Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Tutur Batin


__ADS_3

Dalam kelamnya senja yang meranggas, perempuan itu berada dalam labirin kebingungan dan penderitaan. Seperti kapal yang kehilangan kompas di lautan yang tak berujung, dia terombang-ambing dalam arus ketidakpastian. Luka-luka batinnya yang telah tersemat sejak kecil, kini semakin dalam; memperpanjang bayang-bayang kegelapan yang menghantuinya.


Dalam kebisuan malam, di tepi jalan kehidupan yang berliku, dia berdiri sendirian. Tidak pernah terbersit di benaknya bahwa cinta yang dijalin dengan laki-laki itu adalah benang tipis yang menautkan dua agama yang berbeda. Seolah-olah dia telah berjalan di atas awan tanpa menyadari betapa rapuhnya keseimbangan yang dijunjungnya.


Ketika kabar yang memilukan itu menghampirinya, dia terguncang. Rasa takut dan kebingungan menyergap hatinya, membuatnya terluka dan hancur. Ternyata, tembok yang seolah-olah mengapitnya selama ini adalah tembok yang menyembunyikan perbedaan-perbedaan tak terlihat di antara mereka. Ketika tembok itu runtuh, dia terlalu lemah untuk bertahan.


Dengan suara yang penuh kelembutan, tapi penuh duka, dia mengucapkan kata-kata yang keluar dari lubuk hatinya yang terluka, mengalir seperti sungai air mata yang tak terbendung. Saat dia terisak dan matanya tertutup rapat oleh tangisan, tubuhnya terkulai lemas, tak berdaya. Dia menyerah pada beban penderitaan yang melingkupinya, hingga akhirnya kehilangan kesadaran dalam gelapnya luka yang semakin merajalela.


Nasib yang menghimpitnya seperti tak pernah berhenti. Bagai duri yang menusuk-nusuk, dia merasakan pedihnya setiap hembusan napas yang sesak. Dia yang dulu begitu percaya dengan cinta dan keyakinannya, kini terjebak dalam siksaan kehilangan. Kompas yang selama ini menuntunnya, kini telah hilang entah ke mana, membuatnya terombang-ambing tanpa arah.


Namun, dalam kegelapan yang mendalam, masih ada sinar kehangatan yang tersisa. Ada sosok seorang kakak sebagai pilar yang tegar, menjadi rumah bagi perempuan itu. Dia adalah benteng yang menjaga perempuan itu dari terjangan badai kehidupan yang tak henti mengguncang. Meskipun kompasnya hilang, dia memiliki tempat yang bisa dijadikan pijakan. Meski dalam ketidakmampuan untuk percaya lagi, kakaknya tetap menjadi sandaran yang teguh.


Dengan luka-luka yang masih terbuka dan kebingungan yang memenuhi pikirannya, perempuan itu mencari jalan untuk kembali. Dia berusaha menyembuhkan luka batinnya yang begitu dalam, memunguti pecahan-pcahan harapannya yang hancur. Namun, setiap langkahnya terasa berat, setiap pilihan menjadi perdebatan yang menyiksa. Kompas dalam dirinya telah tercabik-cabik dan dia harus menemukan arah baru untuk melangkah.

__ADS_1


Takdirnya yang tak pernah lelah menghujani bermacam kesedihan telah mengubahnya. Dia tidak lagi mudah percaya kepada siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Dalam keping-keping luka yang tergores dalam hatinya, dia merasakan nyeri yang tak tertahankan. Dalam kehampaan yang mengitari dirinya, dia meraba-raba dalam kegelapan, mencari jalan yang tak jelas.


Baginya, masa depan terasa seperti kabut yang menyelimutinya. Tidak ada lagi titik terang yang mengarahkan langkahnya. Dia terombang-ambing dalam samudra ketidakpastian, tak tahu ke mana arah tujuan hidupnya. Namun, walaupun dia terluka dan terhuyung-huyung, api kehendaknya yang masih membara di dalam dirinya mempertahankan keinginannya untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang telah hilang di tengah kegelapan yang menghantamnya.


Dalam perjalanan panjangnya menuju pemulihan, perempuan itu memutuskan mengambil waktu untuk menyembuhkan luka-lukanya. Dia mencari dukungan dari orang-orang terdekatnya, termasuk sang kakak yang telah menjadi pilar kekuatannya. Bersama mereka, dia membangun pondasi baru untuk memulai kembali.


Dalam proses penyembuhannya, perempuan itu menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Dia belajar menerima dan menghargai perbedaan, serta menemukan bahwa cinta sejati tidaklah terkungkung oleh batasan-batasan seperti agama atau latar belakang. Dia mulai membangun hubungan yang sehat dan saling menghormati dengan orang-orang di sekitarnya, memilih untuk melihat kebaikan di setiap individu.


Perlahan-lahan, kegelapan yang menghantamnya mulai berkurang. Dia menemukan kembali kepercayaan pada dirinya sendiri dan merangkul kehidupan dengan penuh semangat. Dalam pencarian untuk menemukan arah hidup yang baru, perempuan itu memutuskan untuk menjalani perjalanan spiritual yang mendalam, mencari makna yang lebih dalam dalam eksistensinya.


Waktu berlalu dan perempuan itu mulai melihat cahaya di ujung terowongan. Meskipun masa lalu yang kelam masih meninggalkan bekas dalam dirinya, dia telah belajar menerima dan mengintegrasikan pengalaman-pengalamannya dalam membentuk dirinya yang baru. Dia menjadi sosok yang lebih kuat, bijaksana, dan penuh empati.


Akhirnya, perempuan itu menemukan arah hidup yang baru. Dia memulai karier yang sesuai dengan minat dan bakatnya, serta menemukan kebahagiaan dalam melayani dan membantu orang lain. Dalam prosesnya, dia membagikan kisahnya kepada orang-orang yang mengalami kesulitan serupa, memberikan harapan dan inspirasi kepada mereka yang merasa terombang-ambing dalam kegelapan.

__ADS_1


Kemudian pada akhirnya, perempuan itu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Dia belajar untuk mencintai dirinya sendiri dengan sepenuh hati dan menghargai setiap momen kehidupan. Meskipun perjalanan hidupnya tidaklah mudah, dia menyadari bahwa melalui kesulitan dan penderitaan, dia telah tumbuh menjadi versi yang lebih baik dari dirinya sendiri.


Dalam cahaya kebangkitan yang memancar dari dalam dirinya, perempuan itu menghadapi masa depan dengan penuh optimisme. Dia telah menemukan kembali kompas hidupnya, meskipun berbeda dengan yang sebelumnya. Dia siap untuk menjelajahi dunia dengan keyakinan yang baru, membawa kebijaksanaan dan kebaikan di mana pun dia pergi.


Perjalanan hidupnya yang penuh liku dan rintangan telah mengajarkan perempuan itu untuk tidak menyerah, bahkan ketika kegelapan melingkupinya. Dia telah menemukan kekuatan dalam ketidakpastian dan menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.


Dari sinilah kisah Nadira dimulai, di tengah perjalanan hidupnya yang penuh pergelutan batin. Seperti ombak yang terus menghantam pantai, Nadira merasakan ujian-ujian yang menguji kekuatan mentalnya. Terkadang, langkah-langkahnya terasa lemah, hampir tak mampu melangkah lebih jauh. Namun, dalam setiap kesulitan itu, Haikal, kakaknya, selalu hadir sebagai pelabuhan yang aman baginya.


Haikal adalah rumah yang selalu menyambut Nadira dengan hangat, menjadikannya tempat berteduh ketika badai kehidupan datang menerpa. Dia memberikan kekuatan dan semangat pada Nadira, memberinya keyakinan bahwa dia tidak sendiri dalam perjalanan ini.


Namun, suatu hari, Nadira bertemu dengan Ammar. Pertemuan itu seolah seperti sebuah kisah romansa yang sering ditontonnya dalam acara FTV. Entah apakah kisah itu terlalu dalam diingatnya atau memang takdir Tuhan yang telah menentukan jalannya, Nadira sangat percaya bahwa ini adalah takdir terbaik yang Allah berikan padanya.


Meskipun hidupnya penuh dengan lika-liku, Nadira tidak pernah menyerah. Dia tetap berusaha kuat, menjadi motivator bagi dirinya sendiri, dan menginspirasi orang lain melalui tulisan-tulisannya. Setiap kata yang terukir dalam tulisannya memiliki makna yang mendalam, mampu menggetarkan hati setiap pembacanya.

__ADS_1


Di balik kegelisahan hati yang tak menentu, Nadira berhasil menerbitkan dua buku yang berjudul "Takdir-Mu yang Terbaik" dan "Kutinggalkan Dia untuk Dia". Karya-karyanya tersebut telah menembus batas-batas, menginspirasi dan memberi harapan bagi banyak orang. Lalu sekarang, dia siap meluncurkan buku ketiganya. Karena bagi Nadira, menulis adalah salah satu cara untuk membebaskan pikirannya dari segala kegelisahan yang menghantuinya.


...****...


__ADS_2