
"Ahaha, kenapa kau yang emosi Juli.? Ah aku lupa ,dia Raja jadi harus ada ajudan nya benar kan.!" Kata gadis yang berrambut ikal dengan bibir merah berdiri mendekati Ami yang masih duduk sambil meminum es jeruknya, dari wajah nya ia masih bisa menahan emosi
"Bosan hidup kau.?" Kata Juli benar benar emosi, hambir saja dia memukul gadis itu jika saja Anza tak menahan lengan Juli
"Apa, dia juga harus membawa mata mata kemari, ah tidak aku harus segera minta ampun jika tidak dia akan merusak bisnis keluargaku.!" Kata gadis itu segera bersimpuh disamping Ami yang masih saja asik meneguk es jeruknya
"Ah, benar dia kan hanya bisa bernaung dibawah kekuasaan ayahnya,!" Bisik salah seorang gadis yang menonton.
"Ahahaha, tidak tidak, ayahnya saja tidak sayang padanya, makanya dia selalu membuat rusuh dijalanan, mungkin saja para mata mata milik nya itu dari para om om hidung belang, yang sudah jajan tubuhnya.!" Kata gadis yang tadi bersimpuh didekat Ami
"Lancang.!" Suara Geo pun keluar
"Apa aku salah.? Lihat ini.!" Kata gadis itu mengeluarkan ponselnya ,terlihat gambar wajah Ami yang tengah dicium oleh eyang disalah satu pusat perbelanjaan.
"Dia kakek Ami, lancang sekali.!" Kata Candra menatap gadis itu yang expresi nya berubah terkejut.
"Apa.!" Katanya wajahnya berubah menjadi pucat
Ami pun mendorong kursinya kebelakang, dan menyiramkan kuah bakso nya ketubuh gadis itu
"Bersyukurlah aku sedang tidak mod untuk berdebat juga berkelahi.!" Kata menepuk kedua tangannya seakan membersihkan, dan pergi meninggalkan kantin dengan emosi sambil memasang hetsed agar tak mendengar bisikan mengerikan dari orang orang.
__ADS_1
"Sampah.!" Kata Juli membayar semua makanan dan pergi diikuti yang lain, meninggalkan gadis itu.
Sedangkan Candra mencari Ami kesana kemari, dia menemukan Ami tengan duduk dibawah pohon taman belakang sekolah yang selalu sepi.
"Ami." Candra lega melihat Ami tengan bermain game diponselnya
"Hem.!" Jawab Ami fokus pada ponselnya
"Aku senang kau tak berkelahi.!" Kata Candra menyondorkan permen pada Ami
"Aku sedang berbahagia untuk Vebri dan Anza, juga Geo dan Juli.!" Kata Ami meletakkan ponselnya dan membuka permen yang disondorkan Candra
"Can, ayo keruang osis.!" Kata Farit yang tak sengaja melihat Candra
"Aku Rapat dulu ya.!" Kata Candra tersenyum dan pergi, Ami mengangguk dan tersenyum.
Tak beberapa lama Lia mendekati Ami.
"Ami, kau baik baik saja.?" Tanya Lia duduk disamping Ami
"Hem." Jawab Ami tersenyum
__ADS_1
"Kau sakit.?" Tanya Lia bingung dengan tingkah Ami
"Tidak, aku baik baik saja." Kata Ami mengigit bibir bawahnya
"Kau kenapa, ceritalah padaku katamu kita sahabat kan.!" Kata Lia penasaran
"Emm, jangan beritau siapa siapa ya Li, ah bagaimana ya , emm aku merasa aneh setiap kali dekat dengan Candra, aku selalu nyaman berada disampingnya, dan aku selalu menginginkan dia agar selalu berada disampingku.!" Kata Ami malu malu, Lia yang mendengarnya pun terkejut
"Kau mencintai Candra Mi, apa kau rak sadar.?" Tanya Lia mengamati expresi Ami
"Ya, kurasa begitu Li, tapi apa dia juga memiliki perasaan yang sama padaku.?" Kata Ami sedih memikirkan hal itu ,
"Katakan saja, dia pasti akan membalas perasaanmu, percayalah.!" Kata Lia mengengam tangan Ami dan tersenyum memberi semangat
"Apa kau yakin.?" Tanya Ami mencari kesunguhan dari perkataan Lia
"Tentu saja, jaman sekarang tak perlu menunggu pria menyatakan cinta, jaman sekaran wanita juga sudah biasa mengucapkan cinta pada sang pria.!" Kata Lia serius
"Benarkah, ah ya aku akan mencobanya, terimakasih Li sudah mau mendengarkan.!" Kata Ami tulus
Siang itu ,Ami benar benar semangat dan terpengaruh dengan perkataan Lia, hatinya mengembang mendengarnya, ada orang yang mendukung Ami dalam masalah perasaan, mungkin nanti ia akan ucapkan perasaannya pada Candra, ya tunggu monen yang pas.
__ADS_1