Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Kenyataan pahit


__ADS_3

Hari berganti hari ,hubungan Ami dan Eza semakin baik, saking baiknya kadang mereka berdua pergi bersama, berbelanja di mall berdua seperti orang pacaran jika tidak tau.


Begitu pula pertemanannya dengan Lia ,sudah seperti saudara (memang saudara jauh) .


Lia sering menginap dirumah Ami ,sering jalan jalan bersama. Lia sering mengajak Ami untuk pergi ke Dufan atau Ancol ,tetapi Ami selalu menolak dengan alasan ramai atau terlalu banyak orang.


Ami sedikit merasakan hal aneh pada Lia, seakan akan ia terlalu bersimpati pada Candra, saat berbelanja bersama ia membeli baju untuk Candra, Lia juga sering bertanya pada Ami ,apa saja hal yang disukai Candra, entah makanan, minuman , warna ,model baju atau hal kecil lainnya.


Sebenarnya, Ami tak keberatan dengan hal itu ,tetapi ia sedikit terusik saat mereka berbelanja ,dan Lia sepontan mengambil barang yang disentuh Ami.


Ami mulai merasa tak nyaman, karena sekarang Lia mulai acuh padanya. Yang biasanya menelfon nya sekarang jarang.


Yang biasanya menginap atau mampir kerumah ,sepekan ini hampir tidak pernah.


Hingga saat ini , Ami mendapat pesan singkat dari Candra bertuliskan ,


"Aku ingin bertemudenganmu, membahas hal penting, tolong datang ke Taman kota seperti biasanya, aku menunggumu jam 3 sore."


Ami sedikit bingung ,kenapa Candra mengirimnya oesan singkat sepertiini padanya, biasanya jika ada perlu ia akan langsung datang kerumah atau menelfonnya.


"Kak." Ami masuk kekamar Eza yang sekarang tak pernah dikunci lagi.


"Hem" jawab singkat Eza yang sedang menatap leptopnya


"Kak, kenapa ya Candra tiba tiba ngajak ketemuan diluar, katanya penting.!" Kata Ami rebahan dikasur Eza


"Tumben, biasanya dia dateng tanpa diundang.!" Kata Eza sambil melirik adiknya


"Apa ,jangan jangan " Ami mengantungkan kalimatnya

__ADS_1


"Bisa jadi, dia mau nembak Kamu.!" Kata Eza sepontan memutar kepalanya


"Ah ,apa iya." Ami masih ragu


"Dandan, aja dulu dek sana, temui pangeran masa kecilmu hehe.!" Kata Eza menarik Ami keluar kamarnya


"Apa iya, ya.!" Kata Ami ragu ,tapi ia bergegas mandi dan menghubungi Geo untuk mengantarnya


Ia menggunakan dres manis yang dipilihkan Eza ,warna dongker selutut, rambutnya dibiarkan terurai karena memang hanya sebahu, dan menggunakan fletsos pemberian Geo waktu ulang tahun.


Geo, walaupun mulut besar tapi ia cukup dapat dipercaya untuk menyimpan rahasia. Sebenarnya Ami lebih percaya kepada Geo daripada teman teman yang lain. Jadi Geo tau apa yang dirasakan Ami, perasaan macam apa yang disimpam untuk Candra.


Setelah siap, Ami pun bergegas menemui Geo yang menunggu dibawah sambil memakan cemilan yang disiapkan bik inah.


"Wow, siapa ini.?" Celetuk Geo setelah melihat penampilan Ami yang feminim


"Yups ,mungkin kau akan turun jabatan menjadi Ratu, haha.!" Kata Geo membuang muka fokus memakan kacang Amlon dimeja


"Ayo ,udah hampir jam 3 ,ayo buruan.!" Kata Ami menarik Geo


Geo pun hanya menurut saja ,ia langsung membawa troples berisi kacang Amlon tersebut kemobilnya.


Setelah sekitar 15 menit diperjalanan, Ami dan Geo akhirnya sampai ditaman kota. Wajah Ami berubah menjadi pucat, karena sejak pagi ia tidak makan sama sekali.


"King, wajahmu pucat sekali, kau baik baik saja.?" Geo nampak cemas dengan kondisi Ami


"Aku sedikit mual dan pusing.!" Kata Ami tersenyum lemas


Mereka berdua pun berjalan masuk, menyusuri taman kota menuju danau buatan. Ami berjalan pelan dibelakang Geo, ia sedikit sempoyongan karena benar benar pusing dan mual

__ADS_1


Tiba tiba ,saat sudah hampir sampai, Geo berhenti sejenak, mengucek matanya dan kembali menatap kearah depan. Dengan sigap ia berbalik badan dan dadanya ditabrak oleh Ami yang lemas.


"Ada apa.?" Tanya Ami menatap Geo kesal


"Emm ,king kau pucat ,sebaiknya kita pulang saja oke.!" Kata Geo masih berdiri didepan Ami menghalangi pandangan Ami


"Aku nggak suka bercanda." Kata Ami menghindari Geo


Dengan cepat ,Geo menyusul dan berdiri dihadapan Ami lagi


"King, percayalah padaku ,aku tidak bercanda, kita pulang saja.!" Kata Geo mengaruk kepalanya


"Candra menungguku, minggir.!" Kata Ami menendang kaki Geo


Ia pun berjalan dan ,sett


Ia melihat Lia dan Candra berciuman, tepat setengah meter didepannya, tepat dipinggir danau tempat Candra menunggunya, tentunya bersama gadis lain yang tengah menikmati bibirnya.


Deg deg deg.. .. deg deg deg ..


Dada Ami terasa sesak, sangat sesak hingga ia terpejam. Menutup matanya tanpa ia sadari air matanya menetes. Membuat sungai dipipi nya.


Tak ada kata bahagia sama sekali, yang ia rasakan hanyalah sesak didada...


Bersambung ..


Jangan lupa ,like dan komen ya gaes ,dukungan kalian sangat membantu autor agar cepat move on hehe..


Untuk pembaca semua ,Domoarigatou gozaimasu πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2