Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
MENGESALKAN


__ADS_3

setelah meninggalkan Bascame, Ami segera melesat ke parkiran yang berada di belakang gedung sekolah. ia berjalan dengan kesal sesekali menendang tempat sampah hingga membuat isinya berceceran dilantai.



"Ami ,tunggu dulu.!" suara Candra mengema di lorong , tapi Ami tak juga menghentikan langkahnya



"hei, dengarkan aku dulu.!" kata Candra meraih pergelangan tangan Ami



"aku mau pulang.!" Kata Ami menepis tangan Candra



"Ami,dengerin dulu.!" kata Candra berlari dan berdiri dihadapan Ami



"apaan sih.!" kata Ami menatap Candra dengan tatapan Devilnya



"jangan, bolos lagi .!" kata Candra menatap Ami dengan lembut



"kamu sana , ketua osis mana boleh bolos.!" kata Ami hendak pergi dengan cepat Candra menahannya dengan berdiri dihadapan Ami lagi mengikuti langkah Ami yang bergeser kekanan dan kekiri


"Apaan sih Can, aku mau pulang, capek!" kata Ami benar benar kesal



"kamu yang jangan kekanakan, cuma kayak gini aja kamu marah sih!" kata Candra dengan intonasi yang sedikit naik



"yaudah jangan deket deket sama cewek kekanakan !" kata Ami pergi dan mengaprak pundak Candra , lagi lagi dia menendang tong sampah didekat ruangan musik



"Ami, bukan gitu hei.!" teriak Candra sambil membalikkan badan. Ia tau bagaimana watak sahabatnya itu, sangat mudah tersinggung , luarnya saja tampak tomboy dan kuat, tapi tidak hatinya setelah Uti nya tiada hatinya begitu rapuh hingga beberapa kali dibawa ke RS karna kekurangan cairan tubuh.



sampai diparkiran, Ami segera mambuka bagasi mobil Jazz warna abu abunya, melemparkan tas ranselnya dengan keras, dan membantung pintu bagasi. dengan cepat dia masuk kedalam mobik dan menncap gas dengan sengaja menyengol tong sampah warna biru dibelakang mobilnya, lalu dengan cepat menginjak gas meninggalkan sekolah. dia pun keliling ditaman kota, entah berapa kali mobilnya memutari tempat itu, Ami pun bingung akan kemana dia akhirnya dia memuruskan untuk pulang walaupun masih pukul 2 siang, ia tau mungkin dirumah suasana hatinya makin kacau dengan berdebat dengan Eza kakak kedua nya yang sangat membencinya, tanpa tau alasannya.




Ami pun memasukkan mobilnya ke Garasi setelah pak Jono membuka gerbang utama, segera Ami keluar dari mobil dan mengambil tas gendong nya, ia melihat Eza sedang makan camilan sambil menonton TV diruang keluarga.



"bolos lagi, kalok nggak mau sekolah jangan buang buang duit dong.!" celetuk Eza masih fokus menonton Tv



"nggak punya kaca.!" jawab Ami



"kurangajar.!" kata Eza bangkit dari duduknya dengan kilat tangannya sudah mendarat dipipi Ami ,hingga gadis kurus itu tersungkur

__ADS_1



"elu yang mulai, kenapa elu yang mukul gue !" kata Ami bangkit dan meninju perut Eza



"berani ngelawan !" kata Eza menarik rambut Ami hingga Ami terseret dan jatuh


tanpa bicara Ami kembali bangkit, dan memukul bahu kakaknya



"hei kalian.!" suara pak jono berlari menghampiri Ami dan Eza yabg sedaritadi baku hantam, bik puji tak berani memisah mereka hanya melihat dari balik pintu



"Dasar nggak punya tata kerama.!" kata Eza dengan nada tinggi, Ami hanya diam meneteskan air mata, dan terus memukul kakaknya dengan sekuat tenagan, pak Jono yang berusaha melerai pun kewelahan dengan sikap kedua kakak beradik ini



"Eza Ami cukup.!" suara seorang peria menghentikan baku hantam Ami dan Eza



"kalian ini apa apaan sih !" kata pemuda itu bik Puji pun akhirnya keluar dari persembunyiannya, dan menyambut pemuda itu membawakan tas kantor dan jas hitamnya



"Eza kamu ini kenapa!" kata pemuda itu dengan lembut mendekati kedua nya



"dia, ngatain aku.!" kata Eza mendorong bahu Ami yang berdiri didekatnya




"dia bukan kakakku!"


"dia bukan adikku.!"


kata Ami dan Eza bersamaan, membuat pemuda itu membuang nafasnya dengan kasar



"kalian ini, benar benar membuat kakak ingin cepat tua ya .!" kata pemuda ini sambil memijat pelipisnya



Ami hendak pergi dari ruabg keluarga, dengan cepat Eza berkata "mau melarikan diri!" kata nya dengan nada mengejek



"aku nggak mau berdebat dengan seorang banci.!" kata Ami mengangkat tas nya



"apa katamu, dasar pembunuh, andai saja kau tidak lahir didunia ini Ibu tidak akan meninggalkanku dan kak Edo, cepat kembalikan ibuku.!" kata Eza sepontan matanya memerah dan hendak melangkahkan kakinya mendekati Ami dengan sigap pak Jono memegangi Eza yang penuh emosi



"kau pikir aku mau hidup seperti ini,!" kata Ami membanting tas nya mendekati Eza dengan sigap Edo memeluk Ami dari belakang menahan Ami untuk mendekati Eza "kau enak bisa merasakan air susu ibu, aku tidak pernah, kau enak pernah dipeluk ibu saat tidur, aku tidak pernah ! , kau enak pernah disuapi ibu tapi aku tidak pernah,!" kata Ami tangisannya pun pecah ,nafas nya naik turun "dan kau enak kau disayang ayah, digendong ayah dicium ayah, tapi aku tidak pernah sekalipun dipeluk ayah atau hanya sekedar diberi senyuman ayah, ditatap nya , atau aku tidak pernah seberuntung kau bisa merasakan kehangatan seorang ibu. kau pikir aku senang di lahirkan seorang ibu tapi dibesarkan seperti anak yatim piatu.!" kata Ami setengah berteriak hinggak mengema diseluruh ruangan.


__ADS_1


Eza yang mendengarnya pun mulai lemas, dia berpikir benar apa yang dikatakan adiknya, dia tidak pernah disayang Ayah, hanya kak Edo yang selalu mendukung nya.



hariitu Ami benar benar kesal dan marah dia mengamuk sejadi jadinya, tidak pernah sebelumnya dia meluapkan isi hati nya yabg ia pendam sejak kecil, biasanya dia hanya diam saat Eza menyindir atau menjailinya. saat ini Ami menangis tanpa suara, air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya, sesekali ia menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti.



"sekarang apa , Ami harus gimana biar kalian tau, aku juga nggak mau hidup kayak gini.!" kata Ami dengan suara bergetar



"kalian cukup.!" kata seseorang membuat suasana tegang. "mau nggak mau ibumu sudah membuang nyawanya untuk hidupmu, jangan sia siakan itu,!" katanya melangkah mendekatai mereka



"ayah Ami cuma kesal saja ,!" kata Edo membela adik perempuan nya



"Ayo Eza , obati lukamu.!" kata pria yang mereka sebut ayah ,dia mengandeng Eza dengan hati hati



"ayah , Ami juga terluka.!" kata Ami meronta melepas pelukan kakak nya berlari mendekati ayahnya



"Edo ,obati adikmu.!" kata pria itu tanpa mempedulika Ami yang mendapat beberapa luka memear di wajah dah tubuhnya.


Ami terdiam mematung dan air matanya terus melesat membasai pipinya , tangannya mulai menyentuh dadanya dan menepuknya berusaha agar hatinya berhentu bergejolak. Eza pun hanya menolehkan kepalanya melihat kondisi adik perempuannya yang terlihat kacau karena bertengkar hebat dengannya.



"Ami ayo ,kakak obati lukamu.!" kata Edo mengandeng Ami, Ami pun menarik tangannya kembali



"luka Ami nggak sesakit hati Ami kak.!" kata Ami mengusap kasar air matanya, dan berjalan melewati kakak nya ,mengambil kembali tas yang sedaritadi ia banting dan berlari menaiki tangga lalu membanting pintu kamarnya sekeras kerasnya, terdengar ditelinga Edo barang barang barang mulai gaduh dikamar Ami .



"lihat anak nakalmu ibu !" kata Edo bergumang dan mengusap air matanya











terus dukung dengan like dan komen cerita Terukir Dalam Waktu, agar saya bisa menyelesaikan cerita ini, mohon maaf jika masih banyak typo pada bab ini,untuk kalian semua ありがとうございます。。。。


__ADS_1


__ADS_2