
Hari ini, Nadira mengalami momen yang luar biasa. Bukan hanya sebagai penulis yang sukses meluncurkan buku ketiga tentang pesantren, tetapi juga buku keempatnya yang berjudul "Cinta dalam Cerita". Perjalanan Nadira sebagai penulis telah menginspirasi banyak orang dan kini dia merasa bahagia, serta bangga atas pencapaian barunya.
Buku ketiga Nadira, yang bertemakan tentang pesantren adalah proyek yang sangat istimewa baginya. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengumpulkan cerita dan pengalaman suami serta anak-anaknya yang belajar di pesantren. Buku ini bukan hanya mencerminkan kehidupan di pesantren, tetapi juga menggambarkan keberagaman budaya, nilai-nilai agama, dan kebijaksanaan spiritual yang diwariskan dalam lingkungan pesantren.
Penerimaan buku tentang pesantren ini sungguh luar biasa. Buku Nadira dengan cepat menjadi bestseller dan mendapat pengakuan dari para kritikus sastra serta pembaca. Pesan yang disampaikan dalam buku tersebut menarik perhatian banyak orang, termasuk pemerintah yang memberikan beasiswa kepada Nadira dan keluarganya sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam mempromosikan nilai-nilai pesantren.
Bukan hanya itu, buku keempat Nadira yang berjudul "Cinta dalam Cerita", menandai perjalanan baru dalam karir penulisannya. "Cinta dalam Cerita" adalah karya fiksi romantis yang mengisahkan kisah cinta yang melibatkan karakter yang kuat dan penuh pesona.
Nadira merasa senang dan sedikit gugup saat mempresentasikan bukunya di hadapan para penggemar dan pembaca setianya. Ia berbagi tentang inspirasi di balik tulisannya dan memberikan sedikit petunjuk tentang alur cerita yang menarik perhatian semua orang.
"Selamat kepada Nadira atas peluncuran bukunya yang baru, yaitu "Cinta dalam Cerita" dan buku tentang pesantren! Itu adalah pencapaian yang mengagumkan. Memiliki dua buku yang diterbitkan secara bersamaan menunjukkan dedikasi dan kerja kerasmu dalam mengeksplorasi topik yang berbeda. Mari kita berikan tepuk tangan meriah kepada Nadira Humairah Az-Zizah," ujar pewara yang tidak asing lagi, yaitu Sarah. Seorang perempuan yang dulu pernah menjadi pewara dalam pelucuran buku perdananya dan takdir membawa mereka menjadi keluarga setelah Sarah menikah dengan kakak iparnya Nadira, Ali.
Tepukan tangan dari semua yang hadir, memenuhi ruangan. Mata Alifa berkaca-kaca. Tidak menyangka bahwa perjalanannya bisa sampai sejauh ini.
"Selanjutnya, saya akan membacakan poin-poin penting yang telah dirangkum dari hasil penjelasan Nadira tentang kedua bukunya ini," ujar Sarah dengan senyumannya yang khas, memperlihatka lesung pipinya.
Tanpa basa-basi lagi, Sarah mulai membacakan poin yang dimaksud.
Buku tentang pesantren, yang diambil dari pengalaman suami dan anak-anaknya, terdengar sangat menarik. Pesantren adalah institusi pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Mungkin buku ini berisi cerita dan pengalaman tentang kehidupan sehari-hari di pesantren, nilai-nilai yang diajarkan, dan pengaruhnya terhadap individu dan masyarakat. Saya yakin banyak orang yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia pesantren melalui perspektif keluarga Nadira.
__ADS_1
Sementara itu, buku "Cinta dalam Cerita" sepertinya menjanjikan sebuah karya fiksi yang mungkin berfokus pada tema cinta dan romansa. Setiap cerita dalam buku ini menggambarkan berbagai jenis cinta dan hubungan manusia dengan segala nuansanya. Mungkin ada kisah cinta yang penuh kebahagiaan, kisah yang mengharukan, atau bahkan kisah yang penuh liku-liku. Buku ini akan memberikan pengalaman membaca yang mendalam dan menghibur kepada para pembaca.
Kombinasi antara buku tentang pesantren dan buku fiksi "Cinta dalam Cerita" menunjukkan keahlian dan minat Nadira dalam menulis berbagai genre. Kemampuannya untuk menggali topik yang berbeda secara kreatif dan informatif adalah sesuatu yang patut dipuji. Semoga kedua bukunya berhasil meraih kesuksesan yang layak dan mendapat apresiasi luas dari pembaca.
Tepukan meriah untuk Nadira kembali memenuhi ruangan setelah Sarah selesai memaparkan poin-poin tersebut.
"Baiklah Bapak/Ibu semuanya. Terima kasih telah hadir dalam acara yang luar biasa ini. Acara peluncuran buku ketiga dan keempat Nadira, kita tutup sampai di sini. Apabila ada salah kata atau perbuatan yang kurang berkenan, saya mewakili panitia acara, menghanturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan kepada Allah, saya meminta maaf," ujar Sarah, lalu menghampiri Nadira.
Sarah memeluk Nadira sambil berkata, "Selamat ya, Nad. Akhirnya sudah empat buku yang berhasil kamu tulis."
"Iya, Mbak. Alhamdulillah. Terima kasih banyak, ya sudah memandu acara-acara peluncuran bukuku dengan baik," ujar Nadira tersenyum haru.
Acara peluncuran buku berjalan sukses. Para penggemar berbondong-bondong mendapatkan buku cetak "Cinta dalam Cerita" dan mendapatkan tanda tangan dari Nadira sendiri. Suasana penuh kegembiraan dan antusiasme terasa di ruangan itu.
Kesuksesan Nadira sebagai penulis buku tentang pesantren dan karya fiksi romantis ini membuatnya merasa sangat bersyukur. Ia mengucapkan terima kasih kepada suaminya, anak-anaknya, dan semua orang yang telah memberikan dukungan tak terbatas selama perjalanan menulisnya.
Nadira menyadari bahwa buku-bukunya telah menjadi jembatan untuk berbagi cerita, nilai-nilai, dan inspirasi dengan orang-orang di seluruh negeri. Setiap halaman yang ditulisnya, ia berharap dapat memberikan pengaruh positif bagi pembaca dan terus menginspirasi orang-orang dengan karyanya yang berharga.
***
__ADS_1
Di tengah remang malam yang menyelimuti, Alifa merangkai kata-kata dengan hati yang berkobar. Seperti cahaya bintang yang berkelip-kelip, ia menuliskan pencapaiannya yang tak terbendung. Seakan pena di tangannya adalah pohon yang tumbuh subur, ia telah menerbitkan empat buah buku yang menghiasi langit malamnya.
Dalam kegelapan yang mengawang, Alifa berjanji untuk menyerahkan hidupnya pada rahasia-rahasia tulisannya. Ia telah bersumpah untuk melintasi samudera kata-kata dan menaklukkan apa pun kesulitan yang dihadapi. Ia akan terus berlari, tanpa lelah, dalam labirin imajinasinya.
Dengan setiap goresan di kertas, Alifa berharap dapat mengukir jejak di hati orang-orang. Seperti embun pagi yang menari di dedaunan, ia ingin tulisannya menjadi sumber inspirasi dan pelajaran. Dalam setiap alur kisah yang tercipta, ada pesan yang tersembunyi. Ia berharap orang-orang dapat menemukan kilau hikmah di setiap halaman yang dibacanya.
Begitulah, Alifa adalah penyair malam yang terus menari di keheningan. Ia akan terus menulis, menciptakan cerita-cerita yang menggerakkan jiwa. Dengan setiap kata yang dilantunkan, ia merangkul dunia dengan penuh cinta. Melalui tulisannya, ia ingin menghadirkan cahaya dalam kegelapan, mempersembahkan harapan dalam setiap barisnya.
Usai menuliskan rasa bahagianya, suami Alifa, Ammar, masuk ke kamar, melihat Alifa yang sedang tersenyum memandangi keempat bukunya di meja yang ada di hadapannya.
Ammar memeluk Alifa dari arah belakang. Alifa tersenyum melihat wajah suaminya dari pantulan cermin di hadapannya.
"Terima kasih ya, Ammar, sudah mendukungkung sampai sejauh ini," ujar Alifa, mengelus-elus tangan Ammar yang melilit di lehernya.
Ammar membalikkan badan Alifa, sehingga kedua bola mata mereka saling bertemu.
"Sama-sama, sayang. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak kepada kamu, sudah mau bertahan sampai sejauh ini. Apa pun yang kamu lakukan, aku akan mendukung. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sedih lagi."
Mereka berdua pun memperbincangkan banyak hal, khususnya tentang mimpi-mimpi yang belum terwujud. Mereka berjanji akan selalu menjadi pasangan yang selalu ada untuk pasangannya. Menjadi rumah untuk tinggal dan siap menjadi sapu tangan untuk menghapus lara.
__ADS_1
...****...