
~Candra~
"Ami, bangun kalok kamu nggak bangun bangun, aku cium kamu lagi loh, heh" kataku terus menepuk pipi Ami, mengoyang ngoyangkan tubuhnya
"Diam lah, aku pusing, jangan dekati bibirku kalok enggak kupukul kamu" katanya dengan sedikit mengigil
"Jangan tidur, Ahriz dan yang lain akan datang, jangan begini nanti aku dimarai mamah. " kataku sedikit bergetar.
Rasanya tak tega melihat kondisi nya sekarang, tubuhnya lemas belum lagi kaki nya yang patah, aku tak bisa bayangkan reaksi nya jika dia tau kalau kaki nya patah dan harus resain dari kelas olimpiade atletis nya, dia pasti mengamuk, sebenarnya siapa orang yang harus bertanggung jawab dengan kondisi nya sekarang, dan lagi jika eang kakung tau Ami begini, habis sudah si pelaku. Kuharap bukan Lia pelakunya.
~~
Tubuh Ami mulai tak bergetar, dan mata bulatnya hanya menutup tak berdaya, tubuh nya berada dipelukan Candra, ya pemuda yang setia menemani nya dalam kondisi apapun. Candra terus saja berusaha berbicara agar dirinya tetap merasa hangat , sesekali dia meniupkan hawa hangat ketangan Ami, sayup sayup terdengar suara orang orang yang berbincang, langkah kaki mereka terdengar jelas dari bawah lubang.
"Can, bagaimana kondisinya" kata Ahriz dari atas lubang
"Riz, tadi dia mengigil dan sekarang dia malah tidur, bagaimana ini.!" Kata Candra menangis
"Aku akan kebawah dan mengikatnya.!" Kata Ahriz mengikat tubuhnya dengan sebuah tali dan turun kelubang.
"Tolong dia Riz,.!" Kata Candra pada Ahriz setelah Ahriz sampai dibawah.
Dengan telaten Ahris memeriksa kondisi Ami, tekanan darahnya menurun, patah kaki, dan luka dijidat, goresan ditangan dan punggung nya. Ahriz memberitau pada relawan untuk menurunkan tandu medis kebawah, dan meminta beberapa orang ikut kebawah dan membantu nya. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mengeluarkan Ami dari lubang tersebut.
__ADS_1
"Can apa kau baik baik saja.?" Tanya Ahriz
"Tentu, tapi bagaimana keadaannya.?" Kata Candra dengan matanya yang memerah
"Aku berharap dia baik baik saja, kondisinya untuk saat ini cukup buruk" kata Ahriz dengan raut wajah sedih
Mereka semua meninggalkan hutan itu, diperkemahan semua semua sudah menunggu Ami dengan cemas.
"Mereka sudah kembali.!" Seru salah seorang, menghaburkan lamunan anak anak AVATAR.
Vebri yang mendengar pun langsung berlari menghampiri Ami yang dibawa menggunakan tandu medis.
"Can, bagaimana keadaannya.?" Tanya Vebri dengan mata merah karena menangis
Anza yang mendengarnya pun hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan yang lain menangis histeris
"Tapi minggu depan, dia ada lomba lari di Brazil, bagaimana ini, dia akan hancur.!" Kata Eka memegangi kepalanya
"Nggak mungkin, elu bercanda kan.!" Kata Vebri lunglai
Candra hanya menunduk bertanda, semua ucapannya benar.
"Can, pihak sekolah akan membawa Ami ke kota ,dia akan dirawat disana, kamu mau ikut atau menyusul.?" Tanya Ahriz
__ADS_1
"Aku akan langsung ikut" kata Candra menghapus air matanya, dia segera naik kemobil yang membawa Ami, diikuti Ahriz. Anak anak AVATAR juga ikut dimobil yang lain.
Sesampainya di RS ,Ami langsung masuk ruang IGD, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
"Can ,tolong hubungi pihak keluarganya ya.!" Kata Ahriz
Candra mencoba menelfon kak Edo, tetapi ponsel nya mati, dan berat hati dia menelfon kak Eza.
"Tut...tut... Apaan" kata Eza mengangkat telfon nya
"Kak Eza, Ami masuk RS kak.!" Kata Candra ragu
"Ini siapa.?" Tanya Eza
"Aku Candra, Ami kritis.!" Kata Candra
"Nggak usah ngibul deh, mana Ami ,gue mau ngomong.'' Kata Eza tak percaya
"Candra nggak bohong kak, aku berusaha telfon kak Edo tapi hp nya nggak aktif, kalok kakak nggak bisa dateng nggak papa, Candra cuma kasih tau.!" Kata Candra
"Kirim Alamat RS nya, gue dateng ,jangan bilang ke eang kakung.!" Kata Eza menutup ponselnya.
Bersambung.. ..
__ADS_1