
Setelah berpikir dengan panjang, Nadira bisa membuat suaminya meninggalkan pekerjaan yang selama ini digeluti. Bukan untuk membunuh mimpi sang suami, tetapi Nadira ingin selalu ada keberkahan dalam hidup keluarganya.
Saat sedang menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya, ponsel Nadira berdering. Nadira melihat nama kontak yang tertera, "Kakak". Seakan ditelepon oleh sang idola, Nadira tampak girang. Sebelum mengangkat telepon tersebut, Nadira meminta izin kepada suaminya untuk mengangkat telepon Haikal setelah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga tercintanya itu.
Nadira meninggalkan suami dan anaknya di meja makan, lalu pergi ke teras belakang rumah. Nadira duduk di dekat kolam renang.
"Kakak kenapa baru telepon Nadira sekarang, sih?" tanya Nadira yang seketika lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, Nadira," ujar Haikal.
Nadira menepuk dahinya.
"Oh iya, lupa ngucapin salam. Maaf, Kak. Wa'alaikum salam, Kakakku tersayang," jawabnya.
"Kamu ini, ya. Belum juga berubah. Kangen banget sama kakakmu yang ganteng ini, ya? Hayo, mikirin kakak terus pasti. Galau karena kakaknya enggak pernah telepon lagi, bahkan belum sempat main lagi ke rumahmu," ujar Haikal yang masih suka menggoda sang adik.
"Iss, kepedean banget, sih. Narsisnya enggak pernah hilang pula," ujar Nadira.
"Ya udah kalau enggak kangen sama kakak, kakak matiin ajalah teleponnya." Haikal selalu gemas dengan adiknya kalau lagi kesal atau merajuk.
"Iih, enggak gitu juga konsepnya, Kak!" Terdengar dari nada bicara Nadira yang menjadi sedikit meninggi kalau dia kesal dengan kakaknya yang terus saja menggodanya.
"Terus konsepnya bagaimana, Tuan Putri Nadira yang insya Allah, cantik fisik dan hatinya?" tanya Haikal dari ujung telepon.
"Udah, ah. Enggak usah dibahas. Kakak kapan main ke sini lagi?" tanya Nadira dengan penuh harap.
"Insya Allah, Minggu depan, kakak ke sana. Malah mama dan papa juga katanya mau ikut. Kebetulan mereka lagi ambil cuti kerja selama satu minggu, jadi mau dimanfaatkan untuk liburan di sana. Kangen sama cucu, katanya," jawab Haikal.
"Jadi yang dikangenin mama-papa, cuma cucunya aja, nih? Aku enggak dikangeni?" Lagi-lagi Nadira merajuk ketika mendengar pernyataan dari kakaknya.
"Pasti kangen, dong, Adikku sayang. Kamu ini kenapa, sih? Ngambek terus. Namanya juga udah punya cucu, jadi kasih sayang orang tua kita, buat cucunya juga. Nanti saat Hafiz sudah besar dan menikah, lalu punya anak, kamu juga akan merasakannya, kok." Haikal memberikan pengertian untuk adiknya agar bisa bersikap lebih dewasa lagi, apalagi sekarang Nadira sudah menikah dan memiliki anak. Jadi harus mengurangi bahkan menghilangkan sikap kekanak-kanakannya tersebut.
"Iya, deh. Soalnya kalian udah lama enggak ada kabar. Apalagi mama-papa, sibuk terus, deh. Aku kan kangen sama kalian," ujar Nadira dengan wajah ditekuk.
"Iya. Kakak salah dan mewakili mama-papa, kakak minta maaf, ya. Nanti kami ke sana sebagai obat rindunya. Sekarang jangan ngambek lagi. Malu sama Hafiz," ujar Haikal.
__ADS_1
"Oh iya, Kakak mau ngomong sama Hafiz enggak?" tanya Nadira.
"Boleh. Kakak juga mau ngomong sama Ammar, boleh? Udah lama enggak komunikasi," ujar Haikal.
"Tunggu ya, Kak. Jangan dimatikan teleponnya, aku ke dalam dulu. Soalnya ini aku di teras belakang." Nadira bergegas menuju ruang makan. Ternyata suami dan anaknya sudah selesai sarapan. Sekarang sedang ada di ruang keluarga.
"Ternyata kalian di sini. Kirain masih sarapan," ujar Nadira sambil tersenyum. Langkahnya terhenti saat hendak menghampiri Ammar dan Hafiz, tetapi tiba-tiba kakinya tersandung.
"Aduh ...!" Nadira mengaduh seraya melihat penyebab kakinya tersandung dan hampir terjatuh. Beruntungnya Nadira selalu sigap dengan situasi dan kondisi yang akan terjadi, jadi tubuhnya langsung diseimbangkan agar tidak tersungkur ketika kakinya tersandung. Ternyata salah satu mainan Hafiz terlempar di dekat sofa.
Ammar dan Hafiz saling menatap. Pikir mereka, bakal ada gempa nih di rumah. Mereka sudah siap mendengarkan celotehan dari Nadira yang seperti burung beo kalau sudah bicara.
Nadira duduk di hadapan Ammar dan Hafiz yang sedari tadi memegang beberapa mainan Hafiz.
"Hafiz. Mama kan sudah sering katakan sama kamu, boleh main, tapi dibereskan lagi," ujar Nadira.
"Hafiz kan belum selesai mainnya, Ma," jawab Hafiz. Matanya melirik sang papa, berharap ada pembelaan.
"Iya, Ma. Betul apa kata Hafiz. Nanti juga kalau sudah selesai, Hafiz pasti bereskan mainannya. Kan Hafiz anak pintar. Tanpa disuruh juga, pasti Hafiz bakal bereskan," ujar Ammar, membela sang anak.
"Tapi lain kali, mainannya jangan sampai ke pintu seperti ini. Kan bahaya, kalau Mama nanti tersungkur, terus kepala mama bocor atau ada luka lain, gimana? Kan bahaya, sayang." Nadira selalu punya cara tersendiri dalam membekali ilmu pendidikan kepada anaknya. Apalagi ketika terjadi sesuatu hal, seperti yang baru saja dialami, Nadira berharap anaknya bisa memahami pesan apa yang ingin disampaikan. Tentu saja Hafiz sangat paham karena kecerdasan putranya itu, sangat luar biasa.
Karena ada drama keluarga, Nadira jadi lupa kalau dia masih teleponan dengan kakaknya; Haikal.
"Oh iya, mama jadi lupa, kan. Ini Uak¹ kamu mau ngomong." Nadira memberikan ponselnya ke sang anak.
"Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Uak. Apa kabal (kabar)?" tanya Hafiz, tersenyum. Dari nada bicaranya, Haikal sudah bisa memastikan kalau keponakannya itu sangat senang menerima telepon darinya.
"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh, Hafiz. Kabar uak, baik. Kamu bagaimana?" ujar Haikal.
"Aku, baik. Uak kapan main ke sini?" tanya Hafiz dengan logat seperti anak-anak pada umumnya. Meskipun bicaranya belum lancar, tapi Hafiz termasuk anak yang cepat dalam belajar menulis, membaca, dan berbicara.
"Insyaa Allah, uak, kakek, dan neneknya Hafiz akan main ke rumah Hafiz, minggu depan," ujar Haikal.
__ADS_1
"Asyik ...! Artinya rumah kita akan ramai ya, Ma, Pa? Aku mau main sama uak, kakek, dan nenek," ujar Hafiz yang seketika berdiri dan melompat-lompat karena kegirangan.
"Hafiz! Teleponnya duduk saja ya, Nak. Biar tidak jatuh." Nadira berusaha menghindari kata "jangan" dalam mendidik anaknya, walau terkadang lupa ketika lepas kendali. Namun, Nadira dan Ammar selalu berusaha mendidik anak mereka dengan baik.
Dalam ilmu parenting (cara mendidik anak), kita harus menghindari kata "jangan" kepada anak. Seperti yang tertulis dalam beberapa situs, termasuk popmama.com dari Dompet Duafa, penggunaan kata "jangan" ini bisa saja membingungkan anak saat mendengar perintah dari orang tua. Penggunaan kata "jangan" dalam mengasuh buah hati juga dinilai kurang efektif karena anak sering kali belum mampu menyerap apa yang dimaksud orang tua secara utuh. Selain itu, penggunaan kata "jangan" pada si kecil sebaiknya diganti dengan kata lain dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Meskipun sepertinya cukup sulit sehingga kita sebagai orang tua perlu kesabaran dalam hal ini karena semua butuh proses, bukan hanya protes yang bisa merugikan beberapa pihak, baik orang tua, maupun anak.
Proses mendidik anak memang menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga perlu dilakukan secara terus-menerus seiring perkembangan dan pertumbuhan sang anak. Apalagi sebagai orang tua, ayah dan ibu memiliki peran penting sebagai tempat pertama anak belajar. Tentu saja akan banyak rintangan yang dilalui, tetapi kuncinya adalah sabar dan ikhlas agar dapat mengeluarkan kata-kata tertentu untuk membuat anak bersikap lebih kondusif.
Hafiz duduk kembali dan melanjutkan percakapannya dengan uaknya; Haikal—kakak dari mamanya Hafiz. Siapa lagi kalau bukan kakaknya Nadira.
"Hafiz punya banyak mainan, nanti kita main baleng (bareng) ya, Uak?" pinta Hafiz, riang. Tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya dari sang mama.
"Iya, Sayang ..., nanti kita main, ya," jawab Haikal yang memperlihatkan senyum manisnya dari ujung telepon. "Oh iya, uak minta tolong, boleh?" tanya Haikal yang ingin mengakhiri percakapannya dengan keponakan pertamanya itu.
"Boleh," jawab Hafiz.
"Uak mau ngomong sama papa, bisakah hp-nya dikasihkan ke papa Hafiz?" pinta Haikal, bicara dengan hati-hati agar Hafiz tidak merasa kalau dirinya bosan mendengar celotehan dari Hafiz, hingga membuat keponakannya itu sedih.
"Oke, Uak. Aku kasihkan hp-nya ke papa, ya!" Hafiz pun memberikan ponsel tersebut ke sang papa.
"Assalamualaikum, Kak. Iya, Kak. Ada apa?" tanya Ammar.
"Waalaikumsalam, Ammar. Semoga sehat selalu, ya. Kakak dengar dari Nadira, kalau kamu mau meninggalkan pekerjaanmu menjadi seniman dan akhirnya mengabulkan perintah Abi Lutfi untuk membantu mengurus Pesantren Al Fathonah, ya?" tanya Haikal yang ingin mendengar langsung cerita dari sang adik ipar.
"Benar, Kak. Setelah aku pikir-pikir, ada baiknya kalau aku turut serta dalam mengurus pondok. Soalnya kalau aku jadi seniman, aku kadang jarang banget berkumpul dengan keluarga. Apalagi saat aku ada pameran seni di luar kota bahkan luar negeri, bisa dihitung dengan jari, kapan waktu berkumpil dengan Nadira dan Hafiz yang sekarang masih membutuhkan peran ayah dalam mendidiknya." Jawaban Ammar membuat Haikal menjadi semakin yakin kalau adik iparnya tersebut adalah sosok laki-laki terbaik untuk Nadira. Dari latar belakang keluarga Ammar pun, sangat baik. Begitupun dengan kepribadian dari Ammar, sudah tidak diragukan lagi, deh.
"Masyaa Allah. Kakak terharu mendengarnya. Dari awal, kakak sudah yakin kalau kamu adalah laki-laki yang bijak. Makanya kakak merestui kamu untuk menikah dengan Nadira," ujar Haikal, merasa takjub.
"Alhamdulillah. Makasih banyak ya, Kak. Insyaa Allah, aku akan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilku ini. Makasih atas kepercayaannya dalam menyerahkan tanggung jawab kakak dan papa untuk menjaga Nadira kepadaku," ujar Ammar, penuh haru.
"Iya. Kakak juga makasih banyak ya, sudah mau menjaga Nadira dengan baik. Ya udah, kakak masih ada kerjaan, nih. Kakak tutup dulu teleponnya. Sampai bertemu pada minggu depan, ya," ujar Haikal menutup percakapannya dengan salam.
Dalam hidup, kita berhak memilih mana yang terbaik untuk dijalani, tetapi harus ingat dengan syariat Islam, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Karena baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Jadi, sebelum memutuskan sesuatu atau melangkah, sebaiknya dipikir dulu agar tidak menyesal di kemudian hari. Walaupun beberapa rintangan yang akan dihadapi ke depannya, entah kenyataan tak sesuai dengan ekspektasi kita, kuncinya adalah harus yakin dan selalu libatkan Allah dalam segala hal agar selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup.
...****...
__ADS_1
Footnote :
¹ Menurut KBBI, Uak merupakan kata sapaan terhadap kakak dari ayah atau ibu.