Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Cahaya Cinta


__ADS_3

Nadira dengan senyum bahagia berkata, "Hamzah, ada sesuatu yang ingin mama katakan padamu."


"Apa itu, Mama? Kamu terlihat sangat bersemangat," tanya Hamzah antusias.


Nadira tersenyum lebih lebar. "Mama sedang hamil, Hamzah. Kamu akan menjadi seorang kakak."


Mata Hamzah terbuka lebar. "Wah, benarkah, Ma? Aku akan punya adik? Aku sangat senang!"


"Ya, Nak. Adikmu sedang tumbuh di dalam rahim mama. Kita akan merawatnya dengan baik dan memberinya banyak cinta," jawab Nadira. "Kamu akan segera menjadi kakak yang hebat bagi adikmu. Kita akan memiliki keluarga yang lebih besar dan penuh cinta."


"Masya Allah. Alhamdulillah. Akhirnya aku punya adik juga. Aku benar-benar senang, Mama! Aku akan menjadi kakak yang baik dan menjaga adikku dengan penuh kasih sayang," ujar Hamzah girang.


"Itu sangat baik, Hamzah. Adikmu akan sangat beruntung memiliki kakak sepertimu. Kita akan membuat banyak kenangan indah bersama."


"Aku jadi tidak sabar, ingin segera melihat wajahnya dan mengajaknya bermain."


"Adikmu akan lahir beberapa bulan lagi, Nak. Kita harus bersabar dan mempersiapkan segalanya dengan baik untuk kedatangannya."


"Aku akan membantu Mama dalam persiapan semuanya. Aku sangat tidak sabar!"


"Terima kasih, Hamzah. Mama sangat menghargai bantuan dan kegembiraanmu. Bersama-sama, kita akan menjalani perjalanan ini dengan sukacita."


"Aku sangat mencintai Mama dan adikku yang akan lahir. Kita akan selalu menjadi keluarga yang penuh cinta."


Nadira mengusap lembut pipi Hamzah. "Aku juga mencintaimu, Nak. Kita adalah keluarga yang kuat dan saling mendukung. Aku sangat berterima kasih memiliki kalian berdua."


"Aku juga berterima kasih memiliki Mama dan keluarga kita. Aku bangga punya Mama yang jadi motivator semua orang, papa dan Kak Hafiz yang jadi penghapal quran internasional, kakek pendiri pondok pesantren Al Fathonah ini, Oma dan Opa yang bisnisnya sudah sangat maju, Uak Haikal yang menjadi koki internasional, Om Ali yang juga sangat lihat dalam perpolitikan, serta keluarga kita lainnta yang selalu menginspirasi dan memotivasku untuk terus maju."


"Masyaa Allah. Barakallah. Mama juga bangga denganmu yang mau belajar dan terus berusaha menggapai mimpi. Kita akan menghadapi masa depan bersama dengan penuh kebahagiaan."


Hamzah merasa seperti kupu-kupu berdansa di perutnya ketika membayangkan memiliki adik kandung yang akan lahir dari rahim mamanya. Baginya, itu adalah seperti petir menyambar hatinya, memancarkan kebahagiaan yang memenuhi seluruh ruang dalam jiwanya.


Baginya, memiliki adik seperti bintang yang lahir di langit keluarganya. Seperti melihat bunga mawar yang indah mekar dalam kebun hatinya yang bahagia. Rasa gembira itu terasa seperti embun pagi yang menyirami dedaunan, memberikan kehidupan baru yang penuh harapan.


Setiap kali Hamzah membayangkan adik kandungnya, rasanya seperti mendengar melodi indah yang mengalun di telinganya. Seperti riak air yang bermain-main di sungai kecil, memberikan kehangatan dan keceriaan. Dia tahu bahwa memiliki adik kandung akan mengisi kehidupannya dengan cinta yang tak terhingga.


Baginya, memiliki adik itu seperti permata langka yang ditemukan di lubang pasir. Sebuah hadiah berharga yang membuatnya merasa istimewa dan unik. Dia yakin bahwa kehadiran adik kandung akan memperkaya hidupnya dengan kenangan indah dan kebersamaan yang tak tergantikan.

__ADS_1


Dalam hati Hamzah, memiliki adik seperti cahaya matahari yang menerangi hari-harinya. Seperti pelangi indah yang muncul setelah hujan badai, memberikan keindahan dan harapan baru. Dia tak sabar untuk melihat wajah adiknya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Hamzah tahu bahwa setelah memiliki adik akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Namun, dia siap untuk menghadapi semua tantangan dan meluangkan waktu untuk menjadi kakak yang baik. Baginya, memiliki adik kandung adalah anugerah yang tidak ternilai harganya, sebuah ikatan darah yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Meskipun begitu, Hamzah tetap mencintai dan menyayangi sepupunya kelak kalau lahir adiknya si kembar atau dari Ali.


"Oh iya, Mama sudah kasih tahu berita bahagia ini sama Kak Hafiz belum?"


Nadira menepuk jidadnya. "Astaghfirullahal 'adziim. Mama sampai lupa, saking bahagianya."


"Ayo, Ma, kasih tahu kakak, aku juga kangen banget sama kakak!" ujar Hamzah antusias.


Tanpa membuang waktu, Nadira segera meraih ponselnya dan dengan cepat menekan panggilan video ke nomor Hafiz. Suasana di sekitarnya terasa tegang, karena Nadira begitu berharap untuk berbicara dengan Hafiz.


Telepon berdering dengan intensitas yang meningkat, mengisi ruangan dengan bunyi yang penuh harapan. Namun, saat bel puluhan kali berbunyi, suara Hafiz masih belum terdengar dari sisi lain panggilan. Nadira merasa sedikit kecewa, tetapi dia tidak putus asa. Dia tahu betapa sibuknya Hafiz dengan kuliahnya dan mungkin saja Hafiz tidak bisa mengangkat teleponnya.


Dengan keteguhan hati, Nadira memutuskan untuk menelepon panggilan ulang. Dia berharap dengan segenap hati agar Hafiz dapat menjawab panggilannya kali ini. Tunggu sebentar, dan akhirnya, tanda koneksi terbentuk dan Hafiz muncul di layar ponsel.


Wajah Hafiz terlihat sedikit lelah, tetapi senyumnya langsung memancar begitu dia menyadari panggilan itu berasal dari Nadira. Dia tampak gembira bisa berbicara dengan mamanya setelah seharian yang panjang. Hafiz dengan cepat menjelaskan bahwa dia baru saja selesai kuliah dan meminta maaf karena terlambat merespons panggilan.


Nadira merasa lega ketika melihat Hafiz dalam panggilan video tersebut. Mereka mulai berbincang, saling bertanya kabar dan berbagi cerita tentang hari-hari mereka. Meskipun terpisah jarak, melalui panggilan video ini, mereka merasa dekat satu sama lain.


Suasana yang awalnya cemas dan tegang berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan saat Nadira dan Hafiz saling melibatkan diri dalam percakapan mereka. Mereka berdua menghargai setiap momen yang dimiliki bersama, sekecil apa pun itu. Seperti seorang ibu dan anak pada umumnya, ikatan batin selalu kuat meski terpisah jarak.


"Mama sama siapa di situ?" tanya Hafiz yang mendengar suara pelan dari ujung telepon.


"Sama adikmu, Hamzah," jawab Nadira. "Oh iya, mama hampir saja lupa, saking terlalu kangen sama kamu karena lama tak bertemu dan komunikasi. Mama ada kabar baik, nih!" lanjutnya yang membuat Hafiz penasaran.


"Kabar baik apa, Ma? Hamzah mau melanjutkan pendidikannya ke Kairo juga kah atau gimana?" tanya Hafiz.


"Kamu akan punya adik lagi, Nak," ujar Nadira dengan senyum sumringah.


Tak jauh bahagia dari Hamzah, Hafiz pun merasa senang mendengar kabar kalau dia akan mempunyai adik lagi.


"Hah? Mama hamil lagi? Masyaa Allah. Alhamdulillah. Akhirnya setelah sekian lama, doaku terkabul juga," ujar Hafiz. Dia berharap memiliki adik perempuan agar adiknya lengkap. Selain itu, mamanya akan memiliki teman untuk curhat sesama perempuan, masak bersama, dan melakukan aktivitas lainnya yang dilakukan oleh kaum perempuan.


Di samping Nadira, Hamzah meminta Nadira memberikan teleponnya karena ingin berbicara dengan sang kakak.


"Duh, adik kamu yang satu ini sibuk banget dari tadi, pengen ngobrol sama kakaknya," ujar Nadira sambil melirik Hamzah dengan senyuman.

__ADS_1


Wajah Hamzah memelas karena sama rindunya dengan sang mama yang merindukan kakaknya itu..


"Ya sudah sih, Ma, kasih saja teleponnya ke Hamzah. Takut terbawa mimpi," ujar Hafiz, sedikit menggoda adiknya. "Mana Hamzah, Ma?" tanyanya.


Nadira memberikan ponselnya kepada Hamzah. Hal ini membuat Hamzah bersemangat.


"Assalamu'alaikum, Kak. Kakak kapan pulang, sih? Sudah jarang pulang, jarang komunikasi pula. Sibuk banget kayaknya," gerutu Hamzah.


"Maaf ya, Adikku sayang. Kakak benar-benar lagi sibuk-sibuknya akhir semester, nih. Belum juga kerjaan kakak di sini yang menyita waktu. Walau sekadar santai untuk diri sendiri pun tidak ada. Waktu luang hanya dipakai untuk istirahat sejenak."


"Hmm, gitu ya, Kak. Terus kapan Kakak ada rencana mau pulang? Kami di sini sangat merindukan Kakak, apalagi kita sebentar lagi akan kehadiran anggota baru." Hamzah bercerita dengan penuh semangat, seolah kakaknya, Hafiz, tidak diberikan peluang untuk menanggapi. "Oh iya, selain kabar baik, ada kabar duka juga di keluarga kita, Kak."


Pernyataan Hamzah membuat suasana mendadak tegang.


"Kabar duka? Kabar apa, Dek?" tanya Hafiz. Jantungnya mendadak berdegup kencang.


"Uak Yasmin keguguran dua bulan lalu saat usia kandungannya memasuki empat bulan. Ada insiden kecelakaan di rumahnya, saat si kembar sedang main. Nah, Kakak tahu banget kan mereka anaknya aktif banget, Aqeela waktu itu mau jatuh dari tangga, Uak Yasmin langsung lari, tapi malah terpeleset," jelas Hamzah, berhenti sejenak. "Terus Uak Yasmin dibawa ke rumah sakit, karena apa katanya, Ma?" Hamzah menengok ke arah Nadira.


Layar ponsel Hafiz kini memenuhi mama dan Hamzah, bersama layar kecil yang memperlihatkan wajahnya.


"Uak Yasmin mengalami pendarahan hebat karena guncangan yang kuat saat terpeleset. Perutnya terbentur di lantai, jadi janin dalam kandungannya terpaksa harus dikeluarkan dan harus dikuret." Nadira menjelaskan dengan bibir gemetar. Dia minta dijauhkan hal-hal buruk yang menimpanya dan janin yang sedang dikandung. "Kamu coba telepon Uak Yasmin, ya, hibur dia. Yah, sekalian berkabar dengan si kembar. Waktu mama main ke sana, si kembar tanya kamu terus."


Hafiz menghela napas berat. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun. Hafiz banyak ketinggalan informasi banget ya, Ma. Jadi merasa bersalah," ujarnya dengan wajah lesu.


"Tidak apa-apa, Sayang, jangan terlalu mencemaskan kami di sini. Yang penting kamu di sana sehat selalu, dipermudah segala urusan, dan selalu dilindungi-Nya."


Hamzah permisi karena mau masuk kelas. "Kak, Hamzah pamit duluan, ya. Soalnya Hamzah mau masuk kelas, nih. Ustadnya galak, nanti Hamzah dihukum lagi." Ucapan Hamzah sontak membuat kakak dan mamanya tersenyum.


"Memang ustadnya siapa, Dek?" tanya Hafiz.


"Siapa lagi kalau bukan Ustad Ammar," jawab Hamzah yang buru-buru ingin mengakhiri percakapan.


Nadira dan Hafiz tertawa. Nadira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat anak keduanya itu yang kelabakan saat melihat arlogi di tangan Hamzah.


"Ya sudah, Kak. Aku ke kelas dulu, ya. Assalamu'alakum." Hamzah langsung bergegas pergi menuju gedung tempatnya belajar. Meninggalkan mama dan kakaknya dengan obrolan yang semakin serius.


Meskipun belum bisa berjumpa secara fisik, panggilan video ini memberi mereka penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hari-hari mereka. Nadira dan anak-anaknya saling mendukung serta merencanakan waktu untuk bertemu segera setelah jadwal kuliah Hafiz melenggang.

__ADS_1


Panggilan video itu berakhir dengan janji bahwa mereka akan tetap saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain melalui teknologi, sampai saat mereka bisa bersama secara langsung.


...****...


__ADS_2