
Setelah kejadian itu , Ami tidak berangkat sekolah selama seminggu. Ia masih kesal melihat atau sekedar berpaprasan dengan Lia.
"bi Ami keluar.!" kata Ami sore itu
"non , kata tuan besar non Ami nggak boleh pergi .!" kata bi Puji mengingatkan
"emm kak Edo dimana ?" tanya Ami
"tuan muda Edo di kamarnya non.!" kata wanita itu
dengan kilat Ami menaiki tangga menuju kamar kakak pertamanya.
"Kak Edo.!" panggil Ami sambil mengedor pintu kamar Edo
"iya ,kakak denger.!" kata Edo membuka kamarnya
"kak, Anterin Ami ke Supermerket yuk." kata Ami
"sama kak Eza aja ya , kakak lagi sibuk sayang !" kata nya mengacak rambutnya
"ih kak, Ami mau belanja !" kata Ami merengek
"Eza,..!" panggil Edo
terdenger pintu terbuka dari sebrang kamar Edo
__ADS_1
"Apaan." kata Eza mengucek matanya
"Anterin adek nya belanja sana.!" kata Edo serius
"nggak usah, Ami nggak jadi belanja.!" kata Ami beranjak
"mau beli apaan sih jam segini .!" kata Eza malas
"pembalut.!" kata Ami membalikkan badannya membuat Edo dan Eza terbelalak, merka lupa jika Ami adalah perempuan dan akan ada masa garis merah setiap bulannya. dengan cepat mereka pun masuk kedalam kamar mengambil jaket dan dompet
20 menit kemudian mereka sampai di parkiran supermarket, mereka pun turun dan masuk tak lupa membawa keranjang belanjaan. Ami mengambil 3 kotak besar pembalut sebagai simpanan, lalu berjalan menuju rak mie linstan berbagai rasa ia pilih dan masukkan ke keranjang
"usus lu nangis tuh dikasih makan emi terus.!" kata Eza melihat Ami memasukkan banyak mie instan ke keranjang nya.
"apaan sih .!" kata Ami cuek
"nih buat kamu, kakak minta maaf ya !" kata Eza menyondorkan sebungkus Coklat
Ami pun menerima Coklat tersebut dengan wajah datarnya.
"kakak tau, kakak salah , nggak seharusnya kakak pukul kamu !" kata Eza dengan kilat Ami memeluk kakak nya itu, dengan rasa haru dan senang setidaknya untuk sekarang Eza bisa mengerti keadaannya.
__ADS_1
Edo yang melihat kejadian langka itu pun diam diam memfoto mereka, ia kirimkan kepada Eyang Kakung nya yang berada di Jogja.
"bunda, lihat mereka kan, semoga hati Ayah bisa cepat lunak seperti Eza ya bun !" batin Edo ikut meneteskan air matanya
"udah belum belanja nya !" kata Edo memecahkan suasana
"udah kak !" kata Ami tersenyum penuh semangat lagi
"kekasir yuk.!" ajak Edo merangkul Ami
"hei kalian, siapa yang bawa keranjang belanjaan nya ini .!" kata Eza menghentakkan kaki kirinya ,sungguh kekanakan gumang Edo
"kamu pembalap, nggak kuat bawa segitu.!?" kata Edo menoleh
"mengesalkan !" kata Eza mengangkat 2 keranjang berisi kebutuhan peribadi Ami
setelah kejadian itu pun, Eza menjadi sedikit lebih lunak pada Ami , memang tak bisa dipungkiri tetap saja ada pertingkaian hingga membuat Ami marah juga sebaliknya.
namun tak jarang Eza mengambilkan makan untuk Ami, Edo yang melihat merka cukup bahagia.
Sebenarnya Eza dulu tidak kasar sepertiitu, ia hanya masih kesal karena ibumereka meninggal begitu cepat, dan perhatian uti dan eyang nya ditujukan pada adik perempuannya. Eza kecil menjadi iri pada Ami dan mulai nakal. pernah suatu saat Eza kecil mendorong Ami kecil yang masih merangkak ke kolam renang, untung saja ada om Kaze yang melihat kejadian itu, dengan terpogoh pogoh om Kaze pun terjun kekolam renang dan langsung memeluk Ami kecil yang sudah banyak meminum air kolam. dengan kejadian itu mereka sama sama punya trauma takut pada air entah itu Eza ataupun Ami mereka sama sama takut air .
__ADS_1