Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Membuka Hati


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, Candra mengajak Ami kesebuah restoran, mereka masuk dan candra memesan 2 buah minuman dan sedikit camilan.


"Apa kau baik baik saja.?" Tanya Candra , setelah bereka duduk berhadapan


"Memang aku kenapa.?" Tanya Ami balik , menyembunyikan suasana hati nya yang tak karuan.


"Sudahlah, ayo makan.!" Kata Candra mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tas nya


"Berhentilah, membuat kan aku bekal seperti ini.!" Kata Ami lesu


"Ini buatan mama, mama bilang kamu harus makan makanan yang sehat, biar kaki mu bisa cepat sembuh.!" Kata Candra membuka kotak bekalnya


"Itu benar, tapi apa bisa aku ikut kejuaraan atlet lagi.?!" Kata Ami


"Kita akan berusaha sebaik mungkin, kau mengerti.!" Kata Candra menyuapi Ami,


"Aku bisa sendiri Can.!" Kata Ami mengambil alih sendok ditangan Candra dan melahap makanan itu sampai habis.

__ADS_1


"Can.!" Panggil Ami disela sela makan nya


"Hem.!" Jawab Candra masih sibuk membaca buku yang sedaritadi ia pegang


"Menurutmu seperti apa Lia itu.?" Tanya Ami tak memandang Candra


"Kenapa kau bertanya, apa dia melakukan sesuatu padamu.?" Kata Candra menutup bukunya dan menatap Ami


"Entahlah, aku merasa dia benar benar menyesali perbuatannya.!" Kata Ami menyeruput minumannya


"Lalu.?" Lanjut Candra masih mengamati gerak gerik Ami


"Apa yang kau tertawakan.!" Kata Ami kesal


"Kau ini, makan yang benar Ami, jangan begini.!" Kata Candra sambil mengusap ujung bibir Ami karena ada sebuah nasi disana. Hati Ami benar benar gugup , tapi Ami sangat pintar menyembunyikan kegugupannya dan Ami hanya menyengir menunjukkan gigi ginsulnya.


"Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu Ami.!" Kata Candra menyeruput minumannya.

__ADS_1


Tak terasa sudah satujam Candra dan Ami menghabisakan waktu bersama, dan sudah waktunya Candra mengantar Ami pulang.


Diperjalanan Ami terus saja bercerita saat dia terjerumus didalam lubang pemburu, dan Candra benar benar tak habis pikir jika Lia benar benar bersaudara dengan Ami.


"Can, makasih ya.!" Kata Ami setelah didepan pintu


"Sama sama, jangan lupa minum obatmu.!" Kata Candra tersenyum,


"Iya , makasih banyak Can.!" Kata Ami membalas senyuman Ami


"Hem, aku pulang dulu.!" Kata Candra pergi dari teras rumah Ami. Ami pun masuk kerumah dengan hati yang senang.


Didalam kamar Ami


Apa iya aku bisa membuka hatiku untuk Lia, untuk apa aku harus baik padanya, oh Bunda Ami harus bagaimana, (sambil mengusap foto sang ibu). Ya benar tidak ada gunanya aku harus terus terusan membencinya, bagaimanapun ini semua hanya salah faham, dan masalah atlet aku harus bisa melupakannya, aku tidak bisa terus terusan terpuruk dalam luka ini, hidupku tak harus menjadi seorang atlet kan, aku masih bisa menjadi seorang pelukis , atau pemusik. Benar tidak apa apa Ami, kau pasti bisa mengikhlaskan semuanya (memberi semangat pada diri sendiri). Masalag Ayah , bunda kapan Ayah akah menerimaku, sudah 15 tahun dia dingin denganku, (menghelakan nafas panjang).


Ami saat itu menangis , air matanya terus saja mengalir tanpa permisi, tangisan dalam diam membuat dada sesak, kasian gadis itu ,hanya pura pura kuat demi melanjutkan hidup. Tanpa sadar Ami terdidur dengan memeluk foto mendiang ibunya.

__ADS_1


Terimakasih untuk pembaca, mohon dukungannya agar saya semangat menyelesaikan Novel saya ini.


Domoarigatougozaimasu minasan πŸ’“


__ADS_2