Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Ahriz


__ADS_3

"Aku capek." Keluh Ami tiduran disova beskem hampir 3 hari dia tidak pulang kerumah, ia fokus mengejar pelajaran yang belum ia kuasai.


"Kemana yang lain, ah entahlah aku haus.!" Gumam Ami pergi keluar, mencari minuman dingin di minimarket sekolah.


"Ami, belum pulang.?" Tanya Ahriz saat melihat Ami jalan dengan lemas


"Riz, ah ya aku ada kelas tambahan khusus.!" Kata Ami berjalan disamping Ahriz


"Lalu, kau mau kemana.?" Tanya Ahriz


"Aku mau beli minnuman dingin." Kata Ami singkat


"Oh, bagaimana kakimu.?" Tanya Ahris lagi berusaha mencari topik


"Lihat, aku sudah tak perlu menggunakan tongkat, tapi kau tau saat aku berlari atau menuruni dan menaiki tangga, dia sering sakit." Kata Ami berhenti dan menjelaskan kondisi kakinya


"Itu suah lebih baik dari sebelumnya, ah baguslah." Kata Ahriz tersenyum tulus


"Kau belum pulang?" Tanya Ami , senyuman merekah di bibir Ahriz karena Ami mau bertanya padanya


"Aku baru selesai piket di Leb Kesehatan, dan baru bisa pulang.!" Jelas Ahriz


"Emm, ah aku sangant lelah.!" Kata Ami memukul mukul bahunya dengan tangan


"Ami, bisa ikut denganku.?" Tanya Ahriz menatap Ami penuh harapan


"Kemana,?" Tanya Ami mengerutkan dahinya


"Ada, ayo minumanmu akan ku traktir.!" Kata Ahriz mengandeng Ami dan berjalan dengan Cepat lalu mereka berdua menaiki lif kusus, didalam Ahriz menekan tompol paling atas.


"Riz, kita mau kemana.?" Tanya Ami penasaran

__ADS_1


"Emm, nanti lihatlah, tapi Ami bisakah kau berjanji suatu hal padaku,!" Pinta Ahriz menunduk ,menjauhi kontak mata dengan Ami


"Apa.?" Jawab Ami makin merasa aneh


"Jika, kau menyukai hadiah yang kuberi bisakah aku meminta suatu hal darimu.?" Kata Ahriz menatap Ami, tatapan penuh harapan dan kegugupan


"Baiklah." Kata Ami enteng


"Baguslah, kau harus waspada.!" Kata Ahriz tersenyum puas


"Jangan minta aneh aneh.!" Kata Ami memberi peringatan


"Mana aku berani.!" Kata Ahriz


"Ding" lif pun terbuka, Ahriz segera mengandeng Ami menaiki sebuah tanga darurat,


"Apa kakimu sakit.?" Tanya Ahriz


"Mau ku gendong.?" Tanya Ahriz


"Tidak perlu Riz, apa masih jauh.?" Tanya Ami berjalan dibelakang Ahriz


"Tidak, lihat pintu itu.?" Ahriz menunjuk sebuah pintu diatas mereka, Ami pun mengangguk "bagus, ayo semangat kita sudah sampai.!" Kata Ahriz lagi , dari ucapannya ia sangat bahagia.


"Tunggu, aku akan menutup matamu.!" Kata Ahriz mengeluarkan saputangan dari tas nya


"Untuk Apa.?" Tanya Ami ragu saat Ahriz mencoba memasang saputangan dimata Ami


"Ini kejutan, percayalah padaku.!" Kata Ahriz meyakinkan Ami, dengan ragu Ami pun mengangguk, dengan senyuman mengembang Ahriz pun menutup mata Ami dengan saputangannya, dia kembali mengandeng Ami, menuntunnya untuk melewati pintu didepan mereka,


"Sudah kuduga, ini akan indah.!" Gumam Ahriz, namun suaranya tembus ditelinga Ami

__ADS_1


"Apa, biar aku melihatnya.!" Kata Ami saat ia merasakan belaian halus dari angin yang menerpa rambut pendeknya, Ahriz pun membuka tutup mata Ami, "buka mata pelan pelan, biarkan Sinarnya dan hembusan Angin memberi salam padamu.!" Bisik Ahriz ditelinga Ami


Dengan pelan Ami, membuka mata bulatnya ia pancarkan manik coklat itu untuk menantang sang surya yang berlahan lahan tengelam meninggalkan kegelapan. Ami merasakan hangat saat sinar senja menyentuh kulitnya, ia tersenyum saat burung burung terbang kembali kesarangnya.


"Kau suka.?" Tanya Ahriz


"Aku sangat menyukainya, bagaimana bisa kau tau tempat sepertiini.?" Tanya Ami senyumnya lekat dibibir tipisnya


"Sudah lama, aku menikmati senja disini, sendirian tapi aku langsung teringat, saat kita berada ditebing, kau juga penikmat senja, jadi aku ingin membagi tempat ini denganmu.!" Kata Ahriz menunduk malu


"Kau baik sekali Ahriz, aku senang berteman denganmu.!" Kata Ami menatap Ahriz penuh arti


"Aku ingin kita lebih dari teman.!" Kata Ahriz


"Tentu, kita labih dari teman" kata Ami membuat degupan dihati Ahriz


"kita sahabat sekarang, aku juga akan membantumu saat kau kesulitan kita akan berbagi banyak hal mulai dari sekarang, kau tau aku senang saat kkak ku punya hubungan dengan kkakmu, kita bisa menjadi ipar saat kakak kita menikah.!" Kata Ami ringan.


Sorot mata Ahriz berubah, ia sedih menginhat hal itu, benar juga dia dan Ami akan menjadi saudara saat kakak mereka menikah, "kenapa kau memikirkan hal receh sepertiini." Batin Ahriz


"Baiklah Ahriz, apa yang kau inginkan aku menyukai hadiah ini, aku akan mengabulkan permohonanmu.!" Kata Ami tersenyum lebar


"Aku belum, membutuhkannya.!" Kata Ahriz mengeleng. Tak terasa malam benar benar tiba senja kini berubah menjadi gelap.


"Ayo kita kembali.!" Kata Ahriz menyadarkan lamunan Ami


"Baiklah." Kata Ami menerima uluran tangan Ahriz untuk turun dari meja yang mereka duduki beberapa jam.


Sampai di lorong


"Ami, astaga kau darimana, aku cemas mencarimu, yang lain juga kebingungan mencarimu.!!" Suara itu mengama dilorong membuat Ami dan Ahriz terkejut yang tadinya mereka bercanda

__ADS_1


__ADS_2