
~Ami~
"Apa, aku akan berakhir disini.? Apa aku akan menyusul bunda dan uti kesurga, papa maaf kan Ami yang selalu menyusahkan papa, kak Eza maafin Ami yang selalu bikin kak Eza sedih, kak Edo maafin Ami karna selalu ngerepotin kakak, papa-Mama maafin Ami sering ngericuh dirumah kalian, Eyang kakung maafin Ami yang sering susah diatur, AVATAR maafin aku udah egois dan ningalin kalian, Can, Candra maafin aku udah sering banget bikin kamu repot." Gumamku dalam gelap
Ya aku masih setia dilubang terkutuk ini, sendiri tiba tiba aku merasa ada sesuatu kenyal mengeliat didalam sepatuku, aku pun melepas sepatuku, dengan ragu aku memasukkan tanganku kedalam sepatuku, jari ku menyentuh sesuatu benda kanyal dan sedikit basah semakin ku sentuh benda itu semakin mengeliat.
Aku ragu dengan apa itu, aku makin penasaran dan makin kupencet benda itu, dia pun seperti memiliki nyawa karena terus bergerak saat kupencet, aku pun berfikir sesuatu yang lembek, panjang, kenyal dan mengeliat saat ditekan.
"Candra" teriakku sambil melempar sepatuku dan aku pun berjingkrak jingkrak karena reflek takut, sial aku memegang hewan kenyal itu dan tanpa sadar akU memainkannya, iuhhh benar benar mengelikan, membayangkan tubuh nya yang persis seperti spageti namun lebih kenyal, hii mengelikan sekali
Tanpa kusadari kakiku pun menginjak sebuah batu aku pun terkilir, entah lah terkilir atau apa kaki ku sakit sekali seakan mati rasa. Aku terus saja menangis dan meminta tolong dari dalam lubang itu, tapi suaraku semakin hilang dan serak, aku berusaha berdiri takut jika ada seranga lain berada dilubang itu ,tapi kakiku tak bisa digerakkan.
__ADS_1
Hawa dingin mulai meresap ditubuhku, apalagi lubang itu rasanya sangat dingin, dan pakaian ku basah setelah mencoba keluar dari lubang itu dan duduk disana berjam jam, aku seperti mengompol padahal tidak. Aku juga lapar dan badanku sangat tidak nyaman. Aku baru ingat jika aku belum minum obat yang diberikan Ahriz sehari yang lalu.
Demi mengisi rasa takut dan kesepianku, aku bernyanyi, hingga suaraku benar benar habis.
"Candra,.. hiks .. tolong aku ,huhuhu..." akhirnya aku menangis disisa suaraku. Tiba tiba ada yang memanggilku, aku pikir aku berhalusinasi tetapi memang ada yang memanggilku, aku pun mendongak keatas, bendar dia pemuda yang sering ku andalkan, dia Candra wajahnya sangat hawatir, dan lega setelah melihatku. Aku hanya menangis haru dan senang melihatnya dan siapa mereka ya aku ingat mereka Geo, Ahriz dan juga pak Edi. Cukup lama aku menunggu mereka datang, sangatlah lama dan kurasa Candra mulai hawatir padaku hingga dia memutuskan untuk ikut masuk kelubang untuk menenangkanku.
Dia memelukku, bertanya bagian mana yang sakit, dia juga mengelap wajahku sekilas , aku hanya menangis dan bercerita bahwa tadi ada cacing disepatuku dan kakiku menjadi tidak bisa digerakkan, dia pun kembali memelukku dan menenangkan ku. Aku mulai mengantuk karena lelah menangis, bertwriak juga kedinginan, dan Candra mulai melepas jaketnya dan memakaikannya padaku,
Tiba tiba akU merasakan hawa hangat masuk melalui mulutku, lembek, kenyal dan basah benda apa yang masuk mulutku ini, aku pun membuka mataku berlahan.
Anjir , kenapa mata Candra sangat dekat nafasnya juga sangat terasa menderu di wajahku. Dengan kekuatan ku aku memalingkan wajahku.
__ADS_1
"Aku sudah bilang maaf, fiuhhh" kata Candra sambil menghangatkan tanganku
"Apa kau menciumku" kataku dengan penuh penekanan
"Habisnya kau berkata mengantuk terus, kau terkena hipotermia, aku sangat takut.!" Kata Candra menunduk tetapi tangannya masih saja setia memegang tanganku.
"Bodoh, itu untuk suamiku besok.!" Kataku menarik tanganku dengan cepat dan memukul kepala Candra
"Ah, kenapa kau begini, aku sangat hawatir padamu lihatlah bibirmu sangat biru, aku takut.!" Kata Candra memegang bekas pukulanku, matanya memerah dan buliran air mata mengalir dari matanya.
"Jangan menangis, ma maafkan aku" kataku merentangkan tangan kode minta dipekuk. Dia pun memelukku dengan erat ,dan lagi lagi pusing itu kembali datang rasa sakit kepalaku membuatku hilang kesadaran. Aku merasakan tubuhku diguncangkan oleh Candra namun aku tak bisa lagi membalas nya walau hanya dengan perkataan.
__ADS_1
Bersambung