Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Membagi beban


__ADS_3

Bagai disambar petir disiang hari, mata Ami tiba tiba basah, tangannya bergetar sambil memegangi kertas itu, pandangannya tampak serius membaca setiap kata disana dengan intens, hinggal ia melihat tulisan positif ,ia memejamkan matanya ,berusaha menguatkan dirinya jika semuanya akan baik baik saja.


"Lambung mu mulai tidak baik dalam mengolah makanan yang kau makan, ini masih awal Mi, aku akan menangani masalah ini, tapi jika sampai muntah darah, aku akan merujukmu ke Jepang atau Singapur untuk pengobatan lebih lanjutmu." Kata Dokter Anton menunjukkan gambar lambung yang terdapat beberapa benjolan asing disana


"Apa aku akan mati.?" Tanya Ami frustasi, matanya menatap kosong kearah lain


"Tidak dalam waktu dekat." Kata dokter Anton


"Jangan beritau kesiapapun, termasuk kakek.!" Kata Ami berdiri dan memasukkan kertas itu kedalam tasnya


"Ini resep untuk mengurangi rasa sakitmu.!" Kata dokter Anton ikut berdiri dan memberikan sebuah kertas resep


Ami mengambilnya dan pergi, wajahnya masih syok mendengar apa yang dikatakan dokter Anton barusan,


"Bagaimana bisa, aku bahkan belum membuat ayah sayang padaku, aku masih muda, bagaimana bisa aku mati diusia ini, dan bagaimana dengan AVATAR, aku sudah berjanji pada mereka untuk menjaga mereka, bagaimana bisa aku mati secepat itu." Pikir Ami


Pikirannya, kalut hingga ia lupa tentang Candra yang sedaritadi memanggil mangil Ami, Ami berhenti saat seseorang menarik tangannya.

__ADS_1


"Mi, ada apa.?" Tanya Candra sedikit ngos ngosan karena mengejar Ami


Ami tak menjawab, matanya malah berbinar dan meneteskan ari mata, membuat Candra bingung ,ada apa dengan Ami


"Hei, ada apa, dokter Anton bilang apa.?" Kata Candra lembut sambil menyentuh kedua pipi Ami yang telah masah karena air mata, Ami hanya mengeleng dan mengusap matanya, membuat Candra sangat terluka ,melihat sahabat kecilnya menangis sesengukan dengan kedua mata pandanya.


Candra pun menarik Ami kedalam pelukan hangatnya, ia mengelus ujung kepala Ami dengan sangat lembut, mengusap bahu Ami memberikan sensasi ketenangan untuk Ami.


Ami pun semakin menjadi, tangisannya kini dengan suara yang serak, bagaimana nanti jika ia mati, bagaimana dengan Candra ,apa dia akan merelakanku ,apa dia tidak akan sedih saat aku meninggakkanya untuk selamanya.


~~


Dikamar pun ,Ami hanya menangis dalam diam, ia menangis sejadi jadinya, ia bingung akan menceritakan masalah ini dengan siapa. Mana mungkin ia akan mengadu pada Edo yang tengah fokus pada pekerjaan, dan Eza Ami tak ingin menambah beban pikiran Eza.


Ami sangat bingung , harus diapakan surat itu dan wali yang mana yang mau mengurus gadis berpenyakit sepertinya. Dan pengobatan kangker sangatlah mahal, walaupun Ami tidak akan kekurangan uang sampai ia memiliki 7 keturunan sekalipun.


Tok... tok .. tok ...

__ADS_1


"Ami, makan malam dulu yuk.!" Ajak Eza yang mulai perhatian pada Ami


"Ami nggak laper kak, kakak makan aja.!" Kata Ami dengan suara khas habis menangis


Tak ada balasan dari luar, tiba tiba "brakk" Eza mendobrak pintu kamar Ami membuat Ami terkejut bukan main


"Kakak ngapain.?" Tanya Ami bingung sambil memegangi kertas lab nya


"Siapa yang bikin kamu nangis.?" Kata Eza mendekati Ami


Ami terkejut mendapat oertanyaan itu dari Eza, ia sadar Eza mendekatinya dia pun langsung menyembunyikan kertas Lab dibelakang tubuhnya..


Bersambung.. ..


Jangan lupa Like dan komen ya gaes , untuk pembaca dan penyemangatku ..


Domoarigatougozaimasu .. πŸ™†πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


Untuk hariini ,saya up 1 episode dulu ya gaes .. karena masih UTS,


__ADS_2