
Saat Ammar duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan ponsel di tangannya. Dia merasa gugup dan penuh antusias karena memiliki kabar besar untuk kedua anak laki-lakinya, Hafiz dan Hamzah. Ammar ingin memberi tahu mereka bahwa mereka memiliki adik perempuan kembar.
Tanpa bisa menunggu lebih lama, Ammar menghubungi Hafiz terlebih dahulu. Dia menekan tombol panggilan dan menunggu dengan hati berdebar. Beberapa detik kemudian, suara Hafiz terdengar di seberang sambungan telepon.
"Halo, Papa. Ada apa?" tanya Hafiz dengan nada penasaran.
"Papa punya kabar baik untukmu, Hafiz," kata Ammar dengan senyum lebar. "Kamu memiliki adik perempuan, dan bukan hanya satu, tapi dua! Kini kamu memiliki adik perempuan kembar dari rahim mamamu setelah memiliki adik sepupu kembar, Aqeela dan Aisha!"
Hafiz terdiam sejenak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. "Adik perempuan kembar? Serius, Pa?" tanyanya dengan suara terkejut.
"Iya, Hafiz. Mamamu baru saja melahirkan dua bayi perempuan yang cantik. Sayangnya, papa tidak bisa membawamu langsung ke rumah sakit karena lokasinya yang cukup jauh. Tapi jangan khawatir, papa akan memperlihatkan mereka padamu melalui panggilan video nanti." Ammar menjelaskan dengan penuh kehangatan.
Hafiz terlihat antusias. Meskipun tidak bisa bertemu langsung dengan adik-adik barunya, setidaknya dia bisa melihat mereka melalui layar ponsel. "Terima kasih, Ayah. Aku sangat senang! Segera tunjukkan mereka padaku ya," kata Hafiz dengan senyuman terpancar di wajahnya.
Setelah berbicara dengan Hafiz, Ammar kemudian menghubungi Hamzah untuk memberitahu bahwa dia memiliki adik perempuan kembar. Hamzah yang tinggal cukup dekat dengan rumah sakit, langsung berangkat menuju lokasi persalinan.
Tidak lama kemudian, Hamzah tiba di rumah sakit. Dia bergegas ke ruang bersalin dengan hati yang berbunga-bunga. Ketika Hamzah melihat wajah dua bayi perempuan yang baru lahir, kebahagiaan yang tak terhingga menghampirinya. Dia mendekati mereka dengan hati-hati dan mengelus pipi mereka dengan lembut.
Di tempat lain, Hafiz menatap layar ponselnya dengan harap-harap cemas. Ammar menghubunginya melalui panggilan video dan memperlihatkan wajah adik-adik perempuan kembar Hafiz. Hafiz tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat dua bayi kecil yang imut dan sempurna di layar ponselnya.
Hafiz sambil tersenyum, berkata, "Wah, mereka sangat imut! Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka langsung dan bermain bersama di masa depan!"
Ammar tersenyum. "Aku juga sangat tidak sabar, Hafiz. Adik-adikmu ini akan menjadi teman bermainmu yang baru dan kalian akan memiliki banyak momen indah bersama. Mereka akan menjadi saudarimu yang selalu ada di sampingmu."
"Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk mereka, Pa. Aku akan melindungi dan mencintai mereka sebanyak mungkin," ujar Hafiz sambil terus melihat layar ponsel.
"Aku yakin kamu akan menjadi kakak yang hebat, Hafiz. Kamu memiliki hati yang baik dan mereka sangat beruntung memiliki kakak sepertimu. Kita semua akan saling mendukung dan menjaga satu sama lain," ujar Ammar penuh kebanggaan.
__ADS_1
Hafiz tersenyum lebar. "Terima kasih, Papa. Aku sangat bahagia dengan berita ini. Aku tak sabar menunggu saat aku bisa memeluk mereka dan memberikan cinta sebanyak mungkin."
Ammar berkata dengan lembut, "Bersabarlah, Hafiz. Waktunya akan segera tiba. Saat ini, kamu hanya bisa melihat mereka tumbuh dan berkembang melalui panggilan video saja, itu sudah cukup membuatmu bahagia, bukan?
Hafiz mengangguk. "Ya, Pa. Aku akan bersabar dan menikmati setiap momen ini. Terima kasih telah memberitahukanku tentang adik-adik perempuanku yang indah ini."
"Kamu selalu menjadi anak yang hebat, Hafiz. Ayo, kita bersama-sama menciptakan kenangan indah dengan adik-adikmu nanti."
"Ayo, Papa! Aku siap untuk menjadi kakak terbaik bagi mereka," ujar Hafiz sambil tersenyum penuh semangat.
Saat itu, kebahagiaan meliputi keluarga Ammar. Mereka merayakan kedatangan anggota baru yang indah dalam keluarga mereka, meskipun Hafiz hanya bisa melihat mereka melalui panggilan video, sementara Hamzah bisa langsung merasakan kehangatan dan kehadiran adik-adiknya yang baru lahir.
"Masyaa Allah. Lucu banget sih, adik-adik Kak Hamzah ini."
Nadira tersenyum bahagia melihat kedua anak laki-lakinya yang begitu antusias dalam menyambut kehadiran adik kembar mereka. Bukan hanya doa Nadira yang terkabul, tetapi juga doa dari Hafiz dan Hamzah yang ingin memiliki adik perempuan.
...***...
Setelah beberapa hari dirawat, Nadira beserta bayinya, akhirnya diizinkan pulang. Ammar menyelesaikan administrasi agar istri dan anaknya bisa segera pulang ke pondok pesantren Al Fathonah, milik abinya. Sementara itu, Mamanya Nadira dan Uminya Ammar, membantu mengemas barang-barang Nadira.
"Akhirnya kita bisa pulang, sayang. Aku rindu dengan pondok pesantren dan lingkungan yang tenang di sana," ujar Nadira dengan senyum lembut.
"Aku juga rindu, sayang. Ayo, aku akan menyelesaikan administrasi ini dengan cepat agar kita bisa segera pulang," ujar Ammar sambil menggenggam tangan istri tercintanya itu, Nadira.
"Tidak perlu terburu-buru, Nak. Kami akan membantu mengemas barang-barangmu dengan cepat. Kamu fokus saja menyelesaikan administrasi," ujar Fenny, Mamanya Nadira, sambil membantu mengemas barang-barang.
Aisyah, Uminya Ammar sambil tersenyum, menyahut, "Benar, Nadira. Kami berdua akan memastikan semuanya rapi dan siap untuk dibawa pulang."
__ADS_1
"Terima kasih, Mam dan Umi. Aku sungguh beruntung memiliki kalian di sampingku," ujar Nadira bersyukur.
Ammar mengusap punggung Nadira lembut, "Kalian adalah dukungan terbesarku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kalian."
Fenny mengangguk. "Kita adalah keluarga, Nak. Kita harus saling membantu dan mendukung satu sama lain."
Aisyah sambil mengambil kotak dan membungkusnya dengan hati-hati, berkata, "Ini adalah momen yang istimewa bagi kita semua. Menyambut kedua cucu perempuan kami dengan penuh kebahagiaan."
Bersama-sama, mereka melanjutkan mengemas barang-barang dan mempersiapkan diri untuk pulang ke pondok pesantren yang menjadi tempat yang penuh kasih sayang bagi mereka.
Nadira mengamati Umi dan Mamanya dengan penuh kasih sayang. "Aku berterima kasih banyak kepada kalian atas segala bantuan dan cinta yang kalian berikan selama ini."
"Itu adalah tugas seorang ibu dan nenek, Nak. Kami bahagia bisa melihatmu dan Ammar bahagia, serta keturunan kita berkembang dengan baik," Fenny tersenyum.
Aisyah sambil memberikan kotak yang sudah dibungkus kepada Nadira, berkata, "Ini sudah selesai, Nak. Barang-barangmu siap untuk dibawa pulang."
Nadira mengambil kotak dengan penuh harap. Lalu berkata, "Terima kasih, Mam dan Umi. Aku tidak sabar untuk memulai kehidupan baru dengan bayi-bayi perempuanku dan di pondok pesantren yang kita cintai."
Ammar sambil memeluk Nadira erat. "Ayo, sayang. Kita pulang dan memulai babak baru dalam hidup kita bersama."
Fenny sambil tersenyum, berkata, "Semoga kehidupan kalian dipenuhi dengan kebahagiaan dan berkah, Nak."
Aisyah sambil mencium kening Nadira, berkata, "Selamat pulang, Nak. Ayo kita kembali ke pondok pesantren yang penuh cinta dan kedamaian. Abimu beserta para santri di sana sudah tidak sabar menyambut kehadiran bayi kembarmu."
"Terima kasih, Mam dan Umi. Aku merasa diberkati memiliki kalian dalam hidupku," ujar Nadira dengan rasa syukur.
...****...
__ADS_1