
Nadira tiba di rumah papa dan mamanya dengan perasaan campur aduk. Tubuhnya terasa lelah dan terombang-ambing oleh gelombang mual yang menghantamnya. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat seolah-olah menerjang angin kencang. Sakit di kepala membuat pandangannya menjadi kabur dan konsentrasi menjadi terganggu.
Saat masuk ke dalam rumah, perut Nadira seperti berontak dengan rasa tidak enak yang memenuhinya. Dia merasakan sensasi berputar yang menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya, membuatnya ingin segera beristirahat. Wajahnya yang biasanya bercahaya, kali ini tampak pucat dan kelelahan.
Nadira mencoba mengatasi gejala yang melanda dengan sekuat tenaga. Dia mencoba untuk tetap tersenyum dan berbaur dengan anggota keluarganya, meskipun dalam hati, dia merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa. Setiap bicara atau candaan keluarga terdengar jauh dan samar baginya, seakan terhalang oleh sensasi tak enak yang terus-menerus memenuhi pikirannya.
Dalam situasi yang sulit ini, Nadira berharap bisa menemukan sedikit kesenangan dan kenyamanan di tengah keluarganya. Dia berusaha untuk menahan diri dan berfokus pada momen-momen kebersamaan yang berharga. Meskipun badannya lemah dan gejala yang dialaminya mengganggu kegiatan sehari-hari, Nadira tetap berusaha kuat dan bersabar.
Melalui kesabaran dan dukungan keluarganya, Nadira berhasil melewati masa sulit tersebut. Meskipun saat itu kondisinya tidak sempurna, dia tetap menjadi bagian tak tergantikan dari keluarga yang penuh cinta dan perhatian.
Hingga akhirnya, Nadira jatuh pingsan. Papa Nadira menelepon dokter agar Nadira mendapatkan perawatan medis. Sedangkan mama Nadira, menelepon Ammar, memberitahu kondisi Nadira.
Setelah diperiksa, ternyata Nadira sedang mengandung anak ketiganya.
Perasaan Nadira campur aduk, antara gembira dan cemas setelah mengetahui bahwa dia sedang mengandung anak ketiganya. Bagi Nadira, kehamilan kali ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu setelah beberapa tahun lamanya berusaha untuk memiliki anak lagi.
Namun, kehamilan ini juga membawa tantangan baru bagi Nadira. Sejak awal kehamilannya, dia sering mengalami mual dan muntah-muntah yang parah. Setiap kali Nadira mengunjungi rumah orang tuanya, mualnya semakin menjadi-jadi. Dia bahkan sering merasakan sakit di kepala dan perut yang tidak enak. Semua gejala tersebut membuat Nadira merasa tidak nyaman dan lemah.
Nadira dan suaminya, Ammar, segera menghubungi dokter kandungan untuk memperoleh nasihat dan perawatan yang tepat. Dokter memastikan bahwa kondisi mual dan muntah yang dialami Nadira adalah gejala umum dalam kehamilan, yang dikenal sebagai mual dan muntah kehamilan atau "morning sickness". Meskipun begitu, dokter tetap memantau kondisi kesehatan Nadira secara berkala untuk memastikan bahwa tidak ada komplikasi serius.
...***...
Selama beberapa bulan berikutnya, Nadira berjuang melewati periode mual dan muntah tersebut. Dia mencoba berbagai cara untuk meredakan gejala tersebut, seperti mengonsumsi makanan kecil tapi sering, menghindari makanan yang memicu mual, dan mengatur pola makan dan tidur yang sehat. Ammar juga memberikan dukungan penuh dan membantu Nadira dalam menjalani kehamilan dengan nyaman.
__ADS_1
Walaupun harus menghadapi tantangan tersebut, tetapi Nadira merasa beruntung karena keluarganya selalu ada di sampingnya. Papa dan mama Nadira memberikan dukungan moral dan membantu dengan berbagai tugas rumah tangga yang mungkin sulit dilakukan oleh Nadira dalam kondisi yang tidak fit. Keluarga mereka menjadi sumber kekuatan dan semangat bagi Nadira.
Nadira bersyukur, kedua orang tuanya kini bisa sedikit meluangkan waktu untuknya. Tak seperti saat dia masih melajang, selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk Nadira. Sehingga, hanya kakaknya, Haikal, yang menyuguhkan pundak untuk Nadira bersandar.
Nadira merasa senang dan bersemangat karena kehamilannya kali ini terasa lebih kuat. Meskipun pada kehamilan sebelumnya, dokter meminta Nadira untuk beristirahat lebih banyak, kali ini situasinya berbeda. Dokter memberikan persetujuan untuk Nadira tetap aktif dan menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa.
Nadira tetap menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya dengan mengikuti program olahraga ringan yang disarankan dokter. Dia juga memperhatikan pola makan yang sehat dan teratur agar bayinya mendapatkan nutrisi yang cukup. Dengan dukungan suami dan keluarganya, Nadira merasa yakin bahwa dia bisa mengelola kehamilan ini dengan baik.
Selama kehamilan, Nadira tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Dia mengurus pekerjaan rumah sehari-hari dan membantu suaminya dalam mengurus pondok karena mertuanya yang sudah sepuh. Nadira juga melanjutkan tulisan-tulisannya, serta memenuhi undangan seminar kepenulisan dan motivasi sebagai narasumber. Dia merasa bahwa kehamilan bukanlah halangan untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam menulis.
Nadira merasa bahagia dapat berbagi pengalaman dan wawasannya melalui tulisan-tulisannya. Dia berharap dapat menginspirasi banyak orang dengan kisah hidupnya. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memberikan kepuasan pribadi baginya, tetapi juga memberikan energi positif yang mendukung kesejahteraan emosionalnya selama kehamilan.
Selama kehamilan, Nadira juga menjaga komunikasi yang baik dengan suami dan keluarganya. Mereka saling memberikan dukungan dan membantu satu sama lain. Nadira merasa bahagia dan bersyukur atas kehamilan yang kuat ini, sehingga dia dapat menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan antusiasme.
...***...
Ammar menghampiri Nadira. "Sayang, apa yang terjadi? Kamu terlihat pucat. Apakah kamu baik-baik saja?"
Nadira menyentuh pelipisnya. "Aku merasa pusing dan sedikit mual. Tapi, aku tidak yakin apa penyebabnya."
"Mungkin kamu terlalu lelah, sayang. Kamu telah melakukan begitu banyak aktivitas sepanjang hari ini. Apakah mungkin sakit lambungmu kumat?"
Nadira mengangguk. "Mungkin saja. Aku juga merasa perutku agak tidak enak beberapa saat yang lalu, tapi aku merasa harus tetap menjalankan semua tugas dan tanggung jawabku."
__ADS_1
"Kamu adalah wanita yang tangguh, tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu, sayang. Ini adalah kehamilan yang berbeda dan tubuhmu perlu waktu istirahat yang cukup. Ayo, duduk sebentar dan istirahat. Biarkan aku membantu menyelesaikan pekerjaan rumah ini."
Nadira menghela napas. "Terima kasih, suamiku sayang. Aku tahu kamu peduli padaku dan bayi kita. Mungkin aku harus lebih berhati-hati dan tidak terlalu memaksakan diri."
Ammar membantu Nadira duduk di sofa dan menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih tersisa. Mereka berdua duduk bersebelahan, sambil berbincang tentang kehamilan dan bagaimana menjaga kesehatan Nadira dengan lebih baik.
Ammar sambil mengelus perut Nadira, berkata, "Kita harus lebih memperhatikan tanda-tanda tubuhmu, sayang. Jika kamu merasa lelah atau tidak enak badan, maka jangan ragu untuk memberitahuku. Kita bisa bekerja sama dalam mengelola semua ini."
Nadira tersenyum. "Kamu benar, Ammar. Aku tidak bisa melupakan bahwa ini adalah kehamilan yang berbeda dan aku perlu lebih mendengarkan tubuhku. Aku bersyukur memiliki kamu yang selalu ada di sampingku."
"Kamu tahu bahwa aku akan selalu mendukungmu, sayang. Kesehatanmu dan kesehatan bayi kita adalah yang paling penting. Kita akan melewati ini bersama-sama."
Nadira dan Ammar duduk bersama, saling berpegangan tangan dan saling memandang dengan penuh kasih sayang. Mereka tahu bahwa menghadapi kehamilan ini membutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik antara mereka berdua. Ammar dengan penuh perhatian mendengarkan keluh kesah Nadira tentang gejala mual dan ketidaknyamanan yang dia alami.
Mereka berbicara tentang rencana untuk mengurangi beban Nadira selama kehamilan. Ammar berjanji akan memberikan dukungan penuh dan membantu dengan tugas-tugas rumah tangga yang berat. Mereka sepakat untuk merancang jadwal yang lebih fleksibel agar Nadira dapat beristirahat dan mengatur pola tidurnya dengan baik.
Selain itu, mereka juga membahas pentingnya menjaga kesehatan dan keseimbangan. Nadira berencana untuk menjalani pola makan yang sehat dan mencari cara untuk meredakan gejala mual yang kerap mengganggu. Ammar berjanji akan membantu menyiapkan makanan sehat dan mengingatkan Nadira untuk mengonsumsi makanan bergizi secara teratur.
Mereka juga berdiskusi tentang pentingnya kegiatan fisik yang sesuai dengan kondisi kehamilan Nadira. Mereka sepakat untuk mengambil langkah-langkah kecil seperti berjalan-jalan ringan atau melakukan latihan prenatal yang disarankan oleh dokter. Hal ini akan membantu menjaga kesehatan dan keseimbangan Nadira secara fisik maupun mental.
Selama percakapan mereka, Nadira merasa semakin bersemangat dan yakin bahwa mereka dapat menghadapi tantangan ini bersama-sama. Ammar memberikan dukungan emosional yang kuat dan meyakinkan Nadira bahwa mereka akan melalui kehamilan ini dengan sukses.
Dalam perjalanan kehamilan yang kuat ini, Nadira dan Ammar berjanji untuk tetap terbuka satu sama lain, saling mendengar, dan menghormati perasaan masing-masing. Mereka menyadari bahwa komunikasi yang baik adalah kunci untuk menjaga hubungan mereka tetap kuat dan harmonis di tengah perjalanan kehamilan yang mungkin sulit.
__ADS_1
Dengan rencana yang telah mereka buat, Nadira dan Ammar merasa lebih percaya diri dalam menghadapi masa depan. Mereka yakin bahwa dengan menjaga kesehatan, keseimbangan, dan saling mendukung, mereka akan mampu meraih kebahagiaan dan kesuksesan dalam menghadapi tantangan yang ada.
...****...