Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Tolong


__ADS_3

senja mulai tiba, burunf burung sudah kembali kesarang, mega mulai menebar warna dilangit, dan gadis pucat berjaket itu masih setia menunggu senja pergi. Sore itu Ami masih setia duduk dipinggir tebing menikmati warna surya yang mulai tengelam.



"hai.!" sapa Ahriz membuat Ami menoleh



"oh ,hai Ahriz.!" balas Ami tersenyum



"bagaimana keadaanmu.?" tanya Ahriz ikut duduk disamping Ami



"sudah lebih baik.!" jawab Ami mengusap tengkuknya



"jangan mengabaikan pola makanmu Ami, itu tak baik , ini aku buatkan makanan ringan untukmu.!? kata Ahriz menyondorkan sebuah kotak makan pada Ami



"apa ini.?" tanya Ami menerima kotak itu


"buka saja.!" jawab Ahriz tersenyum



"em, ini enak tapi kurang manis.!" kata Ami setelah membuka kotak itu dan melahap isinya



"makanan manis tak begitu baik ami.!" kata Ahriz tersenyum melihat Ami yang makan dengan lahap.



"kau tau," kata Ami menelan makanannya, dan Ahriz mengeleng "hidupku sudah sangat pahit, jadi aku harus memakan makanan yang manis agar hidup ku ini terkesan manis dari makanan yang ku makan.!" kata Ami serius dengan menyipitkan matanya dan kembali melahap salat buah yang diberikan Ahriz



"aaahhahahaha, mana berpengruh , dasar kekanakan.!" kata Ahriz tertawa lepas , membuat lesung pipinya jelas ketara membuat senyuman pemuda itu sangatlah manis

__ADS_1



tanpa sadar obrolan mereka didengar oleh sepasang mata, ya dia Lia yang siap merancang strategi liciknya. dengan seolah olah panik Lia pun.menghampiri Ami dan Ahriz yang tengah mengobrol asik di pinggir tebing



"Ami tolong bantu aku mencari ponselku.!" kata Lia dengan nafas yang dibuat seolah baru berlari



"aku bukan petugas keamanan.!" celetuk Ami ketus sambil menutup kotak bekal yang isinya telah habis ia lahap



"hilang dimana?" tanya Ahriz peduli



"dibawah sana, tapi Ami ,kau kan panitia.!" kata Lia memegang tangan Ami



"hentikan rengekanmu ,itu membuatku pusing, Ahriz tolong kau pangilkan petugas keamanan untuk menyusul kami.!" kata Ami




"dimana kau menjatuhkan ponselmu?" tanya Ami



"disana ,ayo.!" kata Lia berjalan didepan Ami


Ami pun dengan polosnya berjalan mengikuti Lia ,yang tanpa sadar masuk kedalam hutan.



"dimana sih ,jauh banget.!" kata Ami kesal saat sadar dia makin masuk kedalam hutan



"disekitar sini, !" kata Lia membungkuk seolah mencari sesuatu

__ADS_1


Ami pun dengan baik hati ikut membantu mencari ponsel Lia yang katanya hilang,


tiba tiba Lia mendorong Ami masuk kesebuah lubang yang dibuat pemburu,



"brukk, agh!" suara Ami jatuh kakinya mengores sebuah batu runcing ditengah tengah lubang, dan wajahnya jatuh terlebih dahulu membuat kening dan pipinya tergores.



"rasakan Ami ,kau akan meti disini,!" kata Lia dari atas



"lia, kau ini apa apaan, cepat tolong aku.!" kata Ami dengan suara bergetar menahan sakit



Lia tak merespon pangilan Ami, dia pun pergi berlalu meningalkan Ami di tengah hutan yang gelap, dan dingin . Demam nya belum membaik tepi dia malah dijebak ditengah hutan sepertiini. Gadia malang selain fobia Air Ami juga Fobia pada gelap, karena pernah hilang di hutan saat diajak Edo pergi mendaki.



"tolong.!" suara Ami kini semakin serak tapi tetap saja tidak ada orang yang menjawab permintaan tolongnya. dia sama sekali tidak memegang ponsel atau alat untuk memanggil para palindung gelapnya.



"bunda ,oma tolong Ami!" lirih Ami sambil air matanya menetes deras membasahi pipi kotornya. dia memeluk kaki nya , darah dikaki pun berangsur mengering, Ami takut jika ada ular dilubang itu, dia sangat takut karena hari semakin gelap ,dia tidak bisa melihat apa apa, dan dia merasa haus karena berjalan cukup jauh.



"Candra..!" teriak Ami terakhir kali suaranya mengema tetapi tak sampai diperkemahan.







__ADS_1


Bersambung


__ADS_2