
2 hari Ami masih saja tertidur menutupi tubuhnya dengan selimut tebal milik rumah sakit. Sudah 2 hari juga Ami tak mau makan. Eyang, Edo dan Candra selalu roling menjaga Ami, dipagi hari Eyang yang akan menjaga nya, disiang hari Candra menjaga Ami sesudah pulang sekolah, dan Edo akan menjaga Ami dimalam harinya setelah pulang dari kantor.
"Eyang.!" Sapa Candra setelah masuk ruangan , dan mendekati pria paruh baya yang tengah duduk termenung disova
"Can, udah pulang.?" Jawab Eyang menghamburkan lamunannya
"Iya eyang, eyang istirahat biar Candra yang gantiang jagain Ami.!" Kata Candra meletakkan tasnya disova
"Hem, eyang pulang dulu ya, dia masih belum mau makan.!" Kata eyang menghelakan nafas panjang
"Biar Candra coba bujuk Ami lagi eyang, jangan hawatir.!" Kata Candra tersenyum tulus
Eyang pun mengangguk dan menepuk bahu Candra beberapa kali, lalu pergi berlalu ditemani seorang pria bertubuh kekar
"Hai" kata Candra mendekati Ami yang duduk didepan jendela ruang rawat inapnya ,menatap kosong keluar jendela, matanya mulai membengkak karena menangis, infus masih setia menempel ditangannya karena dia masih tak mau makan.
"Ami, hei." Candra mulai menyentuh kepala Ami dengan lembut karena sapaannya tak digubris Ami, Ami pun menengok memberi senyuman tipis pada Candra
"Makan yuk, aku juga belum makan." Ajak Candra dengan wajah melasnya
__ADS_1
"Makanan disini nggak enak" jawab Ami singkat dan memfokuskan tatapannya lagi keluar jendela
"Aku bawa sesuatu buat kamu" kata Candra mengambil sesuatu dari tas gendongnya, Ami pun melirik penasaran dengan apa yang dibawa sahabatnya itu untuknya, setelah tau isinya dia pun tersenyum sumeringah "kita makan berdua ya, ini rahasia jangan sampai eyang tau.!" Kata Candr berbisik dan diangguki oleh Ami dengan cepat.
Ya bakso, makanan murah yang sering dibeli Ami dan Candra setiap pulang sekolah, Candra segera membuang bubur dimangkok ke kloset dan memasukkan baksonya. Ami sangat semangat tak sabar ingin memakan jajanan itu. Segera Candra menghidangkannya untuk Ami , namun saat hendak menyendok tangan Ami serasa tak bertulang, tak sanggup memegang sendoknya.
"Aku suapi aja." Kata Candra mengambil sendok ditangan Ami dan mulai membelah daging bulat itu dengan sendok itu, lalu mendekatkannya dibibir Ami.
"Kau juga harus makan." Kata Ami dengan mulut penuh
"Tentu saja, lihat aku juga makan." Kata Candra makan dari sendok yang sama dengan Ami.
"Kau kenapa, apa kau sesak.!" Kata Candra setelah melihat Ami memegang dadanya, membuat Ami langsung mengeleng menghapus lamunannya
"Apa kau yakin, perlu ku panggilkan dokter, apa karena makanan ini dadamu menjadi sakit.?" Kata Candra cemas
"Entahlan, tiba tiba jantungku bukan seperti milikku.!" Kata Ami berfikir
"Apa, aku akan panggil dokter.!" Kata Candra bergegas pergi keluar setelah menyembunyikan mangkuk bakso yang sedari tadi dipegang nya.
__ADS_1
"Apa, aku sakit jantung. Asss mana mungkin aku masih muda, dan aku seorang atlit, ah maksudku mantan atlit." Gumang Ami sambil merasakan degupan dada nya yang belum mereda
Dokter pun tiba, dengan cepat beberapa perawat memindahkan Ami kembali ke tempat tidur, sang dokter sibuk memeriksa.
"Nafasmu baik? Apa dadmu sakit?" Dokter muda itu terus saja bertanya macam macam pada Ami
"Kenapa kau diam saja.!" Kata Candra dengan cemas
"Aku baik, tapi jantungku dia berdegub dengan cepat, aku sudah menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak berhenti." Kata Ami menjelaskan dan masih saja memegangi dadanya
"Keadaanmu baik, mungkin itu karena efek obat." Kata Dokter itu, Ami dan Candra pun mengangguk "dan mungkin karena makanan, Ami makan buburmu jangan makan bakso sembarangan." Kata dokter itu sebelum dia benar benar pergi meninggalkan ruangan perawatan Ami, Ami dan Candra hanya saling melemparkan tatapan dan tersenyum
"Syukurlah kau baik baik saja, kau membuatku takut." Kata Candra memeluk Ami
Dan lagi lagi jantung Ami kembali berdegub tak karuan,
"Aku tidak apa apa." Kata Ami mendorong Candra agar lepas dari pelukannya,
"Apa, jangan jangan Vebri benar, aku mencintainya" batin Ami
__ADS_1