
"Den yang sabar ya.!" Membuat dada Candra seakan berhenti berdetak ,
"Bibik, keluar aja biar Geo yang kasih tau Candra.!" Kata Geo memegang pundak Bibik yang ikut menangis
"Kenapa wanita itu bicara sembarangan, Ami akan pulang dan memukulku, semua akan baik baik saja.!" Kata Candra masih sibuk menata beberapa piagam Ami ditempat semula
Ia laku segera menata foto foto yang sudah tertata rapi didalam kardus ,ia mengusap foto Ami yang tertawa lepas saat kecil sambil membawa pancingan dan ikan tangkapannya.
"Miftahul Ki Candra Saqi, tolong dengan sangat dengarkan aku.!" Kata Geo lagi saat pangilannya tak digubris Candra
"Ada apa, cepatlah aku harus membereskan kamar ini, temanku akan segera pulang.!" Kata Candra tanpa melihat Geo si lawan bicaranya
"Can, Ami nggak akan pulang.!" Kata Geo lirih sambil menyentuh pundak Candra
"Ami, koma ,dan barusan aku mendapat kabar kondisinya memburuk.!" Kata Geo lagi
"Tidak, jangan bicara yang tidak tidak.!" Kata Candra mencengkram baju Geo
"Tolong ,jangan membuat gaduh ,suasana sedang sedih sepertiini ,aku juga lelah dari RS aku harus membawa beberapa barang milik kak Edo dan kak Eza ,juga baju untuk papa Ami." Kata Geo melepas tangan Candra dari baju nya
"Sejak kapan dia sakit, kenapa aku tidak tau.!" Kata Candra mengusap kasar wajahnya
"Sudah lama dia sakit ,tapi puncaknya adalah saat dia tau kau dan Lia pacaran, beberapa bulan yang lalu ,dan mulai parah 3 minggu terakhir.!" Kata Geo menata kembali barang barang Ami kedalam kardus
"Berarti aku yang membuatnya sekarat, aku yang brengsek, aku yang bodoh.!" Kata Candra terduduk lemah dikasur Ami
__ADS_1
"Kau tidak pernah mau mendengarkan aku Can, aku sudah pernah memintamu untuk menemuinya sekali saja sebelum dia benar benar marah padamu, jika saja saat itu kau mau mendengarkanku kau pasti masih berkesempatan meihat senyuman itu.!" Kata Geo lagi duduk disamping Candra
"Maafkan aku.!" Kata Candra menagis
"Kemari, anak bodoh ,Aku dan Ami tau semuanya ,kau hanya terlalu bodoh mau menuruti gadis gila itu, sekarang menyesal tidak ada gunanya.!" Kata Geo memeluk Candra
Sangat terasa rasa solidaritas dan kekeluargaan diantara mereka,
Tiba tiba ponsel Geo berbunyi ,
"Ya kak, aku sedang beberes.!" Kata Geo setelah mengangkat telfon dari Eza
"Apa, tidak mungkin, aku akan segera kesana.!" Kata Geo lemas ,setelah mendapat kabar dari Eza
"Ami.!" Kata Geo matanya sudah memerah tak sanggup bicara
"Ayo ke RS sekarang.!" Kata Candra ,
Geo pun mengangguk dan segera berlari menuju RS,
Di RS
"Tuttt ....." suara alat pengamat detak jantung milik Ami berbunyi, menunjukkan 2 garis yang bawah terdapat garis lurus tak berirama sama sekali, membuat Eza, Edo dan Papa Ami panik
Dengan segera Dr.Anton menghampiri setalah bel darurat berbunyi ,Dr.Anton meminta semuanya keluar ,ia segera membuka baju Ami dan mengeluarkan alat Pacu Jantung.
__ADS_1
Terlihat Dr.Anton panik ,dan beberapa dokter juga menyusul masuk keruangan Ami ,Eza mulai frustasi ,Edo Dan papa Ami tak berhenti komat kamit membaca doa untuk Ami ,
Terlihat Ami seakan terkena setrum saat dadanya ditempeli alat pemaju jantung itu ,tubuhnya membusung dan kembali ketempat semula ,beberapa kali dr.Anton melakukan hal yang sama ,tapi hanya gelengan kepala yang ia terima.
Sedangkan Geo dan Candra sudah sampai didepan kamar VVIP ,mereka melihat 3 orang pia tengah frustasi dan komat kamit didepan kamar Ami.
"Bagaimana keadaannya.?" Tanya Geo
"Masih ditangani, dan kritis.!" Kata Edo pada Geo
"Kau, kenapa dia disini. Kau yang sudah menbuat adikku sekarat, kau kurang ajar, brengsek .!" Kata Eza langsung menghantam pipi Candra dengan keras hingga Candra terjatuh
"Eza, hentikan keributan ini, Ami sedang berjuang disana ,jangan buat masalah.!" Kata Edo menarik Eza duduk
"Maaf kak, aku minta maaf .!" Kata Candra memeluk kaki Eza
"Aku akan memaafkanmu saat Ami juga selamat.!" Kata Eza dingin
Geo pun langsung membantu Candra berdiri,
"Kita ke klinik.?" Kata Geo saat melihat bibir Candra sobek dan mengeluarkan darah
"Tidak, aku baik baik saja.!" Kata Candra
Terimakasih yang sabar menunggu ,πππ
__ADS_1