
Beberapa bulan kemudian, usia kandungan Nadira sudah memasuki tujuh bulan, yang berarti bahwa dia sudah tujuh bulan lebih tidak bertemu dengan anak sulungnya setelah kepergian Hafiz untuk belajar di Kairo. Nadira merasa bahwa waktu terasa sangat lambat, setiap detik terasa seperti berjam-jam saat sedang merindukan Hafiz. Dia juga merasa sangat sendirian dan kesepian tanpa kehadiran anak sulungnya. Meskipun suaminya selalu ada di sampingnya, tetapi kehadiran Hafiz yang membawa cahaya dan keceriaan di rumah mereka sangat dirindukan. Di satu sisi, Nadira sangat bahagia akan segera menjadi ibu dua anak. Namun di sisi lain, dia merasa sangat sedih dan merindukan Hafiz yang jauh di sana.
Saban hari, Nadira terus berharap dan mendoakan agar Hafiz bisa segera kembali ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Dia tahu bahwa walaupun panggilan video bisa mengobati sedikit rasa rindu, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran fisik anak sulungnya di rumah mereka.
"Rasanya waktu terasa sangat lambat, setiap detik terasa seperti berjam-jam saat aku merindukan Hafiz. Aku merasa sangat sendirian dan kesepian tanpa kehadiran anak sulungku," ujar Nadira sambil mengelus-elus foto Hafiz di ponselnya.
"Aku tahu, Sayang, tapi janganlah terlalu khawatir. Hafiz pasti baik-baik saja di sana dan suatu saat, dia akan kembali ke rumah," ujar Ammar, berusaha menenangkan Nadira. Karena dia takut Nadira akan sakit lagi kalau terlalu banyak pikiran.
"Aku tahu, tapi kadang-kadang rasa rinduku begitu kuat sehingga sulit untuk mengatasinya. Aku merindukan senyum dan keceriaan yang selalu dibawanya ke rumah kita." Nadira mengecup foto Hafiz pada layar sekitar 6 inchi yang ada di genggaman tangannya, lalu memeluknya. Seakan sedang memeluk fisik Hafiz. Matanya terpejam. Dia merasakan rindu yang teramat dalam.
Nadira terus berusaha untuk tetap kuat dan bahagia, terutama ketika dia berpikir tentang kehadiran bayi keduanya yang akan segera lahir.
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi ingatlah, kita akan segera memiliki seorang bayi lagi yang akan mengisi kekosongan hatimu. Kita harus bersyukur dan bahagia dengan kehadiran bayi kedua kita," ujar Ammar seraya tersenyum.
"Ya, kamu benar. Aku sangat bersyukur dan bahagia akan segera menjadi ibu lagi. Bayi ini akan menjadi anugerah terbesar bagi kita."
Nadira masih memandangi potret kebersamaan dengan putra sulungnya, serta beberapa momen keluarga yang diambil sebelum Hafiz pergi merantau.
"Setiap kali aku melihat potret kebersamaanku dengan Hafiz, aku membayangkan kalau dia ada di hadapanku. Aku merasa sedih dan kehilangan, karena aku tidak bisa menemani putraku dalam setiap tahap perkembangannya selama merantau ke Kairo. Aku juga khawatir bahwa dia akan merasa cemburu atau tidak dicintai kalau sudah melahirkan adiknya nanti."
"Kamu harus percaya pada Hafiz, Sayang. Dia pasti tahu bahwa kamu mencintainya dan selalu merindukannya. Dan ketika adiknya lahir, itu hanya akan menambah kebahagiaan keluarga kita, bukan mengurangi cinta yang kita miliki untuk Hafiz."
"Aku tahu, tapi aku merasa sedih ketika aku tidak bisa menyiapkan makanan dan keperluan Hafiz yang lainnya selama dia di sana. Aku khawatir dia merasa kurang perhatian dariku."
"Jangan khawatir, Sayang. Kita masih bisa memberikan dukungan dan kasih sayang dari jauh. Selain itu, Hafiz sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Kamu tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa memberikan dukungan fisik yang sama seperti saat dia berada di sini.
"Ya, kamu benar. Aku harus mencoba untuk merelakan situasi ini dan memberikan dukungan yang terbaik untuk Hafiz, meskipun dari jauh."
"Kamu pasti bisa melakukannya, Sayang. Kamu selalu menjadi ibu yang hebat bagi anak-anak kita. Aku yakin bahwa Hafiz pasti akan senang, ketika melihat adiknya nanti. Dan siapa tahu, mungkin saja dia bisa pulang untuk melihat kelahiran adiknya." Kalimat Ammar barusan, seakan menjadi obat penenang sesaat untuk Nadira.
Nadira menatap suaminya dengan mata berbinar. Dia merasa sangat bersukur, diberikan suami terbaik menurutnya. Yang bisa memahami setiap situasi dan kondisi Nadira, serta orang-orang yang dikenal, khususnya keluarga.
__ADS_1
"Aku berharap begitu. Terima kasih, ya. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu yang selalu mendukung dan memberiku semangat."
"Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang suami agar selalu memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Aku berjanji, kalau kita akan melalui ini bersama-sama, ya!" ujar Ammar tersenyum.
Namun, meskipun perasaannya bercampur aduk, Nadira tetap berusaha untuk merawat kehamilannya dan menjaga kesehatannya agar bayi keduanya bisa lahir dengan sehat dan kuat. Dia menghabiskan waktu dengan membaca buku tentang kehamilan dan merawat bayi, serta berbicara dengan dokter dan bidan untuk memastikan bahwa semuanya berjalan lancar.
Dalam setiap panggilan video dengan Hafiz, Nadira selalu berusaha untuk memberikan perhatian penuh dan memberikan kasih sayang yang sama seperti saat mereka bersama. Meskipun tidak bisa berjumpa langsung, Nadira berharap bahwa setiap kali mereka berbicara, Hafiz merasa bahwa mamanya sangat mencintainya.
Nadira pun bertekad untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama kepada kedua anaknya, meskipun mereka berada di tempat yang berbeda. Dia merasa yakin bahwa kelak Hafiz akan bisa merasakan cinta kasih yang sama seperti adiknya dan mereka akan tumbuh bersama sebagai keluarga yang bahagia.
"Oh iya, nanti malam kan ada acara doa tujuh bulanan anak kedua kita. Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Jangan mikir terlalu berat dan jaga stamina tubuhmu agar tetap sehat," ujar Ammar seraya memegang pipi Nadira dengan lembut.
Nadira mengangguk dan tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang semakin buncit.
"Ya sudah, aku mau bantu persiapan pengajiannya dulu, ya." Ammar melangkah menuju pintu keluar, lalu membalikkan badan kembali. "Ingat, kamu istirahat saja. Semua persiapan pengajian tujuh bulanan, aku yang urus. Lagian, ini juga hanya acara doa keselamatan dan kesehatan anak kita. Tidak ada acara adat, jadi kamu tidak perlu melakukan banyak hal. Oke!"
Nadira menghela napas. Masih dengan senyum manisnya.
...***...
Semua orang di pondok pesantren Al Fathonah turut membantu semua persiapan pengajian tujuh bulanan anak kedua Nadira dan Ammar. Kedua orang tua Nadira (Sultan dan Fenny), serta Haikal (kakak Nadira) dan Yasmin (kakak iparnya), turut serta dalam mempersiapkan acara tersebut. Mereka sengaja meluangkan waktu agar Nadira tidak merasa sedih. Mereka juga tidak ingin Nadira kembali merasa bahwa keluarganya tidak lagi peduli padanya. Sedangkan kakaknya Ammar (Ali), sudah terbang kembali ke luar negeri. Ada urusan di London yang harus dikerjakan.
"Terima kasih semuanya atas bantuan kalian dalam mempersiapkan pengajian tujuh bulanan anakku. Aku sangat terharu dan bersyukur memiliki keluarga yang begitu peduli," ujar Nadira, terharu.
"Tentu saja, Nak. Kamu adalah bagian dari keluarga kami dan kami selalu ingin membantu kamu kapan pun kamu butuhkan," ujar Sultan.
"Kami juga senang bisa membantu membuat acara ini menjadi berjalan lancar. Kamu tidak perlu merasa sedih atau kesepian, karena kami semua ada di sini untuk kamu," ujar Fenny.
"Betul, Nad. Kami semua ingin kamu merasa bahagia dan tenang selama masa kehamilanmu," timpal Haikal.
Yasmin yang juga sedang hamil besar, turut mendukung dan membantu adik iparnya. Meskipun jarak usia kehamilan Nadira tidak terlalu jauh dengan Yasmin, tetapi kondisi Yasmin lebih kuat dari Nadira yang memiliki penyakit bawaan.
__ADS_1
"Jangan ragu untuk meminta bantuan atau dukungan dari kami kapan pun kamu butuhkan, Nadira. Kami semua di sini untukmu," ujar Yasmin, tersenyum.
"Terima kasih, Kak Yasmin. Aku benar-benar merasa dihargai dan dicintai oleh kalian semua. Meskipun Kak Ali tidak bisa ikut dalam acara ini, tapi aku tahu dia selalu mendoakan kita semua, walaupun dari jauh. Dia juga mengirimkan hadiah untuk calon keponakannya yang akan lahir ini." Nadira menunjuk perutnya.
"Tentu saja, Nad. Keluarga kita akan selalu bersatu dalam segala situasi dan keadaan," ujar Haikal.
Lalu, anaknya Nadira merespons dengan menendang.
"Eh, kamu mendengarkan kami bicara, ya? Sampai nendang-nendang," ujar Nadira, melihat dan mengelus perutnya.
Mereka semua tertawa bahagia.
"Apalagi kami semua sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan cucu kedua kami yang akan segera lahir," ujar Lutfi.
"Iya, semoga acara ini membawa berkah bagi anakmu yang akan segera dilahirkan, Nad. Dan semoga kamu sehat selalu, ya," ujar Sultan, menatap anaknya penuh cinta.
"Aamiin ya Rabbal 'alaamiin. Terima kasih banyak untuk doanya, Pa," ujar Nadira, menatap papanya; Sultan. Lalu menatap ayah mertuanya (Lutfi). "Terima kasih juga karena Abi dan Umi sudah memperlakukanku seperti anak kandung sendiri. Aku merasa sangat beruntung memiliki kalian semua."
...***...
Dua jam kemudian, acara tujuh bulanan anak kedua Nadira dimulai dengan suasana yang ramai dan penuh kebahagiaan. Semua orang yang hadir, baik keluarga maupun teman dekat, terlihat sangat antusias dan senang bisa menjadi bagian dari acara ini.
Suasana acara semakin semarak ketika Nadira dan suaminya, Ammar, tiba di lokasi acara dengan pakaian yang indah dan rapi. Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga dan teman-temannya yang sudah menunggu, serta para santri pesantren Al Fathonah.
Di dalam ruangan, terlihat sudah tersedia hidangan dan makanan yang disajikan dengan indah dan menarik. Semua orang terlihat menikmati hidangan tersebut sambil berbincang-bincang dengan satu sama lain.
Tiba saatnya acara utama dimulai, yaitu pengajian tujuh bulanan. Nadira dan Ammar duduk di depan dan diiringi oleh doa dan zikir yang dipimpin oleh Lutfi. Semua orang terlihat sangat khusyuk dan serius dalam mengikuti pengajian ini.
Setelah pengajian selesai, Nadira dan Ammar memberikan kesempatan kepada keluarga dan teman-temannya untuk memberikan ucapan dan doa bagi anak kedua mereka yang sedang dalam kandungan. Ucapan dan doa tersebut membuat Nadira dan Ammar merasa sangat tersentuh dan bahagia.
Acara tujuh bulanan anak kedua Nadira berlangsung dengan penuh kebahagiaan dan berkah. Semua orang merasa sangat senang dan bersyukur atas kehadiran bayi kedua Nadira yang akan segera lahir. Semoga kelahiran anak kedua ini membawa kebahagiaan dan berkah bagi keluarga Nadira dan Ammar.
__ADS_1
...****...