
Setelah berganti baju, Eza datang kekamar Ami lagi dengan memberikan susu dan bubur hangat untuk Ami, Ami yang terbaring di kasur pun hanya tersentum simpul melihat keanehan sang kakak.
"Ni susu nya ,diminum dulu.!" Kata Eza menyondorkan gelas berisi susu kepada Ami setelah meletakkan nampan dimeja belajar Ami.
Ami pun menerima susu itu dan meminumnya perlahan,
"Enak." Jawab Ami setelah meneguk nya beberapa kali
Dengan telaten Eza membantu Ami makan, ia menyuapi adik kecilnya sesuap demi sesuap, ia nampak kesal saat melihat wajah Ami nampak pucat menahan sesuatu.
"Tidak enak ya.?" Kata Eza
Ami mengeleng dan menutup mulutnya, ia menahan agar makanannya tidak ia muntahkan.
"Jika tidak enak bilang, aku akan mengantinya.!" Kata Eza dengan nada kesal
Tapi ia segera melipat bibirnya saat melihat Ami menitihkan air mata disela sela ia menutup mulutnya.
__ADS_1
"Bagaimana aku berkata ini tidak enak, ini pertama kalinya aku makan dari tanganmu kak, bahkan makanan ini sangat berharga hingga aku tak sanggup menelannya.!" Kata Ami mengusap air matanya, dan menarik nafas dalam dalam
"Kenapa kau begitu naif.!" Kata Eza menunduk
"Kak, aku sudah kenyang," kata Ami
"Kau tidurlah, aku akan menunggu Dokter Anton" kata Eza mengambil baki berisi bubur dan susu yang tinggal setengah itu dari meja.
"Kak ,jangan buang itu ,aku nanti akan memakannya lagi, bubur itu sangan berharga.!" Kata Ami memegang tangan kakak nya
"Aku akan membuatkannya lagi untukmu, jangan hawatir.!" Kata Eza tanpa memandang Ami dan pergi keluar kamar.
20 menit kemudian Dokter Anton datang dengan wajah lelash nya, ia memeriksa perut Ami ,dan kondisiya ,ia kekurangan cairan jadi Dokter Anton memasang infus untuk Ami.
"Ami kalok mau muntah ,muntahkan saja ,jangan ditahan.!" Kata Dokter Anton membuat Eza terkejut bahwa ternyata adiknya pucat karena menahan agar tidak muntah
"Aku bisa menahannya." Kata Ami
__ADS_1
"Ami, aku tidak akan marah jika kau memuntahkannya, aku akan membuatkan bubur itu lagi nanti.!" Kata Eza membantu membujuk
"Tapi ini makanan pertama darimu, aku tidak bisa memuntahkannya" kata Ami kembali menangis.
"Itu tidak baik Ami, perutmu tidak bisa menerima makanan itu.!" Kata Dokter Anton. Ami hanya terdiam dan memalingkan wajahnya.
Setelah sekian lama akhirnya Ami bisa tertidur dengan tenang, tentu saja Eza menjaga Ami dengan telaten, dan tidak membiarkan Ami tidur sendirian, ia akan siap siaga jika sewaktu waktu Ami menbutuhkannya.
Eza pun mengedarkan pandangannya di kamar Ami setelah mengantar dokter Anton kedepan. Ia melihat sebuah lukisan tangan sebuah keluarga bahagia, tampak gambar dirinya ,Ami ,Edo ayah dan ibunya disana. Semua nampak bahagia tanpa ada cacat sedikitpun.
Ia beralih memandang 2 buah kotak besar didekat lemari, bertuliskan kado tak tersampaikan. Ia sangatlah penasaran akan isi kotak tersebut. Ia pun beralih pandang kesebuat tembok persis disebelah kiri pintu masuk, terdapat banyak foto disana ,ada foto dirinya saat masih kecil ada pula foto saat dia bermain futsal minggu lalu ,ada foto sang ayah saat masih muda hingga foto saat sang ayah tengah sarapan dimeja makan sebelum berangkat dinas diluar kota, teman teman Ami kakak dan kakek semua lengkap.
Ditengah tengah foto kecil kecil itu ,terdapat foto Ami sangatlah cantik tersenyum lebar, namun senyuman itu tampak jelas raut getirnya hidup, banyak beban tergambar di wajah itu. Eza pun sadar akan tindakannya sangat lah salah.
Membuat Ami semakin hidup didalam neraka keluarga, kata kata kasar itu membuat senyuman sang adik makin luntur, membuatnya menjadi pribadi yang kasar dan keras kepala.
"Maafkan kakak Ami, kakak nggak bisa jadi kakak yang baik, mulai dari sekarang kakak akan sayang sama Ami, biar Ami nggak kangen mama lagi, kita mulai dari awal lagi ya dek, maafin kakak.!" Kata Eza mengusap kepala sang adik
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya teman teman, domoarigatougozaimasu