
Dua bulan kemudian, saat sedang sarapan, perut Nadira tiba-tiba merasa mulas. Ammar langsung berdiri untuk menenangkan istrinya.
"Kamu kenapa, Nad? Perutmu terasa sakit?" tanya Ammar. Tampak jelas kekhawatiran yang terlihat dari wajahnya. Dia mengusap-usap perut istrinya sambil mencari kontak telepon di ponselnya.
Ammar benar-benar takut terjadi apa-apa dengan istri dan calon bayinya.
"Kamu tenang dulu ya, Sayang. Aku lagi coba telepon dokter kandunganmu, nih!" ujar Ammar yang berkali-kali menghubungi dokter, tapi belum juga terhubung.
"Sayang. Aku udah enggak tahan. Udah sakit banget, nih! Kayaknya anak kita udah mau keluar ini," ujar Nadira sambil meringis kesakitan.
"Duh, enggak diangkat-angkat juga, nih!" Ammar makin panik karena istrinya terus merasakan sakit.
Karena tidak ingin mengambil resiko dan tidak tega melihat istrinya terus-terusan kesakitan, Ammar langsung membopong Nadira menuju mobil. Dia melanjukan mobilnya sedikit cepat agar bisa segera sampai di Rumah Sakit Hidayah Ibu. Kira-kira sekitar dua jam sampai dua setengah jam kalau jalanan tidak macet, mereka sudah sampai di rumah sakit tersebut. Namun, kalau jalanan macet, bisa berjam-jam.
"Sayang. Sakit banget, nih!" ujar Nadira seraya memegang perutnya yang buncit.
"Kamu tenang, ya. Aku ikutan panik nih, kalau kamu enggak tenang gini," ujar Ammar yang fokus ke depan, sesekali menengok istrinya.
"Iya, tapi sakit banget ini. Aku enggak tahan," ujar Nadira seraya menjerit kesakitan.
Ammar menambah kecepatan mobilnya.
"Pelan-pelan, Sayang. Auu, sakit. Di dalam mobil ini, aduuhh sa ... ki ...t, ada nyawa tiga orang, loh! Adududuh ... sakit ...! Utamakan keselamatan kita juga," ujar Nadira meringis kesakitan sambil berpegangan karena Ammar mengemudikan mobilnya sedikit ngebut.
"Iya ..., iya ..., ini aku pelan-pelan, tapi kamu juga jangan buat aku panik, dong." Ammar ikut merasakan sakit yang dirasa istrinya. Keringatnya sampai bercucuran, dari ujung kepala sampai kaki.
"Satu jam lagi sampai, nih! Keadaan lagi bersahabat dengan kita, jalanannya enggak macet."
Setelah menempuh perjalanan dua jam, akhirnya Ammar dan Nadira tiba juga di Rumah Sakit Hidayah Ibu. Ammar pun langsung memarkirkan mobilnya dan membopong istrinya menuju ruang UGD.
Beberapa suster sedang sibuk dengan pasien-pasien di sana dan ada salah seorang suster yang menghampiri Ammar dan Nadira. Posisinya, Nadira sudah duduk di kursi roda.
"Istrinya kenapa, Pak?" tanya suster itu.
"Sepertinya istri saya akan melahirkan, Sus," jawab Ammar dengan napas tersenggal sambil menghapus keringat yang mengalir di wajahnya.
"Kalau begitu, ayo kita bawa ke dalam ruang bersalin agar segera ditangani oleh dokter." Suster itu memandu Ammar untuk ke ruang bersalin, di mana ruangannya tidak terlalu jauh dari UGD.
Ammar mendorong kursi roda tersebut dengan hati-hati karena sadar kalau istrinya sedang hamil besar.
Di perjalanan menuju ruangan, suster yang sedari tadi bersama Ammar dan Nadira, meminta temannya untuk memanggil dokter.
Tiba di suatu ruangan, suster tersebut meminta Ammar menunggu sebentar. Tak lama kemudian, dokter dan beberapa suster lainnya datang untuk memberikan pertolongan pada Nadira dan calon bayinya.
__ADS_1
Ammar diminta untuk mendampingi istrinya, memegang tangan sang istri agar lebih rileks (tenang). Sementara itu, dokter dan beberapa suster sedang berusaha untuk menolong Nadira yang akan segera melahirkan.
...***...
Zaman dulu, persalinan melalui vaginalah yang menjadi satu-satunya jalan untuk mengeluarkan bayi di dalam perut sang ibu. Seiring berjalannya waktu, apalagi teknologi pada zaman sekarang sudah semakin canggih, ibu hamil yang akan melahirkan bisa memilih untuk melahirkan melalui \*\*\*\*\*\* atau operasi caesar. Namun, kalau memang kondisi si ibu bisa melahirkan melalui \*\*\*\*\*\*, disarankan untuk lahir melalui \*\*\*\*\*\* saja karena pemulihannya lebih cepat daripada melahirkan dengan operasi caesar. Keduanya memang memiliki resiko masing-masing, tetapi tujuannya sama-sama ingin membuat persalinan berjalan lancar serta memastikan ibu dan bayi selamat.
Adapun tahapan-tahapan persalinan pada ibu hamil yang dikutip dari situs halodoc, yaitu dari pembukaan satu sampai sepuluh.
Tahapan pembukaan awal dari persalinan ini terjadi ketika mulut rahim membuka sebesar 1 sentimeter. Hal ini dapat terjadi selama beberapa hari, tanpa adanya kontraksi. Namun, sebagian wanita dapat mengalami kontraksi selama 2–6 jam. Hal ini dapat membuat ibu hamil mengalami perasaan mual dan nyeri pada punggung atau pinggang. Terkadang lendir yang bercampur darah juga dapat ditemukan keluar dari \*\*\*\*\*\*.
Pembukaan dua pada persalinan berarti mulut rahim sudah membuka 2 sentimeter. Hal ini masih memasuki tahap awal dari persalinan yang dapat terjadi dalam waktu berjam-jam. Wanita hamil yang mengalami momen ini akan merasakan kontraksi yang lebih sering, disertai perut mulas dan kram. Cobalah untuk jalan ringan di sekitar rumah agar kontraksi yang timbul tidak terlalu terasa.
Pembukaan tiga pada persalinan ini menjelaskan, jika mulut rahim sudah membuka sebesar 3 sentimeter, maka kontraksi semakin intens dengan hanya berselang setengah jam. Janin sudah mulai aktif berusaha menuju mulut rahim agar kelahiran berjalan lancar. Saat ini terjadi, ada baiknya langsung menuju tempat persalinan.
Pada pembukaan empat, ibu hamil akan merasakan bahwa mulut rahimnya semakin terbuka, yaitu sekitar 4 sentimeter. Momen ini dapat menyebabkan ibu hamil mengalami pecah ketuban dan posisi janin semakin mendekati jalan lahir menuju mulut rahim.
Pada pembukaan lima, persalinan ini dapat menimbulkan durasi kontraksi yang lebih lama dari sebelumnya. Ibu dapat merasakannya terjadi sekitar 1–5 menit tiap kali terjadi. Saat ini terjadi, kepala janin sudah semakin masuk yang siap untuk persalinan.
Pada tahap pembukaan enam, kontraksi akan terasa semakin intens dengan rentang waktu yang sangat berdekatan. Ahli medis yang mengurus persalinan mungkin sudah dapat merasakan kepala janin saat memasukkan tangan dari rahim.
Saat kondisi pembukaan tujuh, mulut rahim semakin melebar yang mencapai 7 sentimeter. Janin juga terus berusaha menuju jalan lahir. Ibu hamil disarankan untuk mengatur napas agar lebih rileks dan menjaga tenaga hingga ahli kesehatan menyuruh untuk mendorong janin agar keluar.
Pembukaan pada serviks sudah mencapai 8 sentimeter dan kontraksi yang terjadi semakin tidak tertahankan. Ibu juga dapat merasa kelelahan karena sudah menghabiskan banyak tenaga saat kontraksi terus terjadi. Dukungan dari suami dan keluarga sangat penting agar ibu tetap kuat untuk melahirkan normal.
Lalu pada pembukaan sembilan, mulut rahim sudah semakin terbuka lebar, tetapi belum saatnya untuk ibu mengejan. Cobalah untuk tidak mengejan meski merasakan dorongan yang kuat dari tubuh untuk melakukannya. Siapkan semua tenaga ketika sudah terjadi pembukaan selanjutnya.
...***...
"Sudah pembukaan delapan," ujar dokter seraya meminta yang lain menyiapkan alat yang dibutuhkan untuk persalinan. Dokter Diana, namanya. Dokter inilah yang memeriksa kandungan Nadira selama masa kehamilan hingga kini dia akan melahirkan.
Ammar memegang tangan istrinya sambil melafalkan doa-doa keselamatan.
Beberapa menit kemudian, Nadira berteriak karena merasakan sakit yang luar biasa. Tenaganya hampir habis karena sedari tadi berteriak. Nadira sampai mengeluarkan air mata, saking sakitnya.
"Tenaganya jangan dihabiskan ya, Mbak. Siapkan nanti ketika saya minta untuk mengejan. Ini sudah pembukaan sembilan. Mbak atur napas, ya," saran Dokter Diana. Lalu meminta suster mengambilkan air agar Nadira bisa minum. "Suster, tolong ambilkan air minum untuk Mbak Nadira. Dia tidak boleh kehilangan tenaga karena Mbak Nadira sebentar lagi akan segera melahirkan. Jadi, dia butuh tenaga untuk membantu bayinya keluar."
Suster memberikan air minum tersebut kepada Ammar agar bisa membantu Nadira minum. Nadira meminum satu botol air mineral itu sampai habis. Lalu, mengatur napasnya yang seakan sesak.
"Yuk, pelan-pelan saja ya, Mbak. Atur napasnya, lalu kalau saya suruh mengejan, tolong mengejan, ya!" perintah Dokter Diana sambil fokus memerhatikan bayi yang akan keluar.
Tidak lama kemudian, Dokter Diana menyuruh Nadira mengejan karena kepala bayi sudah mulai terlihat. Akhirnya, setelah menunggu beberapa jam, bayi mungil itu pun keluar. Nadira menghela napas panjang dengan bermandian keringat. Tangan Ammar menjadi korban karena pegangan Nadira yang sangat kuat.
Suara tangisan bayi melengking, terdengar sampai di luar ruangan. Ammar mengucap syukur kepada Allah atas anugerah terindah yang diberikan. Nadira telah melahirkan anak pertamanya dengan sehat dan sempurna. Ammar pun melafalkan doa untuk anaknya yang baru lahir seperti yang diajarkan dalam Islam. Selain orang tua yang harus mendoakan bayinya, siapa pun orang-orang yang menjenguk bayi, sebaiknya ikut memberikan doa. Hal ini dapat dilakukan oleh ayahnya atau jika tidak ada, maka boleh diwakilkan oleh keluarganya.
Adapun tata cara membacakan doa kepada anak yang baru lahir, yaitu :
Mengazankan di telinga bayi sebelah kanan.
__ADS_1
Membaca ikamah di telinga bayi sebelah kiri.
Membaca doa untuk anak yang baru lahir.
Allahummaj'alhu barran taqiyyan rasyidan wa-anbit-hu fil Islam nabatan hasanah.
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam Islam dengan pertumbuhan yang baik."
Membaca surat Al Ikhlas di telinga bayi sebelah kanan.
Membaca surat Al Qadr di telinga bayi sebelah kanan.
Membaca surat Al Imran (3:36) di telinga bayi sebelah kanan.
Wa inni u'idzu bika wadzurriyyataha minasysyaithanir rajim.
Artinya: "Aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau dari pada setan yang terkutuk."
Terakhir, ditutup dengan doa memohon perlindungan untuk anak, sebagai berikut:
A'udzu bikalimatillahi at tammati min kulli syaithanin wa hammatin wamin kulli'anin lammatin.
Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat."
Setelah selesai berdoa, Ammar menyerahkan anaknya yang lahir berjenis kelamin laki-laki itu kepada suster untuk dimandikan. Lalu, Ammar langsung melihat istrinya yang baru selesai dijahit. Ammar mengecup kening istrinya dengan penuh cinta dan berterima kasih karena telah menjadi perempuan dan kini menjadi seorang ibu yang hebat. Meskipun sempat ada rasa khawatir karena selama masa kehamilan, banyak drama yang terjadi. Apalagi GERD Nadira terkadang kumat dan sempat dilarikan ke rumah sakit saat kelelahan dalam membantunya mempersiapkan keperluan untuk Pekan Kebudayaan Nasional. Nadira tersenyum dan tidak sabar, ingin melihat wajah putranya.
Tidak lama kemudian, suster membawa anak pertama dari Ammar dan Nadira yang sudah dimandikan dan dipakaikan bayi serta dibedong.
"Masyaa Allah, anak kita ganteng banget, ya? Hidungnya mancung seperti papanya." Nadira mencium pipi dan kening anaknya.
"Iya. Alhamdulillah. Anak kita juga lahir dengan sehat dan sempurna. Ini berkat pertolongan Allah, melalui dokter dan suster-suster yang ada di sini," ujar Ammar, sesekali melihat Dokter Diana dan beberapa suster di sana.
"Baiklah. Sekarang saya tinggal dulu, ya. Masih ada pasien lain yang harus saya tangani. Semoga Mbak Nadira lekas pulih dan kalau ada apa-apa, bisa panggil Suster Siska. Dia yang akan melayani selama Mbak Nadira dirawat di rumah sakit ini," ujar Dokter Diana sambil tersenyum.
"Baik, Dok. Terima kasih telah membantu saya dalam proses persalinan," ujar Nadira yang masih mendekap putranya.
"Iya. Sama-sama, Mbak." Dokter Diana pun meninggalkan ruangan. Membiarkan Nadira dan Ammar merayakan kehadiran putra tercinta mereka.
...****...
__ADS_1