan kepercayaan dari mantan. Alasan kedua, berteman dengan mantan itu praktis, mungkin juga karena alasan finansial atau anak. Alasan ketiga adalah persaudaraan. Seseorang ingin bersikap sopan dan tidak melukai perasaan orang lain. Yang terakhir adalah karena masih ada rasa dengan mantan.



Para peneliti juga mendapati alasan mengapa seseorang tetap berteman dengan mantan, hal ini berkaitan dengan seberapa lama pertemanan akan berlangsung dan seberapa positif akan berjalan. Mereka akan tetap berteman dengan alasan persaudaraan. Hubungan yang aman artinya seseorang merasa aman dan bahagia sedangkan yang negatif perasaan yang muncul adalah depresi, cemburu, atau patah hati.



Yang unik adalah alasan berteman karena masih memiliki perasaan. Meski negatif, pertemanan seperti ini biasanya awet. Hasil penelitian Griffith dan kolega sebelumnya sudah dimuat di jurnal Personal Relationships. Jadi kesimpulannya, berteman dengan mantan sangat sedikit keuntungannya. Ujung-ujungnya hanya akan membuat baper salah satu atau keduanya. Di balik status berteman dengan mantan, pasti ada perasaan emosional yang terpendam.



Di tempat lain, Jerry duduk sambil menyeruput kopi hitam yang dipesan kepada pelayan. Jerry sedang berada di sebuah kafe yang ada di sekitar taman, tempatnya bertemu Nadira beberapa menit lalu.



Kehidupan itu seperti kopi, semanis apa pun kopi yang diseduh dengan gula, rasa pahitnya akan tetap ada. Begitulah hidup, manis dan pahit berbaur menjadi satu.



Jerry merenungi apa yang telah terjadi dalam hidupnya, penyesalan tiada berguna karena nasi sudah menjadi bubur. Kekecewaan yang dirasakan oleh Nadira, tak bisa ditawar hanya dengan kata maaf. Sebab, memaafkan lebih mudah daripada melupakan. Dia pun menyadari kesalahannya karena tidak terbuka tentang identitas dirinya. Selain itu, dia masih berhubungan dengan Nadira saat sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Walau pada akhirnya, Jerry dan Farah memilih jalan masing-masing karena mereka merasa tidak memiliki kecocokan. Apalagi kenyamanan ketika dijalani pun, tidak dirasakan.


...****...

__ADS_1


__ADS_2