Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Keberangkatan Hafiz ke Kairo


__ADS_3

Pagi itu, Nadira bangun lebih awal dari biasanya. Dia mulai menyusun daftar keperluan yang harus dibawa Hafiz ke Kairo. Dia merasa cemas dan sedih melepaskan putranya, tetapi dia juga bangga karena Hafiz akan melanjutkan studinya di salah satu universitas terbaik di dunia.


Nadira memeriksa daftar keperluan beberapa kali untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan. Dia juga memeriksa ulang paspor dan tiket penerbangan Hafiz untuk memastikan semuanya sudah lengkap dan benar.


Tidak lama kemudian, Ammar menghampiri istrinya yang sedang sibuk. Terlihat jelas dari rawut wajah Nadira yang sangat kelelahan, tapi seorang ibu pasti akan selalu memastikan anaknya baik-baik saja dan tidak ingin anaknya mengalami kekurangan selama jauh dari keluarga.


"Apa yang kamu lakukan, Sayang? Sepertinya kamu sudah sangat lelah," tanya Ammar sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Aku sedang memeriksa daftar keperluan Hafiz untuk keberangkatannya ke Kairo. Aku ingin memastikan semuanya sudah siap dan tidak ada yang terlewatkan," jawab Nadira. Matanya tetap fokus dengan apa yang sedang dikerjakan.


"Kalau begitu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Ammar melepaskan pelukannya.


"Tolong periksa daftar ini dengan teliti. Aku ingin memastikan tidak ada yang terlewatkan," pinta Nadira seraya memberikan selembar kertas yang ditulis olehnya.


"Siap, Ibu negara!" Ammar pun dengan sigap, langsung memeriksa kelengkapannya sesuai daftar yang baru saja diberikan oleh Nadira.


Sedangkan Nadira, mengerjakan yang lainnya.


"Sepertinya, semua sudah lengkap, Sayang. Kamu sudah memeriksanya berkali-kali. Semuanya sudah siap dan lengkap, aku juga sudah memastikannya," ujar Ammar sambil menutup koper yang akan dibawa oleh Hafiz.


"Tapi aku masih merasa cemas. Apa aku sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik? Aku hanya ingin memastikan semuanya benar-benar sudah siap. Aku tidak ingin ada masalah saat Hafiz pergi," ujar Nadira, menatap suaminya.


"Tentu saja, Sayang. Kamu telah menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Tidak ada yang terlewatkan. Aku juga sudah memeriksa semuanya dengan teliti. Hafiz pasti akan baik-baik saja di sana. Kita sudah siap mengantar Hafiz ke bandara," ujar Ammar sambil memeluk dan mengecup kening istri tercintanya.


"Terima kasih, Ammar. Aku merasa lega mendengar itu dari kamu. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu," ujar Nadira. Setidaknya pelukan dari Ammar sedikit mengurangi rasa cemasnya.


"Ini tanggung jawab kita bersama, Sayang. Kita harus bekerja sama untuk memastikan semuanya berjalan lancar," ujar Ammar seraya melepaskan pelukannya dan menghadapkan posisi Nadira ke arahnya. Ammar memegang pundak Nadira. "Kamu tahu, Sayang, sebagai seorang ibu, kecemasan itu wajar. Tapi, kamu harus mempercayai dirimu sendiri dan tahu bahwa kamu telah melakukan yang terbaik untuk Hafiz."


"Ya, kamu benar. Terima kasih atas bantuanmu. Kamu selalu memberikan dukungan dan keyakinan padaku. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya ya, Sayang," ujar Nadira, tersenyum.


"Sama-sama, Sayang. Aku selalu siap membantumu kapan pun. Kita harus selalu mendukung dalam setiap keadaan. Sekarang, ayo istirahat sebentar. Nanti kita harus siap-siap mengantar Hafiz ke bandara," pinta Ammar.


Nadira mengangguk dan hendak pergi ke kamar tidur, tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Hingga akhirnya, Nadira jatuh pingsan.


Ammar dengan sigap memeluk Nadira yang pingsan dan membawanya ke kamar tidur. Dia membaringkan istrinya di tempat tidur dan segera memberitahu Abi dan Uminya yang sedang berada di ruang tamu.


"Abi, Umi, cepat masuk ke kamar. Nadira tiba-tiba pingsan," ujar Ammar, panik.


Abi Lutfi dan Umi Aisyah langsung mengikuti Ammar menuju kamar tidur dan melihat Nadira yang terbaring tak sadarkan diri. Lutfi segera memeriksa keadaan Nadira dan mencoba membangunkannya, tetapi Nadira tetap tidak merespons.


"Ammar, panggil dokter sekarang juga!" Perintah Lutfi.


Ammar segera menghubungi dokter keluarga dan memberikan informasi tentang kondisi Nadira. Sementara itu, Lutfi dan Aisyah mencoba memberikan pertolongan pertama pada Nadira dengan mengatur posisi tubuhnya dan memberikan minum air putih hangat. Tubuh Nadira sangat pucat. Hal ini yang menambah semua orang semakin cemas.


Beberapa saat kemudian, dokter tiba dan langsung melakukan pemeriksaan pada Nadira. Setelah memeriksa dan mengevaluasi keadaan Nadira, dokter memberikan beberapa tindakan pertolongan pertama dan menyarankan agar Nadira dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.


Ammar, Lutfi, dan Aisyah segera menyiapkan Nadira untuk dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil keluarga. Setelah tiba di rumah sakit, Nadira langsung dirawat oleh tim medis dan menjalani beberapa tes kesehatan untuk menentukan penyebab dari pingsannya.


Karena terlalu panik, mereka lupa memberitahukan ini kepada Hafiz. Anak pertama Nadira dan Ammar itu sedang bersama teman-temannya di pondok. Ammar pun meminta tolong kepada kakaknya (Ali) untuk menyusul mereka di rumah sakit.

__ADS_1


"Abi, aku lupa memberitahu Hafiz kalau mamanya harus dibawa ke rumah sakit. Dia pasti khawatir kalau tahu mamanya sakit," ujar Ammar dengan perasaan campur aduk.


"Ya, sebaiknya segera hubungi Hafiz dan beritahu tentang kondisi mamanya. Jangan sampai dia mengira, mamanya pergi tanpa kabar yang jelas," ujar Lutfi.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Nadira sendirian di sini. Bagaimana kalau aku meminta tolong Kak Ali untuk memberitahu Hafiz?" ujar Ammar, meminta saran.


"Baiklah, itu ide yang baik. Segera hubungi Ali dan minta tolong dia untuk menyusul Hafiz di pondok dan memberitahu kondisi mamanya," ujar Lutfi.


Tanpa menunda waktu, Ammar segera menghubungi Ali dan memberitahukan situasi yang terjadi. Ali langsung merespons dengan cepat dan berjanji untuk segera menyusul Hafiz di pondok, serta memberitahu kabar tentang mamanya yang harus dibawa ke rumah sakit.


"Terima kasih, Kak. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa tanpamu."


"Jangan khawatir, Ammar. Aku selalu siap membantu kapan saja."


Setelah itu, Ali segera berangkat ke pondok untuk menyampaikan kabar kepada Hafiz. Ammar dan keluarga lainnya tetap berada di rumah sakit untuk mendampingi Nadira selama perawatan di rumah sakit.


***


Beberapa jam kemudian, Ali dan Hafiz tiba di rumah sakit dengan napas tersengal-sengal.


"Hafiz, ayo percepat langkahmu! Mamamu sedang dirawat di sana," ujar Ali seraya menunjuk ruangan di mana Nadira dirawat dan membantu keponakannya berjalan agar bisa segera sampai.


"Apa yang terjadi dengan mamaku? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Hafiz, khawatir.


"Tenang saja, Hafiz. Dokter sudah menanganinya. Kita hanya perlu menunggu dan berdoa untuk kesembuhannya," ujar Ammar.


Hafiz terlihat khawatir. Dia terus bertanya, "Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Aku tidak tahu persis, karena aku baru tiba di sini bersama kamu. Tapi papamu sedang berada di ruangan dokter dan dia pasti akan memberitahukan kabar terbaru tentang kondisi mamamu," ujar Ali. "Nah, itu kakek dan nenekmu! Ayo kita menghampiri mereka!" Ali dan Hafiz pun sampai di hadapan Lutfi dan Aisyah.


Hafiz menanyakan kondisi mamanya kepada kakek dan neneknya. Sedangkan Ammar, masih berada di ruangan dokter yang menangani Nadira.


"Nenek, Kakek, bagaimana kondisi mamaku?" tanya Hafiz.


Aisyah menyuruh Hafiz duduk.


"Kamu duduk dulu, ya. Minumlah ini," ujarnya sambil seraya memberikan botol minuman kepada cucunya itu dan juga tidak lupa memberikan kepada Ali, botol minuman yang lainnya.


"Mamamu sedang dalam perawatan, Sayang. Tapi jangan khawatir, dokter sedang merawatnya dengan baik," ujar Aisyah, mencoba menenangkan cucunya.


"Kita semua sudah berdoa untuk kesembuhan mamamu, Hafiz. Kamu juga harus ikut mendoakan dan mendukung kesembuhan mamamu, ya!" Lutfi terus meminta pertolongan kepada Allah dengan zikir dan doa.


Sementara itu, santri-santri yang ada di Pondok Pesantren Al Fathonah pun turut mendoakan kesembuhan Nadira.


"Tentu saja, Kek. Aku akan selalu berdoa dan berharap mamaku cepat sembuh. Terima kasih sudah mengurus mamaku," ujar Hafiz.


"Kamu tidak perlu berterima kasih begitu, Hafiz. Kita ini keluarga, sudah sepatutnya saling mendoakan dan mendukung dalam keadaan apa pun," ujar Aisyah, mengelus-elus kepala cucunya itu.


Lalu, Ammar keluar dari ruangan dokter. Dia melihat Hafiz dan Ali sudah di ruang tunggu bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Hafiz, bagaimana kamu? Apa kamu sudah makan dan minum?" tanya Ammar, khawatir dengan kondisi putranya. Dia takut Hafiz ikut sakit karena memikirkan mamanya sedang terbaring di rumah sakit.


"Sudah, Pa. Tapi aku khawatir dengan mama. Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Hafiz. Wajahnya tegang. Dia takut mamanya meninggal karena beberapa hari lalu, salah satu orang tua temannya, meninggal karena sakit.


"Hafiz, mamamu sedang dalam perawatan karena kelelahan. Kamu tahu kan, mamamu memang punya sakit darah rendah dan magh kronis yang bisa membuat kondisinya buruk kalau terlalu lelah atau banyak pikiran."


"Iya, aku tahu. Tapi apa hanya itu yang membuat mama pingsan tadi, Pa?"


"Ya, sepertinya kondisi mamamu memburuk karena terlalu lelah. Tapi jangan khawatir, dokter sedang merawatnya dengan baik."


"Baiklah, Pa. Aku akan selalu berdoa untuk kesembuhan mama."


"Iya, itu yang harus kita lakukan. Oh ya, satu lagi kabar baik, Hafiz. Kamu akan menjadi seorang kakak!"


Semua orang merasa senang mendengarkan kabar bahagia ini.


"Serius, Pa? Benarkah itu?" Hafiz merasa tak percaya kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang kakak setelah sekian tahun menanti dan meminta kepada Allah agar dirinya punya teman bermain. Yah, dalam artian, dia ingin merasakan bagaimana memiliki seorang adik."


"Ya, benar. Mamamu sedang mengandung anak kedua. Kamu akan menjadi seorang kakak yang hebat."


"Wow, itu sungguh kabar yang menggembirakan. Terima kasih, Pa!" Hafiz memeluk papanya dengan erat.


"Benar. Kamu akan menjadi seorang kakak yang hebat, Hafiz. Kami semua sangat senang dengan kabar baik ini," ujar Aisyah, menanggapi ucapan Ammar.


"Ya, dan kami akan selalu ada untuk membantu serta mendukung keluarga, termasuk adikmu yang akan segera datang," timpal Lutfi.


"Terima kasih banyak, Nenek dan Kakek. Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik bagi adikku."


"Selamat ya, Hafiz. Eh, tapi kalau adik kamu lahir, kamu udah pulang belum ya, ke Indonesia? Kan nanti malam kamu akan berangkat ke Kairo," ujar Ali yang membuat Hafiz kembali berpikir.


"Terima kasih, Om. Iya, juga. Kalau gitu, nanti akan aku usahakan, ketika adikku lahir, aku akan pulang. Ya, minta izinlah sama dosenku nanti," ujar Hafiz dengan memperlihatkan giginya.


"Kalau misalkan dosenmu tidak mengizinkan karena kamu harus menyelesaikan tugas kuliah yang banyak atau kamu sedang ujian, gimana?" Ali semakin membuat Hafiz berpikir keras.


"Hmm. Ya sudah deh, terpaksa, harus video call. Sementara, ketemu virtual dulu deh, sama adikku." Hafiz tampak sedih, tapi mau bagaimana lagi, dia harus melanjutkan pendidikannya.


Semua orang tertawa melihat percakapan Ali dan Hafiz. Tidak menyangka, Ali bisa cepat mengakrabkan diri dengan keponakannya sejak kejadian kecelakaan tempo lalu. Bagi Hafiz, pamannya itu adalah pahlawan karena sudah menyelamatkan dia dan membuat keluarga bersatu kembali.


Malam harinya, setelah semua persiapan selesai, Nadira bersiap untuk ikut mengantar Hafiz ke bandara. Dia memeluk putranya dengan erat dan memberikan beberapa nasihat terakhir sebelum akhirnya melepas Hafiz untuk pergi ke Kairo.


Ammar meminta Nadira untuk lebih menjaga kesehatannya. Dia tidak ingin mengambil resiko, mengingat kondisi kesehatan Nadira yang sempat menurun. Apalagi, tadi pagi dokter menyarankan agar Nadira banyak istirahat. Nadira mengikuti perintah suaminya.


Sementara itu, Sultan, Fenny, Haikal, dan Yasmin menyusul ke bandara. Kebahagiaan semakin lengkap karena Yasmin juga sedang mengandung anak pertama dengan Haikal. Artinya, Nadira akan menjadi seorang ibu anak dua, sekaligus perdana memiliki keponakan. Hafiz semakin senang karena dia akan memiliki dua adik.


Setelah pesawat yang ditumpangi Hafiz sudah berangkat. Mereka pisah di bandara. Sultan dan Fenny kembali ke rumah mereka. Begitupun dengan Haikal dan Yasmin. Sedangkan Nadira, Ammar, Lutfi, Aisyah, dan Ali, mereka kembali ke pesantren Al Fathonah karena tinggal di sana.


Nadira kembali ke pesantren dengan perasaan campur aduk. Dia merasa sedih dan rindu dengan keberadaan Hafiz. Padahal mereka baru pisah beberapa jam lalu, tetapi Nadira sangat bangga dengan pencapaian putranya. Dia berdoa agar Hafiz selalu dalam perlindungan Allah dan berhasil meraih cita-citanya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2