Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Hanya Rindu


__ADS_3

Tidak tahu, rencana indah apa lagi yang akan diberikan oleh Allah kepada Nadira, sehingga masalah datang silih berganti. Dalam beberapa tahun ini, Nadira sudah mulai berdamai dengan semuanya, tetapi luka seakan kembali menganga.



Hari ini, Nadira sedang merindukan orang tuanya, terutama kakaknya; Haikal. Sejak Nadira pindah di pondok pesantren Al Fathonah, milik mertuanya—orang tua dan kakak Nadira tidak pernah menengok. Haikal sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya, fokus mengumpulkan uang karena ingin menikah. Sedangkan kedua orang tua Nadira, selalu saja sibuk dengan pekerjaan mereka.



Nadira memandangi potret kebersamaan dengan keluarganya itu di ponselnya, tak terasa air mata menetes begitu saja. Udara pagi hari di pesantren terasa lebih menyejukkan. Daun-daun gugur, mengenai kepala Nadira. Semua santri sedang sibuk dengan kegiatan mereka, termasuk putranya Nadira, yaitu Hafiz.



Di lingkungan pesantren memang pada tiap sudut, apalagi di taman—sengaja disediakan tempat duduk karena ada kalanya seseorang butuh waktu untuk menyendiri sambil menghirup udara di taman. Apalagi udara pagi hari, sangatlah sejuk. Sesekali ada yang lari pagi untuk olahraga kebugaran sambil memeriksa sekeliling pesantren.



Nadira membuka dan memainkan jemarinya kembali, ada tulisan yang harus diselesaikan. Ada resah yang harus diungkapkan. Ada setumpuk kata di dalam kepala yang harus dituliskan. Nadira membuka laptopnya, sudah ada beberapa bab pada buku ketiganya itu.



"Kenapa mama dan papa belum juga ada kabar, ya? Aku hubungi pun, mereka bilang lagi sibuk, bahkan Kak Haikal yang dulu selalu ada, sekarang sudah jarang menghubungiku." Nadira menghentikan tulisannya. Menutup benda berukuran 14 inci yang berwarna hitam dengan ditempel stiker-stiker lucu. Pikiran Nadira tak menentu, mengajak jalan-jalan untuk menjelajahi hal-hal yang ada di kepalanya. Isi kepalanya benar-benar berisik. Hatinya pun ikut gusar.



"Mungkin mereka memang benar-benar sedang sibuk, tapi setidaknya kan bisa sesekali meluangkan waktu untuk menemui atau sekadar menelepon untuk melepas rindu," batin Nadira bergejolak.



Pikirannya semakin tak menentu, apalagi sejak tinggal di pesantren, banyak kejadian yang tidak enak. Entah ini hanya kebetulan saja atau memang sengaja direncanakan oleh seseorang. Entahlah, pikiran Nadira benar-benar kacau. Perasaannya tidak enak, ada hal yang mengganjal hatinya dan pikirannya terus saja memikirkan hal yang belum pasti terjadi. Ketakutan-ketakutan mulai menghantuinya.



Beberapa menit kemudian, Ammar yang melihat Nadira duduk sendirian di taman, segera menghampiri.



"Nadira! Kamu lagi apa sendirian, di sini?" tanya Ammar.


Wajah Nadira terlihat begitu cemas. Sampai-sampai tidak sadar kalau suaminya sudah duduk di sampingnya.



"Nad. Kamu baik-baik aja?" tanya Ammar, khawatir.

__ADS_1



Genggaman tangan Ammar menyadarkan Nadira dari lamunannya.



"Kamu sejak kapan ada di sini?" tanya Nadira, menghapus air matanya.



"Baru saja, kok. Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu baik-baik aja, kah? Apa lagi yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ammar; tak kuasa melihat kesedihan yang terpancar dari raut muka istrinya.



Nadira menggelengkan kepalanya.



"Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan-tahan. Biar enggak sesek napasnya," ujar Ammar, menyarankan. Lalu, memeluk istrinya.



Dekapan hangat dari Ammar, mampu menenangkan Nadira. Genggaman tangannya, memberikan kekuatan.




Apalagi pemicu utama seseorang sakit, kebanyakan karena permasalahan yang dihadapi membuatnya stres, hingga kondisi fisik melemah. Itu sebabnya tekanan lembut dari berpelukan dinilai dapat menstimulasi kelenjar thymus, yang akan mengatur dan menyeimbangkan produksi sel darah putih. Nah, sel darah putih penting untuk melindungi kita dari penyakit.



Menurut National Sleep Foundation (NSF), berpelukan sebelum tidur selama sepuluh menit dapat membantu tidur lebih nyenyak. Lalu, berpelukan atau sentuhan di siang hari walau cuma sebentar juga dapat meningkatkan kualitas tidur. Namun, hal ini disarankan untuk pasangan halal atau orang tua dan anak.



Selain itu, ada efek biokimia dari sentuhan, yang meliputi peningkatan serotonin (antidepresan dan antinyeri neurotransmitter alami tubuh) dan bertambahnya oksitosin (hormon cinta). Menurut sebuah studi dalam jurnal Psychological Science, tingkat oksitosin yang lebih tinggi dikaitkan dengan persepsi yang lebih besar tentang respons dan rasa terima kasih pasangan, serta cinta yang lebih besar. Bagi orang-orang yang terlibat pertengkaran, pelukan juga dapat membantu meredakan ketegangan atau setidaknya memperbaiki suasana hati.



Manfaat berpelukan bagi kesehatan berpotensi bisa sampai ke jantung. Hal ini sudah diteliti dan dipublikasikan pada jurnal Behavioral Medicine (Washington, D.C.), bahwa partisipan yang berpegangan tangan dengan pasangannya 10 menit, lalu 20 detik berpelukan akan mengalami penurunan detak jantung berlebihan.


__ADS_1


Nadira kerap kali merasa takut dengan hal yang bahkan belum terjadi, itu sebabnya sentuhan atau pelukan dari Ammar dapat membantu mengurangi kecemasan dan rasa terisolasi pada orang yang merasa harga dirinya rendah. Kalau kamu punya teman dekat atau anggota keluarga seperti ini, tak ada salahnya untuk menawarkan pelukan hangat.



Banyak sekali manfaat dari sebuah pelukan untuk seseorang. Penelitian dalam jurnal Holistic Nursing Practice mengkaji penderita fibromyalgia (penyakit dengan gejala nyeri di sekujur tubuh) yang menerima treatment sentuhan. Masing-masing treatment mencakup sentuhan ringan di kulit. Hasilnya, partisipan mengaku nyeri yang dirasakan berkurang. Ketika kamu memeluk, menyentuh, atau berdekatan dengan orang yang kamu sayang, tubuhmu akan mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon oksitosin dapat membantumu merasa relaks dan menurunkan kecemasan. Hal ini pada akhirnya dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan efektif. Itu sebabnya, Nadira merasa lebih baik saat berada dalam pelukan Ammar.



"Kamu mikirin kejadian yang terjadi di pesantren beberapa hari ini, ya? Apalagi ada yang mau mencelakai Hafiz tempo hari." Ammar menebak-nebak pikiran Nadira.



Nadira mengangguk. Karena apa yang dikatakan Ammar memang benar. Itu salah satu yang mengganggu pikiran Nadira.



"Sayang, mama, papa, dan Kak Haikal kok enggak pernah nengok aku lagi, ya, sejak kita tinggal di pesantren? Sesibuk itu kah, sampai enggak bisa ke sini? Dihubungi lewat telepon juga mereka sibuk banget." Wajah Nadira layu bagai bunga belum disiram.



"Kamu kangen banget ya, sama mereka?" tanya Ammar.



"Pakai tanya segala lagi. Jelas kangen, dong. Dulu sebelum kita pindah di pesantren, mereka pasti sesekali sempatin untuk datang ke rumah. Kalau sekarang, kok enggak bisa, ya?" gerutu Nadira.



"Jarak dari rumah mama dan papa kan jauh ke pesantren, kalau ke rumah kita di sana, dekat. Mungkin mama dan papa lagi cari waktu yang pas untuk ke sini, Sayang. Apalagi Kak Haikal, kan sebentar lagi mau nikah, jadi banyak yang harus dipersiapkan." Ammar berusaha membuat Nadira mengerti situasi dan kondisi yang ada.



"Iya, sih. Tapi kan, aku kangen banget sama mereka," ujar Nadira.



"Ya udah, nanti kita yang ke sana, ya. Jenguk mama, papa, sekalian bantu-bantu Kak Haikal mempersiapkan pernikahannya," ujar Ammar, mengecup punggung tangan istrinya.



Wajah Nadira kembali bersinar dan segar, seperti bunga yang baru saja disiram. Senyum sumringah itu yang selalu ingin dilihat oleh Ammar. Setiap pasangan memang butuh waktu mengobrol untuk membicarakan banyak hal. Kalau tidak saling mengobrol, pasti ada saja kecekcokan yang terjadi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2