Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Mencari Rida Allah


__ADS_3

Secangkir kopi hangat, menemani Ammar pagi hari ini. Setelah beberapa tahun menjalani karier seorang seniman, Ammar merenungkan semua nasihat abinya. Dia mulai berpikir, mungkin inilah waktunya meninggalkan pekerjaan yang selama ini digeluti dan mengabdi di pondok pesantren yang didirikan abinya, yaitu Pondok Pesantren Al-Fathonah, sesuai permintaan abinya.


Kilas balik percakapan antara Ammar dan Lutfi.


"Ammar. Abimu ini sudah memasuki usia senja, abi ingin kamu yang meneruskan pondok pesantren ini. Kamu bisa, kan?" pinta Lutfi.


"Abi ...! Aku bukannya enggak mau menuruti permintaan Abi, tapi kan Abi tahu sendiri, aku dari dulu lebih menyukai bidang seni, terutama seni lukis," jawab Ammar.


"Abi enggak tahu kapan ajal menjemput. Abi juga kan sering bilang sama kamu, tentang hadis yang menjelaskan tentang sebuah lukisan atau hukum memajang gambar makhluk bernyawa," ujar Abu Lutfi.


Ammar mengingat hadis-hadis yang pernah dijelaskan abinya dengan penuh perenungan.


Dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang di dunia pernah menggambar-gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)


Kemudian hadis lainnya dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, yang mana masih dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa beliau bersabda,


“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) di neraka, setiap gambar yang ia buat akan diberikan jiwa dan akan mengadzabnya di neraka Jahannam.”


Jadi kesimpulan dari kedua hadis di atas adalah kita tidak boleh menggambar apa pun yang memiliki ruh secara mutlak. Adapun gambar yang tidak memiliki ruh; seperti pohon, laut, gunung, dan lainnya, maka boleh untuk digambar, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma.


Lalu, Ammar melihat lukisan-lukisan yang ada di ruangan dan ingat kalau banyak foto yang dipajang di rumahnya. Ammar terus merenungkan hadis yang pernah disampaikan oleh abinya tentang larangan memajang foto dan lukisan.


Ada banyak hadis yang menerangkan tentang larangan memajang gambar bernyawa di rumah. Sebagaimana Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.


"Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar makhluk bernyawa di dalamnya."

__ADS_1


Dari sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu pun menjelaskan dalam hadis Tirmidzi bahwa Rasulullah melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.


Hadis riwayat Muslim mengatakan bahwa dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jangan kamu membiarkan ada gambar, kecuali kamu hapus dan tidak pula kuburan yang ditinggikan, kecuali engkau meratakannya."


Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata, "Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Ka'bah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimas salam tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau bersabda, "Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun." (HR.Ahmad)


Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau bercerita, "Jibril 'alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, "Masuklah." Lalu Jibril menjawab, "Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai Malas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar." (HR. An-Nasai)


Namun, karena ambisinya dengan dunia seni lukis cukup besar, Ammar tetap kekeh ingin mewujudkan impiannya.


"Tapi, Bi. Impianku untuk menjadi seorang seniman itu besar sekali, loh! Kemampuanku, ada pada seni lukis. Aku cuma minta restu dan rida dari Abi aja, kok!" ujarnya.


"Abi enggak maksa kamu untuk bisa memahaminya sekarang, tapi sebagai orang tuamu, abi cuma bisa menasihati dan mendoakan yang terbaik," ujar Lutfi dengan menunjukkan sebuah brosur kepada putra keduanya tersebut.


"Ini apa, Abi?" tanya Ammar yang belum membaca brosur itu. Kini brosur tersebut, ada di tangannya.


Ammar mulai membaca brosur yang diberikan abinya.


"Abi ingin aku kuliah di sini? Untuk apa, Bi? Aku sudah menyusun rencana sendiri untuk masa depanku," ujar Ammar dengan sedikit kesal. Ada gemuruh dalam dadanya. Ada peperangan di dalam dirinya, terutama hati dan pikiran. Satu sisi, Ammar ingin mewujudkan impiannya. Namun di sisi lain, Ammar tidak ingin melawan abinya; khawatir Allah murka. Sebab dia tidak ingin dibilang anak durhaka karena tidak patuh kepada orang tuanya. Apalagi dia tahu, maksud abinya tersebut—sangatlah baik karena menyangkut tentang ilmu fikih.


"Kamu pikirkan dengan baik, ya. Abi yakin, suatu saat nanti, Allah pasti akan melembutkan hatimu untuk bisa menerima kenyataan yang harus di jalani. Dunia ini sementara, Nak. Hanya tempat singgah. Akhirat adalah tempat tinggal yang sebenarnya," ujar Lutfi, menutup percakapan pada malam itu.


Ammar menjadi dilema, apa yang harus dilakukan? Dia pun melakukan salat istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan hidupnya.


Salat Istikharah adalah salat sunnah yang dikerjakan untuk meminta petunjuk kepada Allah oleh mereka yang berada di antara beberapa pilihan dan merasa ragu-ragu untuk memilih atau saat akan memutuskan suatu hal guna menghapuskan kebimbangan, hingga hati menjadi mantap dan tidak ada rasa kecewa di kemudian hari.

__ADS_1


Kondisi untuk memilih yang paling benar dan terbaik, memang seringkali menempatkan kita kepada kebimbangan. Apabila semua pilihan terasa sama bagusnya, hingga kita amat bingung untuk memutuskannya, maka salat istikharah adalah jawaban yang paling tepat pada kondisi seperti ini.


Dalam konteks ibadah, Istikharah merupakan salat sunnah yang dikerjakan 2 rakaat atau 12 rakaat (6x salam) untuk memohon petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat dihadapi sejumlah pilihan—bisa dua atau beberapa pilihan—agar Allah memberinya petunjuk untuk memilih yang benar dan terbaik.


Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda dalam hadis riwayat Al-Bukhari.


“Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah salat dua rakaat yang bukan salat wajib, kemudian berdoalah."


Saat masih merenungi nasihat-nasihat dari abinya, tiba-tiba Ammar dikagetkan oleh suara Nadira yang sambil melambai-lambaikan tangannya karena Ammar terlihat sedang melamun.


"Ammar. Kamu melamun?" tanya Nadira.


"Iya. Gimana? Tadi kita lagi ngomongin apa?" tanya Ammar yang menjadi linglung. Karena sebelum melamun, Ammar sedang berbicara dengan Nadira terkait Ali; kakaknya Ammar. Nadira tak sengaja bertemu dengan Ali di suatu tempat dan Ali pun melihat Nadira, lalu menghampiri adik iparnya tersebut. Ali mencoba memprovokasi Nadira agar meninggalkan Ammar; Ali masih merasa sakit hati dengan uminya Ammar yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Lebih tepatnya, belum bisa menerima orang baru dan takut posisi uminya tergantikan, padahal uminya sudah meninggal dunia.


"Kamu baik-baik aja, kah? Apa ada masalah atau hal lain yang ingin kamu ceritakan kepadaku?" tanya Nadira, menggenggam tangan Ammar.


"Aku lagi memikirkan nasihat dari abi tentang pekerjaanku," jawab Ammar dengan lesu.


"Emm, boleh aku memberikan sedikit pesan untukmu?" tanya Nadira dengan hati-hati, meminta izin untuk menanggapi kedilemaan dari suaminya tersebut.


Ammar mengangguk, lalu meneguk kembali kopi yang tak lagi hangat sebab ditinggal pergi oleh lamunannya beberapa menit lalu.


"Sebagai seorang istri, aku cuma bisa mendukung keputusanmu dan mendoakan yang terbaik. Namun, kalau boleh aku sarankan, ada baiknya kamu mengikuti apa yang abi katakan. Kan kamu yang bilang sama aku, kita di dunia ini yang dicari adalah rida dari Allah, bukan terlalu ambisi dengan keinginan yang mungkin malah jadi bumerang untuk kehidupan setelah kematian. Aku juga sebagai seorang muslim, masih banyak belajar tentang ilmu fikih, tauhid, dan lainnya. Semoga kita bisa terus menjadi lebih baik dan baik lagi agar selamat di dunia dan akhirat," ujar Nadira, bicara dengan hati-hati agar tidak terkesan menggurui suaminya. Karena bagaimanapun juga, suaminya adalah imamnya. Nakhoda di dalam sebuah keluarga.


"Dulu juga kamu kan dilema untuk memilih kuliah di mana, universitas yang kamu pilih atau pilihan abi. Akhirnya kamu memilih universitas pilihan abi setelah salat istikharah, kan? Jadi, sekarang kamu minta petunjuk dari Allah dan mohon ampun. Aku percaya, kamu akan memilih jalan yang terbaik dalam hidupmu, sesuai syariat Islam," tambah Nadira seraya tersenyum.

__ADS_1


Pagi hari ini, menjadi sebuah perenungan untuk Ammar dan juga Nadira yang masih terus belajar menjadi menjadi makhluk ciptaan Allah yang terbaik.


...****...


__ADS_2